Tuesday, September 28, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 007

Kisah sebelumnya

Ia ingat, setahun lalu saat Paskah ia mendengar beberapa orang Galilea datang ke kota ini. Entah apa yang dikatakan mereka di Bait Allah, prokurator itu menyembelih mereka dan mencampur darah mereka dengan darah persembahan mereka sendiri. "Orang-orang Galilea memang bodoh," batinnya berkata.

 

Entah karena mungkin mendengar gumamnya tadi atau memang merasa aneh dengan tingkah laku prokurator itu, salah satu prajurit terceplos—pelan tetapi.

"Mimpi istrinya, Claudia Procula."

"Tukang percaya takhayul," prajurit lainnya menimpali

"Sudah habisi saja."

"Ya, kunyuk ini sekalian."

"Bosan aku di sini."

Tiba-tiba pemimpin mereka menoleh dan para serdadu itu pun terdiam membisu, tanpa kata dan tanpa gerak.

 

"Ecce Homo, Lihatlah manusia itu!" tiba-tiba teriak sang Wali Negeri. Ia berkata begitu hendak menunjukkan nabi itu walau disebut manusia, tetapi sudah tidak tampak layaknya manusia—kekejaman penyiksaan membuat tubuhnya tidak keruan lagi. Pilatus hendak meyakinkan orang-orang itu bahwa si nabi sudah tidak berbahaya.

"Ia tak pernah berbuat kriminal!" tambahnya.

Namun kelihatannya teriakannya tak dihiraukan oleh kerumunan itu. Suasana awal musim semi yang mulai meningkatkan suhu udara menambah panasnya halaman Praetorium. Mungkin karena para imam itu pernah berhasil memaksakan kehendak mereka sebelumnya, mereka sekali lagi mencoba. Keributan di Praetorium itu berubah menjadi kekacauan.

"Durae cervicis![1]," desis Procurator.

 

***

 

"Aneh," gumamnya tanpa lepas menatap si mata teduh.

"Mengapa aku yang dipilih untuk dilepaskan?"

"Wali Negeri hendak bermain apa?" batinnya bertanya-tanya.

Ada penyesalan dalam hatinya. Tak jadi ia dimahkotai sebagai sang legenda. Seluruh persiapan kematiannya menjadi sia-sia. Ia menunggu, ia merasa ini seperti sandiwara yang tak lucu sama sekali dan terhanyut di dalamnya tanpa dapat dikendalikan.

 

Keriuhan itu sudah tak terkendali, apakah mereka semua yang ada di Praetorium itu sudah gila atau memang tiba-tiba mereka semua—termasuk imam-imam yang jelas-jelas pengecut itu—sudah siap menghadapi kematian dan pembantaian besar-besaran sejak peristiwa dengan Epiphanes ratusan tahun lalu? "Entahlah," pikirnya

 

Tiba-tiba salah satu imam itu berteriak pada prokurator.

"Wali Negeri bukan sahabat Kaisar!"

"Ia hendak membebaskan musuh Kaisar!"

"Kalau ia sahabat Kaisar, ia membasmi semua musuh-musuhnya!"

"Enyahkan musuh Kaisar! Enyahkan dia! Kami muak dengan segala bualannya!"

"Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Prokurator gemetar,

"Kami tidak mengenal Raja ini, kami hanya punya Kaisar!"



[1] Tegar tengkuk! (bahasa Latin—pen.)

 

Bersambung ...