Sunday, September 19, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 004

kisah sebelumnya

Ia menentang, "Namun, sabar sampai kapan?" "Lebih baik bagi kami mati dalam pertempuran daripada melihat kemalangan menimpa bangsa dan Bait Allah kita," Yudas Makabe pun waktu itu memilih mengatakan ini. Akhirnya ia nekat.

 

Ia tahu imam-imam itu tidak akan bertindak apa-apa. Terlalu banyak yang mereka miliki. Bahkan jabatan-jabatan yang mereka miliki adalah hadiah dari Roma. Kehidupan mereka yang mewah sangat menyakitkan hati. Para imam itu pengecut. Itu sebabnya ia tak sabar.

 

Sebelumnya, anak buahnya pernah mengusulkan untuk merengkuh kalangan miskin. Jumlah mereka yang banyak dapat menjadi kekuatan besar. Anak buahnya menyarankannya untuk mendekati seorang nabi muda yang kelihatannya sangat disukai rakyat kecil. Seandainya ia mau diajak kerja sama, kemungkinan orang-orang miskin akan ada di pihaknya dan perjuangan mereka akan kuat. Lagi pula ia seorang nabi, siapa yang dapat meragukannya—Yohanes anak Zakharia saja sangat hormat padanya. Bahkan setelah kematiannya yang ironis akibat si Antipas mabuk yang dibujuk Salome, semua murid Yohanes berpindah menjadi pengikutnya. Sempat terdengar, Nikodemus seorang anggota Mahkamah Agama diam-diam menemui rabbi itu. Ia sendiri tidak tahu kebenarannya, teman-temannya di dalam Mahkamah Agama tidak pernah menjelaskan terus terang. Herodes pun diam-diam ingin bertemu dengannya, entah ingin mendengar ajarannya atau mau membunuh lagi.

 

Namun, kelihatannya nabi itu lebih suka menentang para ulama daripada pemerintah Roma; dan menurutnya ia adalah guru muda yang agak gila—bagaimana tidak, menurut selentingan, ia mengatakan akan meruntuhkan Bait Suci—Bait Allah, sebuah simbol pemersatu bangsa ini, sebuah alasan bangsa ini tetap ada. Benar-benar nabi aneh. Satu kesalahannya yang fatal adalah para pemungut pajak yang menjijikkan kelihatannya juga menyukainya bahkan ikut ke mana pun ia pergi. Bah! Nabi apa ini! kelihatannya ia tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Apalagi ia orang Galilea, orang Nazaret, desa yang tak pernah sekalipun disebut-sebut dalam kitab Taurat.

 

Bersambung