Monday, June 30, 2008

Memahami Duka

Bayi temanku hanya berumur dua hari. Jumat pagi lahir, Minggu pagi tiada. Bayi itu adalah anak pertama. Kemarin malam aku mengikuti kebaktian penghiburan keluarga ini. Berbagai bayangan berkelebat dalam pikiran. Bermacam pertanyaan menyerbu benak tanpa bisa dicegah.

 

Di tengah khotbah pendeta yang berusaha meyakinkan keluarga bahwa si bayi sekarang sudah aman di surga. Bahwa, ia sekarang diasuh Bapa. Bahwa, kematian adalah tidur panjang. Bahwa, keluarga tidak seharusnya sedih, tetapi bahagia karena bayinya begitu dikasihi sehingga tidak direlakan mengecap kesengsaraan dunia. Berbagai 'bahwa' tidak bisa menenangkan hatiku yang gundah dan duka.

 

Rumor bahwa dokter telah bertindak ceroboh begitu mengganggu pikiran. Pertanyaan klise pun menyeruak, "Mengapa Tuhan." Dan jawabannya hanya kebisuan. Penjelasan berbagai mazhab teologi dari yang ekstrem kanan hingga ekstrem kiri tidak akan mampu menghapus air mata ayah dan ibunya. Dan memang kulihat air mata mereka berurai.

 

"Rancanganmu bukanlah rancangan-Ku," berkumandang di sepanjang kebaktian itu. Hanyalah waktu yang bisa menjelaskan potongan firman-Nya itu kepada yang berduka. Duka memang sulit dipahami. Siapa yang memahami duka, ia sudah sempurna.

 

Didedikasikan untuk sahabatku: Aryadin Sinuraya & Prima Yuliana

 

Wednesday, June 25, 2008

Dementor, masih beraksikah?

Setelah berhasil menyingkirkan guruku dan aku. Apakah Anda masih belum puas?

Tuesday, June 24, 2008

Jika Yesus Calon Presiden Republik Indonesia

Saat ini politikus Indonesia sedang ribut-ribut membuat berbagai gerakan
politik. Ada yang melakukan pembusukan karakter musuh politiknya, ada juga yang
sibuk "merangkul" orang-orang miskin dan berusaha mencari muka, serta berbagai
tingkah menggelikan sekaligus memprihatinkan lainnya. Itu semua digunakan
sebagai senjata untuk memenangkan pemilu tahun 2009. Di antara berbagai cara
untuk meraih massa dan dukungan, ada satu cara yang disebut sebagai kampanye
orasi di hadapan massa yang dikumpulkan di suatu tempat tertentu.

Lalu bagaimana seandainya-hanya seandainya-Yesus mencalonkan diri menjadi
presiden republik ini? Apakah yang Dia kampanyekan? Harga BBM tidak akan naik
lagi, bahkan turun? Pendidikan gratis bagi semua anak usia sekolah? Pelayanan
kesehatan gratis? Bebasnya penderitaan di dunia ini dan anugerah kemakmuran
melimpah ruah bagi orang-orang yang memilih-Nya? Apakah seperti yang sering kita
dengar dari para selebritis politik ucapkan; tetapi setelah kekuasaan mereka
dapatkan janji-janji itu mereka lupakan? Dalam benak saya, seandainya Dia
mengampanyekan rasa aman dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia, pasti akan
ditepati. Dan, rakyat Indonesia pasti makmur sejahtera seperti yang mereka
angan-angankan. Namun benarkah demikian?


Kampanye yang Mengejutkan

Ada dua kesempatan bagi Yesus untuk melakukan kampanye besar-besaran. Dan, yang
mengejutkan dua-duanya tidak seperti yang kita inginkan. Jelas tawaran Yesus ini
bukan tawaran menuju kenyamanan seperti yang sering digembar-gemborkan para
politikus dan pemimpin negara kita.


Hampir bisa dipastikan Yesus tidak akan terpilih sebagai presiden Republik
Indonesia dengan cara-Nya ini. Dan kenyataannya memang demikian, Dia bukanlah
Sang Ratu Adil yang digambarkan Raja Jayabaya dari Kediri yang akan membawa
bangsa ini ke kegemilangan dan kemakmuran.


Bahkan para pengikut-Nya sekarang, orang-orang Kristen-termasuk saya, berusaha
menghindari perkataan-Nya ini karena konsekuensi yang harus ditanggung mereka
eh... kami. Mari kita perhatikan di zaman Yesus.


"Kesempatan" pertama Yesus "berkampanye" saat dalam puncak kepopuleran, setelah
berbagai mukjizat penyembuhan, yang menyebabkan banyak orang berbondong-bondong
mengikuti-Nya ke mana pun Dia pergi. Akhirnya Dia mengambil waktu untuk
menyampaikan pernyataan misi-Nya di dunia ini dan menawarkan sesuatu kepada
kerumunan orang yang ada di sekeliling-Nya itu. Seperti yang digambarkan oleh
Lukas, orang-orang itu datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari
penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk roh-roh jahat berharap menerima
kesembuhan. Dan mereka semua berusaha menjamah Dia (Lukas 6:18,19) . Pada saat
itulah Yesus mengucapkan pernyataan-Nya.


"Hai rakyat miskin, sengsara, dan tertindas, kalian semua beruntung. Sebab dalam
kesengsaraanmu hanya Allah yang paling tepat untukmu bergantung. Jika kalian
berseru pada-Nya, kamulah yang bakal menikmati Kerajaan Surga," kalimat pembuka
yang menyentak yang diucapkan Yesus ini pasti akan membuat orang-orang yang
mendengar tersedak dan tercekat karena tersinggung.


Bagaimana mungkin seseorang yang seharusnya membela rakyat dan mengusahakan
kesejahteraan bagi mereka malahan berkata begitu? Pribadi yang seharusnya
membebaskan mereka dari penjajahan kesengsaraan dan ketertindasan malahan
mengejek mereka dengan mengatakan mereka beruntung. Memangnya Dia siapa?


Jika saya hadir di tengah kerumunan, saya pasti bagian dari sekumpulan
orang-orang sengsara itu. Orang tidak sengsara hampir bisa dipastikan tidak mau
mengikuti gerombolan aneh ini. Mereka sudah cukup dengan diri mereka sendiri.


Jika saya hadir di tengah kerumunan, saya mengharapkan banyak pada Yesus.
Mungkin saya diserang penyakit yang tak kunjung sembuh, mungkin saya orang
miskin berharap mendapat sedikit kelegaan dari Yesus. Atau, saya tertarik dengan
ajaran-ajaran-Nya.


Tersentak? Pasti saya tersentak. Bukan pernyataan pembelaan kepada si sengsara,
tetapi Dia malah mengucapkan kalimat-kalimat klise yang sudah sering diucapkan
para nabi ribuan tahun sebelumnya. Semua orang sudah tahu kalau orang-orang
tertindas jika berseru pada Allah akan mendapat pembelaan. Namun kami, orang
Yahudi, sudah beratus tahun memohon pada Allah supaya dibebaskan dari penjajahan
Romawi, tetapi jawaban-Nya adalah para pemimpin politik dan agama yang saling
intrik dan mencari keuntungan diri sendiri. Saya bertekad menoleransi ucapan-Nya
tadi, siapa tahu Dia berubah. Saya anggap Dia 'keselo lidah'.


Manifesto yang Mengguncangkan

"Kesempatan kedua" Yesus mengungkapkan misinya di hadapan orang banyak saat
kerumunan orang-orang yang mengikuti-Nya mendapat keajaiban besar. Lima ribu
laki-laki (atau setidaknya ada 1.500 orang) dikenyangkan hanya dengan lima roti
dan dua ikan. Peristiwa itu memicu eforia. Orang banyak yang sepertinya melihat
harapan berujar, "Sungguh, inilah Nabi yang diharapkan datang ke dunia!"
(Yohanes 6:14-BIS). Kalau dalam bahasa orang Indonesia, "Ratu adil yang akan
membawa bangsa ini menuju kemakmuran sejati."


Kerumunan orang yang dikenyangkan dengan mukjizat itu bergerak memaksa Yesus
menjadi raja memimpin mereka. "Jika mereka bisa dikenyangkan, mukjizat apa lagi
yang bakal mereka nikmati bersama raja yang satu ini," pikir mereka. Israel jaya
raya seakan tampak di pelupuk mata mereka.


Namun Yesus menyingkir (Yohanes 6:15). Sebenarnya dengan segala kemampuan yang
Dia miliki, bukan hal susah untuk mewujudkan impian rakyat kecil itu. Namun
mengapa Dia menyingkir? Kita tidak tahu jawabannya, Matthew Henry hanya
mengatakan bahwa itu adalah bentuk dari kerendahhatian-Nya dan perlawanan
terhadap pencobaan yang akan menggeser panggilan-Nya di dunia. Philip Yancey
menyebut itu sebagai pencobaan Iblis dalam bentuk lain. Penafsir yang lainnya
mengatakan Yesus mendoakan orang-orang itu supaya mengerti kemuliaan Allah.


Kerumunan orang itu tidak berputus asa dan terus mencari-Nya. Dan saat itulah
Yesus mengucapkan manifestonya. Seperti seorang politikus menawarkan pernyataan
politik terbuka kepada khalayak, Yesus menyerukan, "Akulah roti hidup;
barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, barangsiapa percaya
kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." Sebuah pernyataan yang menuntut kesetiaan
total, tidak hanya demi kemakmuran dan kesejahteraan yang menjadi mimpi rakyat.
Ucapan Yesus itu menuntut pendengarnya melompat dari perjuangan politik menuju
kemerdekaan jasmani yang mereka impikan, ke arah perjuangan batin yang menuntut
kepercayaan mutlak kepada Yesus. Perjuangan batin tersebut berarti mereka harus
yakin bahwa mereka akan melewati lembah kesengsaraan dengan keyakinan bahwa di
akhir zaman akan beroleh kemuliaan. Hanya sayang, mereka gagal melihat penyeru
manifesto yang mengguncangkan itu berasal dari Allah. Jika hadir di situ, saya
pun pasti gagal melihat juga.


Yesus, yang seluruh keseharian-Nya sudah saya ketahui, anak Yusuf tukang kayu,
orang Galilea yang tidak sopan, latar belakang-Nya begitu meragukan, telah
menuntut terlalu banyak. Dia belum membuktikan apa pun, tetapi bergerak terlalu
cepat menginginkan kesetiaan mati seakan semuanya sudah berlangsung. "Hei, ini
belum akhir zaman Bung!" batin saya berontak. Seperti yang lain, akhirnya saya
pun undur (Yohanes 6:66). Kandidat lain pun menang tanpa perlawanan berarti.


Yesus yang Memilih

Dua pernyataan-Nya itu membuat saya berpikir ulang. Apa arti memilih Yesus dan
memutuskan mengikut-Nya? Dengan segala tawaran yang seakan tidak masuk akal dan
tidak menjawab kebutuhan riil, keuntungan apa yang bisa saya dapat dengan
memilih-Nya? Apakah benar yang diucapkan-Nya? Lompatan kepercayaan yang
dituntut-Nya sangat jauh. Menuntut keyakinan tinggi bahwa semua yang Dia ucapkan
benar terjadi.


Sayangnya, bukan kita yang memilih Yesus sebagai pemimpin. Yesuslah yang
memilih. Jika kita sekarang mempunyai Yesus sebagai juruselamat, sebenarnya
Dialah yang memilih kita. Dan seperti yang diungkapkan Paulus dalam Filipi, kita
dipilih Yesus bukan hanya untuk percaya kepada-Nya, melainkan juga untuk
menderita bersama-Nya (Filipi 1:29).


Jika sekarang ini kita masih mengikuti-Nya, itu adalah anugerah. Keyakinan kita
untuk terus percaya pada Yesus adalah karya Allah sendiri (Filipi 2:13) yang
membuat kita mampu percaya bahwa seluruh ucapan Yesus adalah kebenaran. Dan,
jika saya hidup di Indonesia di tahun 2009 dengan segala pencobaan untuk
mengingkari iman, tetapi sejauh ini mendapat anugerah untuk terus percaya pada
Yesus, itu adalah berkah luar biasa. Bagaimana dengan Anda?

Sunday, June 22, 2008

Huruf-huruf yang Menghidupkan

Hanya ada dua kelas buku yang menarik. Buku terbaik dan buku terburuk -
Ford Maddox Ford


Tulisan ini sebenarnya lebih banyak menolong saya, terutama saat saya mencari bahan-bahan dan ide-ide yang muncul di benak untuk penulisan ini. Semangat yang tak pernah kendor dan keyakinan untuk terus berkecimpung di dalam dunia literatur, itulah yang saya harapkan ada dalam hati. Walaupun saat ini, Indonesia bukanlah surga bagi para penulis atau usahawan yang berkecimpung dalam dunia literatur, tetapi ada seberkas sinar yang memberi harapan bagi semangat dan keyakinan saya. Kita baru saja terlepas dari neraka dan sedang memasuki masa pembasuhan dan perjuangan menuju "surga" tersebut. Oleh sebab itu semangat dan keyakinan yang terus dipupuk akan membuat harapan saya semakin nyata untuk diraih.

Sebuah Ide
Sebenarnya siapakah yang pertama kali mempunyai ide untuk mengabadikan sesuatu dalam bentuk tulisan? Sekitar 1.000 tahun sebelum Nuh lahir, bangsa Sumeria yang hidup kira-kira di daerah Irak modern sudah membuat catatan tentang kesehatan dan kedokteran yang peninggalannya bisa ditemukan sekarang. Walaupun mungkin mereka tidak akan membayangkan tulisan mereka akan bertahan selama itu, namun keinginan untuk mengabadikan pengetahuan dan isi hati sudah ada dalam pikiran mereka. Mereka sadar, tradisi lisan sangat terbatas kemampuannya.

Abraham, leluhur bangsa Arab dan Israel berasal dari bangsa Sumeria ini. Walau begitu, sampai Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan, tidak pernah ditemukan hasil literatur dari masa-masa leluhur tersebut. Semua pengetahuan tentang Adam sampai Musa hanya didapat turun temurun dari dongeng tua-tua pada kaum muda.

Walaupun menjadi bencana, keberadaan bangsa Israel di Mesir pada sekitar tahun 1700-1250 SM membuat mereka akrab dengan budaya tulis. Musa yang mendapat pendidikan kelas utama dalam strata kehidupan Mesir, dalam perjalanan pengembaraan bangsanya, ia menyelamatkan tradisi lisan tersebut menjadi tulisan yang akhirnya sangat berharga bagi generasi-generasi ribuan tahun di bawahnya. Bahkan Yesus Kristus-pun mengakui keabsahan tulisan Musa tersebut.

Bahkan meski begitupun setelah Musa, tradisi untuk menulis sepertinya hanya berlanjut sampai Yosua, sang murid. Selama melalui 200 tahun masa gejolak tanpa seorang raja pemersatu setelah Yosua mati, kebiasaan menulis di antara orang Israelpun meluntur. Mulai tumbuh kembali setelah Samuel menobatkan raja Saul dan susunan imam di organisasi dengan rapi pada waktu Raja Daud memerintah. Imam-imam yang terorganisir dan munculnya sekolah-sekolah nabi setelah itu menyebabkan tumbuh literatur-literatur penting dalam kehidupan bangsa Israel. Bahkan Raja Daud dan penerusnya, Salomo, adalah penulis-penulis yang aktif.

Jadi siapakah yang mempunyai ide pertama kali mengembangkan literatur? Saya ingin mengatakan Tuhanlah sumber ide utama, namun ternyata sejak mula banyak literatur-literatur yang idenya bukan dari Tuhan. Bahkan di kemudian hari, banyak literatur-literatur menentang-Nya dan meragukan keberadaan-Nya.

Alkitab wujud Ide TUHAN
Saya lebih menyukai bahwa Tuhanlah yang menaruh ide dalam pikiran manusia untuk menyimpan data-data kehidupan mereka dalam tulisan. Dia juga yang ber-ide menyimpan data-data kehidupan-Nya untuk ditulis oleh manusia demi kebaikan mereka (2 Timotius 3:16). Bahkan pernah Ia sekali ingin membuat kejutan dengan tangan-Nya sendiri menuliskan "prasasti" bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, bangsa Israel, walau kemudian oleh kemarahan Musa, tulisan TUHAN tersebut hancur dan kita tidak pernah lagi melihat tulisan tangan-Nya (Keluaran 24:12, 31:18, 32:15 -16, 32:19 - saya kira jika Musa tidak menghancurkannyapun kita di tahun ini tidak akan pernah melihat dua loh batu itu, agak dunia ini terlalu jahat untuk menerima tulisan suci itu).

Setelah "kegagalan" Musa tersebut, TUHAN sepertinya lebih suka menggunakan jari-jari manusia untuk menuliskan ide-Nya. Dia menggunakan semua tipe orang. Dia menggunakan raja-raja, nabi-nabi, peternak domba (Amos), petugas pajak (Matius), dokter (Lukas), Doktor (Paulus), dan bahkan rakyat jelata seperti Petrus. Dia juga menggunakan orang asing (orang non-Israel) untuk menuliskan kisah-Nya (Lukas dan Ayub). Benang merah ide-Nya terhubung di antara penari jari tersebut, yang terpaut jarak ribuan tahun dan kadang-kadang di antara mereka tidak saling mengenal.

Seandainya Ia tidak ber-ide untuk menuliskan pikiran-Nya maka dunia akan terjatuh ke dalam filsafat-filsafat tentang penyiksaan diri untuk mengejar kedamaian atau memuaskan keinginan badaniah untuk mendapatkan kebahagiaan seperti dalam filsafat-filsafat Yunani yang tumbuh subur pada waktu Yesus menjalani kehidupan di dunia. Manusia juga akan mengejar kesempurnaan hidup dengan terus mempertahankan keseimbangan alam semesta seperti filsafat-filsafat Asia. Tidak ada anugerah dan tidak ada pengampunan dan kasih. Hanya ada pembenaran diri tanpa harapan.



Seribu Tahun Terakhir
Siapakah sepuluh orang yang paling mengubah dunia seribu tahun terakhir ini? Menurut Agnes Hooper Gottlieb, seorang professor komunikasi dari Seton Hall University, mereka adalah Johannes Gutenberg, Christopher Columbus, Michelangelo, Martin Luther, William Shakespeare, Galileo Galilei, George Washington, Ludwig van Beethoven, Elizabeth Cady Stanton, and Mohandas Gandhi. Walaupun saya tidak sepenuhnya setuju dengan kriteria-kriteria yang menyebabkan sepuluh orang itu terpilih (menurut saya dengan adanya tiga orang yang berhubungan langsung dengan benua Amerika, agaknya konsep pemilihannya agak berat sebelah), namun memang diakui bahwa beberapa orang itu membuat dunia sekarang berbeda.

Tanpa Michelangelo; Beethoven; dan Shakespeare, dunia ini tidak akan lebih indah dari keadaan sekarang. Tanpa Mohandas Gandhi dan George Washington, dunia tidak akan mengenal konsep kedamaian dan kemerdekaan suatu bangsa.

Yang menarik dari orang-orang itu ada kebanyakan dari mereka adalah pribadi-pribadi yang berkecimpung dalam dunia literatur. Ini hanya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengerti artinya mengabadikan pikiran mereka yang penting dalam bentuk tulisan. Orang-orang yang ingin mempelajari mereka, tidak akan kesulitan mengerti dan memahami.

Ada satu tokoh yang revolusioner dalam literatur adalah Johannes Gutenberg. Walaupun sudah berabad-abad sebelumnya orang-orang Cina dan Korea sudah melakukan block printing, namun pekerjaan mereka yang lambat dan sangat merepotkan menyebabkan orang-orang masih melakukan penyalinan melalui tulisan tangan. Gutenberg melakukan terobosan dengan membuat alat cetak yang lebih praktis dan lebih mudah dioperasikan sehingga bisa menghasilkan cetakan yang lebih cepat dan banyak. Buku-buku kontroversial yang segera menjadi best seller seperti Alkitab dan tesis Martin Luther dicetaknya dengan mempertaruhkan nyawa. (seperti Shalman Rusdie yang diburu mati oleh orang-orang yang tidak suka dengan bukunya, Gutenberg juga diburu mati oleh sebab buku cetakannya. Hanya bedanya Rusdie membuat Ayat-ayat Setan sedangkan Gutenberg membuat Ayat-ayat Tuhan). Menurut saya, pasti Tuhan telah menggerakkan hati bekas pencari emas ini untuk menyebarkan dan mengabadikan ide-Nya. Karya Gutenberg tidak hanya menjadi peninggalan yang berharga bagi orang-orang yang percaya pada-Nya bahkan juga yang menentang-Nya.

Ada dua tokoh yang saya kagumi, walaupun belum semua karya-karyanya saya baca. Ia adalah Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoesvky, pujangga-pujangga besar Rusia yang menyelamatkan bangsa dari cengkeraman ateisme komunis. Saya mengutip tulisan Yancey dalam bukunya The Jesus I Never Knew tentang dua tokoh ini.

Pada awal 1970-an, Malcolm Muggeridge (seorang penulis, menulis buku Jesus Rediscovered) terkejut mendengar para anggota kaum elit intelektual di Uni Soviet mengalami kebangunan rohani. Anatoli Kuznetsov, yang hidup dalam pembuangan di Inggris, mengatakan padanya, bahwa hampir tidak satu pun seniman atau musisi di U.S.S.R yang tidak menggali isu-isu kerohanian. Muggeridge berkata, "Saya bertanya padanya (Kuznetsov) bagaimana itu mungkin, dengan segala usaha pencucian otak besar-besaran yang dilakukan pada warga negara, dan tidak adanya literatur Kristen, termasuk Alkitab. Jawabannya tidak terlupakan; para penguasa, katanya, lupa melarang karya Tolstoy dan Dostoesvky, eksposisi paling sempurna mengenai iman Kristen pada masa modern."

Saya pernah membaca salah satu buku Dostoesvky yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Impian Pamanku judulnya, bercerita tentang kemunafikan hidup dan kemurnian cinta kasih. Novel pendek yang kocak ini memberikan saya gambaran baru tentang hidup.

Pelayanan Literatur
Berbagai cara dilakukan Tuhan untuk menceritakan kasih-Nya pada manusia. Dia mengirim nabi-nabi ke seluruh dunia. Dia membentuk organisasi-organisasi penyantun untuk menolong orang-orang yang membutuhkan uluran kasih. Dia juga yang menumbuhkan gereja-gereja di mana pun di dunia ini dan dalam keadaan bagaimanapun. Dia juga yang membentuk lembaga-lembaga pelayanan untuk menolong orang-orang Kristen lebih bergairah dalam pelayanan mereka. Selain itu mereka juga menaruh ke dalam hati orang-orang yang mengasihi-Nya untuk terjun dalam kehidupan literatur untuk melayani-Nya. Dia menyentuh hati Gutenberg, penulis-penulis kitab dalam Alkitab, para penulis novel-novel seperti Tolstoy, Dostoevsky, C. S. Lewis, Muggeridge untuk menyebarkan kasih-Nya. Tuhan juga menyentuh hati orang-orang untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang diketahui oleh orang-orang di mana pun mereka.

Seperti yang dilakukan oleh LAI, mereka sampai sekarang masih aktif untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa suku yang belum mempunyai Alkitab dalam bahasa suku mereka. Walaupun kadang-kadang ada kecurigaan dari pihak-pihak tertentu yang merasa kegiatan itu merupakan penelusupan kekristenan dalam suku-suku itu, namun apa yang mereka lakukan adalah berusaha menyebarkan kasih dengan bahasa yang se-familiar mungkin dengan telinga mereka. Memang dalam kenyataannya, sebuah Alkitab dalam bahasa ibu adalah media penginjilan yang paling efektif dan tidak pernah dianggap asing.

Penjunan
Saat melihat contoh-contoh orang-orang yang mempunyai idealisme tinggi untuk melayani dan mengenal TUHAN melalui talenta literatur mereka sungguh menggugah saya untuk ikut serta di dalamnya. Saya sangat terkesan dengan keabadian yang dipertahankan dalam buku-buku dan tulisan-tulisan. Bahkan para penulis Injil-pun menyadarinya, saat mereka dengan murah hati membagikan pengetahuan dan kedekatan mereka dengan Yesus dalam bentuk tulisan-tulisan yang terus mengubahkan sampai sekarang. Saya menginginkan keabadian tersebut.

Saya berharap Dia menjadi Penjunan dalam kehidupan saya supaya menjadi salah satu penari jari untuk menuliskan kehendak-Nya. Tidak hanya tulisan-tulisan yang bersifat religius, tetapi juga tulisan-tulisan yang membangunkan hati seseorang untuk merenung sejenak, mengingat penciptanya dan merenungkan kembali kehidupannya. -Bayu Probo

Monday, June 16, 2008

Bukan Pahlawan Dambaan


Satu teriakan minta tolong sudah dapat membuatnya bertindak. Jika saya hidup di kota itu, saya tidak akan khawatir menjadi korban kriminal. Ada satu pahlawan super yang tidak akan membiarkan para penjahat berkutik.

Suatu hari Lex Luthor, musuh besarnya, hendak berniat mendirikan kota yang diimpikan. Ia melakukannya dengan menghancurkan kota California dalam satu serangan bom nuklir yang menghancurkan lempeng Andrew (titik terlemah kota itu, jika lempeng Andrew hancur, akan terjadi gempa sangat hebat yang menghancurkan kota California). Pahlawan kita dengan sigap mencegah bencana itu, walaupun bom sempat menghantam, ia masuk ke dalam tanah dan mencegah gempa bumi itu. Jutaan orang-orang tak bersalah hampir saja menjadi korban. Namun, Superman berhasil menyelamatkan mereka semua, tanpa kecuali.
Film yang saya tonton Rabu sore lalu membuat saya banyak berpikir. Walaupun dalam film tersebut sang musuh besar digambarkan hanya seperti badut yang konyol dan Superman dipermanis melalui kisah romantisnya dengan Lois Lane, namun saya memandang serius film itu. Superman sebenarnya menjadi hasrat setiap orang yang ada di dunia ini. hasrat akan seorang penyelamat. Hasrat akan seorang pelindung. Bahkan hasrat ini sudah ada ribuan tahun sebelum film ini dibuat. Dongeng-dongeng kepahlawanan yang sering tidak masuk akal menjadi bukti.

Sungguh tak mengherankan, orang-orang tidak menduga kalau pahlawan terbesar yang ditunggu-tunggu selama beribu-ribu tahun, yang memuncak sejak zaman Yesaya, hanyalah bayi lemah yang hampir saja terbantai oleh raja yang panik. Sama sekali diluar dugaan semua orang. Mungkin jika ia lahir di istana Roma, pusat dunia waktu itu, atau di istana Herodes, maka lain ceritanya.

Seharusnya, pahlawan yang hebat itu tidak mengompol seperti bayi, ia harus tiba-tiba muncul dari planet antah berantah (Superman berasal dari Planet Krypton). Ia tidak boleh menangis sedih (Superman dari komik-komik yang kubaca dan dari film kemarin tak sekalipun menitikkan air mata). Ia tidak boleh mati (Superman hanya menjadi lemah karena Kryptonite - itupun hanyalah supaya filmnya lebih ada variasi).

Jelas bayi Bethlehem yang lahir 2000 tahun lalu tidak memenuhi berbagai kriteria tersebut. Ia tidak lahir di istana, Musa lahir di istana walau istana Kafir. Ia lebih daripada Musa, seharusnya Ia lahir di istana yang lebih megah. Malahan bayi itu kelihatannya lebih menyukai bersama jerami dan kain-kain bekas. Waktu Ia dewasa, tangisan-Nya mewarnai setiap Injil. Bagi beberapa orang itu menunjukkan tanda kelemahan. Bukan pahlawan sejati yang tegar.
Ia jelas tidak mungkin terbang untuk menyelamatkan orang yang berteriak minta tolong. Bahkan Ia terbang pun perlu bantuan Iblis - yang menjadi pencobaan buat-Nya. Saat sahabatnya sekarat, Lazarus, Ia terlambat datang dan akhirnya Lazarus mati.
Kalau Ia disebut lebih besar dari Daud. Jelas sekali tokoh yang diperingati ulang tahun-Nya tiap akhir Desember ini tak pernah melakukan duel maut dengan raksasa dari negeri seberang. Bahkan Ia mati, tanpa perlawanan sekalipun, di kayu salib. Ia bukan pahlawan ideal dambaan kita. kalau disebut pahlawan, mungkin yang cocok adalah pahlawan tragis konyol.
Yesaya nabi yang menajamkan berita tentang kedatangan tokoh penyelamat besar ini secara tersirat pernah memperingatkan mata buta saya.

"Dalam pandangan TUHAN, Ia seperti tunas yang hijau dan lembut, yang tumbuh dari akar di dalam tanah yang kering dan gersang. Tetapi dalam pandangan kita Ia tidak menarik sama sekali, tidak ada keindahan yang membuat kita ingin melihat Dia dan merindukan Dia. Kita memandang hina kepada-Nya dan menolak Dia. Orang yang diliputi kesengsaraan dan mengalami kesakitan serta penderitaan yang paling pahit. Semua orang membuang muka terhadap-Nya dan menghina Dia. Ia tidak masuk hitungan." - Yesaya 53:2,3(FAYH)
Bahkan sampai sekarang orang-orang masih menolak-Nya. Mengingkari kenyataan pahit ini - bahkan orang-orang Kristen sekalipun. Lukisan-lukisan abad pertengahan di Eropa menolak kenyataan kelahiran-Nya yang sengsara dengan menggambarkan Maria dan Yusuf bermahkota dan lingkaran hallow di masing-masing personal di dalam kandang bagus. Sekarang, perayaan-perayaan Natal yang mewah di hotel-hotel berbintang seakan hendak mengubur bulat-bulat tragedi Bethlehem akibat kelahiran Sang Pahlawan ini.

Merasa masih kurang puas dengan yang ada, diciptakanlah satu tokoh baru yang lebih cocok menjadi gambaran pahlawan menurut benak kita. Santo Nicholas - hidupnya setragis dengan Yesus - direka ulang dengan gambaran pahlawan super. Perawakannya diubah menjadi kakek-kakek tua berwajah ramah dengan jenggot lebat putih bersih. Rumahnya dipindah di Kutub Utara, terbang di kereta yang ditarik rusa-rusa, tak pernah menangis - selalu ber-ho-ho-ho-ho ria dan menjadi pahlawan baru dambaan anak-anak. Menjadi cara licik untuk menipu khayalan anak-anak dalam membujuk mereka berbuat baik.

Sebenarnya, Natal itu sunyi dan senyap hampir seperti perayaan Minggu sengsara Paskah. Sang Bayi masih berusaha berjuang antara hidup dan mati. Kondisi kandang yang tidak hygienist, bakteri dan kuman berbahaya menyebabkan-Nya perlu energi ekstra untuk bertahan dari serangan kematian. Ia telah menjadi simbol bagi bayi-bayi negara miskin yang senasib dengan-Nya.

Sebenarnya, Natal itu menelanjangi setiap hati. Manusia itu ringkih dan harus bergantung pada Sang Pencipta senantiasa. Tuhan sedang berjudi saat Ia menyerahkan Anak Tunggal-Nya di tangan dua manusia melarat ini. Untunglah mereka mengemban perjudian itu dengan bergantung pada-Nya.

Sebenarnya Natal itu peperangan rohani. Iblis menggunakan segala cara, Yusuf yang ragu-ragu karena tunangannya hamil sebelum ada upacara, pemilik penginapan yang menolak mereka, dan Raja lalim yang panik hampir saja menggagalkan rencana-Nya. Peperangan rohani yang terus berlangsung hingga sekarang.

Sebenarnya, Natal itu adalah saat terbaik untukku meminta ampun.

Tuhan Yesus maafkan aku.

Wednesday, June 11, 2008

Objek Unik selama di Makassar

Mobil Tahanan untuk yang kalah bersaing dalam kehidupan
Berpose seksi ahhh & makan Sop Konro ahhh...

Landmark Paling Asyik di Makassar

Aku berpose di depan rumah di Jl. Haji Bau No 16 Makassar.
Ini adalah rumah pribadi Wapres Indonesia Jusuf Kalla

Teman Seperjalanan yang Sangat Baik Hati

Ini teman seperjalananku.
Mas Indarto & Albiden

Monday, June 9, 2008

Misi Utama Datang ke Makassar.

Inilah tujuan utama kami datang ke Makassar. Jadi utusan pelamaran. Demi
menyatukan dua insan yang jatuh cinta, walau dipisahkan lautan.

Becak di Makassar

Seperti kota-kota di Jawa. Banyak pengemudi becak di Makassar. Di Makassar
bahkan ada daerah yang pengemudi becaknya masih remaja. Sungguh kasihan.

Di Akkarena

Pantai Akkarena ini berada di kawasan Tanjung Bunga--sebuah kota satelit
kebanggan orang Makassar.

Orang Makassar Tidak Kasar

"Secara kasat mata, kami pernah melihat nabi Allah," demikian penjelasan sopir taksi yang mengantar kami dari Bandar Hasanuddin ke kota Makassar. Ia menjawab kami dengan ramah saat ditanya apa sih artinya Makassar. Perjalanan yang hampir memakan waktu satu jam tidak terasa menjemukan; pun saat melewati calon jalan tol (calon, karena tol masih dalam pembangunan, jalan tidak berbentuk jalan beraspal, tetapi jalan tanah berdebu nan bergelombang). Sewaktu sang sopir ditanya dari suku apa. Dia menjawab mantap, "Suku Makassar." Dalam batin saya baru tahu kalau ada suku Makassar. Saya sebelumnya mengira suku asli yang tinggal di Makassar adalah suku Bugis. Ternyata suku Bugis tinggal di Bone dan Gowa.
 
Jadi dua suku kata terakhir yang dibaca kasar bukan berarti garang, berangasan, tidak tahu sopan santun, keras, atau identik dengan tindakan kriminal. 'Ma' berarti mata, 'kassar' berarti secara kasat. Stereotip orang Makassar yang keras, hilang begitu tiba di Makassar. Perasaan yang mirip juga saya rasakan saat mengunjungi Surabaya. Suatu kali saya harus ke kampung Bulakbanteng, Surabaya Utara, untuk melakukan tugas pekerjaan. Bulakbanteng adalah salah satu perkampungan Madura di Surabaya.
 
Mulanya saya ngeri juga membayangkan akan berada di lingkungan Madura, mengingat "track record" mereka yang digambarkan media akrab dengan kekerasan. Ternyata dugaan saya salah. Sewaktu angkot yang saya tumpangi tidak mencapai lokasi yang dituju, saya melanjutkan dengan menumpang becak. Dengan rela hati cak penarik becak, orang Madura, dan tanpa putus asa mengantar saya mencari lokasi yang dimaksud. Dan, ternyata jauh sekali, tidak sebanding bayaran murah yang sudah kami sepakati bersama. Mungkin ia kasihan melihat saya yang sewaktu datang terlihat bingung dan kelelahan. Kesan ngeri pun hilang.
 
Juga, sewaktu kami tinggal di kawasan urban Jogja, kampung Jogoyudan, pinggir Sungai Code, kami banyak bergaul dengan orang-orang Madura. Hal ini memberi kami kesempatan banyak berinteraksi dengan mereka. Dan, merekalah salah satu di antara tetangga-tetangga terbaik kami. Bahkan dalam beberapa hal mereka dijadikan Tuhan sebagai saluran berkat bagi kami.
 
Dan sekarang saat berada di Makassar, kembali lagi sirna stereotip garang yang ada di benak saya. Oleh karena orang Makassar pernah melihat nabi Allah, mereka menikmati kehidupan religius yang baik. Bahkan kehidupan religius mereka merasuki adat budaya Makassar.
 
Oh ya, saya datang ke kota yang indah ini bersama dua orang kawan yang baik hati—Mas Indarto & Albiden Rajagukguk—untuk mewakili ayah saya melamar seorang gadis campuran Toraja-Bugis—Gita Tarrialo, bagi adik saya—Jati Anggoro. Perjalanan kami pun bahkan disokong teman-teman Navigator. Sungguh mengharukan dan bersyukur pada Allah yang Mahabaik.
 
Saya makin mengenal orang-orang di kawasan ini terutama setelah banyak mendengar cerita dari juru bicara keluarga calon mempelai perempuan tentang berbagai adat istiadat di Makassar. Cerita-cerita menarik itu meyakinkan saya bahwa di mana pun saya berada setiap orang pada dasarnya setara di hadapan Allah. Stereotip-stereotip buruk yang ditimpakan pada bangsa, kelompok suku, atau agama sebenarnya adalah bagian dari prasangka dan penghakiman. Dan, saya diyakinkan bahwa kebanyakan prasangka tersebut salah, terutama setelah saya mengenal dari dekat.
 
Pelajaran berharga yang saya dapat ini memberi arti baru bagi saya hidup dalam visi menyebarkan Kabar Baik Amanat Agung. Ah, jadi teringat tulisan Rasul Paulus dalam Roma 10:12, "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang…"
 
Jika ingin melihat foto-foto perjalanan kami, teman-teman bisa mengakses http://miktamlilo.blogspot.com . Tulisan ini adalah bagian dari pencerahan saya. Silakan memberi komentar atau masukan supaya saya lebih dicerahkan.
 

Saturday, June 7, 2008

Matahari Makassar

Sinar Kristus menaungi kota Makassar. Foto ini diambil Albiden Rajagukguk
dari lantai empat Hotel Coklat. Jl. Onta Lama 2A, Makassar 90132. Telp
+62411856888.
Website hotel http://www.hotelcoklat.com

Friday, June 6, 2008

Resensi Buku Si Pengisap Energi

Si Pengisap Energi

yang dimaksud dengan si pengisap energi adalah orang-orang yang menyebalkan yang makan hati dan membuat kita benar-benar lelah secara emosi dan menghabiskan energi kita. Lalu bagaimana solusinya?

Meneladani Yesus. Jika di ANDI Offset para karaywannya meneladani 49 karakter Kristus, dalam buku ini kita meneladani cara Tuhan Yesus mengatasi orang-orang yang menyebalkan itu. Tidak dengan cara represif -- yang pasti membuat masalah tidak diselesaikan bahkan menyedot tenaga lebih banyak.

Misalnya saat menghadapi tukang kritik. Yesus mampu membedakan tukang kritik yang sekadar suka mengkritik (punya latar belakang psikologi yang buruk) atau tukang kritik yang sebenarnya kritikannya ditujukan untuk kebaikan orang yang dikritik. Menghadapi model orang yang kedua kita harus berterima kasih karena tidak banyak orang yang berani menyampaikan kritik.
Sepedas apa pun. Bukankah dalam Amsal tertulis, "Seorang sahabat memukul dengan maksud baik, tetapi musuh
menjatuhkan kita dengan mengumbar pujian"?


Begitu sebaliknya, orang yang senang memuji-muji (si penjilat -- kalau istilah dalam buku ini) juga menghabiskan energi
walau kita mungkin senang disanjung-sanjung, tetapi penyanjung kita sebenarnya memiliki maksud jahat. Tuhan Yesus pun bisa mengenali ini.


Penyelesaiannya? Tentu saja Anda harus baca buku ini he he he

Oh ya.. buku ini ditulis salah satu pendeta gereja yang dipimpin Rick Warren