Thursday, May 15, 2008

Bijaksana di Dunia Kerja



"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu"

Matius 7:24

DALAM BUKU Integrity@Work yang diterbitkan Penerbit Buku & Majalah Rohani ANDI, ada kisah seorang manajer yang baru saja mendapat promosi karena menggantikan atasannya yang memasuki masa pensiun. Manajer ini adalah seorang Kristen yang baik, yang berusaha menerapkan firman Tuhan dalam kehidupannya, termasuk dalam pekerjaannya.

Dalam proses serah terima tanggung jawab antara atasan dengannya, terdapat masalah yang mengganjal hati nuraninya. Salah satu klien terbesar perusahaan tempatnya bekerja mempunyai kebiasaan unik. Klien tersebut tinggal di luar kota dan setiap bulan ia melakukan transaksi besar dan perusahaan tempat sang manajer bekerja selalu menuruti seluruh permintaan klien utamanya tersebut.

Kebiasaannya adalah klien unik ini selalu mengadakan transaksi bisnis di klub penari telanjang. Dan atasan sang manajer—yang akan pensiun—itu selalu menuruti permintaan si klien tersebut. Sang atasan tahu kalau si manajer adalah seorang Kristen dan terlihat agak keberatan dengan kebiasaan klien tersebut.

Namun, sang atasan tetap mendesak si manajer untuk mengambil langkah sama dengan berbagai argumen. Masa depan perusahaan dan seluruh karyawan yang bekerja ada di pundak manajer tersebut. Jika kehilangan klien tersebut, perusahaan akan mengalami kesulitan. Jadi bukan hanya karier si manajer yang dipertaruhkan, melainkan juga komponen perusahaan tempatnya bekerja.

Terjadi perang batin dalam hati si manajer. Di satu sisi ia hendak mempertahankan imannya. Melakukan transaksi bisnis di klub penari telanjang sama saja mendatangi godaan perzinaan. Ia tidak mau. Dan, ia juga tidak habis pikir, bagaimana bisa seseorang berpikir jernih dalam melakukan transaksi bisnis di tempat yang jelas-jelas jauh dari ketenangan?

Apakah ia harus menyerah dan menuruti desakan atasannya? Yang berarti mengorbankan imannya? Yang berarti mengorbankan komitmen pada istrinya.

Apakah ia lebih baik keluar dari tempat kerjanya? Yang berarti membahayakan karier dan kelangsungan finansial keluarganya?

Seperti buah simalakama. Dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu mati. (Ada yang memelesetkannya—kalau begitu dijual saja. Tidak ada yang mati, malah dapat untung)

Ia lalu memohon pertolongan kepada Tuhan Yesus. Seperti yang disarankan Rasul Yakobus dalam suratnya, Yakobus 1:5, "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, —yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit—,maka hal itu akan diberikan kepadanya."

Tuhan Yesus sendiri juga sering menghadapi persoalan yang sama pelik bahkan lebih. Ingatkah Anda saat Dia menyelesaikan persoalan perempuan yang kedapatan berzina? Penyelesaiannya bukan hanya menyelamatkan si perempuan, melainkan juga memberi arti baru pada konsep pengampunan dan penghakiman moral.

Ingatkah juga saat orang-orang berdebat tentang membayar pajak? Persoalan tidak hanya selesai hanya sebatas membayar atau tidak membayar pajak. Namun, Tuhan Yesus malah memberi arti baru tentang cara yang benar menyembah Allah.

Untunglah, si manajer tadi mendapat penyelesaian atas persoalannya. Beberapa waktu kemudian klien tersebut mengundang si manajer untuk datang ke kotanya. Sebelum melakukan pembicaraan lebih lanjut si manajer mengundang klien tersebut untuk makan malam bersama istrinya. Manajer tersebut juga mengundang istri si klien untuk ikut makan malam bersama mereka. Alasannya, si manajer hendak memperkenalkan diri beserta pasangan dan mengenal lebih dekat sang klien dan keluarganya supaya hubungan mereka cair—tidak semata bisnis. Sebab bagaimanapun bisnis yang akan mereka lakukan berpengaruh juga terhadap kehidupan keluarga, termasuk istri mereka.

Sebelumnya si manajer sudah membicarakan persoalan tersebut dengan istrinya.

Si klien agak kaget menerima undangan tersebut. Namun sebagai pertemuan pertama mereka, klien tersebut mengiyakan tawaran tersebut dan berjanji mengajak istrinya.

Dan, hari H pun tibalah. Si manajer melakukan perjalanan dinas ke kota klie besar tersebut. Sedangkan biaya transportasi dan akomodasi istrinya ditanggung sendiri oleh si manajer.

Pertemuan ramah tamah di rumah makan yang bagus berlangsung akrab. Ternyata klien tersebut pandai bercerita kisah-kisah menarik. Dan, istri klien terlihat menyukai pertemuan berempat mereka.

Akhirnya setelah keakraban meningkat dan para istri mulai menikmati pembicaraan di antara mereka berdua, sang klien berbisik pada si manajer, "Dulu, saya tidak melakukan transaksi bisnis di tempat seperti ini," sambil melirik istrinya, "ternyata pertemuan ini lebih menyenangkan daripada yang selama ini kukira." Lalu si klien sambil meminta persetujuan istrinya ia berkata, "Pertemuan kita berempat sepertinya harus sering diadakan nich."

Lalu bagaimana dengan kita. Jalan keluar terhadap masalah pelik memang tidak selalu mulus seperti contoh tadi. Namun setidaknya ada dua panduan praktis yang bisa dipetik.

  1. Hidup konsisten dalam firman Tuhan seperti Matius 7:24. Sebab ini menjadi dasar.
  2. Meminta hikmat dari Tuhan seperti Yakobus 1:5.