Sunday, May 18, 2008

Menggosipkan Yesus

Injil-injil non-Alkitab = Infotainment

 

 

 "Kerajaan Bapa seperti pria yang ingin membunuh hakim. Di rumah ia menancapkan pisau ke tembok untuk mengetahui apakah tangannya cukup kuat. Selanjutnya ia membunuh hakim itu".

Perkataan Yesus dalam Injil Tomas

 

Yesus memberi perintah rahasia kepada Yudas Iskariot agar menyerahkan diri-Nya untuk disalib. Jadi Yudas tidak mengkhianati Yesus; ia bahkan murid yang paling taat pada Yesus. Yesus memerintahkan Petrus supaya tidak usah iri pada Maria Magdalena yang sudah mendapat "pengetahuan khusus". Yesus adalah manusia biasa, bukan Tuhan. Yesus memperistri Maria Magdalena dan melahirkan keturunan raja-raja Prancis. Itulah berbagai gambaran tentang Yesus yang marak di media akhir-akhir ini.

 

Dari manakah sumber semua gambaran tentang Yesus yang berbeda dengan yang selama ini terdapat dalam Alkitab? Mengapa sumber itu tidak pernah masuk Alkitab? Mengapa baru akhir-akhir ini menjadi heboh? Untuk menjawabnya, mari kita merunutnya sampai sekitar dua ratus tahun yang lampau. Saat itu beberapa orang mulai menginterpretasi Yesus berbeda dengan Alkitab, mengkritik keilahian-Nya, dan mencetak Yesus sesuai dengan apa yang mereka sebut hasil penelitian ilmiah. Salah satu yang paling terkenal adalah David Friedrich Strauss dengan buku setebal 1.400 halaman berjudul Life of Jesus Critically Examined (Paparan Kritis Kehidupan Yesus) yang terbit tahun 1835. Buku itu berisi Yesus yang digambarkan dalam empat Injil dalam Alkitab tidak lebih dari mitos belaka.

 

Namun, mereka waktu itu tidak banyak memiliki sumber untuk merekayasa Yesus menurut gambaran mereka. Naskah-naskah yang mereka pegang adalah tulisan yang jauh lebih muda daripada naskah-naskah asli empat kitab Injil. Jadi, gambaran Yesus 'alternatif' tersebut bersifat sangat spekulatif.

Angin segar agaknya mulai berembus ke arah para pengritik Yesus tersebut saat ditemukan injil-injil Koptik di dekat desa Nag Hammadi, Mesir, pada tahun 1945. Naskah tersebut ditemukan bukan oleh penggalian arkeologi yang terencana baik, melainkan tanpa sengaja ditemukan oleh dua petani yang berusaha mencari pupuk di gua-gua batu kapur daerah itu.

 

Injil Koptik, Apa Itu?

Ada 13 jilid naskah (disebut codex) yang mereka temukan yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Koptik—bahasa Yunani yang sudah bercampur dengan bahasa Mesir. Ada 51 tulisan (disebut traktat) dalam ketiga belas codex tersebut dan yang paling terkenal adalah Injil Tomas karena adalah satu-satunya teks yang paling lengkap. Para pengritik Alkitab meyakini dalam codex Nag Hammadi terdapat ucapan Yesus yang asli; berarti seharusnya masuk Alkitab namun karena rekayasa gereja naskah tersebut dibuang.

 

Injil Tomas menjadi senjata andalan anggota Jesus Seminar—kelompok modern pengritik Alkitab—karena dianggap memuat ucapan Yesus yang paling murni. Yesus yang digambarkan dalam Injil Tomas berbeda dengan gambaran Alkitab. Yesus digambarkan senang berbicara secara rahasia, terutama kepada Rasul Tomas yang diklaim sebagai murid yang paling dikasihi, yang memahami Yesus lebih dalam daripada murid-murid yang lain. Berbeda dengan Yesus dalam Injil Perjanjian Baru, yang mendorong para murid supaya beriman, dalam Injil Tomas Yesus meminta para murid untuk memperoleh pengetahuan tertinggi supaya mereka terbebas dari kematian. Yesus dalam Injil Tomas juga digambarkan berjanji pada Maria Magdalena akan membimbing Maria memperoleh pengetahuan supaya bisa menjadi laki-laki sehingga sempurna. Karena saking bersemangatnya, kelompok Jesus Seminar mengusulkan Injil Tomas sebagai Injil kelima dan ditambahkan ke dalam Alkitab. Ucapan Yesus yang lebih pendek daripada ucapan Yesus dalam Injil Perjanjian Baru dipandang lebih asli. "Bukankah orang lebih mudah mengingat ucapan yang lebih pendek daripada yang lebih panjang? Yang lebih panjang pasti sudah direkayasa," begitu argumen mereka.

 

Injil Filipus—yang menjadi latar belakang penulisan novel The Da Vinci Code—juga termasuk dalam naskah injil Koptik Nag Hammadi. Dalam injil tersebut dikisahkan tentang Yesus yang menikahi Maria Magdalena dan mengangkat Maria menjadi pemimpin gereja. Injil Filipus dikuatkan Injil Maria yang mengisahkan cerita Maria Magdalena yang mendapat wahyu khusus dari Yesus. Andreas dan Petrus menyatakan keraguan terhadap klaim Maria tersebut karena berbeda dengan ajaran yang mereka terima. Maria menangis sedih karena mereka berpikir ia menyalahpahami perkataan Yesus. Lewi menegur Petrus karena "keirihatian" Petrus.

 

Itulah tiga yang paling terkenal di antara banyak injil Koptik. Tahun lalu, 'senjata' bertambah dengan diterjemahkannya Injil Yudas. Juga ditemukan Mesir, Injil Yudas, berisi hampir mirip dengan Injil Tomas: Yudas Iskariot mendapat wahyu khusus dari Yesus. Yudas dianggap paling mengerti ajaran Yesus dan bahkan kisah penangkapan Yesus adalah wujud ketaatan Yudas Iskariot terhadap perintah Yesus yang khusus tersebut.

 

Mengapa Injil-injil Itu Tidak Masuk Alkitab?

Salah satu metode untuk menentukan sebuah naskah bisa dimasukkan Alkitab kita adalah kedekatan dengan sumber asli; alias tahun penerbitannya. Injil Matius ditulis tahun sekitar tahun 65-110 M, Injil Markus ditulis 55-60 M, Injil Lukas ditulis tahun 80 M, dan Injil Yohanes ditulis tahun 90 M. Tahun-tahun tersebut menunjukkan bahwa para saksi mata yang langsung melihat Yesus dan ajarannya langsung masih hidup pada waktu itu. bandingkan dengan Injil Tomas yang ditulis (180 M), Injil Filipus (170 M), Injil Maria (160 M), dan Injil Yudas (120 M).

 

Tes yang lain terhadap keabsahan Injil adalah jumlah pengguna pada waktu itu. Injil-injil dalam Alkitab adalah Injil yang populer pada masa itu. Bandingkan dengan injil-injil Koptik yang hanya digunakan untuk kalangan tertentu yang memiliki pandangan berbeda dengan gereja. Mereka memisahkan diri dari gereja karena merasa mendapat wahyu khusus dari Yesus dan posisi mereka lebih tinggi dari manusia biasa.

 

Walau begitu, injil-injil Koptik penting bagi penelitian ilmiah karena tulisan-tulisan tersebut menggambarkan adat dan budaya pada waktu itu untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap kekristenan pada masa awal berdirinya. Jadi tidak bisa diabaikan begitu saja, tetapi saat menelitinya harus bersifat kritis.

 

Perbandingan ini bisa diibaratkan menyelidiki kehidupan Putri Diana dengan menanyakan langsung kepada Pangeran Charles, Pangeran William, dan Pangeran Henry yang lebih akurat daripada mencarinya dari tabloid-tabloid infotainment yang berisi gosip.

 

Hanya sayang, tabloid gosip lebih gurih dibaca daripada sumber aslinya. Oleh sebab itu Injil Yudas terlihat lebih heboh daripada Alkitab karena sensasi yang ditimbulkan. Jadi pilih mana? Gosip atau cerita yang sejati? (B. Probo)