Monday, May 12, 2008

Mendapat Rating Tinggi di Atas "Penderitaan" Orang Lain


Kemarin, 6 Mei 2008, saya pulang dari kantor, bersepeda. Di tengah perjalanan turun hujan deras dan mampir ke warung "burjo" dan memesan semangkuk mi rebus.

Sembari makan mi rebus, saya disuguhi tontonan televisi. Strategi jitu
warung tersebut untuk menahan konsumennya berlama-lama di warung. Makin lama
makin banyak yang dimakan, keuntungan pun berlimpah.

Biaya operasional pun murah. Televisi murah, listrik juga masih murah. Kita
masih menikmati subsidi dari pemerintah. Entah kalau BBM naik.

Acara televisi yang ditonton tergantung kesukaan si pemilik warung. Ada lima
orang yang datang ke warung burjo itu; mau tidak mau ikut menonton kesukaan
si pemilik warung.

Backstreet judulnya. Reality show. SCTV stasiunnya. Ada laki-laki yang
mengaku kakak seorang perempuan mengadu ke presenter acara tersebut kalau
pacar di perempuan selingkuh. Dan acara pun dimulailah.

Laki-laki itu, presenter, dan kru SCTV, bak detektif partikelir, berburu
kehidupan si peselingkuh dan berharap menangkapnya basah kuyup. Mereka
menguntit, mengintip, dan menyelidik laki-laki "bejat" yang berani-beraninya
mengkhianati adik klien reality show itu.

Dan, mereka pun berhasil menemukan si peselingkuh sedang berduaan dengan
selingkuhannya. Si adik laki-laki yang klien SCTV itu pun dipanggil. Karena
menolak datang—tidak ada transpor katanya. Kru SCTV dengan gagah berani
menjemput adik si klien tersebut.

Yap, jawabannya mudah ditebak. Si peselingkuh basah kuyup. Ada adegan tampar
menampar, tinju meninju, sumpah serapah (yang ditutupi dengan dengan bunyi
tat tit tut—tapi gerak bibir si pelaku serapah tidak ditutupi). Seperti
sinetron, tapi pemainnya amatir. Matanya jelas bicara dong.

Rating acara itu pun naiklah. Si peselingkuh pun malulah. Namun dia tidak
bisa apa-apa. Dalam tayangan berdurasi 30 menit—mendadak ia seperti pesohor
yang dikelilingi kamera media gosip. Hanya saja kalau pesohor mencari
gara-gara supaya tetap dikelilingi kamera gosip supaya posisi tawarnya
dengan PH terus tinggi. Sialnya si peselingkuh posisi tawarnya langsung
anjlok di antara gadis-gadis yang hendak ia pacari.

Apalagi perempuan yang ikut-ikutan tertangkap kamera sedang berbasah karena
berselingkuh dengan si peselingkuh. Saya tidak bisa membayangkan apa
jadinya.

Namun, jangan-jangan sebenarnya bukan kejadian nyata. Mereka hanya bayaran.
Atau saya menulis ini karena kebanyakan korbannya laki-laki. Entahlah.
Selamat untuk SCTV.