Monday, June 9, 2008

Orang Makassar Tidak Kasar

"Secara kasat mata, kami pernah melihat nabi Allah," demikian penjelasan sopir taksi yang mengantar kami dari Bandar Hasanuddin ke kota Makassar. Ia menjawab kami dengan ramah saat ditanya apa sih artinya Makassar. Perjalanan yang hampir memakan waktu satu jam tidak terasa menjemukan; pun saat melewati calon jalan tol (calon, karena tol masih dalam pembangunan, jalan tidak berbentuk jalan beraspal, tetapi jalan tanah berdebu nan bergelombang). Sewaktu sang sopir ditanya dari suku apa. Dia menjawab mantap, "Suku Makassar." Dalam batin saya baru tahu kalau ada suku Makassar. Saya sebelumnya mengira suku asli yang tinggal di Makassar adalah suku Bugis. Ternyata suku Bugis tinggal di Bone dan Gowa.
 
Jadi dua suku kata terakhir yang dibaca kasar bukan berarti garang, berangasan, tidak tahu sopan santun, keras, atau identik dengan tindakan kriminal. 'Ma' berarti mata, 'kassar' berarti secara kasat. Stereotip orang Makassar yang keras, hilang begitu tiba di Makassar. Perasaan yang mirip juga saya rasakan saat mengunjungi Surabaya. Suatu kali saya harus ke kampung Bulakbanteng, Surabaya Utara, untuk melakukan tugas pekerjaan. Bulakbanteng adalah salah satu perkampungan Madura di Surabaya.
 
Mulanya saya ngeri juga membayangkan akan berada di lingkungan Madura, mengingat "track record" mereka yang digambarkan media akrab dengan kekerasan. Ternyata dugaan saya salah. Sewaktu angkot yang saya tumpangi tidak mencapai lokasi yang dituju, saya melanjutkan dengan menumpang becak. Dengan rela hati cak penarik becak, orang Madura, dan tanpa putus asa mengantar saya mencari lokasi yang dimaksud. Dan, ternyata jauh sekali, tidak sebanding bayaran murah yang sudah kami sepakati bersama. Mungkin ia kasihan melihat saya yang sewaktu datang terlihat bingung dan kelelahan. Kesan ngeri pun hilang.
 
Juga, sewaktu kami tinggal di kawasan urban Jogja, kampung Jogoyudan, pinggir Sungai Code, kami banyak bergaul dengan orang-orang Madura. Hal ini memberi kami kesempatan banyak berinteraksi dengan mereka. Dan, merekalah salah satu di antara tetangga-tetangga terbaik kami. Bahkan dalam beberapa hal mereka dijadikan Tuhan sebagai saluran berkat bagi kami.
 
Dan sekarang saat berada di Makassar, kembali lagi sirna stereotip garang yang ada di benak saya. Oleh karena orang Makassar pernah melihat nabi Allah, mereka menikmati kehidupan religius yang baik. Bahkan kehidupan religius mereka merasuki adat budaya Makassar.
 
Oh ya, saya datang ke kota yang indah ini bersama dua orang kawan yang baik hati—Mas Indarto & Albiden Rajagukguk—untuk mewakili ayah saya melamar seorang gadis campuran Toraja-Bugis—Gita Tarrialo, bagi adik saya—Jati Anggoro. Perjalanan kami pun bahkan disokong teman-teman Navigator. Sungguh mengharukan dan bersyukur pada Allah yang Mahabaik.
 
Saya makin mengenal orang-orang di kawasan ini terutama setelah banyak mendengar cerita dari juru bicara keluarga calon mempelai perempuan tentang berbagai adat istiadat di Makassar. Cerita-cerita menarik itu meyakinkan saya bahwa di mana pun saya berada setiap orang pada dasarnya setara di hadapan Allah. Stereotip-stereotip buruk yang ditimpakan pada bangsa, kelompok suku, atau agama sebenarnya adalah bagian dari prasangka dan penghakiman. Dan, saya diyakinkan bahwa kebanyakan prasangka tersebut salah, terutama setelah saya mengenal dari dekat.
 
Pelajaran berharga yang saya dapat ini memberi arti baru bagi saya hidup dalam visi menyebarkan Kabar Baik Amanat Agung. Ah, jadi teringat tulisan Rasul Paulus dalam Roma 10:12, "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang…"
 
Jika ingin melihat foto-foto perjalanan kami, teman-teman bisa mengakses http://miktamlilo.blogspot.com . Tulisan ini adalah bagian dari pencerahan saya. Silakan memberi komentar atau masukan supaya saya lebih dicerahkan.