Monday, September 13, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 001

Silakan mengikuti cerita bersambung ini ya. Semoga suka.
 
Bayu Probo
 

Yerusalem, April 30 M

 

 

Bau anyir darah dan busuk nanah begitu memualkan sehingga setiap prajurit yang ditugaskan menjaga ruang tahanan itu keesokan harinya tidak mau makan seharian. Pelataran Timur Istana Herodes itu memang tidak tepat disebut sebagai ruang tahanan; lebih mirip Hades—neraka. Sebenarnya kalau pun ruang itu tidak dijaga, tidak akan ada tahanan yang mampu melarikan diri sebelum mereka menghadapi hukuman yang sebenarnya: penyaliban. Penyiksaan yang diterima para tahanan sudah cukup melumpuhkan mereka sehingga sama sekali menghilangkan hasrat mereka untuk melarikan diri. Penyiksaan diperparah oleh kebencian para prajurit kepada tahanan Yahudi.

 

Para prajurit di Pelataran Istana Herodes bukan orang Yahudi, tetapi bukan juga warga negara Roma. Prajurit-prajurit itu terdiri dari bangsa-bangsa di sekitar kawasan itu. Kebencian yang timbul di antara para prajurit itu terutama karena permusuhan berabad-abad di antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa tetangganya. Kekejaman para prajurit kepada tahanan Yahudi merupakan gabungan antara kewajiban melaksanakan tugas, kekesalan karena ditempatkan di lokasi busuk ini, dan pembalasan dendam atas kelakuan bangsa Yahudi kepada bangsa mereka di masa lalu.

 

Istana yang sekarang ditinggali Pilatus ini memang lebih mirip barak daripada istana. Pilatus pun enggan tinggal di situ. Ia lebih sering tinggal di Kaisarea, kota tepi laut yang hangat, di barat laut Yerusalem, tiga hari perjalanan. Ada dua alasan ia lebih senang tinggal di sana. Pertama, Kaisarea lebih bergaya Romawi daripada Yahudi. Ia masih dapat menikmati hiburan-hiburan yang dilarang di Yerusalem. Kalaupun ada orang Yahudi di Kaisarea, mereka sudah tidak sefanatik orang-orang Yerusalem. Ia malas berurusan dengan orang-orang Yahudi Yerusalem. Maka, ia berusaha sedapat mungkin menghindar tinggal di Yerusalem.

 

Namun, di waktu-waktu tertentu ia wajib hadir di Yerusalem. Ini menyangkut keselamatan dirinya di hadapan Kaisar di Roma. Jika Kaisar mendengar ada keributan di Yerusalem, karier menjadi taruhannya. Tidak mustahil hidupnya berakhir di Colloseum di Roma dan menjadi santapan singa lapar di hadapan penonton kejam yang sibuk bersorak-sorai. Kalau mengingat itu, ia bergidik ngeri. Jadi dalam setahun setidaknya tiga kali ia harus hadir di Yerusalem.

 

Dan sekarang adalah masa Paskah. Pesta tahunan yang paling ia benci. Ribuan orang dari seluruh penjuru bumi datang ke kota ini. Orang Yahudi dan proselit—orang non Yahudi yang menganut agama Yahudi hendak melaksanakan kewajiban agama mereka. Yang merupakan perintah langsung Allah mereka.

 

 

 

Bersambung