Sunday, June 22, 2008

Huruf-huruf yang Menghidupkan

Hanya ada dua kelas buku yang menarik. Buku terbaik dan buku terburuk -
Ford Maddox Ford


Tulisan ini sebenarnya lebih banyak menolong saya, terutama saat saya mencari bahan-bahan dan ide-ide yang muncul di benak untuk penulisan ini. Semangat yang tak pernah kendor dan keyakinan untuk terus berkecimpung di dalam dunia literatur, itulah yang saya harapkan ada dalam hati. Walaupun saat ini, Indonesia bukanlah surga bagi para penulis atau usahawan yang berkecimpung dalam dunia literatur, tetapi ada seberkas sinar yang memberi harapan bagi semangat dan keyakinan saya. Kita baru saja terlepas dari neraka dan sedang memasuki masa pembasuhan dan perjuangan menuju "surga" tersebut. Oleh sebab itu semangat dan keyakinan yang terus dipupuk akan membuat harapan saya semakin nyata untuk diraih.

Sebuah Ide
Sebenarnya siapakah yang pertama kali mempunyai ide untuk mengabadikan sesuatu dalam bentuk tulisan? Sekitar 1.000 tahun sebelum Nuh lahir, bangsa Sumeria yang hidup kira-kira di daerah Irak modern sudah membuat catatan tentang kesehatan dan kedokteran yang peninggalannya bisa ditemukan sekarang. Walaupun mungkin mereka tidak akan membayangkan tulisan mereka akan bertahan selama itu, namun keinginan untuk mengabadikan pengetahuan dan isi hati sudah ada dalam pikiran mereka. Mereka sadar, tradisi lisan sangat terbatas kemampuannya.

Abraham, leluhur bangsa Arab dan Israel berasal dari bangsa Sumeria ini. Walau begitu, sampai Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan, tidak pernah ditemukan hasil literatur dari masa-masa leluhur tersebut. Semua pengetahuan tentang Adam sampai Musa hanya didapat turun temurun dari dongeng tua-tua pada kaum muda.

Walaupun menjadi bencana, keberadaan bangsa Israel di Mesir pada sekitar tahun 1700-1250 SM membuat mereka akrab dengan budaya tulis. Musa yang mendapat pendidikan kelas utama dalam strata kehidupan Mesir, dalam perjalanan pengembaraan bangsanya, ia menyelamatkan tradisi lisan tersebut menjadi tulisan yang akhirnya sangat berharga bagi generasi-generasi ribuan tahun di bawahnya. Bahkan Yesus Kristus-pun mengakui keabsahan tulisan Musa tersebut.

Bahkan meski begitupun setelah Musa, tradisi untuk menulis sepertinya hanya berlanjut sampai Yosua, sang murid. Selama melalui 200 tahun masa gejolak tanpa seorang raja pemersatu setelah Yosua mati, kebiasaan menulis di antara orang Israelpun meluntur. Mulai tumbuh kembali setelah Samuel menobatkan raja Saul dan susunan imam di organisasi dengan rapi pada waktu Raja Daud memerintah. Imam-imam yang terorganisir dan munculnya sekolah-sekolah nabi setelah itu menyebabkan tumbuh literatur-literatur penting dalam kehidupan bangsa Israel. Bahkan Raja Daud dan penerusnya, Salomo, adalah penulis-penulis yang aktif.

Jadi siapakah yang mempunyai ide pertama kali mengembangkan literatur? Saya ingin mengatakan Tuhanlah sumber ide utama, namun ternyata sejak mula banyak literatur-literatur yang idenya bukan dari Tuhan. Bahkan di kemudian hari, banyak literatur-literatur menentang-Nya dan meragukan keberadaan-Nya.

Alkitab wujud Ide TUHAN
Saya lebih menyukai bahwa Tuhanlah yang menaruh ide dalam pikiran manusia untuk menyimpan data-data kehidupan mereka dalam tulisan. Dia juga yang ber-ide menyimpan data-data kehidupan-Nya untuk ditulis oleh manusia demi kebaikan mereka (2 Timotius 3:16). Bahkan pernah Ia sekali ingin membuat kejutan dengan tangan-Nya sendiri menuliskan "prasasti" bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, bangsa Israel, walau kemudian oleh kemarahan Musa, tulisan TUHAN tersebut hancur dan kita tidak pernah lagi melihat tulisan tangan-Nya (Keluaran 24:12, 31:18, 32:15 -16, 32:19 - saya kira jika Musa tidak menghancurkannyapun kita di tahun ini tidak akan pernah melihat dua loh batu itu, agak dunia ini terlalu jahat untuk menerima tulisan suci itu).

Setelah "kegagalan" Musa tersebut, TUHAN sepertinya lebih suka menggunakan jari-jari manusia untuk menuliskan ide-Nya. Dia menggunakan semua tipe orang. Dia menggunakan raja-raja, nabi-nabi, peternak domba (Amos), petugas pajak (Matius), dokter (Lukas), Doktor (Paulus), dan bahkan rakyat jelata seperti Petrus. Dia juga menggunakan orang asing (orang non-Israel) untuk menuliskan kisah-Nya (Lukas dan Ayub). Benang merah ide-Nya terhubung di antara penari jari tersebut, yang terpaut jarak ribuan tahun dan kadang-kadang di antara mereka tidak saling mengenal.

Seandainya Ia tidak ber-ide untuk menuliskan pikiran-Nya maka dunia akan terjatuh ke dalam filsafat-filsafat tentang penyiksaan diri untuk mengejar kedamaian atau memuaskan keinginan badaniah untuk mendapatkan kebahagiaan seperti dalam filsafat-filsafat Yunani yang tumbuh subur pada waktu Yesus menjalani kehidupan di dunia. Manusia juga akan mengejar kesempurnaan hidup dengan terus mempertahankan keseimbangan alam semesta seperti filsafat-filsafat Asia. Tidak ada anugerah dan tidak ada pengampunan dan kasih. Hanya ada pembenaran diri tanpa harapan.



Seribu Tahun Terakhir
Siapakah sepuluh orang yang paling mengubah dunia seribu tahun terakhir ini? Menurut Agnes Hooper Gottlieb, seorang professor komunikasi dari Seton Hall University, mereka adalah Johannes Gutenberg, Christopher Columbus, Michelangelo, Martin Luther, William Shakespeare, Galileo Galilei, George Washington, Ludwig van Beethoven, Elizabeth Cady Stanton, and Mohandas Gandhi. Walaupun saya tidak sepenuhnya setuju dengan kriteria-kriteria yang menyebabkan sepuluh orang itu terpilih (menurut saya dengan adanya tiga orang yang berhubungan langsung dengan benua Amerika, agaknya konsep pemilihannya agak berat sebelah), namun memang diakui bahwa beberapa orang itu membuat dunia sekarang berbeda.

Tanpa Michelangelo; Beethoven; dan Shakespeare, dunia ini tidak akan lebih indah dari keadaan sekarang. Tanpa Mohandas Gandhi dan George Washington, dunia tidak akan mengenal konsep kedamaian dan kemerdekaan suatu bangsa.

Yang menarik dari orang-orang itu ada kebanyakan dari mereka adalah pribadi-pribadi yang berkecimpung dalam dunia literatur. Ini hanya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengerti artinya mengabadikan pikiran mereka yang penting dalam bentuk tulisan. Orang-orang yang ingin mempelajari mereka, tidak akan kesulitan mengerti dan memahami.

Ada satu tokoh yang revolusioner dalam literatur adalah Johannes Gutenberg. Walaupun sudah berabad-abad sebelumnya orang-orang Cina dan Korea sudah melakukan block printing, namun pekerjaan mereka yang lambat dan sangat merepotkan menyebabkan orang-orang masih melakukan penyalinan melalui tulisan tangan. Gutenberg melakukan terobosan dengan membuat alat cetak yang lebih praktis dan lebih mudah dioperasikan sehingga bisa menghasilkan cetakan yang lebih cepat dan banyak. Buku-buku kontroversial yang segera menjadi best seller seperti Alkitab dan tesis Martin Luther dicetaknya dengan mempertaruhkan nyawa. (seperti Shalman Rusdie yang diburu mati oleh orang-orang yang tidak suka dengan bukunya, Gutenberg juga diburu mati oleh sebab buku cetakannya. Hanya bedanya Rusdie membuat Ayat-ayat Setan sedangkan Gutenberg membuat Ayat-ayat Tuhan). Menurut saya, pasti Tuhan telah menggerakkan hati bekas pencari emas ini untuk menyebarkan dan mengabadikan ide-Nya. Karya Gutenberg tidak hanya menjadi peninggalan yang berharga bagi orang-orang yang percaya pada-Nya bahkan juga yang menentang-Nya.

Ada dua tokoh yang saya kagumi, walaupun belum semua karya-karyanya saya baca. Ia adalah Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoesvky, pujangga-pujangga besar Rusia yang menyelamatkan bangsa dari cengkeraman ateisme komunis. Saya mengutip tulisan Yancey dalam bukunya The Jesus I Never Knew tentang dua tokoh ini.

Pada awal 1970-an, Malcolm Muggeridge (seorang penulis, menulis buku Jesus Rediscovered) terkejut mendengar para anggota kaum elit intelektual di Uni Soviet mengalami kebangunan rohani. Anatoli Kuznetsov, yang hidup dalam pembuangan di Inggris, mengatakan padanya, bahwa hampir tidak satu pun seniman atau musisi di U.S.S.R yang tidak menggali isu-isu kerohanian. Muggeridge berkata, "Saya bertanya padanya (Kuznetsov) bagaimana itu mungkin, dengan segala usaha pencucian otak besar-besaran yang dilakukan pada warga negara, dan tidak adanya literatur Kristen, termasuk Alkitab. Jawabannya tidak terlupakan; para penguasa, katanya, lupa melarang karya Tolstoy dan Dostoesvky, eksposisi paling sempurna mengenai iman Kristen pada masa modern."

Saya pernah membaca salah satu buku Dostoesvky yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Impian Pamanku judulnya, bercerita tentang kemunafikan hidup dan kemurnian cinta kasih. Novel pendek yang kocak ini memberikan saya gambaran baru tentang hidup.

Pelayanan Literatur
Berbagai cara dilakukan Tuhan untuk menceritakan kasih-Nya pada manusia. Dia mengirim nabi-nabi ke seluruh dunia. Dia membentuk organisasi-organisasi penyantun untuk menolong orang-orang yang membutuhkan uluran kasih. Dia juga yang menumbuhkan gereja-gereja di mana pun di dunia ini dan dalam keadaan bagaimanapun. Dia juga yang membentuk lembaga-lembaga pelayanan untuk menolong orang-orang Kristen lebih bergairah dalam pelayanan mereka. Selain itu mereka juga menaruh ke dalam hati orang-orang yang mengasihi-Nya untuk terjun dalam kehidupan literatur untuk melayani-Nya. Dia menyentuh hati Gutenberg, penulis-penulis kitab dalam Alkitab, para penulis novel-novel seperti Tolstoy, Dostoevsky, C. S. Lewis, Muggeridge untuk menyebarkan kasih-Nya. Tuhan juga menyentuh hati orang-orang untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa yang diketahui oleh orang-orang di mana pun mereka.

Seperti yang dilakukan oleh LAI, mereka sampai sekarang masih aktif untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa suku yang belum mempunyai Alkitab dalam bahasa suku mereka. Walaupun kadang-kadang ada kecurigaan dari pihak-pihak tertentu yang merasa kegiatan itu merupakan penelusupan kekristenan dalam suku-suku itu, namun apa yang mereka lakukan adalah berusaha menyebarkan kasih dengan bahasa yang se-familiar mungkin dengan telinga mereka. Memang dalam kenyataannya, sebuah Alkitab dalam bahasa ibu adalah media penginjilan yang paling efektif dan tidak pernah dianggap asing.

Penjunan
Saat melihat contoh-contoh orang-orang yang mempunyai idealisme tinggi untuk melayani dan mengenal TUHAN melalui talenta literatur mereka sungguh menggugah saya untuk ikut serta di dalamnya. Saya sangat terkesan dengan keabadian yang dipertahankan dalam buku-buku dan tulisan-tulisan. Bahkan para penulis Injil-pun menyadarinya, saat mereka dengan murah hati membagikan pengetahuan dan kedekatan mereka dengan Yesus dalam bentuk tulisan-tulisan yang terus mengubahkan sampai sekarang. Saya menginginkan keabadian tersebut.

Saya berharap Dia menjadi Penjunan dalam kehidupan saya supaya menjadi salah satu penari jari untuk menuliskan kehendak-Nya. Tidak hanya tulisan-tulisan yang bersifat religius, tetapi juga tulisan-tulisan yang membangunkan hati seseorang untuk merenung sejenak, mengingat penciptanya dan merenungkan kembali kehidupannya. -Bayu Probo