Tuesday, May 20, 2008

Lima Roti dan Dua Ikan

Lima roti dan dua ikan mulanya hanya makanan satu keluarga
di tangan Yesus: lima ribu keluarga

Lima roti dua ikan mungkin sekadar alamat e-mail seseorang
Namun, itu adalah tanda iman

Lima roti dan dua ikan mungkin jumlah yang pas-pasan; bahkan kurang
Ucapan syukurlah yang membuatnya melimpah
Membawa pada Yesuslah yang membuat pesta jadi meriah

Lima roti dua ikan: lima ons beras dua butir telur:
Lima gram emas dua butir mutiara
Lima sak semen dua bak pasir
Lima setel pakaian dua pasang sepatu
Lima buah ratusan ribu dua buah lima puluhan ribu:
Lima Mercy dua Camry: lima rumah dua apartemen mewah:
Tak ada bedanya di mata Yesus
Harus diserahkan pada-Nya; tangan-Nya harus menyentuhnya
Harus ada ucapan syukur

Baru iman ribuan orang pun akan membubung
Dan dua belas bakul pun harus menampung

Lima roti dan dua ikan; murid-murid-Nya pun tak paham
Lima roti dan dua ikan?
Bukan lima ribu roti dan dua ribu ikan maksudmu?
Bukan, lima ribu roti dan dua ribu ikan tidak akan pernah sisa dua belas
bakul

Apa lima roti dua ikanku?
Apa lima roti dua ikanmu?

BIARLAH DIA SEPERTI DIRI-NYA SENDIRI

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

Amsal 9:10

Judul Buku : Sejarah TUHAN

Penerbit : Mizan

Pengarang : Karen Armstrong

Tahun : cetakan VI/2003

Halaman : 579 halaman

TUHAN, satu kata yang sampai sekarang terus mempengaruhi setiap orang. Sejak adanya alam semesta, kata ini terus menggaung di setiap peradaban manusia dalam berbagai nama. Bahkan usaha-usaha untuk meniadakan arti keberadaan-Nya pun sebenarnya secara tidak sadar merupakan bentuk pengakuan akan kehadiran-Nya.

Karen Armstrong pun terpengaruh dengan kata ini. Saat usia belia ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati untuk mengejar rasa penasarannya tentang TUHAN ini. Tujuh tahun ia menjalani, tanpa kepuasan, akhirnya ia keluar dan mulai melangkah mengembara mencari dan menyelidiki pribadi yang bernama TUHAN ini.

Buku ini lahir dari pengembaraannya. Ia menyebut dirinya freelance believer, untuk menggambarkan bahwa ia tidak terikat dengan doktrin-doktrin tertentu –walaupun dalam bukunya, akar kekristenan yang mengalir dalam tubuhnya sangat sulit diabaikan. Ia berusaha mencari jawaban segala sesuatu yang dipengaruhi "TUHAN" sejak zaman awal mula peradaban sampai saat ini, saat atheist menjadi suatu kebanggaan dan lambang kebebasan berpikir. Ia juga berusaha menyelidiki berbagai pengertian manusia yang mempengaruhi konsep "TUHAN" dalam sejarah keberadaan manusia.

Kesadaran akan keberadaan TUHAN telah ada sejak mula. Dengan meminjam kalimat pembuka Kitab Kejadian, Armstrong secara sarkastik menggambarkan kesadaran ini dengan kalimat 'Pada mulanya, manusia menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa langit dan bumi'. Kepercayaan pada Tuhan tertinggi ini masih terlihat dalam agama suku-suku pribumi Afrika (juga pedalaman Papua & Kalimantan, berdasar pengalaman para penginjil di sana – pen.). Namun demikian, dia anehnya tidak hadir dalam kehidupan keseharian mereka; tidak ada kultus khusus untuknya dan dia tidak pernah tampil dalam penggambaran warga suku itu mengatakan bahwa dia tidak bisa diekspresikan dan tidak dapat dicemari oleh dunia manusia. Sebagian orang bahkan mengatakan dia telah "pergi". Hanya sayang, seringkali kesadaran lama-lama menjadi luntur dan hanya menjadi sebatas ide. Semakin lama ide tentang Tuhan tidak lagi memuaskan sehingga mulailah manusia mengembangkan pemikiran-pemikiran yang dianggapnya sesuai dengan harapannya. Dari situ mulailah "Sejarah Tuhan".

Kisah tersebut dimulai dari daerah Timur Tengah kuno, saat bangsa Sumeria membangun komunitas-komunitasnya di sekitar sungai Tigris dan Efrat (mungkin daerah itulah yang disebut Taman Eden di Alkitab – pen). Marduk menjadi pencipta bumi saat ia membunuh raksasa Tiamat dan membelahnya menjadi dunia. Satu keluarga yang tinggal di salah satu kota Sumeria, Ur, memulai pengembaraan bersama keluarganya ke arah barat yang diikuti dua gelombang perpindahan sesudahnya (Yakub – cucunya dan 400 tahun kemudian dari Mesir).

Saat keturunan Abraham menyeberangi sungai Yordan untuk memasuki tanah baru dari Mesir, mereka bersumpah untuk setia pada Yahweh dan tidak akan menyembah dewa lain. Saat itulah Yahweh menjadi lambang kemenangan-kemenangan atas suku-suku lain di tanah Kanaan tersebut. Pembantaian-pembantaian oleh orang Ibrani yang kalau sekarang dipandang terlalu barbarik seakan menjadi bukti penyertaan Yahweh dalam kehidupan mereka.

Sayang, saat mereka memasuki masa-masa damai, Yahweh dianggap tidak lagi memenuhi harapan. Memang ia menang di saat peperangan namun bisakah ia mampu memberi kesuburan pada tanah dan mengendalikan musim sehingga menjamin kemakmuran rakyat. Salomo memulainya dengan sinkretis saat membuat perkawinan-perkawinan politik untuk mempertahankan kerajaan-Nya. Bahkan di masa kehidupan Yesaya, Yahweh hanya dianggap sebagai salah satu dewa bagi kaum laki-laki (perempuan merasa tidak terwakili dengan penampilannya yang terlalu maskulin), di antara orang Israel, Yahweh "dikawinkan" dengan salah satu dewi kesuburan Asyera.

Di daratan Asia Timur dan Asia Timur jauh sedang mengembangkan pemikiran mereka sendiri tentang kepercayaan mereka. Saat di Israel para Nabi sedang bertikai dengan para penguasanya yang korup dan lalai dengan sumpahnya yang mula-mula (abad 8 SM.), penduduk India yang mempunyai konsep bahwa nasib seseorang ditentukan oleh perbuatannya sendiri tidak mau menyalahkan para dewa atas perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Dalam Hinduisme, Tuhan tidak dilihat sebagai Wujud yang ditambahkan ke dunia seperti yang kita ketahui, karena itu tidak pula identik dengan dunia. Tidak bisa kita memahaminya melalui akal semata. Ia adalah realita yang hanya bisa dicerna dalam puncak perasaan original yang melampaui kesadaran diri.

Sekitar 538 SM., Sidharta Gautama meninggalkan istrinya yang cantik, putranya, dan rumah mewahnya untuk menjadi pertapa sederhana. Dia terhenyak melihat penderitaan manusia dan bermaksud menemukan rahasia untuk mengakhiri nestapa. Walaupun ajarannya tidak menyangkal dewa-dewa, tetapi percaya bahwa Realita tertinggi nirwana lebih luhur daripada dewa-dewa. Oleh sebab itu, dibanding bersandar kepada suatu dewa, Buddha mengajak murid-muridnya untuk mengejar pencerahan.

Orang-orang Yunani dan dunia Barat pra-Kristen berusaha menerjemahkan Tuhan dalam berbagai filsafat-filsafat mereka. Phytagoras yang terpengaruh oleh gagasan-gagasan India yang menyebar melalui Persia dan Mesir, mengungkapkan bahwa jiwa adalah bagian zat ilahi yang terjatuh, tercemar, dan terperangkap dalam tubuh seperti sebuah kuburan dan terhukum untuk menjalani siklus kelahiran kembali yang tiada habisnya. Plato juga menyakini keberadaan realita suci dan tak berubah yang melampaui dunia indrawi, bahwa jiwa adalah sepenggal keilahian. Di tengah berbagai mitos dewa-dewa yang saling berperang, bercinta, dan membunuh, para filsuf Yunani berusaha mengembangkan pemikiran mereka yang mungkin tidak membahas hakekat Tuhan, tetapi membatasi diri pada alam suci bentuk-bentuk, meski terkadang tampak bahwa Keindahan atau Kebaikan ideal tidak mewakili suatu realita puncak.

Melalui tiga dunia inilah Karen Armstrong mencoba menelusuri pemikiran-pemikiran manusia tentang Tuhan. Ia hanya membatasi hanya mengkaji Tuhan Yang Esa yang disembah oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam, walau terkadang juga disinggung konsepsi Hindu dan Buddha tentang realita tertinggi untuk memperjelas suatu pandangan monoteistik. Menurut pengakuannya, ia menulis bukan tentang sejarah realita Tuhan tetapi hanya merupakan persepsi umat manusia tentang Tuhan.

Konsep Trinitas, yang tidak dapat terhindarkan pada waktu membahas Tuhan di kalangan Kristen menjadi sorotan yang panjang. Trinitas menjadi sumber perdebatan yang tiada habisnya. Athanasius dan Arius (mereka saling bertentangan yang dengan dukungan Konstantin akhirnya konsep Athanasius-lah yang dibenarkan – walaupun tidak memuaskan juga), Gregory dari Nazianzus, Ambrose, Agustinus, sampai Luther mereka mencoba mendekati Tuhan yang Esa tapi tiga ini. Perdebatan tentang Trinitas ini sangat dipengaruhi oleh filsafat-filsafat Yunani yang mereka anut.

Sehingga saat di abad ke tujuh di Arabia muncul seorang nabi yang mengklaim telah menerima wahyu langsung dari Tuhan dan membawa kitab suci baru bagi umatnya, orang-orang Kristen begitu juga Yahudi menjadi terguncang. Agama baru ini menjadi begitu populer di seantero Afrika Utara dan Timur Tengah. Banyak pengikut barunya yang dengan lega melepas Trinitarianisme Yunani yang sebelumnya mereka anut dan menganut pandangan yang lebih Semitik tentang realita ilahi.

Seluruh buku ini sebenarnya hanya menyimpulkan bahwa pengertian tentang Tuhan berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan di antara agama-agama yang kelihatannya saling bertentangan dan saling menyerang, seperti Yahudi, Kristen, Katholik, dan Islam (walaupun mempunyai akar yang sama –Abraham), mereka mengalami sejenis "evolusi" pengertian yang sangat mirip. Bahkan dalam Islam yang menganut dengan keras Keesaan Tuhan kadang-kadang muncul pemahaman-pemahaman baru yang bernada-nada trinitas. Manusia dengan segala akal dan daya upaya berusaha mendekati realita ini. Apakah dengan menganggapnya personal, atau sebagai suatu energi yang memancar dan menguasai, atau bahkan ada tidak mau menganggapnya sebagai sesuatu.

Jika Anda seorang yang berlatar belakang Kristen, mungkin Anda akan terhenyak dengan tulisan-tulisan Karen Armstrong ini. Dia lebih suka mendekati berbagai doktrin-doktrin mapan tentang kekristenan dengan pandangan negatif, mungkin karena pengalaman yang tidak memuaskan di masa lampau. Pandangan yang lebih positif muncul saat membahas topik-topik tentang Islam dan ia dengan telaten membahas segala sesuatu tentang agama Semitik baru ini secara gamblang. Namun, jika kita membacanya dengan hati yang lebih jernih, maka akan terlihat gambaran besar bahwa segala tulisan dan konsep-konsep yang selama ini dikembangkan sebenarnya sangat mirip satu sama lain.

Tentang Ateisme, ia menganggapnya sebagai suatu pandangan yang mewakili masa transisi kala doktrin dan konsep tentang Tuhan telah seperti baju yang kekecilan untuk dipakai. Berbagai masa mengalami keadaan-keadaan seperti ini. Bahkan orang-orang Kristen ataupun Yahudi pernah dicap sebagai orang-orang yang Ateis.

Sebagai sebuah buku yang membahas tema yang luas dan seringkali menjadi pemicu pertarungan-pertarungan berdarah sejak zaman Musa, Armstrong berusaha untuk jujur dengan keadaan dari masing-masing pemikiran walaupun kelihatannya ia berat sebelah. Tetapi bukankah buku ini bukan hendak mencari keadilan dan kebenaran, ia hanya bercerita bukan hendak berargumen.

Yang jelas, tidak ada kesimpulan yang memuaskan selesai membaca buku ini. Armstrong kelihatannya tertarik dengan Tuhan yang didekati kaum mistik walaupun di dalamnya terdapat juga banyak kelemahan. Bagi saya kesimpulan yang paling memuaskan dari keberadaan Tuhan adalah biarlah Dia menjadi diri-Nya sendiri. Bagaimanapun akal saja tidak akan mampu mendekati Yang Maha Agung dan mungkin Pencipta Segala Sesuatu itu telah berusaha keras untuk memberi pengertian pada kita, namun kebebalan jualah yang menghambat. (Bayu Probo)

Sunday, May 18, 2008

Menggosipkan Yesus

Injil-injil non-Alkitab = Infotainment

 

 

 "Kerajaan Bapa seperti pria yang ingin membunuh hakim. Di rumah ia menancapkan pisau ke tembok untuk mengetahui apakah tangannya cukup kuat. Selanjutnya ia membunuh hakim itu".

Perkataan Yesus dalam Injil Tomas

 

Yesus memberi perintah rahasia kepada Yudas Iskariot agar menyerahkan diri-Nya untuk disalib. Jadi Yudas tidak mengkhianati Yesus; ia bahkan murid yang paling taat pada Yesus. Yesus memerintahkan Petrus supaya tidak usah iri pada Maria Magdalena yang sudah mendapat "pengetahuan khusus". Yesus adalah manusia biasa, bukan Tuhan. Yesus memperistri Maria Magdalena dan melahirkan keturunan raja-raja Prancis. Itulah berbagai gambaran tentang Yesus yang marak di media akhir-akhir ini.

 

Dari manakah sumber semua gambaran tentang Yesus yang berbeda dengan yang selama ini terdapat dalam Alkitab? Mengapa sumber itu tidak pernah masuk Alkitab? Mengapa baru akhir-akhir ini menjadi heboh? Untuk menjawabnya, mari kita merunutnya sampai sekitar dua ratus tahun yang lampau. Saat itu beberapa orang mulai menginterpretasi Yesus berbeda dengan Alkitab, mengkritik keilahian-Nya, dan mencetak Yesus sesuai dengan apa yang mereka sebut hasil penelitian ilmiah. Salah satu yang paling terkenal adalah David Friedrich Strauss dengan buku setebal 1.400 halaman berjudul Life of Jesus Critically Examined (Paparan Kritis Kehidupan Yesus) yang terbit tahun 1835. Buku itu berisi Yesus yang digambarkan dalam empat Injil dalam Alkitab tidak lebih dari mitos belaka.

 

Namun, mereka waktu itu tidak banyak memiliki sumber untuk merekayasa Yesus menurut gambaran mereka. Naskah-naskah yang mereka pegang adalah tulisan yang jauh lebih muda daripada naskah-naskah asli empat kitab Injil. Jadi, gambaran Yesus 'alternatif' tersebut bersifat sangat spekulatif.

Angin segar agaknya mulai berembus ke arah para pengritik Yesus tersebut saat ditemukan injil-injil Koptik di dekat desa Nag Hammadi, Mesir, pada tahun 1945. Naskah tersebut ditemukan bukan oleh penggalian arkeologi yang terencana baik, melainkan tanpa sengaja ditemukan oleh dua petani yang berusaha mencari pupuk di gua-gua batu kapur daerah itu.

 

Injil Koptik, Apa Itu?

Ada 13 jilid naskah (disebut codex) yang mereka temukan yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Koptik—bahasa Yunani yang sudah bercampur dengan bahasa Mesir. Ada 51 tulisan (disebut traktat) dalam ketiga belas codex tersebut dan yang paling terkenal adalah Injil Tomas karena adalah satu-satunya teks yang paling lengkap. Para pengritik Alkitab meyakini dalam codex Nag Hammadi terdapat ucapan Yesus yang asli; berarti seharusnya masuk Alkitab namun karena rekayasa gereja naskah tersebut dibuang.

 

Injil Tomas menjadi senjata andalan anggota Jesus Seminar—kelompok modern pengritik Alkitab—karena dianggap memuat ucapan Yesus yang paling murni. Yesus yang digambarkan dalam Injil Tomas berbeda dengan gambaran Alkitab. Yesus digambarkan senang berbicara secara rahasia, terutama kepada Rasul Tomas yang diklaim sebagai murid yang paling dikasihi, yang memahami Yesus lebih dalam daripada murid-murid yang lain. Berbeda dengan Yesus dalam Injil Perjanjian Baru, yang mendorong para murid supaya beriman, dalam Injil Tomas Yesus meminta para murid untuk memperoleh pengetahuan tertinggi supaya mereka terbebas dari kematian. Yesus dalam Injil Tomas juga digambarkan berjanji pada Maria Magdalena akan membimbing Maria memperoleh pengetahuan supaya bisa menjadi laki-laki sehingga sempurna. Karena saking bersemangatnya, kelompok Jesus Seminar mengusulkan Injil Tomas sebagai Injil kelima dan ditambahkan ke dalam Alkitab. Ucapan Yesus yang lebih pendek daripada ucapan Yesus dalam Injil Perjanjian Baru dipandang lebih asli. "Bukankah orang lebih mudah mengingat ucapan yang lebih pendek daripada yang lebih panjang? Yang lebih panjang pasti sudah direkayasa," begitu argumen mereka.

 

Injil Filipus—yang menjadi latar belakang penulisan novel The Da Vinci Code—juga termasuk dalam naskah injil Koptik Nag Hammadi. Dalam injil tersebut dikisahkan tentang Yesus yang menikahi Maria Magdalena dan mengangkat Maria menjadi pemimpin gereja. Injil Filipus dikuatkan Injil Maria yang mengisahkan cerita Maria Magdalena yang mendapat wahyu khusus dari Yesus. Andreas dan Petrus menyatakan keraguan terhadap klaim Maria tersebut karena berbeda dengan ajaran yang mereka terima. Maria menangis sedih karena mereka berpikir ia menyalahpahami perkataan Yesus. Lewi menegur Petrus karena "keirihatian" Petrus.

 

Itulah tiga yang paling terkenal di antara banyak injil Koptik. Tahun lalu, 'senjata' bertambah dengan diterjemahkannya Injil Yudas. Juga ditemukan Mesir, Injil Yudas, berisi hampir mirip dengan Injil Tomas: Yudas Iskariot mendapat wahyu khusus dari Yesus. Yudas dianggap paling mengerti ajaran Yesus dan bahkan kisah penangkapan Yesus adalah wujud ketaatan Yudas Iskariot terhadap perintah Yesus yang khusus tersebut.

 

Mengapa Injil-injil Itu Tidak Masuk Alkitab?

Salah satu metode untuk menentukan sebuah naskah bisa dimasukkan Alkitab kita adalah kedekatan dengan sumber asli; alias tahun penerbitannya. Injil Matius ditulis tahun sekitar tahun 65-110 M, Injil Markus ditulis 55-60 M, Injil Lukas ditulis tahun 80 M, dan Injil Yohanes ditulis tahun 90 M. Tahun-tahun tersebut menunjukkan bahwa para saksi mata yang langsung melihat Yesus dan ajarannya langsung masih hidup pada waktu itu. bandingkan dengan Injil Tomas yang ditulis (180 M), Injil Filipus (170 M), Injil Maria (160 M), dan Injil Yudas (120 M).

 

Tes yang lain terhadap keabsahan Injil adalah jumlah pengguna pada waktu itu. Injil-injil dalam Alkitab adalah Injil yang populer pada masa itu. Bandingkan dengan injil-injil Koptik yang hanya digunakan untuk kalangan tertentu yang memiliki pandangan berbeda dengan gereja. Mereka memisahkan diri dari gereja karena merasa mendapat wahyu khusus dari Yesus dan posisi mereka lebih tinggi dari manusia biasa.

 

Walau begitu, injil-injil Koptik penting bagi penelitian ilmiah karena tulisan-tulisan tersebut menggambarkan adat dan budaya pada waktu itu untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap kekristenan pada masa awal berdirinya. Jadi tidak bisa diabaikan begitu saja, tetapi saat menelitinya harus bersifat kritis.

 

Perbandingan ini bisa diibaratkan menyelidiki kehidupan Putri Diana dengan menanyakan langsung kepada Pangeran Charles, Pangeran William, dan Pangeran Henry yang lebih akurat daripada mencarinya dari tabloid-tabloid infotainment yang berisi gosip.

 

Hanya sayang, tabloid gosip lebih gurih dibaca daripada sumber aslinya. Oleh sebab itu Injil Yudas terlihat lebih heboh daripada Alkitab karena sensasi yang ditimbulkan. Jadi pilih mana? Gosip atau cerita yang sejati? (B. Probo)

Thursday, May 15, 2008

Bijaksana di Dunia Kerja



"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu"

Matius 7:24

DALAM BUKU Integrity@Work yang diterbitkan Penerbit Buku & Majalah Rohani ANDI, ada kisah seorang manajer yang baru saja mendapat promosi karena menggantikan atasannya yang memasuki masa pensiun. Manajer ini adalah seorang Kristen yang baik, yang berusaha menerapkan firman Tuhan dalam kehidupannya, termasuk dalam pekerjaannya.

Dalam proses serah terima tanggung jawab antara atasan dengannya, terdapat masalah yang mengganjal hati nuraninya. Salah satu klien terbesar perusahaan tempatnya bekerja mempunyai kebiasaan unik. Klien tersebut tinggal di luar kota dan setiap bulan ia melakukan transaksi besar dan perusahaan tempat sang manajer bekerja selalu menuruti seluruh permintaan klien utamanya tersebut.

Kebiasaannya adalah klien unik ini selalu mengadakan transaksi bisnis di klub penari telanjang. Dan atasan sang manajer—yang akan pensiun—itu selalu menuruti permintaan si klien tersebut. Sang atasan tahu kalau si manajer adalah seorang Kristen dan terlihat agak keberatan dengan kebiasaan klien tersebut.

Namun, sang atasan tetap mendesak si manajer untuk mengambil langkah sama dengan berbagai argumen. Masa depan perusahaan dan seluruh karyawan yang bekerja ada di pundak manajer tersebut. Jika kehilangan klien tersebut, perusahaan akan mengalami kesulitan. Jadi bukan hanya karier si manajer yang dipertaruhkan, melainkan juga komponen perusahaan tempatnya bekerja.

Terjadi perang batin dalam hati si manajer. Di satu sisi ia hendak mempertahankan imannya. Melakukan transaksi bisnis di klub penari telanjang sama saja mendatangi godaan perzinaan. Ia tidak mau. Dan, ia juga tidak habis pikir, bagaimana bisa seseorang berpikir jernih dalam melakukan transaksi bisnis di tempat yang jelas-jelas jauh dari ketenangan?

Apakah ia harus menyerah dan menuruti desakan atasannya? Yang berarti mengorbankan imannya? Yang berarti mengorbankan komitmen pada istrinya.

Apakah ia lebih baik keluar dari tempat kerjanya? Yang berarti membahayakan karier dan kelangsungan finansial keluarganya?

Seperti buah simalakama. Dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu mati. (Ada yang memelesetkannya—kalau begitu dijual saja. Tidak ada yang mati, malah dapat untung)

Ia lalu memohon pertolongan kepada Tuhan Yesus. Seperti yang disarankan Rasul Yakobus dalam suratnya, Yakobus 1:5, "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, —yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit—,maka hal itu akan diberikan kepadanya."

Tuhan Yesus sendiri juga sering menghadapi persoalan yang sama pelik bahkan lebih. Ingatkah Anda saat Dia menyelesaikan persoalan perempuan yang kedapatan berzina? Penyelesaiannya bukan hanya menyelamatkan si perempuan, melainkan juga memberi arti baru pada konsep pengampunan dan penghakiman moral.

Ingatkah juga saat orang-orang berdebat tentang membayar pajak? Persoalan tidak hanya selesai hanya sebatas membayar atau tidak membayar pajak. Namun, Tuhan Yesus malah memberi arti baru tentang cara yang benar menyembah Allah.

Untunglah, si manajer tadi mendapat penyelesaian atas persoalannya. Beberapa waktu kemudian klien tersebut mengundang si manajer untuk datang ke kotanya. Sebelum melakukan pembicaraan lebih lanjut si manajer mengundang klien tersebut untuk makan malam bersama istrinya. Manajer tersebut juga mengundang istri si klien untuk ikut makan malam bersama mereka. Alasannya, si manajer hendak memperkenalkan diri beserta pasangan dan mengenal lebih dekat sang klien dan keluarganya supaya hubungan mereka cair—tidak semata bisnis. Sebab bagaimanapun bisnis yang akan mereka lakukan berpengaruh juga terhadap kehidupan keluarga, termasuk istri mereka.

Sebelumnya si manajer sudah membicarakan persoalan tersebut dengan istrinya.

Si klien agak kaget menerima undangan tersebut. Namun sebagai pertemuan pertama mereka, klien tersebut mengiyakan tawaran tersebut dan berjanji mengajak istrinya.

Dan, hari H pun tibalah. Si manajer melakukan perjalanan dinas ke kota klie besar tersebut. Sedangkan biaya transportasi dan akomodasi istrinya ditanggung sendiri oleh si manajer.

Pertemuan ramah tamah di rumah makan yang bagus berlangsung akrab. Ternyata klien tersebut pandai bercerita kisah-kisah menarik. Dan, istri klien terlihat menyukai pertemuan berempat mereka.

Akhirnya setelah keakraban meningkat dan para istri mulai menikmati pembicaraan di antara mereka berdua, sang klien berbisik pada si manajer, "Dulu, saya tidak melakukan transaksi bisnis di tempat seperti ini," sambil melirik istrinya, "ternyata pertemuan ini lebih menyenangkan daripada yang selama ini kukira." Lalu si klien sambil meminta persetujuan istrinya ia berkata, "Pertemuan kita berempat sepertinya harus sering diadakan nich."

Lalu bagaimana dengan kita. Jalan keluar terhadap masalah pelik memang tidak selalu mulus seperti contoh tadi. Namun setidaknya ada dua panduan praktis yang bisa dipetik.

  1. Hidup konsisten dalam firman Tuhan seperti Matius 7:24. Sebab ini menjadi dasar.
  2. Meminta hikmat dari Tuhan seperti Yakobus 1:5.

Monday, May 12, 2008

Mendapat Rating Tinggi di Atas "Penderitaan" Orang Lain


Kemarin, 6 Mei 2008, saya pulang dari kantor, bersepeda. Di tengah perjalanan turun hujan deras dan mampir ke warung "burjo" dan memesan semangkuk mi rebus.

Sembari makan mi rebus, saya disuguhi tontonan televisi. Strategi jitu
warung tersebut untuk menahan konsumennya berlama-lama di warung. Makin lama
makin banyak yang dimakan, keuntungan pun berlimpah.

Biaya operasional pun murah. Televisi murah, listrik juga masih murah. Kita
masih menikmati subsidi dari pemerintah. Entah kalau BBM naik.

Acara televisi yang ditonton tergantung kesukaan si pemilik warung. Ada lima
orang yang datang ke warung burjo itu; mau tidak mau ikut menonton kesukaan
si pemilik warung.

Backstreet judulnya. Reality show. SCTV stasiunnya. Ada laki-laki yang
mengaku kakak seorang perempuan mengadu ke presenter acara tersebut kalau
pacar di perempuan selingkuh. Dan acara pun dimulailah.

Laki-laki itu, presenter, dan kru SCTV, bak detektif partikelir, berburu
kehidupan si peselingkuh dan berharap menangkapnya basah kuyup. Mereka
menguntit, mengintip, dan menyelidik laki-laki "bejat" yang berani-beraninya
mengkhianati adik klien reality show itu.

Dan, mereka pun berhasil menemukan si peselingkuh sedang berduaan dengan
selingkuhannya. Si adik laki-laki yang klien SCTV itu pun dipanggil. Karena
menolak datang—tidak ada transpor katanya. Kru SCTV dengan gagah berani
menjemput adik si klien tersebut.

Yap, jawabannya mudah ditebak. Si peselingkuh basah kuyup. Ada adegan tampar
menampar, tinju meninju, sumpah serapah (yang ditutupi dengan dengan bunyi
tat tit tut—tapi gerak bibir si pelaku serapah tidak ditutupi). Seperti
sinetron, tapi pemainnya amatir. Matanya jelas bicara dong.

Rating acara itu pun naiklah. Si peselingkuh pun malulah. Namun dia tidak
bisa apa-apa. Dalam tayangan berdurasi 30 menit—mendadak ia seperti pesohor
yang dikelilingi kamera media gosip. Hanya saja kalau pesohor mencari
gara-gara supaya tetap dikelilingi kamera gosip supaya posisi tawarnya
dengan PH terus tinggi. Sialnya si peselingkuh posisi tawarnya langsung
anjlok di antara gadis-gadis yang hendak ia pacari.

Apalagi perempuan yang ikut-ikutan tertangkap kamera sedang berbasah karena
berselingkuh dengan si peselingkuh. Saya tidak bisa membayangkan apa
jadinya.

Namun, jangan-jangan sebenarnya bukan kejadian nyata. Mereka hanya bayaran.
Atau saya menulis ini karena kebanyakan korbannya laki-laki. Entahlah.
Selamat untuk SCTV.

Tuesday, May 6, 2008

Perencanaan dalam Menulis


Bab 2
Perencanaan



“Orang yang menunggu mood, hanya sebagai alasan untuk malas menulis”
Raditya Dika
Penulis Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikusmakankakus, Babi Ngesot


Mulai
Semua penulis sering menemui masalah untuk memulai menulis. Pada Bab 1, Ernest Hemingway berkata bahwa saat ia hendak mulai ia akan menatap angkasa, membuang kulit-kulit jeruk ke dalam api, atau mengkhawatirkan kemampuannya untuk menulis kembali. Tidak semua aktivitas tersebut membuang-buang waktu; bahkan mungkin diperlukan saat penulis memikirkan cara untuk memulai proyek mereka.

Berpikir acak mungkin terlihat tidak bertujuan, tetapi hal itu sering menolong para penulis mengatasi kesulitan dari gangguan luar; akhirnya membuat mereka bisa memulai fokus pada tulisan mereka. Namun, berpikir acak menjadi hal yang hanya membuang-buang waktu jika malah mendorong penulis menunggu waktu sempurna untuk mulai bekerja. Orang-orang yang menunggu waktu sempurna biasanya lebih banyak menggunakan waktu mereka untuk menanti-nanti saat yang tepat untuk menulis dan sangat sedikit bekerja.

Seharusnya, semua penulis segera melakukan panggilan Hemingway: memberikan semangat, “Berhenti khawatir! Mulai menulis!”

Cara terbaik untuk mulai menulis adalah membuat perencanaan. Namun, biasanya para penulis pemula cenderung berpikir tentang perencanaan secara esensi berarti aktivitas berpikir. Pertama, mereka merencanakan dalam benak hal-hal yang hendak mereka sampaikan. Kedua, mereka mentransfer pikiran mereka dalam secarik kertas.

Sayangnya, para penulis pemula menemukan bahwa perencanaan semacam itu biasanya menghasilkan dua jenis kegagalan: (1) mereka tidak dapat memikirkan semua yang hendak mereka tulis sebelum mereka mulai menulis, dan (2) mereka tidak dapat secara sederhana mentransfer pikiran mereka dalam tulisan. Kenyataannya, perencanaan terutama adalah aktivitas menulis—seperti yang dibuktikan para penulis berpengalaman. Meskipun mereka mengaku melakukan beberapa rencana sebelum mulai menulis, mereka melakukan perencanaan paling produktif setelah mereka mulai menulis. Bagi mereka, perencanaan tidaklah melulu berpikir dan menulis, tetapi berpikir-dalam-menulis. Simaklah yang dikatakan pencipta puisi William Stafford tentang hubungan antara berpikir dan menulis dalam paragraf berikut:

Saat menulis, saya senang memiliki interval di depan sebelumnya saat saya tidak senang diinterupsi. Bagi saya, ini berarti biasanya pada waktu pagi buta, sebelum orang lain bangun. Saya mengambil pena dan kertas, memandang sepintas jendela (biasanya gelap di luar), dan menunggu. Seperti memancing. Namun, saya tidak menunggu lama, biasanya ada makanan kecil—dan ini tempat daya penerimaan datang. Untuk memulainya saya biasanya menyetujui apa pun yang muncul di depan saya. Sesuatu yang selalu muncul, tentu saja, pada semua kita. Kita tidak dapat berhenti berpikir. Mungkin saya harus bersedia menerima kesan segera: ini dingin, atau panas, atau gelap, atau cemerlang, atau di antaranya! Atau—berbagai kemungkinan yang tiada akhir. Jika saya menuliskan suatu hal, sesuatu itu akan menolong saya pada hal berikutnya; dan saya pun mulai. Saat saya membiarkan proses berjalan, sesuatu akan muncul di depan saya yang tidak semuanya ada di pikiran saya saat saya mulai. Sesuatu itu, aneh atau sepele sekalipun, entah bagaimana hal-hal itu terhubung. Dan jika saya membiarkan rangkaian itu, hal-hal yang mengejutkan akan terjadi. (William Stafford, “A Way of Writing,” Writing the Australian Crawl)

Sumber & Strategi
Sebagai tahap pertama dalam proses menulis, perencanaan membantu Anda membongkar, menjelajahi, dan mengevaluasi topik Anda. Apa pun itu—Anda membahas topik yang diminta guru Anda atau topik bebas, seperti Stafford, yang menerima apa pun topik yang muncul di depan Anda—perencanaan membantu Anda memproduksi dan menempatkan informasi dalam menulis. Hemingway, Anda akan ingat, menempatkan “kalimat tunggal sejati” miliknya dalam satu dari tiga sumber (1) sesuatu yang ia tahu (daya ingat), (2) sesuatu yang ia lihat (observasi), atau (3) sesuatu yang didengarnya dari seseorang (riset). Tiga sumber tersebut mengandung informasi yang cukup—bahan baku bagi tulisan Anda. Untuk menyadap sumber-sumber tersebut, Anda perlu menggunakan suatu seri strategi berpikir-dalam-menulis praktis.

Strategi ini bukan hanya mengidentifikasi informasi yang familiar (dilupakan), melainkan juga menciptakan, seperti saran Stafford, informasi baru. Strategi ini juga cukup fleksibel sehingga dapat diterapkan pada semua sumber informasi. Anda mungkin menemukan, misalnya, strategi ini didesain untuk menyadap informasi Anda—misalnya menulis bebas—berhasil setara seperti riset observasi atau terstruktur. Saat Anda menggunakan setiap strategi, Anda perlu menjawab dua dua pertanyaan berikut: (1) berapa banyak informasi yang dapat saya produksi mengenai topik ini dalam tulisan? dan (2) bagaimana saya bisa menggunakan informasi ini untuk menciptakan suatu nukilan menarik dalam tulisan? Anda hanya dapat menjawab pertanyaan pertama setelah mencoba berbagai variasi strategi. Anda dapat menjawab pertanyaan kedua dengan menguji informasi Anda melalui garis pedoman yang tersedia pada Bab 1 tentang memilih subjek, menganalisis calon pembaca, dan menentukan tujuan.


Diterjemahkan dari The Writing Process: A Concise Rhetoric, Reader, and Handbook karya John M. Lannon, terbitan Longman halaman 35-37.