Monday, June 30, 2008

Memahami Duka

Bayi temanku hanya berumur dua hari. Jumat pagi lahir, Minggu pagi tiada. Bayi itu adalah anak pertama. Kemarin malam aku mengikuti kebaktian penghiburan keluarga ini. Berbagai bayangan berkelebat dalam pikiran. Bermacam pertanyaan menyerbu benak tanpa bisa dicegah.

 

Di tengah khotbah pendeta yang berusaha meyakinkan keluarga bahwa si bayi sekarang sudah aman di surga. Bahwa, ia sekarang diasuh Bapa. Bahwa, kematian adalah tidur panjang. Bahwa, keluarga tidak seharusnya sedih, tetapi bahagia karena bayinya begitu dikasihi sehingga tidak direlakan mengecap kesengsaraan dunia. Berbagai 'bahwa' tidak bisa menenangkan hatiku yang gundah dan duka.

 

Rumor bahwa dokter telah bertindak ceroboh begitu mengganggu pikiran. Pertanyaan klise pun menyeruak, "Mengapa Tuhan." Dan jawabannya hanya kebisuan. Penjelasan berbagai mazhab teologi dari yang ekstrem kanan hingga ekstrem kiri tidak akan mampu menghapus air mata ayah dan ibunya. Dan memang kulihat air mata mereka berurai.

 

"Rancanganmu bukanlah rancangan-Ku," berkumandang di sepanjang kebaktian itu. Hanyalah waktu yang bisa menjelaskan potongan firman-Nya itu kepada yang berduka. Duka memang sulit dipahami. Siapa yang memahami duka, ia sudah sempurna.

 

Didedikasikan untuk sahabatku: Aryadin Sinuraya & Prima Yuliana