Tuesday, September 28, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 007

Kisah sebelumnya

Ia ingat, setahun lalu saat Paskah ia mendengar beberapa orang Galilea datang ke kota ini. Entah apa yang dikatakan mereka di Bait Allah, prokurator itu menyembelih mereka dan mencampur darah mereka dengan darah persembahan mereka sendiri. "Orang-orang Galilea memang bodoh," batinnya berkata.

 

Entah karena mungkin mendengar gumamnya tadi atau memang merasa aneh dengan tingkah laku prokurator itu, salah satu prajurit terceplos—pelan tetapi.

"Mimpi istrinya, Claudia Procula."

"Tukang percaya takhayul," prajurit lainnya menimpali

"Sudah habisi saja."

"Ya, kunyuk ini sekalian."

"Bosan aku di sini."

Tiba-tiba pemimpin mereka menoleh dan para serdadu itu pun terdiam membisu, tanpa kata dan tanpa gerak.

 

"Ecce Homo, Lihatlah manusia itu!" tiba-tiba teriak sang Wali Negeri. Ia berkata begitu hendak menunjukkan nabi itu walau disebut manusia, tetapi sudah tidak tampak layaknya manusia—kekejaman penyiksaan membuat tubuhnya tidak keruan lagi. Pilatus hendak meyakinkan orang-orang itu bahwa si nabi sudah tidak berbahaya.

"Ia tak pernah berbuat kriminal!" tambahnya.

Namun kelihatannya teriakannya tak dihiraukan oleh kerumunan itu. Suasana awal musim semi yang mulai meningkatkan suhu udara menambah panasnya halaman Praetorium. Mungkin karena para imam itu pernah berhasil memaksakan kehendak mereka sebelumnya, mereka sekali lagi mencoba. Keributan di Praetorium itu berubah menjadi kekacauan.

"Durae cervicis![1]," desis Procurator.

 

***

 

"Aneh," gumamnya tanpa lepas menatap si mata teduh.

"Mengapa aku yang dipilih untuk dilepaskan?"

"Wali Negeri hendak bermain apa?" batinnya bertanya-tanya.

Ada penyesalan dalam hatinya. Tak jadi ia dimahkotai sebagai sang legenda. Seluruh persiapan kematiannya menjadi sia-sia. Ia menunggu, ia merasa ini seperti sandiwara yang tak lucu sama sekali dan terhanyut di dalamnya tanpa dapat dikendalikan.

 

Keriuhan itu sudah tak terkendali, apakah mereka semua yang ada di Praetorium itu sudah gila atau memang tiba-tiba mereka semua—termasuk imam-imam yang jelas-jelas pengecut itu—sudah siap menghadapi kematian dan pembantaian besar-besaran sejak peristiwa dengan Epiphanes ratusan tahun lalu? "Entahlah," pikirnya

 

Tiba-tiba salah satu imam itu berteriak pada prokurator.

"Wali Negeri bukan sahabat Kaisar!"

"Ia hendak membebaskan musuh Kaisar!"

"Kalau ia sahabat Kaisar, ia membasmi semua musuh-musuhnya!"

"Enyahkan musuh Kaisar! Enyahkan dia! Kami muak dengan segala bualannya!"

"Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Prokurator gemetar,

"Kami tidak mengenal Raja ini, kami hanya punya Kaisar!"



[1] Tegar tengkuk! (bahasa Latin—pen.)

 

Bersambung ...

Sunday, September 26, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 006

Kisah sebelumnya

Saat ia hendak mendekatinya, orang Nazaret itu sudah hilang dari pandangannya. Lamunannya sekarang kembali ke keadaannya yang ada di tahanan.

 

Malam ini benar-benar malam jahanam—malam terakhir hidupnya. Ia terus meringkuk dan angan-angannya terus melayang. Ia mulai meratap, sesuatu yang dahulu dibencinya dan bersumpah tidak akan melakukan seumur hidupnya. Namun, kepedihan tak dapat ia sembunyikan, apalagi bukankah tidak ada orang lain di situ. Ia meratap terus sampai ia tertidur dan melupakan jika ia akan mati besok.

 

Malam itu ia memimpikan kejadian lain saat ia mengamati nabi Nazaret. Pada hari itu, dengan tidak menghiraukan kerusuhan sebelumnya, nabi itu kembali mengajar di Bait Allah. Di tengah-tengah ia mengajar, tiba-tiba seorang perempuan diseret-seret ke dalam Bait Allah oleh pasukan pengawal Bait Suci yang diikuti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Perempuan itu dibawa menemui sang rabbi muda. Setengah telanjang dan dikelilingi oleh para laki-laki marah, tetapi ada juga yang diam-diam matanya menikmati kemolekan tubuhnya, perempuan itu hanya terdiam, gemetar, dan menutupi dadanya.

 

"Menurut hukum Musa, perempuan itu harus dirajam!"

"Ia tertangkap basah berbuat zina!"

"Guru, apa pendapatmu?"

"Engkau harus bertindak tegas!"

"Jangan kau kecewakan rakyat!"

 

Rabbi itu kelihatannya tidak terlalu memerhatikan keributan di sekelilingnya dan hanya berjongkok dan menuliskan sesuatu. Ia tidak tahu apa yang ditulis oleh guru itu, seperti ia juga tidak mengenal perempuan itu. Hanya saja dalam batinnya bertanya-tanya mengapa mereka hanya menangkap perempuan itu saja. "Mengapa pasangan zinanya tidak diseret juga?"

 

"Siapa yang tidak berdosa ialah yang pertama melempar batu ke perempuan itu!" tiba-tiba nabi itu berseru. Orang-orang yang tadinya ribut ramai mendesaknya memberi jawab tiba-tiba terdiam dan keheningan menjadi raja di Bait Allah itu. Ia juga tidak menyangka nabi itu akan menjawab seperti itu, apalagi orang-orang yang di sekeliling si nabi. Mereka semua terhenyak dan tidak siap. Perempuan itu hanya menunduk.

 

Setelah semua pergi dan tinggal nabi itu dan si perempuan, sang nabi hanya berkata, "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi!" saat itulah mata nabi itu melihat ia mengawasinya dan kata-katanya terus terngiang-ngiang dalam mimpinya, "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi!"

 

***

 

Ia tertidur cukup lama ketika tiba-tiba kepala ruang tahanan menendang rusuknya. "Hei bangun bangsat!" umpatnya, "Sekarang sudah waktunya!" Kepala pening berdenyut-denyut dan dada sesak sakit tak dihiraukan si bengis itu, tangannya sudah dicekal sebelum rantai kakinya selesai dilepas oleh anak buah si bengis itu. Sambil menahan rasa sakit ia bertanya," Sekarang?"

"Bodoh, masih bertanya lagi."

"Plak!!" mulutnya berdarah.

"Sudah, jangan banyak mulut!" bentaknya, "Ayo berangkat!"

 

Mereka berjalan cepat walaupun prajurit-prajurit itu setengah menyeret tahanannya. Kakinya terlalu lama dirantai menyebabkan sendi-sendinya lemas dan berjalan terseok-seok. Namun, para serdadu itu kelihatannya tidak peduli dan hanya ingin menyelesaikan pekerjaan secepatnya. Apalagi tahanannya hendak dihukum mati.

 

Sinar matahari mulai menerpa matanya, silau lalu menutup matanya, tetapi menyebabkan ia makin terseok dan cekalan tangan kekar menjadi makin kencang. "Hei, tidak mau menerima takdirmu ya!" teriak salah satu prajurit itu. Ia pasrah saja, baginya sekarang akhir hidupnya tinggal dihitung saja. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan dan telah merancang untuk menghadapinya. Ia hanya berharap kematiannya berlangsung cepat.

 

Namun ia terkejut, setelah matanya cukup kuat menerima sinar, baru ia sadar ia sekarang ada di halaman Praetorium. Prokurator Pilatus ada di Gabata di hadapan sekumpulan imam-imam yang kelihatannya mendesak-desak sesuatu. Namun, mereka tidak mau masuk ke bekas istana Herodes itu, mereka merasa najis, jadi mereka hanya berdiri di halaman itu. Pilatus menemui mereka di halaman. Tiba-tiba ketika ia memerhatikan ke sekeliling, matanya tertumbuk pada mata teduh itu.

 

Tiba-tiba ia tersentak, "Mimpi itu!"

"Mengapa nabi itu ada di sini?"

"Mengapa imam-imam itu menuntut kematian nabi gila itu?"

"Aneh," batinnya mengucap, apalagi teriakan-teriakan yang menuntut dirinya dibebaskan makin lama makin keras.

"Bebaskan Yesus Barabbas, bebaskan Barabbas!"

"Kami memilih Yeshua anak sang Abba daripada Yeshua yang mengaku anak Adonai" teriak kerumunan itu. "Ia bukan anak Adonai, ia anak Beelzebub."

"Kami memilih pemberontak daripada anak setan!"

 

Ia tidak menghiraukan teriakan-teriakan itu, matanya terpaku pada mata teduh itu. Meskipun perawakan mata teduh itu kelihatan menyedihkan—entah penyiksaan apa yang telah dinikmati mata teduh itu sebelumnya, tetapi keteduhan matanya tak pernah berkurang. Waktu ia memandang mata teduh itu, mimpi beberapa jam sebelumnya kembali terngiang-ngiang, "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi!"

 

"Barabbas! Barabbas! Bebaskan Barabbas!"

"Biarlah nabi palsu itu mati!"

"Salibkan dia! Salibkan dia! Pembohong bermulut besar itu!"

 

Pilatus kelihatannya ragu-ragu. "Aneh," gumam Barabbas, "Tak biasanya ia begitu." pikirnya. Sewaktu pemberontakan yang ia lakukan bersama beberapa orang, tanpa ragu ia membantai semua anak buahnya. Ia disisakan oleh sang Wali sengaja untuk tontonan di saat yang tepat, selain untuk menaikkan posisinya di hadapan Roma dan semacam sandera bagi beberapa tokoh kuat Yahudi di balik pemberontakan itu. "Namun mengapa menghadapi nabi muda yang jelas-jelas tak mempunyai kekuatan politik apa pun, Pilatus menjadi lemah?" pikirnya.

 

Bersambung ...

Friday, September 24, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 005

Kisah sebelumnya

Anak buahnya tetap mendesaknya untuk menemui nabi itu. "Ia sangat berkarisma," katanya. Akhirnya ia diam-diam mengamati nabi itu, melihat setiap tindak tanduknya. Sekilas ia tidak tampak seperti kabar-kabar yang ia dengar. Rabbi kurus itu memang disukai kalangan rakyat kecil—siapa yang tidak menyukai orang yang pandai mendongeng? Ia lembut dan sangat gampang jatuh kasihan. Ia selalu membawa kegembiraan bagi orang-orang miskin. Kegemarannya untuk melanggar Taurat yang menyebabkan para Farisi marah—tetapi mengapa Nikodemus mau menemuinya?—hanya menambah kepopulerannya di tengah orang-orang yang tercekik dengan aturan. Ia pun tidak terlalu suka dengan orang Farisi sebab mereka sangat terikat dengan peraturan Taurat dan mereka pun tidak terlalu suka dengan kelompoknya juga. Karena itu dengan sedikit tawaran, pria bermata teduh itu pasti akan berada di pihaknya.

 

Satu kali ia mendapat kesempatan untuk menemuinya sendirian. Lebih dari satu setengah tahun lalu. Beberapa hari ia mengawasinya selama Perayaan Pondok Daun. Sewaktu pesta telah berlangsung empat hari, orang yang ia awasi masuk ke Bait Allah dan mengajar di situ. Beberapa pemimpin yang ada di situ menjadi heran, "Bagaimana mungkin orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?" Ia sendiri tidak heran, anak buahnya sering bercerita tentang guru muda itu. Sebelumnya pernah diberitakan ia mampu memberi makan lima ribu orang. "Bukankah Mesias akan datang persis seperti Musa sewaktu membebaskan Israel dulu?" batinnya bertanya. "Musa memberi manna, ia memberi roti," ia mengingat.

 

Pada puncak perayaan, orang Galilea itu berdiri dan berseru, "Barangsiapa haus, datanglah kepadaku dan minum! Orang yang percaya padaku, dari dalam hatinya akan mengalir aliran air yang menghidupkan!" Ia mendesis, "orang ini memang agak gila, memangnya ia siapa? Berani-beraninya berbicara seperti itu?" "Mesias?" ia ragu.

 

Akibatnya, keributan melanda di Bait Suci, "Ia Mesias," kata seorang, "Mesias bukan dari Nazaret," seru yang lain, "Mesias keturunan Daud, ia bahkan bukan dari Bethlehem!" seorang mendukung, "Tak pernah ada mukjizat seperti ini sebelumnya," seorang menyanggah. Orang-orang itu kemudian saling berteriak-teriak dan mengundang kerumunan makin banyak.

 

Akibatnya, pasukan pengawal Bait Allah segera bertindak, mereka hendak menangkap nabi itu. Ia makin tertarik dengan nabi itu, sebab entah mengapa pasukan itu menjadi tertegun di hadapannya. Mungkin mereka takut dengan kerumunan-kerumunan tersebut yang menyebabkan kerusuhan yang lebih besar sehingga menyulut pasukan Roma begundal Tiberius masuk lebih ke dalam. Atau, memang karismanya yang mencegah orang-orang itu yang hendak menangkapnya. Akhirnya mereka semua pulang.

 

Bersambung …

Sunday, September 19, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 004

kisah sebelumnya

Ia menentang, "Namun, sabar sampai kapan?" "Lebih baik bagi kami mati dalam pertempuran daripada melihat kemalangan menimpa bangsa dan Bait Allah kita," Yudas Makabe pun waktu itu memilih mengatakan ini. Akhirnya ia nekat.

 

Ia tahu imam-imam itu tidak akan bertindak apa-apa. Terlalu banyak yang mereka miliki. Bahkan jabatan-jabatan yang mereka miliki adalah hadiah dari Roma. Kehidupan mereka yang mewah sangat menyakitkan hati. Para imam itu pengecut. Itu sebabnya ia tak sabar.

 

Sebelumnya, anak buahnya pernah mengusulkan untuk merengkuh kalangan miskin. Jumlah mereka yang banyak dapat menjadi kekuatan besar. Anak buahnya menyarankannya untuk mendekati seorang nabi muda yang kelihatannya sangat disukai rakyat kecil. Seandainya ia mau diajak kerja sama, kemungkinan orang-orang miskin akan ada di pihaknya dan perjuangan mereka akan kuat. Lagi pula ia seorang nabi, siapa yang dapat meragukannya—Yohanes anak Zakharia saja sangat hormat padanya. Bahkan setelah kematiannya yang ironis akibat si Antipas mabuk yang dibujuk Salome, semua murid Yohanes berpindah menjadi pengikutnya. Sempat terdengar, Nikodemus seorang anggota Mahkamah Agama diam-diam menemui rabbi itu. Ia sendiri tidak tahu kebenarannya, teman-temannya di dalam Mahkamah Agama tidak pernah menjelaskan terus terang. Herodes pun diam-diam ingin bertemu dengannya, entah ingin mendengar ajarannya atau mau membunuh lagi.

 

Namun, kelihatannya nabi itu lebih suka menentang para ulama daripada pemerintah Roma; dan menurutnya ia adalah guru muda yang agak gila—bagaimana tidak, menurut selentingan, ia mengatakan akan meruntuhkan Bait Suci—Bait Allah, sebuah simbol pemersatu bangsa ini, sebuah alasan bangsa ini tetap ada. Benar-benar nabi aneh. Satu kesalahannya yang fatal adalah para pemungut pajak yang menjijikkan kelihatannya juga menyukainya bahkan ikut ke mana pun ia pergi. Bah! Nabi apa ini! kelihatannya ia tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Apalagi ia orang Galilea, orang Nazaret, desa yang tak pernah sekalipun disebut-sebut dalam kitab Taurat.

 

Bersambung  

Saturday, September 18, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 003

kisah sebelumnya

Malam itu pun tidak lebih istimewa dibandingkan dengan malam-malam yang lain. Hanyalah penantian pada kematian. Apakah pernah tebersit penyesalan? Mungkin tepatnya penyesalan karena tidak pernah menyiapkan istri dan anak-anaknya untuk menanggung keadaan ini. Dahulu ia tidak peduli. Ia tahu risiko yang harus dihadapi, tetapi ia terlalu percaya pada rencana yang ia susun. Ia tidak menduga ada pengkhianat penyusup, justru orang yang sangat ia percayai.

 

Tiba-tiba terdengar suara berdentang di kejauhan, sejenak kemudian terlihat kelipan sinar. Pintu yang memisahkan sel-sel dan ruangan penjaga terbuka. Kelipan sinar itu berubah menjadi obor yang makin mendekat. Seorang penjaga masuk dan menuju ke selnya, "Malam ini adalah malam terakhirmu, bersiap-siaplah!" Batinnya menjawab, "Aku sudah siap sejak masuk ke sini." Tetapi ia diam saja. Setelah memberi tahu, penjaga itu pun pergi dan kegelapan kembali menguasai ruangan.

 

Sepeninggal penjaga itu, lamunannya kembali mengembara. Ia tahu apa yang ia kerjakan hanya dengan satu tujuan—Israel yang jaya raya—seperti yang dinubuatkan nabi-nabi. Ia tak hendak menjadi Musa atau Daud sekalipun, bahkan ia pun tak merasa menjadi titisan Makabe. Seperti juga anak-anaknya yang sering ia dongengi kisah-kisah menggetarkan pahlawan-pahlawan itu, ia tertantang untuk mewujudkan kemerdekaan bagi bangsanya yang sempat mereka reguk sebentar. Akibat intrik-intrik keluarga Hasmon sialan itu, akhirnya bangsa mereka ambruk dan diperintah orang-orang tak bersunat.

 

Ia lalu menyusun rencana, saat wali negeri Roma ada di Kaisarea ia akan membuat huru-hara di Yerusalem, tetapi pengkhianat sial itu yang menggagalkan semuanya. Pengkhianat itu terpengaruh para imam kepala yang tidak mau terjadi pemberontakan besar-besaran. Menurutnya, imam-imam itu penakut, padahal sebelumnya mereka kelihatan memberi dukungan.

 

"Rencana bodoh," kata mereka kepadanya. "Perbuatan itu hanya menyebabkan seluruh bangsa ini terbantai, tunggu saja dengan sabar, kekaisaran ini pasti akan runtuh."

 

Bersambung …

Thursday, September 16, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 002

kisah sebelumnya

Kerumunan ribuan orang dapat berubah menjadi kerusuhan dan pertumpahan darah jika ia tidak berhati-hati. Kejadian enam bulan lalu yang hampir saja menghancurkan kariernya dapat terulang. Saat Hari Raya Pondok Daun—waktu itu hampir saja ia memutuskan tidak hadir di Yerusalem. Sekelompok kecil kerumunan yang memprotes tata cara ibadah, tiba-tiba menjadi kerusuhan beringas. Untung saja ia segera menangkap pemimpinnya dan dalam sekejap kerusuhan pun mereda. Dan, ia tahu ada komplotan dari kalangan Mahkamah Agama berada di balik sang pemimpin pemberontak itu. Ia hendak menghukum mati si pemimpin, tetapi untuk sementara ia menahannya di Pelataran Timur Istana Herodes sambil menunggu kesempatan baik untuk membongkar komplotan itu.

 

Dan, laki-laki yang meringkuk di dalam ruang tahanan itu sepertinya tahu ia telah berada di dunia orang mati. Baginya, hidup sudah berakhir. Ia tidak akan keluar penjara hidup-hidup. Awalnya ia merasa tindakannya itu demi membela Yang Suci Yang Tinggal di Bait, tetapi sekarang Dia pun sudah menolaknya. Itu terutama yang menyebabkan ia terlihat setengah gila; sulit membedakan keadaan nyata dan khayalan. Namun, teman-teman yang setahanan dengannya bahkan lebih parah; mereka meraung, meratap, dan bahkan bergulingan di tanah.

 

Malam itu malam Paskah, seharusnya ia berkumpul dengan anak dan istrinya mempersiapkan pesta tahunan. Anak lelakinya akan menjenguk domba kecilnya yang dipersiapkan menjadi kurban, melihat hewan mungil itu dengan penuh rasa sayang seraya bertanya, "Ayah, mengapa domba kecil manis ini harus mati?" Ia lalu menceritakan perjalanan Israel dengan Allah, tentang bagaimana mereka berseru-seru minta dibebaskan dari Mesir, jawaban-Nya dan wabah-wabah yang ditimpakan pada bangsa penyembah matahari itu, persiapan mereka keluar dari negeri Firaun, dan akhirnya mengatakan domba kecil tak berdosa itu menggantikan dosa-dosanya. "Sebab sebenarnya kitalah yang harus mati kena murka," katanya. Malam itu anak perempuannya akan menolong ibunya untuk menyiapkan upacara Makan Roti Tak Beragi. Keesokan harinya ia akan menyembelih domba lugu, memoles darahnya di palang pintu (anak lelakinya biasanya menangisi dombanya, tetapi menyembunyikan kesedihannya—malu). Seharian mereka akan makan daging domba panggang tak berbumbu dan roti keras tak beragi (awalnya anak lelakinya tak mau menyentuh daging domba itu, tetapi setelah lapar tak tertahankan dan bau daging panggang yang mengundang, akhirnya ia akan makan juga). Lalu, ia akan bercerita tentang kehebatan Allah selama perjalanan pembebasan itu, perjalanan dengan tiang awan dan tiang api—melanjutkan ceritanya kemarin—sampai cerita tentang orang-orang sebangsanya yang menghidupkan ribuan lentera untuk mengusir bangsa Yunani. Anak-anaknya tak akan pernah berkedip dan mengantuk sampai ia selesai bercerita.

 

"Entah sekarang mereka ada di mana," keluhnya.

 

Sudah enam bulan ia ada di dalam sel terkutuk ini. Ia berusaha tegar dan bersikap jantan walau ia tahu kematian adalah masa depannya. Tidak akan ada pengampunan baginya, seorang pemberontak Ibrani. Orang Roma sudah berpengalaman dengan pahitnya pemberontakan Yahudi selama ratusan tahun. Mereka tahu pembantaian tak pernah memadamkan semangat anak-anak Yakub. Orang-orang Roma kadang-kadang hilang akal mencari cara menghentikan kerusuhan. Akhirnya tiada jalan lain, setiap pemberontakan harus dibasmi. Bahkan, Herodes tua sampai mengeluhkan sikap orang-orang Roma itu membuat ia menjadi raja wilayah yang hanya terdiri dari padang belantara.

 

Bersambung

Monday, September 13, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 001

Silakan mengikuti cerita bersambung ini ya. Semoga suka.
 
Bayu Probo
 

Yerusalem, April 30 M

 

 

Bau anyir darah dan busuk nanah begitu memualkan sehingga setiap prajurit yang ditugaskan menjaga ruang tahanan itu keesokan harinya tidak mau makan seharian. Pelataran Timur Istana Herodes itu memang tidak tepat disebut sebagai ruang tahanan; lebih mirip Hades—neraka. Sebenarnya kalau pun ruang itu tidak dijaga, tidak akan ada tahanan yang mampu melarikan diri sebelum mereka menghadapi hukuman yang sebenarnya: penyaliban. Penyiksaan yang diterima para tahanan sudah cukup melumpuhkan mereka sehingga sama sekali menghilangkan hasrat mereka untuk melarikan diri. Penyiksaan diperparah oleh kebencian para prajurit kepada tahanan Yahudi.

 

Para prajurit di Pelataran Istana Herodes bukan orang Yahudi, tetapi bukan juga warga negara Roma. Prajurit-prajurit itu terdiri dari bangsa-bangsa di sekitar kawasan itu. Kebencian yang timbul di antara para prajurit itu terutama karena permusuhan berabad-abad di antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa tetangganya. Kekejaman para prajurit kepada tahanan Yahudi merupakan gabungan antara kewajiban melaksanakan tugas, kekesalan karena ditempatkan di lokasi busuk ini, dan pembalasan dendam atas kelakuan bangsa Yahudi kepada bangsa mereka di masa lalu.

 

Istana yang sekarang ditinggali Pilatus ini memang lebih mirip barak daripada istana. Pilatus pun enggan tinggal di situ. Ia lebih sering tinggal di Kaisarea, kota tepi laut yang hangat, di barat laut Yerusalem, tiga hari perjalanan. Ada dua alasan ia lebih senang tinggal di sana. Pertama, Kaisarea lebih bergaya Romawi daripada Yahudi. Ia masih dapat menikmati hiburan-hiburan yang dilarang di Yerusalem. Kalaupun ada orang Yahudi di Kaisarea, mereka sudah tidak sefanatik orang-orang Yerusalem. Ia malas berurusan dengan orang-orang Yahudi Yerusalem. Maka, ia berusaha sedapat mungkin menghindar tinggal di Yerusalem.

 

Namun, di waktu-waktu tertentu ia wajib hadir di Yerusalem. Ini menyangkut keselamatan dirinya di hadapan Kaisar di Roma. Jika Kaisar mendengar ada keributan di Yerusalem, karier menjadi taruhannya. Tidak mustahil hidupnya berakhir di Colloseum di Roma dan menjadi santapan singa lapar di hadapan penonton kejam yang sibuk bersorak-sorai. Kalau mengingat itu, ia bergidik ngeri. Jadi dalam setahun setidaknya tiga kali ia harus hadir di Yerusalem.

 

Dan sekarang adalah masa Paskah. Pesta tahunan yang paling ia benci. Ribuan orang dari seluruh penjuru bumi datang ke kota ini. Orang Yahudi dan proselit—orang non Yahudi yang menganut agama Yahudi hendak melaksanakan kewajiban agama mereka. Yang merupakan perintah langsung Allah mereka.

 

 

 

Bersambung

Saturday, September 11, 2010

Orang Gila Berkaos GOLKAR

Malam dingin. Angin tidak menolong dinginnya malam itu dengan berdiam diri. Sosok-sosok hidup bernapas bergerak cepat, berkendara, berjalan, satu tujuan. Kehangatan rumah..... atau kehangatan yang lain? Mereka tidak peduli dengan apa pun selain satu tujuan itu. Mereka tidak peduli ada makhluk-makhluk lain yang punya satu tujuan dengan mereka. Mereka tidak peduli makhluk-makhluk itu tak mampu menjangkau kehangatan. Sekeras apa pun mereka berusaha, sedetik pun kehangatan tak didapat.

 

Ada orang gila di pinggir jalan. Ia jongkok, meringkuk, berusaha mengusir dinginnya malam itu. Sia-sia, gemetar, hampir tak berpakaian. Kecuali, yah kecuali kaos Golkar robek yang menempel di badan. Entah mengapa kaos itu yang dipakai. Mengapa bukan kaos partai yang lain? Mengapa robek?

 

Akan tetapi ia tidak peduli. Ia terus meringkuk, jongkok, berusaha mengusir dinginnya malam itu. Usaha yang sia-sia, gemetar. Makhluk-makhluk di sekitarnya tidak memedulikannya. Mereka juga sibuk mengusir dinginnya malam. Laju kendaraan semakin cepat seolah ingin cepat menghindari angin yang tidak mau menolong dengan berdiam diri. Angin juga tidak menolong orang gila itu. Tidak ada.

 

Samirono 28 Agustus 2003, 10:05 AM

Thursday, September 9, 2010

Jangan Pernah Menertawakan Pria China

Seorang pria China pergi ke suatu bank di New York City dan berniat untuk meminjam uang sebesar $5000 untuk perjalanan bisnis ke China selama dua minggu. Si pegawai mengatakan bahwa bank tersebut membutuhkan jaminan untuk pinjaman tersebut, dan kemudian si pria China memakai mobil Ferrari baru yang diparkir di depan bank sebagai jaminan.
 
Kemudian pegawai bank setuju menggunakannya sebagai jaminan. Setelah pria China tersebut pergi, pemimpin dan pegawai-pegawai bank tersebut menertawainya karena menggunakan mobil Ferrari baru seharga $250.000 sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar $5000.
 
Seorang pegawai bank kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke dalam underground garage milik bank tersebut.
 
Dua minggu kemudian, pria China tersebut kembali, dan membayar hutang sebesar $5000 dan bunganya sebesar $15.41
 
Pegawai bank berkata, "Tuan, kami sangat senang bisa berbisnis dengan Anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar. Tetapi, kami sedikit bingung. Ketika Anda pergi, kami mengecek Anda dan mengetahui bahwa Anda adalah seorang jutawan. Mengapa Anda repot-repot meminjam uang sebesar $5000?"
 
Si pria China membalas sambil tersenyum, "Di mana lagi tempat di New York City yang bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman hanya dengan harga $15.41, selama dua minggu."

Wednesday, September 8, 2010

Belajar Pada Semut

Baca : Amsal 6:1-19

Nas : Amsal 6:6

 

Hai pemalas, pergilah kepada semut,

Perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:

 

Pada suatu kali saya sedang di kamar mandi melihat semut jenis yang sangat kecil, sendiri, dan sedang berjalan ke sana-kemari seperti sedang mencari-cari sesuatu. Iseng-iseng saya membuat lingkaran di sekelingnya dengan tangan saya yang basah. Ia kelihatan seperti kebingungan. Rasa bersalah timbul dalam hati saya dan tiba-tiba muncul dalam pikiran saya kalimat-kalimat pada Amsal 6:6 tersebut.

                Belajarlah pada semut. Apa saja yang dapat saya pelajari dari semut kecil yang mudah panik karena kehilangan jejak itu? Apakah kebijakan yang tersembunyi di baliknya? Saya terus memperhatikan semut itu.

                Ternyata semut itu tidak sendirian, walaupun ia berjalan sendiri, sebenarnya di sekitarnya ada semut-semut lain yang berkeliaran sepertinya. Kelihatannya ia sedang mencari celah-celah kemungkinan untuk mendapatkan makanan bagi kelompoknya. Saat ia kebingungan karena jejaknya hilang terkena air, ia terus menerus mencari-cari celah supaya ia bisa melanjutkan perjalanannya. Supaya kelompoknya tidak telantar kelaparan jika ia gagal memperoleh makanan. Setelah lingkaran yang saya buat menjadi kering, ia lalu berlari dan melanjutkan pencariannya.

                Saya termenung dan sedikit demi sedikit memperoleh pengertian baru. Ayat 7 dari Amsal tersebut mengatakan, "biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya, atau penguasanya, ia (semut) menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen." Saya tertegun, dan tiba-tiba sesuatu yang merupakan kebijakan dari Allah mengalir dalam pikiran saya. Semut yang saya kira hanyalah makhluk kecil yang mudah panik mengajar saya. Tepat seperti tulisan dalam Amsal itu. Ia melambangkan kesetiaan, keberanian, dan tanggung jawab.

                Bagaimana kalau si semut itu tidak setia dengan apa yang dilakukannya, hanya menunggu perintah dari pemimpinnya? (padahal mereka tidak mempunyai pemimpin, yang ada hanyalah induk utama yang tidak berfungsi sebagai pemimpin). Pasti hanya dalam beberapa waktu kemudian, kerajaan semut itu akan runtuh diserang badai kelaparan.

                Bagaimana kalau sang semut yang kelihatannya sangat lemah itu tidak berani menghadapi dunia luar, takut apabila ada orang-orang seperti saya akan mempermainkannya? Bagaimana kalau ia tidak bertanggung jawab? Pasti keruntuhan akan tampak di depan mata para anggota kerajaan itu.

                Terpujilah Allah yang menciptakan semut-semut itu bagi kita. Tempat kita belajar pada mereka.

 

 

Terus Belajarlah Pada Semut, Anda Akan Menemukan Keunikan Ciptaan Allah