Sunday, September 26, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 006

Kisah sebelumnya

Saat ia hendak mendekatinya, orang Nazaret itu sudah hilang dari pandangannya. Lamunannya sekarang kembali ke keadaannya yang ada di tahanan.

 

Malam ini benar-benar malam jahanam—malam terakhir hidupnya. Ia terus meringkuk dan angan-angannya terus melayang. Ia mulai meratap, sesuatu yang dahulu dibencinya dan bersumpah tidak akan melakukan seumur hidupnya. Namun, kepedihan tak dapat ia sembunyikan, apalagi bukankah tidak ada orang lain di situ. Ia meratap terus sampai ia tertidur dan melupakan jika ia akan mati besok.

 

Malam itu ia memimpikan kejadian lain saat ia mengamati nabi Nazaret. Pada hari itu, dengan tidak menghiraukan kerusuhan sebelumnya, nabi itu kembali mengajar di Bait Allah. Di tengah-tengah ia mengajar, tiba-tiba seorang perempuan diseret-seret ke dalam Bait Allah oleh pasukan pengawal Bait Suci yang diikuti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Perempuan itu dibawa menemui sang rabbi muda. Setengah telanjang dan dikelilingi oleh para laki-laki marah, tetapi ada juga yang diam-diam matanya menikmati kemolekan tubuhnya, perempuan itu hanya terdiam, gemetar, dan menutupi dadanya.

 

"Menurut hukum Musa, perempuan itu harus dirajam!"

"Ia tertangkap basah berbuat zina!"

"Guru, apa pendapatmu?"

"Engkau harus bertindak tegas!"

"Jangan kau kecewakan rakyat!"

 

Rabbi itu kelihatannya tidak terlalu memerhatikan keributan di sekelilingnya dan hanya berjongkok dan menuliskan sesuatu. Ia tidak tahu apa yang ditulis oleh guru itu, seperti ia juga tidak mengenal perempuan itu. Hanya saja dalam batinnya bertanya-tanya mengapa mereka hanya menangkap perempuan itu saja. "Mengapa pasangan zinanya tidak diseret juga?"

 

"Siapa yang tidak berdosa ialah yang pertama melempar batu ke perempuan itu!" tiba-tiba nabi itu berseru. Orang-orang yang tadinya ribut ramai mendesaknya memberi jawab tiba-tiba terdiam dan keheningan menjadi raja di Bait Allah itu. Ia juga tidak menyangka nabi itu akan menjawab seperti itu, apalagi orang-orang yang di sekeliling si nabi. Mereka semua terhenyak dan tidak siap. Perempuan itu hanya menunduk.

 

Setelah semua pergi dan tinggal nabi itu dan si perempuan, sang nabi hanya berkata, "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi!" saat itulah mata nabi itu melihat ia mengawasinya dan kata-katanya terus terngiang-ngiang dalam mimpinya, "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi!"

 

***

 

Ia tertidur cukup lama ketika tiba-tiba kepala ruang tahanan menendang rusuknya. "Hei bangun bangsat!" umpatnya, "Sekarang sudah waktunya!" Kepala pening berdenyut-denyut dan dada sesak sakit tak dihiraukan si bengis itu, tangannya sudah dicekal sebelum rantai kakinya selesai dilepas oleh anak buah si bengis itu. Sambil menahan rasa sakit ia bertanya," Sekarang?"

"Bodoh, masih bertanya lagi."

"Plak!!" mulutnya berdarah.

"Sudah, jangan banyak mulut!" bentaknya, "Ayo berangkat!"

 

Mereka berjalan cepat walaupun prajurit-prajurit itu setengah menyeret tahanannya. Kakinya terlalu lama dirantai menyebabkan sendi-sendinya lemas dan berjalan terseok-seok. Namun, para serdadu itu kelihatannya tidak peduli dan hanya ingin menyelesaikan pekerjaan secepatnya. Apalagi tahanannya hendak dihukum mati.

 

Sinar matahari mulai menerpa matanya, silau lalu menutup matanya, tetapi menyebabkan ia makin terseok dan cekalan tangan kekar menjadi makin kencang. "Hei, tidak mau menerima takdirmu ya!" teriak salah satu prajurit itu. Ia pasrah saja, baginya sekarang akhir hidupnya tinggal dihitung saja. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan dan telah merancang untuk menghadapinya. Ia hanya berharap kematiannya berlangsung cepat.

 

Namun ia terkejut, setelah matanya cukup kuat menerima sinar, baru ia sadar ia sekarang ada di halaman Praetorium. Prokurator Pilatus ada di Gabata di hadapan sekumpulan imam-imam yang kelihatannya mendesak-desak sesuatu. Namun, mereka tidak mau masuk ke bekas istana Herodes itu, mereka merasa najis, jadi mereka hanya berdiri di halaman itu. Pilatus menemui mereka di halaman. Tiba-tiba ketika ia memerhatikan ke sekeliling, matanya tertumbuk pada mata teduh itu.

 

Tiba-tiba ia tersentak, "Mimpi itu!"

"Mengapa nabi itu ada di sini?"

"Mengapa imam-imam itu menuntut kematian nabi gila itu?"

"Aneh," batinnya mengucap, apalagi teriakan-teriakan yang menuntut dirinya dibebaskan makin lama makin keras.

"Bebaskan Yesus Barabbas, bebaskan Barabbas!"

"Kami memilih Yeshua anak sang Abba daripada Yeshua yang mengaku anak Adonai" teriak kerumunan itu. "Ia bukan anak Adonai, ia anak Beelzebub."

"Kami memilih pemberontak daripada anak setan!"

 

Ia tidak menghiraukan teriakan-teriakan itu, matanya terpaku pada mata teduh itu. Meskipun perawakan mata teduh itu kelihatan menyedihkan—entah penyiksaan apa yang telah dinikmati mata teduh itu sebelumnya, tetapi keteduhan matanya tak pernah berkurang. Waktu ia memandang mata teduh itu, mimpi beberapa jam sebelumnya kembali terngiang-ngiang, "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi!"

 

"Barabbas! Barabbas! Bebaskan Barabbas!"

"Biarlah nabi palsu itu mati!"

"Salibkan dia! Salibkan dia! Pembohong bermulut besar itu!"

 

Pilatus kelihatannya ragu-ragu. "Aneh," gumam Barabbas, "Tak biasanya ia begitu." pikirnya. Sewaktu pemberontakan yang ia lakukan bersama beberapa orang, tanpa ragu ia membantai semua anak buahnya. Ia disisakan oleh sang Wali sengaja untuk tontonan di saat yang tepat, selain untuk menaikkan posisinya di hadapan Roma dan semacam sandera bagi beberapa tokoh kuat Yahudi di balik pemberontakan itu. "Namun mengapa menghadapi nabi muda yang jelas-jelas tak mempunyai kekuatan politik apa pun, Pilatus menjadi lemah?" pikirnya.

 

Bersambung ...