Friday, September 24, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 005

Kisah sebelumnya

Anak buahnya tetap mendesaknya untuk menemui nabi itu. "Ia sangat berkarisma," katanya. Akhirnya ia diam-diam mengamati nabi itu, melihat setiap tindak tanduknya. Sekilas ia tidak tampak seperti kabar-kabar yang ia dengar. Rabbi kurus itu memang disukai kalangan rakyat kecil—siapa yang tidak menyukai orang yang pandai mendongeng? Ia lembut dan sangat gampang jatuh kasihan. Ia selalu membawa kegembiraan bagi orang-orang miskin. Kegemarannya untuk melanggar Taurat yang menyebabkan para Farisi marah—tetapi mengapa Nikodemus mau menemuinya?—hanya menambah kepopulerannya di tengah orang-orang yang tercekik dengan aturan. Ia pun tidak terlalu suka dengan orang Farisi sebab mereka sangat terikat dengan peraturan Taurat dan mereka pun tidak terlalu suka dengan kelompoknya juga. Karena itu dengan sedikit tawaran, pria bermata teduh itu pasti akan berada di pihaknya.

 

Satu kali ia mendapat kesempatan untuk menemuinya sendirian. Lebih dari satu setengah tahun lalu. Beberapa hari ia mengawasinya selama Perayaan Pondok Daun. Sewaktu pesta telah berlangsung empat hari, orang yang ia awasi masuk ke Bait Allah dan mengajar di situ. Beberapa pemimpin yang ada di situ menjadi heran, "Bagaimana mungkin orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?" Ia sendiri tidak heran, anak buahnya sering bercerita tentang guru muda itu. Sebelumnya pernah diberitakan ia mampu memberi makan lima ribu orang. "Bukankah Mesias akan datang persis seperti Musa sewaktu membebaskan Israel dulu?" batinnya bertanya. "Musa memberi manna, ia memberi roti," ia mengingat.

 

Pada puncak perayaan, orang Galilea itu berdiri dan berseru, "Barangsiapa haus, datanglah kepadaku dan minum! Orang yang percaya padaku, dari dalam hatinya akan mengalir aliran air yang menghidupkan!" Ia mendesis, "orang ini memang agak gila, memangnya ia siapa? Berani-beraninya berbicara seperti itu?" "Mesias?" ia ragu.

 

Akibatnya, keributan melanda di Bait Suci, "Ia Mesias," kata seorang, "Mesias bukan dari Nazaret," seru yang lain, "Mesias keturunan Daud, ia bahkan bukan dari Bethlehem!" seorang mendukung, "Tak pernah ada mukjizat seperti ini sebelumnya," seorang menyanggah. Orang-orang itu kemudian saling berteriak-teriak dan mengundang kerumunan makin banyak.

 

Akibatnya, pasukan pengawal Bait Allah segera bertindak, mereka hendak menangkap nabi itu. Ia makin tertarik dengan nabi itu, sebab entah mengapa pasukan itu menjadi tertegun di hadapannya. Mungkin mereka takut dengan kerumunan-kerumunan tersebut yang menyebabkan kerusuhan yang lebih besar sehingga menyulut pasukan Roma begundal Tiberius masuk lebih ke dalam. Atau, memang karismanya yang mencegah orang-orang itu yang hendak menangkapnya. Akhirnya mereka semua pulang.

 

Bersambung …