Thursday, May 14, 2009

Merevisi: Memupuk Mata Kritis

Menulis Ulang & Swa-sunting

(Re-Writing & Self-Editing)

Oleh: Bayu Probo

Suatu kali Ernest Hemingway, pemenang Pulitzer dan Nobel Sastra, mengatakan bahwa bagian akhir novelnya, A Farewell to Arms, ia tulis ulang hingga 39 kali. Saat ditanya mengapa, ia menjawab bahwa ia ingin menemukan kalimat-kalimat yang paling tepat untuk mengakhiri novelnya tersebut.


Yang dilakukan Hemingway memang sangat baik. Namun bagi kebanyakan kita, satu kali melakukan penulisan ulang (revisi) pun sebenarnya sudah merupakan sebuah lompatan besar ke depan yang membuat hasil tulisan kita jauh lebih baik.


Banyak penulis/calon penulis sering mengabaikan langkah revisi ini (termasuk saya). Sikap ini menjadikan tulisan kita condong sekadar memenuhi kebutuhan penulis: tulisan selesai dan bisa cepat dilempar ke pasar. Apabila kita melakukan revisi, calon pembaca kita memperoleh banyak keuntungan, terutama tingkat kejelasan dan keterpahaman yang tinggi.


Jadi, setelah penulis sudah merasa merampungkan draft pertamanya, sebaiknya penulis mengendapkan dahulu dan membaca ulang karyanya. Draft pertama tersebut bisa jadi merupakan curahan emosi dan pikiran yang tertuang dalam tulisan dan hasilnya mungkin belum terstruktur. Atau, mungkin saja ada beberapa ide yang masih tersembunyi dalam otak dan belum tertuang dalam draft pertama itu. Inilah saatnya memperkuat karya kita.


Oknum Perevisi (menulis ulang dan swa-sunting)

Tentu saja yang bertanggung jawab untuk melakukan revisi adalah si penulis itu sendiri. Apakah kita dapat menyerahkan tugas ini kepada orang yang dianggap ahli dalam bidang penulisan? Atau editor? Tentu saja tidak, sebab penulislah yang benar-benar memahami materi tulisannya. Dan, siapa lagi yang tahu pikiran kita selain Tuhan dan kita sendiri?


Tujuan Melakukan Revisi

Oleh karena menulis bukanlah tugas seperti seorang pemain bola yang mengeksekusi penalti – yang harus sekali tendang dan gol – melakukan revisi pada tulisan kita merupakan kesempatan yang sangat baik.

Menulis adalah proses berulang-ulang dan merevisi (menulis ulang dan swa-sunting) adalah bagian dari proses itu. Dengan melakukan revisi, kita mengasah diri menjadi penulis yang makin andal dan memberi pembaca, suatu tulisan yang benar-benar berbobot. Tujuan penulis melakukan revisi adalah:



  1. Kita yakin hasil tulisan tersebut benar-benar mencerminkan gagasan kita. Selain itu, kita sendiri puas saat membaca hasil tulisan tersebut.
  2. Para pembaca mendapatkan gagasan kita secara utuh. Apabila tulisan kita runtut, jelas, dan mudah dipahami; para pembaca akan segera menangkap, mengunyah, dan mencerna gagasan, tawaran, dan argumentasi kita.
  3. Memperbesar kemungkinan penerbit mempertimbangkan menerbitkan naskah kita. Sebagai calon mitra penerbitan, tingkat kematangan naskah kita sangat mempengaruhi penerbit, terutama mengingat banyaknya naskah yang masuk dan beban kerja para editor.

Tahap-tahap Melakukan Revisi

Ada lima tahap umum untuk melakukan revisi. Kita dapat melakukan beberapa variasi di dalamnya. Yang perlu menjadi pegangan dalam melakukan revisi adalah hasil tulisan yang jelas, konsisten, menggunakan bahasa yang sesuai, padu, dan teliti dalam mengungkap fakta dan data.


1. Pengendapan

Setelah selesai menulis, kita perlu mendiamkan beberapa saat tulisan kita. Kita dapat melakukan aktivitas lain dan sejenak melupakan karya kita. Ini akan memupuk kekritisan mata kita dan menyebabkan kita dapat memandang naskah dari sudut pandang pembaca. Jangka waktu dan cara pengendapan, relatif; sangat tergantung dengan kondisi kita. Bisa berhari-hari, tetapi bisa juga beberapa menit. Naskah itu dapat kita tinggal berlibur ke pantai atau mendaki gunung, atau sekadar kita tinggal bermain game komputer. Targetnya adalah setelah naskah tersebut diletakkan dan dilupakan sejenak, kita akan memperoleh kembali mata objektif saat membaca ulang naskah kita.


2. Pembacaan Ulang

Selanjutnya adalah membaca ulang naskah kita. Kita dapat melakukannya bertahap atau sekaligus. Kita perlu membaca pelan-pelan sambil terus berpikir apakah ide kita sudah saling berkaitan dan terstruktur dengan baik. Apabila di tengah kita membaca, kita kehilangan tema besarnya, kita tandai bagian tersebut (dengan spidol warna atau stabillo) sebagai bagian yang perlu dilakukan revisi: perlu ditulis ulang atau sekadar disunting. Beberapa penulis membayangkan target pembaca tertentu saat proses membaca ulang ini, misalnya ibunya. Saat penulis membaca ulang, ia menanyai dirinya apakah ibunya bakal memahami, menyukai, terus membaca tulisan itu.


3. Revisi

Bagian yang mendapat perhatian istimewa atas naskah kita melakukan revisi adalah isi tulisan kita, yang meliputi:

· Keruntutan ide – apakah sesuai dengan kerangka yang sudah kita siapkan.

· Kesatuan tema – apakah sepanjang tulisan kita, tema selalu terjaga tunggal, tanpa melenceng.

· Kelugasan – apakah ada penjelasan bertele-tele, tetapi mubazir; atau di bagian lain, suatu hal dibiarkan tanpa diberi penjelasan yang cukup. Apakah perlu ada contoh?

· Tingkat kemenarikan – apakah sudah membuka dan menutup tulisan kita dengan cara yang tepat? Apakah ibu kita bakal tertarik dengan pembukaan dan penutupan tulisan kita, misalnya?


Jangan takut menambah atau menghapus! Apabila menggunakan komputer, kita bisa simpan draft pertama dan draft re-writing dengan menggunakan nama file lain.


4. Penyuntingan

Walaupun setiap penerbitan memiliki editor (penyunting), mengingat beberapa hal, sungguh menguntungkan jika kita sebelum mengirim naskah, kita mengedit dahulu naskah tersebut. Pengeditan bukan sekadar mencari salah ketik, tetapi juga:

· Menjaga kalimat kita tidak terlalu panjang dan tidak terlalu banyak anak kalimat. Satu kalimat idealnya terdiri dari 10 sampai 20 kata. Dalam satu paragraf, dua atau tiga kalimat untuk menjelaskan satu pokok pikiran, akan sangat menolong pembaca menangkap maksud kita.

· Memakai kata ganti yang konsisten.

· Tidak mengulang kata yang sama dalam satu kalimat.

· Menghilangkan kata-kata yang sudah penat arti dan mubazir.

· Menggunakan tanda baca yang benar.

· Dan sebagainya.


5. Pelengkapan

Agar naskah kita siap dikirim ke penerbit, kita harus melengkapi dengan beberapa elemen. Misalnya, judul, sub judul, kata pengantar, daftar isi, endorsement, dan keterangan tentang hal-hal yang menguntungkan penerbit (pembaca) jika naskah kita diterbitkan.


Lima Jebakan yang Harus Dihindari Saat Merevisi

Ada beberapa jebakan yang muncul saat kita sedang melakukan revisi. Jebakan-jebakan ini membuat penulis malas melakukan revisi atau bahkan diliputi rasa rendah diri dan merasa tidak mampu melanjutkan proyek penulisannya.



  1. Ragu-ragu

Ini biasanya menghinggapi penulis pemula. Saat akan melakukan revisi, kita merasa seperti bakal mengulang dari awal. Kita merasa tidak punya kemampuan itu. Segala daya sudah dihabiskan untuk menghasilkan karya, mengapa harus direvisi? Hal itu menyebabkan kita merasa tidak mampu lagi melanjutkan proyek ini, akhirnya naskah kita terbengkalai. Kita menjadi penulis yang gagal. Jika begitu, kita perlu mengajak teman yang kita anggap pandai menulis untuk berdiskusi atau menemani kita melakukan revisi. Namun ingat, bukan teman kita yang melakukan revisi.


  1. Menganggap Editor Tidak Tahu Apa-apa

Sikap ini juga kerap menghinggapi penulis. Apalagi jika kita tahu (menganggap tahu) editor tidak punya kemampuan yang memadai. Proses membuat buku adalah kerja sama bukan kerja tunggal. Jika merasa keberatan dengan permintaan editor, kita dapat membicarakannya. Namun kita harus ingat bahwa editor mewakili pembaca yang menjadi target pasar.


  1. Melupakan Calon Pembaca

Kebanyakan revisi, biasanya berhubungan dengan meringkas paragraf atau membenahi bagian-bagian tertentu yang membingungkan. Namun, kadang-kadang revisi yang dilakukan cukup banyak. Sebelum kita melakukan revisi, sebaiknya kita kembali mengevaluasi apakah calon pembaca kita bakal lebih memahami hasil revisi atau tidak?


  1. Merasa Revisi Tidak Perlu Dilakukan

Membuat revisi memang bukan pekerjaan yang menyenangkan dan penuh sensasi. Namun, demi calon pembaca kita dan kepuasan yang bakal kita peroleh jika naskah kita benar-benar bagus, revisi memang harus dilakukan, meskipun kita menganggap draft pertama kita sudah sedemikian sempurna. Kita perlu mendiamkan beberapa waktu dan kemudian membaca kembali dengan teliti. Jujur saja, setelah selesai membaca draft pertama tersebut, pasti kita tidak sabar lagi melakukan revisi.


  1. Overkoreksi

Godaan untuk menulis ulang dan merevisi gila-gilaan bisa jadi menghinggapi kita. Namun, yang perlu kita ingat adalah melakukan revisi atau menulis ulang bukanlah membangun piramida dari nol. Draft pertama kita seharusnya menjadi dasar bagi revisi tersebut.


Latihan 1

Deskripsikanlah secara bebas dalam satu paragraf, gambar berikut!


Tips-tips Praktis dalam Merevisi

  1. Pilihlah lead yang menarik perhatian. Lead tulisan adalah kalimat pertama (atau paragraf pertama) tulisan Anda. Lead yang menarik perhatian menolong pembaca untuk meneruskan membaca tulisan Anda. Dalam satu artikel ada satu lead, dalam satu buku berikanlah lead pada awal setiap bab

  1. Gunakanlah sebanyak mungkin kalimat aktif untuk menunjukkan dinamika tulisan Anda.

  1. Variasikanlah antara kalimat yang pendek dan panjang. Terlalu banyak kalimat pendek dan sederhana mengesankan tulisan kekanak-kanakan. Terlalu banyak tulisan yang panjang dan bertingkat, menguras emosi dan kesabaran pembaca. Contoh kalimat panjang: bacalah poin 5!

  1. Tambahkanlah detail indrawi (sensory details) pada tulisan Anda. Contoh: tulisan Hemingway dalam The Old Man and The Sea:

Saat Hemmingway menggambarkan tokoh utamanya, Santiago, menangis ia menuliskan, ”laki-laki itu meraung di luar kendalinya, seakan-akan seperti ada paku besar menembus tangannya ke pohon.”


Atau, sewaktu ia hendak menggambarkan betapa Santiago sudah kelelahan, tetapi masih harus menanggung beban berat, Hemmingway menulis, ”... meraih tiang perahu itu dan memanggulnya di bahu dan ia mulai berjalan. Ia terduduk lima kali di tengah perjalanan sebelum ia dapat mencapai gubuknya.


  1. Cari penutup yang menarik, tetapi masih terhubung dengan tema utama tulisan dan lead tulisan Anda. (contoh tulisan yang sangat menarik bagian penutupnya ada dalam buku Andar Ismail, Selamat Bergereja, Bab 11 ”Seminari dan Gereja”. Tulisan Anda ini dapat menjadi acuan bagi Anda dalam menggabungkan sebuah tulisan yang runtut sekaligus memberikan lead dan penutup yang kuat sehingga pembaca dapat menangkap dan terus mengingat seluruh isi pikiran Anda.

Latihan 2

Lakukanlah revisi atas tulisan Anda tadi!