Tuesday, February 2, 2010

Keranjingan Baruku



Akhir-akhir ini aku lagi keranjingan buka arsip Majalah Tempo. Arsip ini benar-benar terbuka, dari sejak majalah ini pertama kali terbit, saat dibredel dan ”berganti nama” menjadi DR. Yang membuatjy keranjingan adalah berbagai isu-isu besar masa lalu menjadi lebih jelas. Seakan sewaktu membuka arsip ini aku memasuki mesin waktu dan menjadi saksi pertama atas berbagai kejadian-kejadian yang sewaktu aku kecil terdengar sayup-sayup karena kekurangpemahaman. Peristiwa dipecatnya Jenderal Hoegeng, demonstrasi anti pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Malari, peristiwa petrus, (penembakan misterius), peristiwa Arswendo Atmowiloto dengan angketnyadan sebagainya. Terima kasih pada Majalah Tempo yang rela membuka semua arsipnya.

Gambar di atas adalah berita tentang pembredelan Harian KOMPAS pasca peristiwa pemberitaan demo besar-besar pencalonan Soeharto sebagai presiden untuk ketiga kalinya dan demo menentang korupsi yang marak. Jarang ada yang pernah tahu koran Kompas pernah dicabut SIT (surat izin terbit alias SIUUP-nya).

Ini sedikit kucuplik dari Majalah Tempo 28 Januari 1978

... Bersama Kompas yang punya oplag di atas 250 ribu dan Sinar Harapan, sampai 23 Januari kemarin, adalah koran Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pos Sore yang terkena larangan terbit. Pos Sore masih beredar Sabtu 21 Januari lalu, dengan tajuk tanpa kata berwarna hitam. Mungkin itu dimaksud sebagai tanda turut berduka terhadap rekan-rekannya yang kena berangus sementara.

"Menghasut"

Bahkan koran Pos Kota ikut nyaris kena. Menurut Sofyan Lubis, redaktur pelaksana Pos Kota, mereka mendapat telepon jam 4 pagi Senin 23 Januari memberitahukan bahwa kedua koran yang dipimpin Harmoko, ketua umum PWI Pusat itu, dilarang beredar. Tapi rupanya ada kekhilafan. Beberapa jam kemudian, dijelaskan Pos Kota tak kena diberangus ...