Saturday, April 26, 2008

Konspirasi Media Menyalibkan Yesus

Simbiosis antara kerakusan kapitalis & bidat purba yang dikemas modern

“Kalau Yesus punya $5.000, Dia pasti lolos dari salib”
Billy Flynn (pengacara yang diperankan Richard Gere dalam film Chicago)

Gayung bersambut. Begitulah para penulis antikristen saat bersua kapitalis transnasional. Terbentuk konspirasi yang saling mendukung, menguntungkan, dengan gelimang dollar yang aduhai!

Cerdik, tetapi menyesatkan. Itulah kesimpulan yang dapat ditarik kala mengamati fenomena getolnya media-media “menyalibkan” Yesus. Skenario yang terencana matang dengan dukungan ahli-ahli teologi yang salah menempatkan iman, dan sumber-sumber purba sempalan yang terlalu dilebih-lebihkan nilainya; dikemas apik oleh media dan dipromosikan dengan gencar. Jadilah dagangan yang mengguncang iman.

Awalnya, munculnya penganiayaan Yesus di media terlihat acak dan tidak memiliki pola tertentu. Namun, jika kita cermat mengamati, di antara produk-produk media seperti Beyond Belief, The Da Vinci Code, Misquoting Jesus, The Lost Gospel, The Gospel of Judas, The Secret of Judas, The Jesus Dynasty dan The Lost Tomb of Jesus terdapat mata rantai yang menghubungkan: ide perekayasaan Injil, kesamaan latar belakang pencetusnya (penulis, ilmuwan, sutradara, atau produser) dan dukungan raksasa kapitalis media. Hal yang sangat menonjol dari gempuran media tersebut adalah usaha yang pantang menyerah untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah yang menjelma menjadi manusia. Mereka berusaha merekayasa Yesus sesuai dengan gambaran yang mereka ciptakan sendiri serta mencari sumbersumber yang mendukung. Dan, mereka mengklaim sumber itu sudah ditemukan: Perpustakaan Nag Hammadi.

GNOSTISISME YANG BERSALIN RUPA
Perpustakaan Nag Hammadi adalah koleksi teks Gnostik Kristen yang ditemukan di kota Nag Hammadi, Mesir, pada tahun 1945. Di dalamnya terdapat tiga belas kodeks ‘naskah’ papirus yang dijilid kulit dan terkubur dalam bejana yang disegel. Kodeks ini diyakini sebagai suatu perpustakaan yang disembunyikan oleh para biarawan di St. Pakhomius saat kepemilikan atas tulisan-tulisan tersebut dikecam sebagai sesat.

Tulisan-tulisan dalam kodeks tersebut dibuat dalam bahasa Koptik, meskipun karya-karyanya mungkin merupakan terjemahan dari bahasa Yunani. Naskah yang paling terkenal dalam kodeks tersebut adalah Injil Maria (Magdalena), Injil Thomas, dan Injil Yudas. Secara umum, manuskrip-manuskrip tersebut adalah salinan dari naskah-naskah asli yang dipercaya beberapa ahli bertarikh akhir abad kedua (walaupun pembuktiannya belum final, bisa jadi naskah-naskah itu berumur lebih muda), saat Injil-injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) telah populer digunakan di gereja-gereja purba.

Teks-teks dalam naskah Nag Hammadi sangat menarik bagi orang-orang yang merasa tidak puas dengan gambaran Yesus selama ini: manusia sejati sekaligus Allah sejati. Terutama, sejak ditemukannya naskah ini, orang-orang seakan mendapat pijakan yang kuat atas ide mereka untuk merekonstruksi Yesus dan kekristenan.

ORANG-ORANG YANG MEMPROMOSIKAN GNOSTISISME
Lalu bagaimana orang-orang itu saling terkait? Kaitan yang terdapat di antara orang-orang tersebut bisa dilihat dari ide yang diajukan dalam karya-karya mereka yang berusaha memasyhurkan gnostisisme serta cabang-cabangnya karena dalam gnostisisme, keilahian Yesus disangkal. Dan Brown misalnya, novel The Da Vinci Code (Doubleday—anak perusahaan Random House, 2003) berusaha memasyhurkan Injil Maria (Magdalena) dan Injil Filipus—juga naskah Nag Hammadi— yang di dalamnya terdapat konsep tentang Yesus Kristus yang menikahi Maria Magdalena. Kabarnya, beberapa ide novel itu menjiplak buku Michael Baigent, Henry Lincoln, dan Richard Leigh: Holy Blood, Holy Grail (1982). Bahkan Leigh dan Teabing (anagram dari Baigent) menjadi tokoh antagonis dalam novel. Michael Baigent adalah editor Majalah Freemasonry Today—Freemasonry adalah salah satu bentuk neo-gnostisisme.

Bart D. Ehrman, penulis Misquoting Jesus (Harper, 2005)—berisi penghakiman sepihak bahwa bapa-bapa gereja telah memanipulasi isi Injil kanonik—adalah anggota tim penafsir Injil Yudas dan penulis pengantar tambahan dalam Injil tersebut. Berkali-kali ia mengatakan bahwa ada bentuk kekristenan yang hilang yaitu kekristenan yang terdapat dalam Injil-injil Nag Hammadi. Elaine Pagels menulis dalam bukunya, Beyond Belief (Random House, 2003), bahwa seharusnya Injil Thomas—Injil yang ditemukan dalam kepustakaan Nag Hammadi—ditempatkan sebagai Injil kelima untuk melengkapi Injil kanonik atau bahkan seharusnya menggantikan Injil Yohanes.

Elaine Pagels adalah anggota tim penafsir Injil Yudas—Injil kepustakaan Nag Hammadi yang berisi Yudas Iskariot sebagai murid kesayangan Yesus dan pengkhianatannya malah merupakan perintah Yesus. Herb Krosney penulis The Lost Gospel (National Geographic, 2006) yang menarasikan kisah penemuan Injil Yudas adalah wartawan dan salah satu produser televisi National Geographic. Dalam salah satu wawancara dengan National Geographic, ia mengungkapkan, “Injil Yudas akan membuka pengetahuan tentang sejarah dunia yang selama ini tidak terlalu dipahami(tentang kekristenan—red.) dan memberikan penafsiran baru tentang Yudas Iskariot dan hubungan dirinya dengan Yesus.” Marvin Meyer yang menerjemahkan The Gospel of Judas (National Geographic, 2006) adalah salah satu anggota Jesus Seminar yang dipimpin Robert Funk.

KAITAN DI ANTARA MEREKA
Jesus Seminar adalah kelompok yang terdiri dari 200 ahli Perjanjian Baru yang didirikan Robert Funk pada tahun 1985 untuk memilah perkataan-perkataan Yesus dalam kategori dan menandainya dengan warna yang berbeda—selama ini hanya warna merah untuk ucapan Yesus dan warna hitam untuk tulisan yang lain—jika semua setuju ucapan itu asli, diberi warna merah; jika ada yang agak diragukan, diberi warna merah jambu; jika sebagian besar dari mereka meragukan, ucapan itu diberi warna abu-abu; dan jika seluruh anggota tidak setuju, diberi warna hitam.

Hasilnya hanya 18 persen perkataan Yesus yang benar-benar mereka anggap valid keluar dari mulut Yesus dan berdasar kesimpulan itu, Yesus digambarkan sebagai pribadi bijaksana, tetapi tidak pernah mengkhotbahkan Injil Kerajaan Allah, tidak mati disalibkan, apalagi bangkit dari kematian. Di dalamnya terdapat Karen Armstrong (Penulis Sejarah Tuhan, A History of God, Ballantine—anak Random House, 1993), Robert Price (penulis buku Deconstructing Jesus: yang isinya menyangkal Yesus dan James M. Robinson (The Secret of Judas, Harper, 2006). Robinson, Meyer, Ehrman, Pagels menjadi bagian terpenting atas terbitnya The Gospel of Judas. Menurut mereka, Yesus tidak bisa disamakan dengan Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia hanyalah manusia biasa. Pemahaman inilah yang mendasari naskah-naskah Gnostik Nag Hammadi.

Semangat mereka untuk menonjolkan Injil-injil di luar empat Injil kanon tersebut membuktikan bahwa mereka sedang mengusung Neo-gnostisisme, paham yang menjadi bagian dari paham Gerakan Zaman Baru (New Age—paham yang mengajarkan bahwa manusia dapat mencapai kesempurnaan dan setara dengan Tuhan melalui laku tertentu, misalnya dengan meditasi, yoga, atau dalam gnostisisme dengan menyerap pengetahuan baru). Atau dengan kata lain mereka sedang menampilkan gnostisisme dalam wajah baru. Namun, apakah motivasi mereka sedemikian “suci”; memperjuangkan keyakinan apa pun risikonya?

KONSPIRASI DIMOTORI UANG
Bukankah media massa dan Yudas Iskariot tahu Yesus bisa mendatangkan uang. Sepertinya Brown, Ehrman, Pagels, Meyer, dan Robinson juga tahu itu. Saat mereka bertemu media dengan membawa konsep “penyaliban” yang disukai media; klop sudah. Hanya saja, media melangkah lebih jauh daripada yang dilakukan Yudas. Yudas menjual Yesus seharga 30 keping perak (harga budak belian di Palestina pada abad pertama), tetapi menyesal saat mengetahui gurunya disalib dan kemudian menggantung dirinya (Matius 27:3-5). Media menjual Yesus dengan nilai yang bermiliar kali 30 keping perak, sekaligus menjadi hakim atas-Nya, dan menjadi “eksekutor” penyaliban-Nya—dan tanpa sekalipun pernah menyesal.

HARGA KOMODITAS YESUS
Hal paling mencolok dalam fenomena ini adalah perputaran kapital yang mega besar. Buku The Da Vinci Code (penerbit Doubleday—anak perusahaan Bertelsmann AG yang salah satu anak perusahaannya adalah perusahaan rekaman Sony-BMG) yang terjual lebih dari 60,5 juta kopi (dengan pemasukan kotor mendekati $600 juta atau Rp5,4 triliun)—diterjemahkan dalam 44 bahasa—di seluruh dunia menempatkan penulisnya di deretan orang terkaya di dunia—hanya dari satu judul buku—dan tidak hanya mendongkrak novel-novel awalnya, tetapi bahkan mendongkrak larisnya buku-buku sejenis, seperti The Last Templar dan The Templar Legacy (Ballantine, 2005). Kesuksesan novel tersebut tidak lepas dari dukungan penuh semangat New York Times, People Magazine, dan Washington Post.

Beberapa waktu kemudian, Sony Corp melalui anak perusahaannya, Columbia Pictures, membayar Dan Brown $6 juta (Rp54 miliar) untuk mendapatkan hak pembuatan film berdasar novelnya karena Sony mengendus bau uang di dalamnya. Dan, filmnya sendiri—walau mendapat banyak kritik karena tidak sesuai kelas pemenang Oscar, Ron Howard (Beautiful Mind) dan Tom Hanks (Forest Gump)—meledak di pasar dan menambah pundi-pundi Sony Corp setidaknya $756 juta (setara Rp6,8 triliun). Jadi total uang yang “dimainkan” dari novel, film, dan pernak-pernik The Da Vinci Code jauh lebih banyak daripada anggaran wajib belajar Indonesia (berarti seluruh anak SD-SMP di Indonesia bisa sekolah gratis dengan uang itu).

Sebenarnya meledaknya The Da Vinci Code bukan kebetulan, melainkan sudah dirancang oleh penerbitnya. Beberapa bulan sebelum The Da Vinci Code lahir, Random House, induk Doubleday, meluncurkan buku karangan Elaine Pagels, Beyond Belief: The Secret Gospel of Thomas, sebuah strategi untuk mempersiapkan masyarakat menerima isu bahwa sumber sahih tentang Yesus tidak hanya berasal dari injil-injil di luar Injil Perjanjian Baru. Dan, uang pun mengalir ke kocek Random House.

Penerbit novel dalam versi bahasa Indonesia pun mereguk keuntungan yang tidak sedikit, ratusan ribu kopi dicetak dan pasar, bagaikan kehausan, menyedot buku-buku ini. Miliaran rupiah yang masuk ke kantong penerbit—sekali lagi dari satu judul buku—sudah bisa digunakan mendirikan penerbit buku rohani Kristen kelas menengah.

PIHAK-PIHAK YANG LATAH TAK MAU KALAH
Pascasukses The Da Vinci Code, mendorong banyak pihak berlomba-lomba mencari bahan untuk mengeruk keuntungan dari pelecehan terhadap Yesus; dan permainan kapital tidak hanya di kalangan penerbit-penerbit buku, tetapi merambah ke perusahaan-perusahaan media transnasional.

Rupert Murdoch tidak mau kalah. Divisi publisher miliknya, Harper, menerbitkan buku Misquoting Jesus dan The Secret of Judas. Ironisnya, sebenarnya ia juga yang memiliki penerbit Kristen terbesar sedunia, Zondervan, yang di dalamnya ada nama penulis seperti: Rick Warren dan Philip Yancey. Injil Yudas yang sudah beredar di tangan para broker barang antik sejak awal 80-an, akhirnya terendus National Geographic Society yang membeli naskah hampir hancur tersebut seharga $3 juta (Rp27 miliar).

Media yang berprinsip humanisme global ini pasti berpikir uang yang mereka raih, setidaknya mendekati yang diperoleh Bertelsmann AG melalui Random House. Dan kampanye besar-besaran pun digelar, dua buku diterbitkan: The Gospel of Judas berisi tentang The Gospel of Judas dan tulisan dukungan dari pakar-pakar kritik Alkitab termasuk Elaine Pagels, Bart Ehrman dan The Lost Gospel berisi kisah liku-liku perjalanan kodeks yang berisi The Gospel of Judas tersebut. Dan mereka tidak sia-sia, “Yudas Iskariot” pun memberi keuntungan bagi perusahaan tersebut—dengan mengatasnamakan pelestarian situs purbakala, National Geographic mengembalikan naskah Injil Yudas tersebut ke Mesir; padahal kenyataannya sepah naskah tersebut sudah tidak lagi manis. Yudas yang malang.

Koneksi National Geographic yang melintasi negara-negara di dunia menyebabkan The Gospel of Judas dengan cepat diterjemahkan di Indonesia. Menilik kualitas penerjemahan dan pengeditan yang rendah, tampak jelas versi bahasa Indonesia The Gospel of Judas dikerjakan tergesa-gesa untuk mengejar momen yang menguntungkan secara finansial.

Discovery Channel pun tidak tinggal diam. Jika tahun 2003-2005 adalah tahun The Da Vinci Code, tahun 2006 adalah tahun The Gospel of Judas, perusahaan itu berharap tahun 2007 adalah tahun The Lost Tomb of Jesus. Dengan membayar James Cameron (sutradara film Titanic) sebagai produser, berbarengan dengan penghargaan insan perfilman Amerika Serikat, Academy Award biasa disebut ajang piala Oscar, perusahaan transnasional itu mengiklankan film dokumenter penemuan kotak kubur di Yerusalem yang diklaim sebagai kotak kubur Yesus bin Yusuf beserta istri (Mariamne), dan anaknya (Yudas). Tagline favorit James Cameron untuk acara ini, “Yesus tidak pernah bangkit dari kematian-Nya”.

Klaimnya yang terburu-buru menunjukkan bahwa ia tidak tahu apa pun tentang penelitian terhadap temuan arkeologi latar belakang sejarah kehidupan Kristus. Pendapatnya mudah dipatahkan, misalnya jika Yesus hidup sebagai orang Galilea, tentu ia juga dikubur di Galilea—seandainya Dia tidak mati disalib dan bangkit dari kematian.

JANGAN TERKEJUT!
Kemungkinan besar, konspirasi-konspirasi yang bertujuan untuk melemahkan iman orang-orang percaya di masa depan akan makin canggih dan intensif; disertai dengan “bukti-bukti” yang seakan-akan sulit disangkal. Namun, seperti yang dikatakan Paulus, “… karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu” (Ef. 6:12). Jadi, bersiap-siaplah sebab seperti dikatakan Yesus, “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat. 10:16).

Ingat pepatah lama, “Tidak ada makan siang gratis”. Munculnya fenomena tersebut tidak bisa sekadar ditanggapi dengan pandangan idealistik filsafat. Mereka tidaklah “semulia” itu. Kebanyakan motif-motif yang menyerang kekristenan tidak pernah jauh dari uang—pun di Indonesia.

Sumber
Evans, Craig A., 2007, Merekayasa Yesus, hal. xxiv, Penerbit ANDI
http://id.wikipedia.org/wiki/Perpustakaan_Nag_Hammadi
Pate, C. M. & Pate, S. L., 2007, Disalibkan oleh Media, hal. 45, Penerbit Andi
White, J. E., 2006, The Da Vinci Question, hal. 8, Penerbit ANDI
Pate, C. M. & Pate, S. L., 2007, Disalibkan oleh Media, hal. 119, Penerbit Andi
Evans, Craig A., 2007, Merekayasa Yesus, hal. 301, Penerbit ANDI
Kasser, R., Meyer, M., dan Wurst, G., 2006, The Gospel of Judas (Injil Yudas), hal 77-129, Gramedia
Evans, Craig A., 2007, Merekayasa Yesus, hal. 248, Penerbit ANDI
Pate, C. M. & Pate, S. L., 2007, Disalibkan oleh Media, hal. 29-60, Penerbit Andi
http://32flavors.wordpress.com/gospel-of-judas/qa-herb-krosney-author-of-the-lost-gospel/
http://en.wikipedia.org/wiki/Jesus_Seminar
Pate, C. M. & Pate, S. L., 2007, Disalibkan oleh Media, hal. 1-28, Penerbit Andi
http://christopherbutler.wordpress.com/2006/04/28/scriptural-transmission-inspiration-and-inerrancy/
http://www.tektonics.org/books/ehrqurvw.html
http://www.somareview.com/apocalypsethen.cfm
http://www.amazon.com/Secrets-Judas-Misunderstood-Disciple-Gospel/dp/0061170631
http://www.ctlibrary.com/38091
http://www.christianitytoday.com/bc/2006/005/3.8.html
http://www.christiancentury.org/article.lasso?id=1594
http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1161238,00.html
http://32flavors.wordpress.com/gospel-of-judas/qa-herb-krosney-author-of-the-lost-gospel/
http://www.amazon.com/Lost-Gospel-Quest-Judas-Iscariot/dp/1426200412
http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1181626,00.html
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Holy_Blood_and_the_Holy_Grail
http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Baigent
http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1593893,00.html
http://www.usatoday.com/tech/science/2007-02-26-jesus-documentary_x.htm
http://www.amazon.com/Templar-Legacy-Novel-Steve-Berry/dp/0345476158
http://blogs.usatoday.com/ondeadline/2007/02/tomb_of_jesus_f.html
http://dev.bible.org/bock/node/106
http://your.sydneyanglicans.net/culture/reading/the_birth_of_christianity_the_first_twenty_years/
www.johndcrossan.com/files/Chpt1_TheBirthOfChristianity.pdf
http://www.duniaesai.com/filsafat/Fil12.htm
http://www.fritzwagner.com/ev/gnosticism2_source_materials.html
http://www.austheos.org.au/indices/QSTUSA.HTM
http://priory-of-sion.com/dvc/newage.html
http://www.intuition.org/txt/capra.htm
http://pages.ca.inter.net/~oblio/review1.htm
http://www.guardian.co.uk/comment/story/0,,1672201,00.html
http://www.curledup.com/gnosticp.htm
http://www.christianitytoday.com/ct/2007/januaryweb-only/001-22.0.html?gclid=CO3j0JmE1YoCFQF-PgodRwIlfw
http://en.wikipedia.org/wiki/Category_talk:Ancient_Rome
http://www.findarticles.com/p/articles/mi_m1285/is_2_29/ai_53747398
http://tasbeha.org/content/hh_books/jehovwit/index.html
http://www.adherents.com/largecom/fam_jw.html
http://www.adherents.com/people/pe/Dwight_Eisenhower.html
http://www.timboucher.com/journal/2005/06/15/cult_of_personality_vol_1/
http://www.bible.ca/scientology-gnostic-roots.htm
http://www.imdb.com/name/nm0000116/bio
http://www.adherents.com/people/pc/James_Cameron.html
http://www.plastic.com/comments.html;sid=07/02/26/13231591;cid=102
http://www.bycommonconsent.com/2007/02/the-jesus-tomb/#more-2514
http://www.voanews.com/english/2007-03-01-voa62.cfm?rss=religion
http://www.cinemablend.com/new/James-Cameron-To-Terminate-Christianity-4562.html”
http://deseretnews.com/dn/view/0,1249,595104489,00.html
http://finance.google.com/finance?cid=1955747
http://www.librarything.com/tag/Jesus
http://www.librarything.com/addbooks.php?welcome=1