Friday, August 13, 2010

Jejak-Jejak Suci

Seorang teman, Ita Siregar, dengan senang hati meresensikan karyaku ini. Terima kasih Kak Ita.

Membaca Buku Jejak-Jejak Suci
Oleh Bayu Probo
Penerbit PT BPK Gunung Mulia
Cetakan pertama Juli 2010
Vii +144 hal
Harga Rp 50.000,-

Membaca teks Kitab Suci tidak selalu mudah. Sejarah memberi kita banyak kesempatan untuk bereksperimen dalam membayangkan benda, tokoh, tempat, peristiwa. Budaya, iklim, musim, kondisi geografis, kebiasaan, konvensi masyarakat dan karakter manusia di masa purba, merupakan kondisi alami yang perlu diterima begitu saja, karena justru di sanalah keunikannya.


Namun tak jarang kita gagal memvisualisasikan karena rentang waktu yang demikian panjang dari masa kuno ke masa kini dan kita tidak mempunyai alat bantu hingga kita bisa ’melihat’nya. Akibatnya kita akrab dengan istilah dan kata tertentu tetapi juga asing karena hanya meraba-raba bentuk sebenarnya.


Buku ini berisi informasi tempat, peristiwa, tokoh, dan benda-benda purba dalam gambar. Sebuah alternatif bagi penulis, guru sejarah, penikmat sejarah atau siapa saja yang tertarik mengetahui gambar-gambar warisan tempo doeloe secara tepat. Seperti yang dikatakan penulis bahwa alasan utama menerbitkan buku ini adalah banyaknya minat untuk mengetahui lebih jelas visual berbagai hal tentang latar belakang Kitab Suci, setelah respons yang diberikan pembaca rubrik Pernik Alkitab dan Napak Tilas yang diasuhnya di satu majalah.

Di buku ini ditampilkan beberapa lukisan agung oleh pelukis terkenal dunia, yang mencoba menggambarkan cerita-cerita klasik. Kisah Sodom dan Gomora, misalnya, saya membayangkan kekacauan tetapi persepsi pelukis tentang tiang garam istri Lut, menggambarkan sebuah keindahan, atau penggalan kepala Yohanes yang tidak tampak seram. Resepsi bergaya Jepang dalam Mozaik Maria dan PutraNya, rasanya sah-sah saja sebagai karya seni. Posisi Yusuf ketika berdiri di depan Raja Firaun dan menceritakan mimpi memberi saya pandangan menarik karena raja yang paling berkuasa pada masa itu digambarkan sebagai manusia biasa dan akrab. Atau lukisan istri Potifar sedang mengadu kepada suaminya tentang Yusuf yang berusaha mencemarinya, mencerminkan gambaran sosial masa itu.


Benda-benda replika bahtera Nuh atau kapal-kapal di zaman Mesir, perahu yang dipakai Yesus dan murid-muridnya, juga ada di sini. Informasi lainnya adalah lokasi taman Eden, rumah Adam dan Hawa di masa kini, bukit tempat Yesus memberi makan 5000 orang, bentuk kolam Betesda, tempat pengadilan Paulus, tempat mengirik anggur, tempayan anggur dari batu yang memuat 75-100 liter air.


Tampilan kaver buku ini tampak berkelas dengan komposisi gambar dan warna yang modern dan klasik sekaligus, seolah mewakili profil kuno ke masa kini. Penulis mengaku bahwa buku ini adalah 60% kreativitas dan 40% memulung dari berbagai sumber situs dan buku.


Saya menemukan kesenangan baru melihat pohon ara, biji sesawi, pukat, palungan, sangkalala, ceracap, kebun anggur, kecapi Daud. Sedikitnya empati dan simpati saya pada tokoh dan cerita masa itu bertambah atau berubah seratus persen.

Saya kira buku ini cukup mewakili gambar-gambar penting bagi tiga agama langit di dunia, yaitu agama Yehuda, Kristen, Islam. Kemungkinan buku ini berlanjur karena penulis masih terus mengasuh rubrik dan sambil menyelam minum air, menikmati kejutan-kejutan baru yang tidak terpikirkan, seperti menemukan kenyataan bahwa keturunan orang Niniwe masih ada sampai sekarang.


Selamat melihat dan membaca.

Itasiregar, 17 Agustus 2010

Cukup jelas. Kalau mau pesan silakan e-mail bayuprobo@gmail.com