Thursday, September 16, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 002

kisah sebelumnya

Kerumunan ribuan orang dapat berubah menjadi kerusuhan dan pertumpahan darah jika ia tidak berhati-hati. Kejadian enam bulan lalu yang hampir saja menghancurkan kariernya dapat terulang. Saat Hari Raya Pondok Daun—waktu itu hampir saja ia memutuskan tidak hadir di Yerusalem. Sekelompok kecil kerumunan yang memprotes tata cara ibadah, tiba-tiba menjadi kerusuhan beringas. Untung saja ia segera menangkap pemimpinnya dan dalam sekejap kerusuhan pun mereda. Dan, ia tahu ada komplotan dari kalangan Mahkamah Agama berada di balik sang pemimpin pemberontak itu. Ia hendak menghukum mati si pemimpin, tetapi untuk sementara ia menahannya di Pelataran Timur Istana Herodes sambil menunggu kesempatan baik untuk membongkar komplotan itu.

 

Dan, laki-laki yang meringkuk di dalam ruang tahanan itu sepertinya tahu ia telah berada di dunia orang mati. Baginya, hidup sudah berakhir. Ia tidak akan keluar penjara hidup-hidup. Awalnya ia merasa tindakannya itu demi membela Yang Suci Yang Tinggal di Bait, tetapi sekarang Dia pun sudah menolaknya. Itu terutama yang menyebabkan ia terlihat setengah gila; sulit membedakan keadaan nyata dan khayalan. Namun, teman-teman yang setahanan dengannya bahkan lebih parah; mereka meraung, meratap, dan bahkan bergulingan di tanah.

 

Malam itu malam Paskah, seharusnya ia berkumpul dengan anak dan istrinya mempersiapkan pesta tahunan. Anak lelakinya akan menjenguk domba kecilnya yang dipersiapkan menjadi kurban, melihat hewan mungil itu dengan penuh rasa sayang seraya bertanya, "Ayah, mengapa domba kecil manis ini harus mati?" Ia lalu menceritakan perjalanan Israel dengan Allah, tentang bagaimana mereka berseru-seru minta dibebaskan dari Mesir, jawaban-Nya dan wabah-wabah yang ditimpakan pada bangsa penyembah matahari itu, persiapan mereka keluar dari negeri Firaun, dan akhirnya mengatakan domba kecil tak berdosa itu menggantikan dosa-dosanya. "Sebab sebenarnya kitalah yang harus mati kena murka," katanya. Malam itu anak perempuannya akan menolong ibunya untuk menyiapkan upacara Makan Roti Tak Beragi. Keesokan harinya ia akan menyembelih domba lugu, memoles darahnya di palang pintu (anak lelakinya biasanya menangisi dombanya, tetapi menyembunyikan kesedihannya—malu). Seharian mereka akan makan daging domba panggang tak berbumbu dan roti keras tak beragi (awalnya anak lelakinya tak mau menyentuh daging domba itu, tetapi setelah lapar tak tertahankan dan bau daging panggang yang mengundang, akhirnya ia akan makan juga). Lalu, ia akan bercerita tentang kehebatan Allah selama perjalanan pembebasan itu, perjalanan dengan tiang awan dan tiang api—melanjutkan ceritanya kemarin—sampai cerita tentang orang-orang sebangsanya yang menghidupkan ribuan lentera untuk mengusir bangsa Yunani. Anak-anaknya tak akan pernah berkedip dan mengantuk sampai ia selesai bercerita.

 

"Entah sekarang mereka ada di mana," keluhnya.

 

Sudah enam bulan ia ada di dalam sel terkutuk ini. Ia berusaha tegar dan bersikap jantan walau ia tahu kematian adalah masa depannya. Tidak akan ada pengampunan baginya, seorang pemberontak Ibrani. Orang Roma sudah berpengalaman dengan pahitnya pemberontakan Yahudi selama ratusan tahun. Mereka tahu pembantaian tak pernah memadamkan semangat anak-anak Yakub. Orang-orang Roma kadang-kadang hilang akal mencari cara menghentikan kerusuhan. Akhirnya tiada jalan lain, setiap pemberontakan harus dibasmi. Bahkan, Herodes tua sampai mengeluhkan sikap orang-orang Roma itu membuat ia menjadi raja wilayah yang hanya terdiri dari padang belantara.

 

Bersambung