Wednesday, September 8, 2010

Belajar Pada Semut

Baca : Amsal 6:1-19

Nas : Amsal 6:6

 

Hai pemalas, pergilah kepada semut,

Perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:

 

Pada suatu kali saya sedang di kamar mandi melihat semut jenis yang sangat kecil, sendiri, dan sedang berjalan ke sana-kemari seperti sedang mencari-cari sesuatu. Iseng-iseng saya membuat lingkaran di sekelingnya dengan tangan saya yang basah. Ia kelihatan seperti kebingungan. Rasa bersalah timbul dalam hati saya dan tiba-tiba muncul dalam pikiran saya kalimat-kalimat pada Amsal 6:6 tersebut.

                Belajarlah pada semut. Apa saja yang dapat saya pelajari dari semut kecil yang mudah panik karena kehilangan jejak itu? Apakah kebijakan yang tersembunyi di baliknya? Saya terus memperhatikan semut itu.

                Ternyata semut itu tidak sendirian, walaupun ia berjalan sendiri, sebenarnya di sekitarnya ada semut-semut lain yang berkeliaran sepertinya. Kelihatannya ia sedang mencari celah-celah kemungkinan untuk mendapatkan makanan bagi kelompoknya. Saat ia kebingungan karena jejaknya hilang terkena air, ia terus menerus mencari-cari celah supaya ia bisa melanjutkan perjalanannya. Supaya kelompoknya tidak telantar kelaparan jika ia gagal memperoleh makanan. Setelah lingkaran yang saya buat menjadi kering, ia lalu berlari dan melanjutkan pencariannya.

                Saya termenung dan sedikit demi sedikit memperoleh pengertian baru. Ayat 7 dari Amsal tersebut mengatakan, "biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya, atau penguasanya, ia (semut) menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen." Saya tertegun, dan tiba-tiba sesuatu yang merupakan kebijakan dari Allah mengalir dalam pikiran saya. Semut yang saya kira hanyalah makhluk kecil yang mudah panik mengajar saya. Tepat seperti tulisan dalam Amsal itu. Ia melambangkan kesetiaan, keberanian, dan tanggung jawab.

                Bagaimana kalau si semut itu tidak setia dengan apa yang dilakukannya, hanya menunggu perintah dari pemimpinnya? (padahal mereka tidak mempunyai pemimpin, yang ada hanyalah induk utama yang tidak berfungsi sebagai pemimpin). Pasti hanya dalam beberapa waktu kemudian, kerajaan semut itu akan runtuh diserang badai kelaparan.

                Bagaimana kalau sang semut yang kelihatannya sangat lemah itu tidak berani menghadapi dunia luar, takut apabila ada orang-orang seperti saya akan mempermainkannya? Bagaimana kalau ia tidak bertanggung jawab? Pasti keruntuhan akan tampak di depan mata para anggota kerajaan itu.

                Terpujilah Allah yang menciptakan semut-semut itu bagi kita. Tempat kita belajar pada mereka.

 

 

Terus Belajarlah Pada Semut, Anda Akan Menemukan Keunikan Ciptaan Allah