Tuesday, August 5, 2008

Yesus, Aku, dan Metromini


Pagi itu, alunan merdu lagu ”Yesus Kau Penghiburku” sedikit mengobati rasa gundah dalam hatiku. Lagu itu bukan keluar dari CD player mobil mewah yang meluncur wah. Lagu itu muncul dari mulut pengamen di Metromini 47 jurusan Pondok Kopi—Pasar Senen.

Yap… aku, sebagai salah satu penumpang metromini yang banyak dibenci (tapi dibutuhkan) karena suka ugal-ugalan, sedang berusaha keras menyesuaikan diri dengan cuaca Jakarta. Sebelumnya berusaha sekuat tenaga menghindar mencari penghidupan di kota metropolitan ini. Aku tidak mau berurusan dengan hiruk pikuk ibu kota. Namun apa daya, perjalanan hidup membawaku ke kota sejuta harapan ini. Dan, pagi itu aku duduk di kursi penumpang fiber yang keras dan bersiap menikmati kemacetan selama satu jam sembari mendengar teriakan-teriakan dalam bahasa Toba yang sedikit sekali kumengerti.

Dua pemuda lusuh—yang suaranya bahkan pasti tidak bisa dipilih untuk menjadi anggota paduan suara gereja—entah mengapa seperti mengalirkan kesejukan di tengah keriuhan dan kegerahan pagi itu. Jika di waktu lampau melihat pengamen menyanyikan lagu rohani, pasti terlintas pikiran, “Menyanyikan lagu pujian kok di tempat yang tidak layak,” atau “Motivasinya hanya uang, ia menyanyi tidak sungguh-sungguh.” Namun, apakah dua pemuda itu tidak layak menyanyi atau mereka hanya mengejar uang, tidak lagi tebersit dalam otakku.

Sepertinya Yesus hadir di Metromini pagi itu. Dia menenangkan hatiku. Mengingatkanku bahwa Dia selalu ada. Dia yang telah merancangkan kehidupanku, istriku, dan anakku. Dia akan selalu memeliharaku, terutama karena ini adalah bagian dari panggilan hidupku.

Sejak dari masa akhir kuliah dalam benakku selalu tergambar hidupku akan berada di desa kecil. Di sana aku akan sibuk membagikan ilmu kepada anak-anak. Di sana aku berharap anak-anak yang tidak punya kesempatan mengecap pendidikan, mendapat kesempatan membuka cakrawala kehidupan mereka melalui aku.

Namun, cita-cita itu membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang—setidaknya aku dan keluargaku bisa membiayai hidup kami secara mandiri saat membagikan pengetahuan kepada anak-anak. Dan di tengah perencanaan itu, Yesus mengajakku terjun ke dunia literatur. Dia meyakinkanku bahwa perubahan-perubahan spiritual orang-orang terkasih-Nya sangat dipengaruhi oleh karya-karya literatur. Bahkan Dia pun mengingatkan kehidupan rohaniku pun sangat dipengaruhi karya-karya literatur—Alkitab.

Hampir tanpa latar belakang pendidikan bahasa apa pun, aku beruntung masuk ke perusahaan penerbitan di Jogja. Dan sekolah sambil kerja—atau kerja sambil sekolah (tempat kerjaku kugunakan untuk menyerap seluruh ilmu penerbitan, kebetulan ada yang bermurah hati mengajariku) pun kulakoni. Seluk beluk tetek bengek proses penciptaan buku dari mencari naskah bagus (kalau owner mengatakan, “Yang berbau duit.”) sampai pencetakan dan pemasaran pun kutelusuri dan kulahap habis ilmunya.

Sayang, konflik internal akibat kesewenangan dalam perusahaan membuatku terpental. Cap subversif pun melekat sudah kepada diriku. Namun, atas pertolongan Yesus aku masih mendapat kesempatan untuk masuk ke perusahaan lain dan menikmati pengalaman baru bekerja di Jakarta.

Bekerja di Jakarta berarti meninggalkan seluruh kenyamanan hidup yang selama ini kunikmati. Dalam bahasa kerennya melepaskan diri dari seluruh comfort zone yang kubangun bertahun-tahun sejak zaman kuliah. Meninggalkan seluruh kemapanan dan menghadapi tantangan baru.

Walau begitu, jika tiap malam dikerubuti nyamuk, meninggalkan istri dan anak di Jogja, meninggalkan rumah di Jalan Kaliurang yang sejuk lalu tiba-tiba terlempar di kota yang selalu gerah setiap detik, aku bimbang juga. Akibatnya perasaan campur aduk antara marah, merasa bersalah, menyesal, namun terselip pengharapan, menyeruak dalam hatiku. “Maafkan aku Yesus,” batinku lirih.

Mungkin itu sebabnya, Dia menenangkan hatiku di lokasi yang tidak terduga. Tidak di gereja, tidak di ketenangan kamar, tetapi di angkutan umum sesak yang tulisan-tulisan di kaca depannya melambangkan rintihan sopir, kenek, dan para penumpangnya.

Sayangnya, setelah mendapat kesejukan di pagi itu, tanganku tidak bergerak sama sekali untuk memberi recehan kepada dua pemuda itu. “Begitu kikir,” aku memaki diriku sendiri dalam hati. Dan waktu pun berlalu begitu saja. “Maafkan aku Yesus, malaikat yang Kau kirimkan tidak kuperlakukan layak,” hatiku menangis.