Thursday, September 4, 2008

Bertetangga di Surga?



“Pengampunan berarti saat ada seorang ibu-ibu menyikutmu di metromini. Dan saat keesokan harinya kamu ketemu lagi dengannya di metromini yang sama dan duduk di sampingmu, kamu tetap memperlakukannya dengan ramah, tanpa merasa dongkol—seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi.” Dan itu tidak berhasil saya lakukan—Bayu.

Seorang direktur utama di suatu perusahaan penerbitan Kristen, di tengah kegembiraan karena berhasil membuat persekutuan karyawannya berjalan baik, berkata, “Kita semua di surga bakal bertetanggaan, ya.” Dan semua karyawan di situ mengaminkan, entah karena setuju dengan omongan si direktur, atau sekadar ABS.

Namun beberapa waktu kemudian, terjadi masalah dalam perusahaan itu yang menyebabkan salah satu karyawan-yang-diajak-bertetangga-di-surga-dengan-sang-direktur akhirnya dipecat. Lalu seandainya, benar-benar seandainya, karyawan yang dipecat itu akhirnya bertetangga dengan direktur di surga, apa yang terjadi di surga? Apa yang ada di benak si karyawan? Bagaimana ia harus bersikap kepada si direktur yang telah memecatnya saat di bumi?

Mungkin sebab mengerti suasana surga yang tidak enak jika diisi orang-orang yang saling kikuk karena masalah belum selesai saat di bumi, lalu Yesus mengucapkan, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).

Atau entahlah… pengampunan lebih enak dibahas, dipelajari, ditelaah, didengar, dan semua orang senang menjadikan itu sebagai solusi ampuh untuk setiap masalah dalam hubungan antarmanusia. Sayangnya, di tataran praktik pengampunan tidak sedap dilakukan. Memberi cuma-cuma orang yang berutang kesalahan, dengan pemberian maaf; gratis tis-tis-tis, tanpa kompensasi apa pun—wajah tak ramah misalnya—sulit sekali. Semua orang menuntut keadilan saat disakiti, ringan atau berat—termasuk saya.

Namun kenyataannya, pengampunan adalah undang-undang warga kerajaan surga. Jadi setiap calon penghuni kerajaan surga wajib berlatih menjalankan undang-undang ini, tanpa kecuali. Termasuk saya, eh… terutama saya.

Supaya, saat saya berdoa, “… dan ampunilah kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang lain yang bersalah kepada kami..” bisa dengan mantap diucapkan. Lagian, jika ternyata saya mendapat kapling rumah di surga bertetangga dengan orang yang pernah bermasalah dengan saya di bumi, saya tetap menikmati hidup di surga.