Sunday, August 24, 2008

Pelajaran yang Mengguncangkan

Sore itu ada SMS masuk ke HP-ku: “Terima kasih atas bantuan mas dan teman-teman. Ellys, Rabu pukul 5 sore dipanggil Tuhan dan dimakamkan Jumat pagi tadi.--Aris” Setelah membaca SMS tadi batinku berteriak, “Bantuan apaan? Yang dibantu kok malah mati?” Dan rasa panas di mata yang memaksa air mata keluar kutahan sekuat tenaga—aku masih terlalu gengsi untuk menangis.

Aku memiliki kenangan yang buruk dengan donor darah. Bukan, bukan prosesnya, sejak kecil saya sudah akrab dengan jarum suntik karena sakit-sakitan sehingga sering berurusan dengan dokter dan jarum suntik. Juga saya beberapa kali mendapat transfusi darah—terima kasih untuk pribadi-pribadi yang merelakan darahnya diambil demi nyawaku. Namun kenangan buruknya adalah setiap kali saya mendonorkan darah untuk pasien yang sakit gawat, kebanyakan kanker, penerima darah saya malahan meninggal, tidak sembuh. Setidaknya ada tiga kejadian, kanker otak, leukemia, dan yang terakhir kanker sumsum—kabar duka dikirim melalui SMS di atas. Ada juga yang sembuh jika penyakitnya tidak parah.

Atau, jangan-jangan saya berharap terlalu banyak? Saya merasa darah saya begitu berharga sehingga apa pun penyakitnya seharusnya bisa sembuh jika sudah mendapat darahku—meskipun kanker stadium lanjut sekalipun? Atau saya terhinggapi sindrom sok menjadi pahlawan, jika yang saya tolong tidak terlihat menjadi baik, perasaan diri tidak berguna langsung menyerang? Entahlah, bisa jadi pertanyaan saya benar—bisa jadi ada alternatif lain yang hendak diajarkan Yesus kepada saya.

Ellys—adik ipar Aris, sahabat saya—pernah menghadapi dua pilihan yang sama-sama sulit. Vonis kanker sumsum ia terima saat ia dalam keadaan hamil muda. Oleh dokter ia ditawari untuk menggugurkan kandungan, calon anak pertamanya. Sebab kandungannya masih dalam tahap yang sangat awal—menurut pandangan medis, janin tersebut boleh digugurkan demi keselamatan ibu. Dokter mengatakan bahwa kesempatan Ellys untuk sembuh sangat kecil jika ia nekat mempertahankan bayinya.

Namun Ellys memilih untuk menyelamatkan si janin.

Mungkin itu pelajaran yang harus saya telan di tengah kedukaan teman saya. Yesus memberi contoh nyata ada orang yang memberi nyawanya demi kasih. Pelajaran yang sudah sering saya dengar, tetapi sekarang disampaikan dengan cara yang sangat mengguncangkan.

Tuesday, August 5, 2008

Yesus, Aku, dan Metromini


Pagi itu, alunan merdu lagu ”Yesus Kau Penghiburku” sedikit mengobati rasa gundah dalam hatiku. Lagu itu bukan keluar dari CD player mobil mewah yang meluncur wah. Lagu itu muncul dari mulut pengamen di Metromini 47 jurusan Pondok Kopi—Pasar Senen.

Yap… aku, sebagai salah satu penumpang metromini yang banyak dibenci (tapi dibutuhkan) karena suka ugal-ugalan, sedang berusaha keras menyesuaikan diri dengan cuaca Jakarta. Sebelumnya berusaha sekuat tenaga menghindar mencari penghidupan di kota metropolitan ini. Aku tidak mau berurusan dengan hiruk pikuk ibu kota. Namun apa daya, perjalanan hidup membawaku ke kota sejuta harapan ini. Dan, pagi itu aku duduk di kursi penumpang fiber yang keras dan bersiap menikmati kemacetan selama satu jam sembari mendengar teriakan-teriakan dalam bahasa Toba yang sedikit sekali kumengerti.

Dua pemuda lusuh—yang suaranya bahkan pasti tidak bisa dipilih untuk menjadi anggota paduan suara gereja—entah mengapa seperti mengalirkan kesejukan di tengah keriuhan dan kegerahan pagi itu. Jika di waktu lampau melihat pengamen menyanyikan lagu rohani, pasti terlintas pikiran, “Menyanyikan lagu pujian kok di tempat yang tidak layak,” atau “Motivasinya hanya uang, ia menyanyi tidak sungguh-sungguh.” Namun, apakah dua pemuda itu tidak layak menyanyi atau mereka hanya mengejar uang, tidak lagi tebersit dalam otakku.

Sepertinya Yesus hadir di Metromini pagi itu. Dia menenangkan hatiku. Mengingatkanku bahwa Dia selalu ada. Dia yang telah merancangkan kehidupanku, istriku, dan anakku. Dia akan selalu memeliharaku, terutama karena ini adalah bagian dari panggilan hidupku.

Sejak dari masa akhir kuliah dalam benakku selalu tergambar hidupku akan berada di desa kecil. Di sana aku akan sibuk membagikan ilmu kepada anak-anak. Di sana aku berharap anak-anak yang tidak punya kesempatan mengecap pendidikan, mendapat kesempatan membuka cakrawala kehidupan mereka melalui aku.

Namun, cita-cita itu membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang—setidaknya aku dan keluargaku bisa membiayai hidup kami secara mandiri saat membagikan pengetahuan kepada anak-anak. Dan di tengah perencanaan itu, Yesus mengajakku terjun ke dunia literatur. Dia meyakinkanku bahwa perubahan-perubahan spiritual orang-orang terkasih-Nya sangat dipengaruhi oleh karya-karya literatur. Bahkan Dia pun mengingatkan kehidupan rohaniku pun sangat dipengaruhi karya-karya literatur—Alkitab.

Hampir tanpa latar belakang pendidikan bahasa apa pun, aku beruntung masuk ke perusahaan penerbitan di Jogja. Dan sekolah sambil kerja—atau kerja sambil sekolah (tempat kerjaku kugunakan untuk menyerap seluruh ilmu penerbitan, kebetulan ada yang bermurah hati mengajariku) pun kulakoni. Seluk beluk tetek bengek proses penciptaan buku dari mencari naskah bagus (kalau owner mengatakan, “Yang berbau duit.”) sampai pencetakan dan pemasaran pun kutelusuri dan kulahap habis ilmunya.

Sayang, konflik internal akibat kesewenangan dalam perusahaan membuatku terpental. Cap subversif pun melekat sudah kepada diriku. Namun, atas pertolongan Yesus aku masih mendapat kesempatan untuk masuk ke perusahaan lain dan menikmati pengalaman baru bekerja di Jakarta.

Bekerja di Jakarta berarti meninggalkan seluruh kenyamanan hidup yang selama ini kunikmati. Dalam bahasa kerennya melepaskan diri dari seluruh comfort zone yang kubangun bertahun-tahun sejak zaman kuliah. Meninggalkan seluruh kemapanan dan menghadapi tantangan baru.

Walau begitu, jika tiap malam dikerubuti nyamuk, meninggalkan istri dan anak di Jogja, meninggalkan rumah di Jalan Kaliurang yang sejuk lalu tiba-tiba terlempar di kota yang selalu gerah setiap detik, aku bimbang juga. Akibatnya perasaan campur aduk antara marah, merasa bersalah, menyesal, namun terselip pengharapan, menyeruak dalam hatiku. “Maafkan aku Yesus,” batinku lirih.

Mungkin itu sebabnya, Dia menenangkan hatiku di lokasi yang tidak terduga. Tidak di gereja, tidak di ketenangan kamar, tetapi di angkutan umum sesak yang tulisan-tulisan di kaca depannya melambangkan rintihan sopir, kenek, dan para penumpangnya.

Sayangnya, setelah mendapat kesejukan di pagi itu, tanganku tidak bergerak sama sekali untuk memberi recehan kepada dua pemuda itu. “Begitu kikir,” aku memaki diriku sendiri dalam hati. Dan waktu pun berlalu begitu saja. “Maafkan aku Yesus, malaikat yang Kau kirimkan tidak kuperlakukan layak,” hatiku menangis.