Saturday, May 29, 2010

Monolog Luna Vidya & Bincang Santai di tempat Eksotik

Suasana depan cafe sebelum acara mulai. Ada Lilo yang mejeng.

Malam itu, acara “Monolog dan Bincang Santai” dibuka oleh Ita Siregar, penulis Just Looking for Daniel, dengan pesan bahwa ini adalah pre-event Festival Penulis & Pembaca Kristiani. Festival sendiri akan diselenggarakan pada akhir November 2010. Kemudian ia memperkenalkan Luna Vidya dan karya yang Luna tampilkan malam itu di hadapan tidak kurang 30-an hadirin. Monolog malam itu berjudul “Balada Sumarah”, yang pernah ditampilkan di Paris akhir 2008.

Ita Siregar membuka acara.

Malam itu, Luna tampil begitu total memerankan Sumarah, seorang TKW yang anak eks-PKI yang sedang diadili di sebuah pengadilan di luar tanah airnya. Ia membunuh majikannya yang telah memerkosanya. Panggung berukuran 4 x 3 meter, oleh Luna dan Abdi Karya—sang pengisi musik latar, yang dengan unik memakai gelas dan perkakas sebagai sumber bunyi—benar-benar diubah mereka menjadi ruang pengadilan, kantor lurah, rumah majikan di daerah Makassar, toko istri pejabat, sekolah, rumah ibunda Sumarah, dan rumah majikan yang terbunuh.

Sumarah yang diperankan Luna Vidya.

Malam itu, “Balada Sumarah” membawa hadirin untuk merenungkan kembali keberadaan orang-orang yang termarjinalkan secara politik, ekonomi, dan sosial. Namun, dalam arti harfiah monolog Luna membuat shock beberapa hadirin, terutama yang baru pertama kali menonton, seperti diakui Agus Kurnia—pegawai SetNeg RI dan Mita Sirait—penulis buku penyandang predikat “The Young Social & Eco Entrepreneur” dari British Council.

Selepas monolog, acara dilanjutkan dengan bincang santai bertema “Baca, Jadilah Bijak! Tulis, Jadilah Berkat”. Mula Harahap mengawalinya dengan kisah pertemuannya dengan salah satu anggota komunitas Penjunan, Ita Siregar. Editor senior ini mendukung diselenggarakannya festival ini untuk menggairahkan dunia perbukuan di Indonesia. Menyoal label Kristiani dalam nama festival ini yang sempat menjadi perdebatan hangat karena dianggap terlalu eksklusif, ia malah memberikan definisi kristiani dengan lebih jelas, “Pembaca dan Penulis Kristiani adalah orang-orang Kristen yang menghayati iman mereka dan mengartikulasikannya dalam karya-karya mereka”. Jadi, tidak ada masalah dengan label kristiani, bagaimanapun itulah identitas para pengikut Kristus. Sesepuh IKAPI ini menambahkan, “yang penting adalah para penulis Kristen harus memberikan sumbang sih bagi kebaikan dan perbaikan Indonesia yang kita cintai ini”.

Handaka B Mukarta, Sri Anggoro Seto, Arie Saptaji, Mula Harahap.

Komunitas Penjunan sendiri berdiri pada 2001 di Jogja, berawal dari alumni kursus jurnalistik Bahana yang membuat milis untuk merekatkan dan ajang komunikasi di antara mereka. Komunitas ini berkembang tidak hanya di Jogja, tetapi juga di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Komunitas ini pun sendiri telah membuat berbagai pelatihan-pelatihan, baik atas nama pribadi anggota maupun secara kelembagaan. Beberapa penerbit yang pernah bekerja sama antara lain Penerbit Gloria dan BPK Gunung Mulia.

Anggoro Seto, Sales & Marketing Manager Penerbit BPK Gunung Mulia, mengungkapkan bahwa pasar buku rohani Kristen di Indonesia masih sangat cerah. Ia memperkirakan ada pertumbuhan sekitar 35%. BPK Gunung Mulia sendiri sedang mengembangkan imprint buku umum, Libri, untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. Juga, buku anak sedang menjadi concern BPK Gunung Mulia. Mula menambahkan, ada kevakuman buku-buku anak-anak umur 6-12 tahun.

Arie Saptaji, penulis 26 buku yang menjadi wakil Komunitas Penjunan dalam bincang-bincang kali ini mengungkapkan bahwa di tataran non-fiksi buku bertema rohani Kristen dan tidak, dapat dibedakan mudah. Namun, di tataran fiksi, semuanya menjadi kabur. Dan, itu menjadi tempat yang tepat bagi segenap umat Kristen untuk mengaktualisasi diri dan meraih pasar yang lebih luas.

Niken Maria & Argo pandoyo, dua sekawan pengasuh acara Media Cetak Kristen (MCK) RPK FM.

Acara ini bertempat di Newseum Café, di Jl. Veteran 1 Jakarta Pusat, bertetangga dengan berbagai gedung-gedung pemerintahan, pengendali negara RI. Bangunan Belanda yang kokoh ini kusam di luar tapi sangat cantik di dalam. Seluruh dindingnya berlapis gambar dan sketsa orang-orang terkenal, potongan berita-berita surat kabar dan majalah. Kursi-kursi rendah yang kuno berwarna merah, sudut bar yang lebar, ruang kedap suara yang baik dan sound-system 11 saluran.

Arie Saptaji dan Argopandoyo (penyiar RPK FM) menikmati Newseum.


Tempat yang dikelola oleh budayawan Taufik Rahzen ini menjadi pembicaraan karena pada zaman kolonial Belanda berkuasa, Westerling pernah rapat di tempat ini—diabadikan dalam satu nama ruang. Juga penari yang juga mata-mata bernama Mata Hari, pernah menginap di sini.

(Belakang dari kiri: Abdi Karya, Saut Poltak Tambunan, Taufik Rahzen, Luna Vidya)
(Depan: Argopandoyo dan Jacklyn)


Malam itu, penulis Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia ini juga hadir dan memberi wawasan yang benar-benar membukakan. Penerbit-penerbit Kristen pada awal-awal tahun kemerdekaan RI sebenarnya mengeluarkan buku-buku yang sangat membantu pengenalan budaya dan keragaman Indonesia. Pada masa-masa itu, menurut seorang muslim yang sudah menyantap banyak buku-buku terbitan BPK Gunung Mulia ini, buku-buku tentang komunitas-komunitas kebudayaan tidak ditulis peneliti-peneliti dan para antropolog, tetapi malah tulisan para pendeta yang menjalankan proyek misi di kawasan-kawasan tempat komunitas itu hidup.

Namun, menurut pria kelahiran Sumbawa ini, pada akhir-akhir ini penerbit-penerbit Kristen malah cenderung menerbitkan buku yang bersifat civitas. Hanya untuk kalangan Kristen dan dengan bahasa yang hanya dimengerti kalangan Kristen. Ini membuat kekosongan yang besar akan di ranah perbukuan nasional. Padahal nilai-nilai Kristen ini sebenarnya dapat juga menarik kalangan yang lebih luas lagi. Oleh karena kondisi tersebut, beberapa penerbit Islami, seperti Serambi dan Mizan malahan yang menangkap peluang itu. Buku-buku yang di pasar internasional sebenarnya memang lahir dari tradisi Kristen, misalnya The da Vinci Code dan A Child Call It, malahan di pasar Indonesia lebih dari 70% konsumennya adalah kaum muslim. Jadi, Rahzen menyarankan untuk segenap penulis-penulis Kristen berlomba-lomba membuat buku yang mampu pasar yang lebih besar karena ini merupakan andil orang-orang Kristen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saut Poltak Tambunan, penulis buku Hati Bukan Pualam —yang difilmkan pada 1985 dengan sutradara Nasri Chepy dan dibintangi oleh Deddy Mizwar, Roy Marten dan Yenny Rachman—menyoal tentang penerbit-penerbit Kristen yang tidak memberdayakan penulis-penulis lokal. Lalu ia menceritakan tentang penerbit Kristen yang tidak mau menerbitkan bukunya, walau ia sudah membuat buku itu dengan nilai Kristen yang kental. Namun, di sisi lain, saat ia menerbitkan bukunya secara mandiri, malah bukunya dimasukkan ke rak buku Islam.

Handaka B. Mukarta, seorang pengamat perbukuan yang sangat instens, moderator bincang-bincang malam itu, bahkan berseloroh bahwa Komunitas Penjunan seharusnya dapat menjadi komunitas pendobrak kebuntuan dengan meningkatkan posisi tawar para penulis lokal Kristen sewaktu berhadapan dengan penerbit. Yang ditanggapi oleh Harahap bahwa komunitas ini dapat menjadi embrio sebuah jaringan semacam forum lingkar penanya Helvi Tiana Rosa.

Sri Anggoro Seto, Handaka, dan Mula Harahap.

Di akhir acara, Mula Harahap menyatakan bahwa Yakoma PGI mendukung dan memberi bantuan penuh pada acara festival ini. Sebuah pertolongan yang menjadi anugerah terhadap segenap panitia Festival Penulis dan Pembaca Kristiani 2010.