Tuesday, May 20, 2008

BIARLAH DIA SEPERTI DIRI-NYA SENDIRI

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

Amsal 9:10

Judul Buku : Sejarah TUHAN

Penerbit : Mizan

Pengarang : Karen Armstrong

Tahun : cetakan VI/2003

Halaman : 579 halaman

TUHAN, satu kata yang sampai sekarang terus mempengaruhi setiap orang. Sejak adanya alam semesta, kata ini terus menggaung di setiap peradaban manusia dalam berbagai nama. Bahkan usaha-usaha untuk meniadakan arti keberadaan-Nya pun sebenarnya secara tidak sadar merupakan bentuk pengakuan akan kehadiran-Nya.

Karen Armstrong pun terpengaruh dengan kata ini. Saat usia belia ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati untuk mengejar rasa penasarannya tentang TUHAN ini. Tujuh tahun ia menjalani, tanpa kepuasan, akhirnya ia keluar dan mulai melangkah mengembara mencari dan menyelidiki pribadi yang bernama TUHAN ini.

Buku ini lahir dari pengembaraannya. Ia menyebut dirinya freelance believer, untuk menggambarkan bahwa ia tidak terikat dengan doktrin-doktrin tertentu –walaupun dalam bukunya, akar kekristenan yang mengalir dalam tubuhnya sangat sulit diabaikan. Ia berusaha mencari jawaban segala sesuatu yang dipengaruhi "TUHAN" sejak zaman awal mula peradaban sampai saat ini, saat atheist menjadi suatu kebanggaan dan lambang kebebasan berpikir. Ia juga berusaha menyelidiki berbagai pengertian manusia yang mempengaruhi konsep "TUHAN" dalam sejarah keberadaan manusia.

Kesadaran akan keberadaan TUHAN telah ada sejak mula. Dengan meminjam kalimat pembuka Kitab Kejadian, Armstrong secara sarkastik menggambarkan kesadaran ini dengan kalimat 'Pada mulanya, manusia menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa langit dan bumi'. Kepercayaan pada Tuhan tertinggi ini masih terlihat dalam agama suku-suku pribumi Afrika (juga pedalaman Papua & Kalimantan, berdasar pengalaman para penginjil di sana – pen.). Namun demikian, dia anehnya tidak hadir dalam kehidupan keseharian mereka; tidak ada kultus khusus untuknya dan dia tidak pernah tampil dalam penggambaran warga suku itu mengatakan bahwa dia tidak bisa diekspresikan dan tidak dapat dicemari oleh dunia manusia. Sebagian orang bahkan mengatakan dia telah "pergi". Hanya sayang, seringkali kesadaran lama-lama menjadi luntur dan hanya menjadi sebatas ide. Semakin lama ide tentang Tuhan tidak lagi memuaskan sehingga mulailah manusia mengembangkan pemikiran-pemikiran yang dianggapnya sesuai dengan harapannya. Dari situ mulailah "Sejarah Tuhan".

Kisah tersebut dimulai dari daerah Timur Tengah kuno, saat bangsa Sumeria membangun komunitas-komunitasnya di sekitar sungai Tigris dan Efrat (mungkin daerah itulah yang disebut Taman Eden di Alkitab – pen). Marduk menjadi pencipta bumi saat ia membunuh raksasa Tiamat dan membelahnya menjadi dunia. Satu keluarga yang tinggal di salah satu kota Sumeria, Ur, memulai pengembaraan bersama keluarganya ke arah barat yang diikuti dua gelombang perpindahan sesudahnya (Yakub – cucunya dan 400 tahun kemudian dari Mesir).

Saat keturunan Abraham menyeberangi sungai Yordan untuk memasuki tanah baru dari Mesir, mereka bersumpah untuk setia pada Yahweh dan tidak akan menyembah dewa lain. Saat itulah Yahweh menjadi lambang kemenangan-kemenangan atas suku-suku lain di tanah Kanaan tersebut. Pembantaian-pembantaian oleh orang Ibrani yang kalau sekarang dipandang terlalu barbarik seakan menjadi bukti penyertaan Yahweh dalam kehidupan mereka.

Sayang, saat mereka memasuki masa-masa damai, Yahweh dianggap tidak lagi memenuhi harapan. Memang ia menang di saat peperangan namun bisakah ia mampu memberi kesuburan pada tanah dan mengendalikan musim sehingga menjamin kemakmuran rakyat. Salomo memulainya dengan sinkretis saat membuat perkawinan-perkawinan politik untuk mempertahankan kerajaan-Nya. Bahkan di masa kehidupan Yesaya, Yahweh hanya dianggap sebagai salah satu dewa bagi kaum laki-laki (perempuan merasa tidak terwakili dengan penampilannya yang terlalu maskulin), di antara orang Israel, Yahweh "dikawinkan" dengan salah satu dewi kesuburan Asyera.

Di daratan Asia Timur dan Asia Timur jauh sedang mengembangkan pemikiran mereka sendiri tentang kepercayaan mereka. Saat di Israel para Nabi sedang bertikai dengan para penguasanya yang korup dan lalai dengan sumpahnya yang mula-mula (abad 8 SM.), penduduk India yang mempunyai konsep bahwa nasib seseorang ditentukan oleh perbuatannya sendiri tidak mau menyalahkan para dewa atas perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Dalam Hinduisme, Tuhan tidak dilihat sebagai Wujud yang ditambahkan ke dunia seperti yang kita ketahui, karena itu tidak pula identik dengan dunia. Tidak bisa kita memahaminya melalui akal semata. Ia adalah realita yang hanya bisa dicerna dalam puncak perasaan original yang melampaui kesadaran diri.

Sekitar 538 SM., Sidharta Gautama meninggalkan istrinya yang cantik, putranya, dan rumah mewahnya untuk menjadi pertapa sederhana. Dia terhenyak melihat penderitaan manusia dan bermaksud menemukan rahasia untuk mengakhiri nestapa. Walaupun ajarannya tidak menyangkal dewa-dewa, tetapi percaya bahwa Realita tertinggi nirwana lebih luhur daripada dewa-dewa. Oleh sebab itu, dibanding bersandar kepada suatu dewa, Buddha mengajak murid-muridnya untuk mengejar pencerahan.

Orang-orang Yunani dan dunia Barat pra-Kristen berusaha menerjemahkan Tuhan dalam berbagai filsafat-filsafat mereka. Phytagoras yang terpengaruh oleh gagasan-gagasan India yang menyebar melalui Persia dan Mesir, mengungkapkan bahwa jiwa adalah bagian zat ilahi yang terjatuh, tercemar, dan terperangkap dalam tubuh seperti sebuah kuburan dan terhukum untuk menjalani siklus kelahiran kembali yang tiada habisnya. Plato juga menyakini keberadaan realita suci dan tak berubah yang melampaui dunia indrawi, bahwa jiwa adalah sepenggal keilahian. Di tengah berbagai mitos dewa-dewa yang saling berperang, bercinta, dan membunuh, para filsuf Yunani berusaha mengembangkan pemikiran mereka yang mungkin tidak membahas hakekat Tuhan, tetapi membatasi diri pada alam suci bentuk-bentuk, meski terkadang tampak bahwa Keindahan atau Kebaikan ideal tidak mewakili suatu realita puncak.

Melalui tiga dunia inilah Karen Armstrong mencoba menelusuri pemikiran-pemikiran manusia tentang Tuhan. Ia hanya membatasi hanya mengkaji Tuhan Yang Esa yang disembah oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam, walau terkadang juga disinggung konsepsi Hindu dan Buddha tentang realita tertinggi untuk memperjelas suatu pandangan monoteistik. Menurut pengakuannya, ia menulis bukan tentang sejarah realita Tuhan tetapi hanya merupakan persepsi umat manusia tentang Tuhan.

Konsep Trinitas, yang tidak dapat terhindarkan pada waktu membahas Tuhan di kalangan Kristen menjadi sorotan yang panjang. Trinitas menjadi sumber perdebatan yang tiada habisnya. Athanasius dan Arius (mereka saling bertentangan yang dengan dukungan Konstantin akhirnya konsep Athanasius-lah yang dibenarkan – walaupun tidak memuaskan juga), Gregory dari Nazianzus, Ambrose, Agustinus, sampai Luther mereka mencoba mendekati Tuhan yang Esa tapi tiga ini. Perdebatan tentang Trinitas ini sangat dipengaruhi oleh filsafat-filsafat Yunani yang mereka anut.

Sehingga saat di abad ke tujuh di Arabia muncul seorang nabi yang mengklaim telah menerima wahyu langsung dari Tuhan dan membawa kitab suci baru bagi umatnya, orang-orang Kristen begitu juga Yahudi menjadi terguncang. Agama baru ini menjadi begitu populer di seantero Afrika Utara dan Timur Tengah. Banyak pengikut barunya yang dengan lega melepas Trinitarianisme Yunani yang sebelumnya mereka anut dan menganut pandangan yang lebih Semitik tentang realita ilahi.

Seluruh buku ini sebenarnya hanya menyimpulkan bahwa pengertian tentang Tuhan berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan di antara agama-agama yang kelihatannya saling bertentangan dan saling menyerang, seperti Yahudi, Kristen, Katholik, dan Islam (walaupun mempunyai akar yang sama –Abraham), mereka mengalami sejenis "evolusi" pengertian yang sangat mirip. Bahkan dalam Islam yang menganut dengan keras Keesaan Tuhan kadang-kadang muncul pemahaman-pemahaman baru yang bernada-nada trinitas. Manusia dengan segala akal dan daya upaya berusaha mendekati realita ini. Apakah dengan menganggapnya personal, atau sebagai suatu energi yang memancar dan menguasai, atau bahkan ada tidak mau menganggapnya sebagai sesuatu.

Jika Anda seorang yang berlatar belakang Kristen, mungkin Anda akan terhenyak dengan tulisan-tulisan Karen Armstrong ini. Dia lebih suka mendekati berbagai doktrin-doktrin mapan tentang kekristenan dengan pandangan negatif, mungkin karena pengalaman yang tidak memuaskan di masa lampau. Pandangan yang lebih positif muncul saat membahas topik-topik tentang Islam dan ia dengan telaten membahas segala sesuatu tentang agama Semitik baru ini secara gamblang. Namun, jika kita membacanya dengan hati yang lebih jernih, maka akan terlihat gambaran besar bahwa segala tulisan dan konsep-konsep yang selama ini dikembangkan sebenarnya sangat mirip satu sama lain.

Tentang Ateisme, ia menganggapnya sebagai suatu pandangan yang mewakili masa transisi kala doktrin dan konsep tentang Tuhan telah seperti baju yang kekecilan untuk dipakai. Berbagai masa mengalami keadaan-keadaan seperti ini. Bahkan orang-orang Kristen ataupun Yahudi pernah dicap sebagai orang-orang yang Ateis.

Sebagai sebuah buku yang membahas tema yang luas dan seringkali menjadi pemicu pertarungan-pertarungan berdarah sejak zaman Musa, Armstrong berusaha untuk jujur dengan keadaan dari masing-masing pemikiran walaupun kelihatannya ia berat sebelah. Tetapi bukankah buku ini bukan hendak mencari keadilan dan kebenaran, ia hanya bercerita bukan hendak berargumen.

Yang jelas, tidak ada kesimpulan yang memuaskan selesai membaca buku ini. Armstrong kelihatannya tertarik dengan Tuhan yang didekati kaum mistik walaupun di dalamnya terdapat juga banyak kelemahan. Bagi saya kesimpulan yang paling memuaskan dari keberadaan Tuhan adalah biarlah Dia menjadi diri-Nya sendiri. Bagaimanapun akal saja tidak akan mampu mendekati Yang Maha Agung dan mungkin Pencipta Segala Sesuatu itu telah berusaha keras untuk memberi pengertian pada kita, namun kebebalan jualah yang menghambat. (Bayu Probo)