Tuesday, May 6, 2008

Perencanaan dalam Menulis


Bab 2
Perencanaan



“Orang yang menunggu mood, hanya sebagai alasan untuk malas menulis”
Raditya Dika
Penulis Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikusmakankakus, Babi Ngesot


Mulai
Semua penulis sering menemui masalah untuk memulai menulis. Pada Bab 1, Ernest Hemingway berkata bahwa saat ia hendak mulai ia akan menatap angkasa, membuang kulit-kulit jeruk ke dalam api, atau mengkhawatirkan kemampuannya untuk menulis kembali. Tidak semua aktivitas tersebut membuang-buang waktu; bahkan mungkin diperlukan saat penulis memikirkan cara untuk memulai proyek mereka.

Berpikir acak mungkin terlihat tidak bertujuan, tetapi hal itu sering menolong para penulis mengatasi kesulitan dari gangguan luar; akhirnya membuat mereka bisa memulai fokus pada tulisan mereka. Namun, berpikir acak menjadi hal yang hanya membuang-buang waktu jika malah mendorong penulis menunggu waktu sempurna untuk mulai bekerja. Orang-orang yang menunggu waktu sempurna biasanya lebih banyak menggunakan waktu mereka untuk menanti-nanti saat yang tepat untuk menulis dan sangat sedikit bekerja.

Seharusnya, semua penulis segera melakukan panggilan Hemingway: memberikan semangat, “Berhenti khawatir! Mulai menulis!”

Cara terbaik untuk mulai menulis adalah membuat perencanaan. Namun, biasanya para penulis pemula cenderung berpikir tentang perencanaan secara esensi berarti aktivitas berpikir. Pertama, mereka merencanakan dalam benak hal-hal yang hendak mereka sampaikan. Kedua, mereka mentransfer pikiran mereka dalam secarik kertas.

Sayangnya, para penulis pemula menemukan bahwa perencanaan semacam itu biasanya menghasilkan dua jenis kegagalan: (1) mereka tidak dapat memikirkan semua yang hendak mereka tulis sebelum mereka mulai menulis, dan (2) mereka tidak dapat secara sederhana mentransfer pikiran mereka dalam tulisan. Kenyataannya, perencanaan terutama adalah aktivitas menulis—seperti yang dibuktikan para penulis berpengalaman. Meskipun mereka mengaku melakukan beberapa rencana sebelum mulai menulis, mereka melakukan perencanaan paling produktif setelah mereka mulai menulis. Bagi mereka, perencanaan tidaklah melulu berpikir dan menulis, tetapi berpikir-dalam-menulis. Simaklah yang dikatakan pencipta puisi William Stafford tentang hubungan antara berpikir dan menulis dalam paragraf berikut:

Saat menulis, saya senang memiliki interval di depan sebelumnya saat saya tidak senang diinterupsi. Bagi saya, ini berarti biasanya pada waktu pagi buta, sebelum orang lain bangun. Saya mengambil pena dan kertas, memandang sepintas jendela (biasanya gelap di luar), dan menunggu. Seperti memancing. Namun, saya tidak menunggu lama, biasanya ada makanan kecil—dan ini tempat daya penerimaan datang. Untuk memulainya saya biasanya menyetujui apa pun yang muncul di depan saya. Sesuatu yang selalu muncul, tentu saja, pada semua kita. Kita tidak dapat berhenti berpikir. Mungkin saya harus bersedia menerima kesan segera: ini dingin, atau panas, atau gelap, atau cemerlang, atau di antaranya! Atau—berbagai kemungkinan yang tiada akhir. Jika saya menuliskan suatu hal, sesuatu itu akan menolong saya pada hal berikutnya; dan saya pun mulai. Saat saya membiarkan proses berjalan, sesuatu akan muncul di depan saya yang tidak semuanya ada di pikiran saya saat saya mulai. Sesuatu itu, aneh atau sepele sekalipun, entah bagaimana hal-hal itu terhubung. Dan jika saya membiarkan rangkaian itu, hal-hal yang mengejutkan akan terjadi. (William Stafford, “A Way of Writing,” Writing the Australian Crawl)

Sumber & Strategi
Sebagai tahap pertama dalam proses menulis, perencanaan membantu Anda membongkar, menjelajahi, dan mengevaluasi topik Anda. Apa pun itu—Anda membahas topik yang diminta guru Anda atau topik bebas, seperti Stafford, yang menerima apa pun topik yang muncul di depan Anda—perencanaan membantu Anda memproduksi dan menempatkan informasi dalam menulis. Hemingway, Anda akan ingat, menempatkan “kalimat tunggal sejati” miliknya dalam satu dari tiga sumber (1) sesuatu yang ia tahu (daya ingat), (2) sesuatu yang ia lihat (observasi), atau (3) sesuatu yang didengarnya dari seseorang (riset). Tiga sumber tersebut mengandung informasi yang cukup—bahan baku bagi tulisan Anda. Untuk menyadap sumber-sumber tersebut, Anda perlu menggunakan suatu seri strategi berpikir-dalam-menulis praktis.

Strategi ini bukan hanya mengidentifikasi informasi yang familiar (dilupakan), melainkan juga menciptakan, seperti saran Stafford, informasi baru. Strategi ini juga cukup fleksibel sehingga dapat diterapkan pada semua sumber informasi. Anda mungkin menemukan, misalnya, strategi ini didesain untuk menyadap informasi Anda—misalnya menulis bebas—berhasil setara seperti riset observasi atau terstruktur. Saat Anda menggunakan setiap strategi, Anda perlu menjawab dua dua pertanyaan berikut: (1) berapa banyak informasi yang dapat saya produksi mengenai topik ini dalam tulisan? dan (2) bagaimana saya bisa menggunakan informasi ini untuk menciptakan suatu nukilan menarik dalam tulisan? Anda hanya dapat menjawab pertanyaan pertama setelah mencoba berbagai variasi strategi. Anda dapat menjawab pertanyaan kedua dengan menguji informasi Anda melalui garis pedoman yang tersedia pada Bab 1 tentang memilih subjek, menganalisis calon pembaca, dan menentukan tujuan.


Diterjemahkan dari The Writing Process: A Concise Rhetoric, Reader, and Handbook karya John M. Lannon, terbitan Longman halaman 35-37.