Tuesday, June 24, 2008

Jika Yesus Calon Presiden Republik Indonesia

Saat ini politikus Indonesia sedang ribut-ribut membuat berbagai gerakan
politik. Ada yang melakukan pembusukan karakter musuh politiknya, ada juga yang
sibuk "merangkul" orang-orang miskin dan berusaha mencari muka, serta berbagai
tingkah menggelikan sekaligus memprihatinkan lainnya. Itu semua digunakan
sebagai senjata untuk memenangkan pemilu tahun 2009. Di antara berbagai cara
untuk meraih massa dan dukungan, ada satu cara yang disebut sebagai kampanye
orasi di hadapan massa yang dikumpulkan di suatu tempat tertentu.

Lalu bagaimana seandainya-hanya seandainya-Yesus mencalonkan diri menjadi
presiden republik ini? Apakah yang Dia kampanyekan? Harga BBM tidak akan naik
lagi, bahkan turun? Pendidikan gratis bagi semua anak usia sekolah? Pelayanan
kesehatan gratis? Bebasnya penderitaan di dunia ini dan anugerah kemakmuran
melimpah ruah bagi orang-orang yang memilih-Nya? Apakah seperti yang sering kita
dengar dari para selebritis politik ucapkan; tetapi setelah kekuasaan mereka
dapatkan janji-janji itu mereka lupakan? Dalam benak saya, seandainya Dia
mengampanyekan rasa aman dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia, pasti akan
ditepati. Dan, rakyat Indonesia pasti makmur sejahtera seperti yang mereka
angan-angankan. Namun benarkah demikian?


Kampanye yang Mengejutkan

Ada dua kesempatan bagi Yesus untuk melakukan kampanye besar-besaran. Dan, yang
mengejutkan dua-duanya tidak seperti yang kita inginkan. Jelas tawaran Yesus ini
bukan tawaran menuju kenyamanan seperti yang sering digembar-gemborkan para
politikus dan pemimpin negara kita.


Hampir bisa dipastikan Yesus tidak akan terpilih sebagai presiden Republik
Indonesia dengan cara-Nya ini. Dan kenyataannya memang demikian, Dia bukanlah
Sang Ratu Adil yang digambarkan Raja Jayabaya dari Kediri yang akan membawa
bangsa ini ke kegemilangan dan kemakmuran.


Bahkan para pengikut-Nya sekarang, orang-orang Kristen-termasuk saya, berusaha
menghindari perkataan-Nya ini karena konsekuensi yang harus ditanggung mereka
eh... kami. Mari kita perhatikan di zaman Yesus.


"Kesempatan" pertama Yesus "berkampanye" saat dalam puncak kepopuleran, setelah
berbagai mukjizat penyembuhan, yang menyebabkan banyak orang berbondong-bondong
mengikuti-Nya ke mana pun Dia pergi. Akhirnya Dia mengambil waktu untuk
menyampaikan pernyataan misi-Nya di dunia ini dan menawarkan sesuatu kepada
kerumunan orang yang ada di sekeliling-Nya itu. Seperti yang digambarkan oleh
Lukas, orang-orang itu datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari
penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk roh-roh jahat berharap menerima
kesembuhan. Dan mereka semua berusaha menjamah Dia (Lukas 6:18,19) . Pada saat
itulah Yesus mengucapkan pernyataan-Nya.


"Hai rakyat miskin, sengsara, dan tertindas, kalian semua beruntung. Sebab dalam
kesengsaraanmu hanya Allah yang paling tepat untukmu bergantung. Jika kalian
berseru pada-Nya, kamulah yang bakal menikmati Kerajaan Surga," kalimat pembuka
yang menyentak yang diucapkan Yesus ini pasti akan membuat orang-orang yang
mendengar tersedak dan tercekat karena tersinggung.


Bagaimana mungkin seseorang yang seharusnya membela rakyat dan mengusahakan
kesejahteraan bagi mereka malahan berkata begitu? Pribadi yang seharusnya
membebaskan mereka dari penjajahan kesengsaraan dan ketertindasan malahan
mengejek mereka dengan mengatakan mereka beruntung. Memangnya Dia siapa?


Jika saya hadir di tengah kerumunan, saya pasti bagian dari sekumpulan
orang-orang sengsara itu. Orang tidak sengsara hampir bisa dipastikan tidak mau
mengikuti gerombolan aneh ini. Mereka sudah cukup dengan diri mereka sendiri.


Jika saya hadir di tengah kerumunan, saya mengharapkan banyak pada Yesus.
Mungkin saya diserang penyakit yang tak kunjung sembuh, mungkin saya orang
miskin berharap mendapat sedikit kelegaan dari Yesus. Atau, saya tertarik dengan
ajaran-ajaran-Nya.


Tersentak? Pasti saya tersentak. Bukan pernyataan pembelaan kepada si sengsara,
tetapi Dia malah mengucapkan kalimat-kalimat klise yang sudah sering diucapkan
para nabi ribuan tahun sebelumnya. Semua orang sudah tahu kalau orang-orang
tertindas jika berseru pada Allah akan mendapat pembelaan. Namun kami, orang
Yahudi, sudah beratus tahun memohon pada Allah supaya dibebaskan dari penjajahan
Romawi, tetapi jawaban-Nya adalah para pemimpin politik dan agama yang saling
intrik dan mencari keuntungan diri sendiri. Saya bertekad menoleransi ucapan-Nya
tadi, siapa tahu Dia berubah. Saya anggap Dia 'keselo lidah'.


Manifesto yang Mengguncangkan

"Kesempatan kedua" Yesus mengungkapkan misinya di hadapan orang banyak saat
kerumunan orang-orang yang mengikuti-Nya mendapat keajaiban besar. Lima ribu
laki-laki (atau setidaknya ada 1.500 orang) dikenyangkan hanya dengan lima roti
dan dua ikan. Peristiwa itu memicu eforia. Orang banyak yang sepertinya melihat
harapan berujar, "Sungguh, inilah Nabi yang diharapkan datang ke dunia!"
(Yohanes 6:14-BIS). Kalau dalam bahasa orang Indonesia, "Ratu adil yang akan
membawa bangsa ini menuju kemakmuran sejati."


Kerumunan orang yang dikenyangkan dengan mukjizat itu bergerak memaksa Yesus
menjadi raja memimpin mereka. "Jika mereka bisa dikenyangkan, mukjizat apa lagi
yang bakal mereka nikmati bersama raja yang satu ini," pikir mereka. Israel jaya
raya seakan tampak di pelupuk mata mereka.


Namun Yesus menyingkir (Yohanes 6:15). Sebenarnya dengan segala kemampuan yang
Dia miliki, bukan hal susah untuk mewujudkan impian rakyat kecil itu. Namun
mengapa Dia menyingkir? Kita tidak tahu jawabannya, Matthew Henry hanya
mengatakan bahwa itu adalah bentuk dari kerendahhatian-Nya dan perlawanan
terhadap pencobaan yang akan menggeser panggilan-Nya di dunia. Philip Yancey
menyebut itu sebagai pencobaan Iblis dalam bentuk lain. Penafsir yang lainnya
mengatakan Yesus mendoakan orang-orang itu supaya mengerti kemuliaan Allah.


Kerumunan orang itu tidak berputus asa dan terus mencari-Nya. Dan saat itulah
Yesus mengucapkan manifestonya. Seperti seorang politikus menawarkan pernyataan
politik terbuka kepada khalayak, Yesus menyerukan, "Akulah roti hidup;
barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, barangsiapa percaya
kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." Sebuah pernyataan yang menuntut kesetiaan
total, tidak hanya demi kemakmuran dan kesejahteraan yang menjadi mimpi rakyat.
Ucapan Yesus itu menuntut pendengarnya melompat dari perjuangan politik menuju
kemerdekaan jasmani yang mereka impikan, ke arah perjuangan batin yang menuntut
kepercayaan mutlak kepada Yesus. Perjuangan batin tersebut berarti mereka harus
yakin bahwa mereka akan melewati lembah kesengsaraan dengan keyakinan bahwa di
akhir zaman akan beroleh kemuliaan. Hanya sayang, mereka gagal melihat penyeru
manifesto yang mengguncangkan itu berasal dari Allah. Jika hadir di situ, saya
pun pasti gagal melihat juga.


Yesus, yang seluruh keseharian-Nya sudah saya ketahui, anak Yusuf tukang kayu,
orang Galilea yang tidak sopan, latar belakang-Nya begitu meragukan, telah
menuntut terlalu banyak. Dia belum membuktikan apa pun, tetapi bergerak terlalu
cepat menginginkan kesetiaan mati seakan semuanya sudah berlangsung. "Hei, ini
belum akhir zaman Bung!" batin saya berontak. Seperti yang lain, akhirnya saya
pun undur (Yohanes 6:66). Kandidat lain pun menang tanpa perlawanan berarti.


Yesus yang Memilih

Dua pernyataan-Nya itu membuat saya berpikir ulang. Apa arti memilih Yesus dan
memutuskan mengikut-Nya? Dengan segala tawaran yang seakan tidak masuk akal dan
tidak menjawab kebutuhan riil, keuntungan apa yang bisa saya dapat dengan
memilih-Nya? Apakah benar yang diucapkan-Nya? Lompatan kepercayaan yang
dituntut-Nya sangat jauh. Menuntut keyakinan tinggi bahwa semua yang Dia ucapkan
benar terjadi.


Sayangnya, bukan kita yang memilih Yesus sebagai pemimpin. Yesuslah yang
memilih. Jika kita sekarang mempunyai Yesus sebagai juruselamat, sebenarnya
Dialah yang memilih kita. Dan seperti yang diungkapkan Paulus dalam Filipi, kita
dipilih Yesus bukan hanya untuk percaya kepada-Nya, melainkan juga untuk
menderita bersama-Nya (Filipi 1:29).


Jika sekarang ini kita masih mengikuti-Nya, itu adalah anugerah. Keyakinan kita
untuk terus percaya pada Yesus adalah karya Allah sendiri (Filipi 2:13) yang
membuat kita mampu percaya bahwa seluruh ucapan Yesus adalah kebenaran. Dan,
jika saya hidup di Indonesia di tahun 2009 dengan segala pencobaan untuk
mengingkari iman, tetapi sejauh ini mendapat anugerah untuk terus percaya pada
Yesus, itu adalah berkah luar biasa. Bagaimana dengan Anda?