Monday, June 16, 2008

Bukan Pahlawan Dambaan


Satu teriakan minta tolong sudah dapat membuatnya bertindak. Jika saya hidup di kota itu, saya tidak akan khawatir menjadi korban kriminal. Ada satu pahlawan super yang tidak akan membiarkan para penjahat berkutik.

Suatu hari Lex Luthor, musuh besarnya, hendak berniat mendirikan kota yang diimpikan. Ia melakukannya dengan menghancurkan kota California dalam satu serangan bom nuklir yang menghancurkan lempeng Andrew (titik terlemah kota itu, jika lempeng Andrew hancur, akan terjadi gempa sangat hebat yang menghancurkan kota California). Pahlawan kita dengan sigap mencegah bencana itu, walaupun bom sempat menghantam, ia masuk ke dalam tanah dan mencegah gempa bumi itu. Jutaan orang-orang tak bersalah hampir saja menjadi korban. Namun, Superman berhasil menyelamatkan mereka semua, tanpa kecuali.
Film yang saya tonton Rabu sore lalu membuat saya banyak berpikir. Walaupun dalam film tersebut sang musuh besar digambarkan hanya seperti badut yang konyol dan Superman dipermanis melalui kisah romantisnya dengan Lois Lane, namun saya memandang serius film itu. Superman sebenarnya menjadi hasrat setiap orang yang ada di dunia ini. hasrat akan seorang penyelamat. Hasrat akan seorang pelindung. Bahkan hasrat ini sudah ada ribuan tahun sebelum film ini dibuat. Dongeng-dongeng kepahlawanan yang sering tidak masuk akal menjadi bukti.

Sungguh tak mengherankan, orang-orang tidak menduga kalau pahlawan terbesar yang ditunggu-tunggu selama beribu-ribu tahun, yang memuncak sejak zaman Yesaya, hanyalah bayi lemah yang hampir saja terbantai oleh raja yang panik. Sama sekali diluar dugaan semua orang. Mungkin jika ia lahir di istana Roma, pusat dunia waktu itu, atau di istana Herodes, maka lain ceritanya.

Seharusnya, pahlawan yang hebat itu tidak mengompol seperti bayi, ia harus tiba-tiba muncul dari planet antah berantah (Superman berasal dari Planet Krypton). Ia tidak boleh menangis sedih (Superman dari komik-komik yang kubaca dan dari film kemarin tak sekalipun menitikkan air mata). Ia tidak boleh mati (Superman hanya menjadi lemah karena Kryptonite - itupun hanyalah supaya filmnya lebih ada variasi).

Jelas bayi Bethlehem yang lahir 2000 tahun lalu tidak memenuhi berbagai kriteria tersebut. Ia tidak lahir di istana, Musa lahir di istana walau istana Kafir. Ia lebih daripada Musa, seharusnya Ia lahir di istana yang lebih megah. Malahan bayi itu kelihatannya lebih menyukai bersama jerami dan kain-kain bekas. Waktu Ia dewasa, tangisan-Nya mewarnai setiap Injil. Bagi beberapa orang itu menunjukkan tanda kelemahan. Bukan pahlawan sejati yang tegar.
Ia jelas tidak mungkin terbang untuk menyelamatkan orang yang berteriak minta tolong. Bahkan Ia terbang pun perlu bantuan Iblis - yang menjadi pencobaan buat-Nya. Saat sahabatnya sekarat, Lazarus, Ia terlambat datang dan akhirnya Lazarus mati.
Kalau Ia disebut lebih besar dari Daud. Jelas sekali tokoh yang diperingati ulang tahun-Nya tiap akhir Desember ini tak pernah melakukan duel maut dengan raksasa dari negeri seberang. Bahkan Ia mati, tanpa perlawanan sekalipun, di kayu salib. Ia bukan pahlawan ideal dambaan kita. kalau disebut pahlawan, mungkin yang cocok adalah pahlawan tragis konyol.
Yesaya nabi yang menajamkan berita tentang kedatangan tokoh penyelamat besar ini secara tersirat pernah memperingatkan mata buta saya.

"Dalam pandangan TUHAN, Ia seperti tunas yang hijau dan lembut, yang tumbuh dari akar di dalam tanah yang kering dan gersang. Tetapi dalam pandangan kita Ia tidak menarik sama sekali, tidak ada keindahan yang membuat kita ingin melihat Dia dan merindukan Dia. Kita memandang hina kepada-Nya dan menolak Dia. Orang yang diliputi kesengsaraan dan mengalami kesakitan serta penderitaan yang paling pahit. Semua orang membuang muka terhadap-Nya dan menghina Dia. Ia tidak masuk hitungan." - Yesaya 53:2,3(FAYH)
Bahkan sampai sekarang orang-orang masih menolak-Nya. Mengingkari kenyataan pahit ini - bahkan orang-orang Kristen sekalipun. Lukisan-lukisan abad pertengahan di Eropa menolak kenyataan kelahiran-Nya yang sengsara dengan menggambarkan Maria dan Yusuf bermahkota dan lingkaran hallow di masing-masing personal di dalam kandang bagus. Sekarang, perayaan-perayaan Natal yang mewah di hotel-hotel berbintang seakan hendak mengubur bulat-bulat tragedi Bethlehem akibat kelahiran Sang Pahlawan ini.

Merasa masih kurang puas dengan yang ada, diciptakanlah satu tokoh baru yang lebih cocok menjadi gambaran pahlawan menurut benak kita. Santo Nicholas - hidupnya setragis dengan Yesus - direka ulang dengan gambaran pahlawan super. Perawakannya diubah menjadi kakek-kakek tua berwajah ramah dengan jenggot lebat putih bersih. Rumahnya dipindah di Kutub Utara, terbang di kereta yang ditarik rusa-rusa, tak pernah menangis - selalu ber-ho-ho-ho-ho ria dan menjadi pahlawan baru dambaan anak-anak. Menjadi cara licik untuk menipu khayalan anak-anak dalam membujuk mereka berbuat baik.

Sebenarnya, Natal itu sunyi dan senyap hampir seperti perayaan Minggu sengsara Paskah. Sang Bayi masih berusaha berjuang antara hidup dan mati. Kondisi kandang yang tidak hygienist, bakteri dan kuman berbahaya menyebabkan-Nya perlu energi ekstra untuk bertahan dari serangan kematian. Ia telah menjadi simbol bagi bayi-bayi negara miskin yang senasib dengan-Nya.

Sebenarnya, Natal itu menelanjangi setiap hati. Manusia itu ringkih dan harus bergantung pada Sang Pencipta senantiasa. Tuhan sedang berjudi saat Ia menyerahkan Anak Tunggal-Nya di tangan dua manusia melarat ini. Untunglah mereka mengemban perjudian itu dengan bergantung pada-Nya.

Sebenarnya Natal itu peperangan rohani. Iblis menggunakan segala cara, Yusuf yang ragu-ragu karena tunangannya hamil sebelum ada upacara, pemilik penginapan yang menolak mereka, dan Raja lalim yang panik hampir saja menggagalkan rencana-Nya. Peperangan rohani yang terus berlangsung hingga sekarang.

Sebenarnya, Natal itu adalah saat terbaik untukku meminta ampun.

Tuhan Yesus maafkan aku.