Saturday, September 18, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 003

kisah sebelumnya

Malam itu pun tidak lebih istimewa dibandingkan dengan malam-malam yang lain. Hanyalah penantian pada kematian. Apakah pernah tebersit penyesalan? Mungkin tepatnya penyesalan karena tidak pernah menyiapkan istri dan anak-anaknya untuk menanggung keadaan ini. Dahulu ia tidak peduli. Ia tahu risiko yang harus dihadapi, tetapi ia terlalu percaya pada rencana yang ia susun. Ia tidak menduga ada pengkhianat penyusup, justru orang yang sangat ia percayai.

 

Tiba-tiba terdengar suara berdentang di kejauhan, sejenak kemudian terlihat kelipan sinar. Pintu yang memisahkan sel-sel dan ruangan penjaga terbuka. Kelipan sinar itu berubah menjadi obor yang makin mendekat. Seorang penjaga masuk dan menuju ke selnya, "Malam ini adalah malam terakhirmu, bersiap-siaplah!" Batinnya menjawab, "Aku sudah siap sejak masuk ke sini." Tetapi ia diam saja. Setelah memberi tahu, penjaga itu pun pergi dan kegelapan kembali menguasai ruangan.

 

Sepeninggal penjaga itu, lamunannya kembali mengembara. Ia tahu apa yang ia kerjakan hanya dengan satu tujuan—Israel yang jaya raya—seperti yang dinubuatkan nabi-nabi. Ia tak hendak menjadi Musa atau Daud sekalipun, bahkan ia pun tak merasa menjadi titisan Makabe. Seperti juga anak-anaknya yang sering ia dongengi kisah-kisah menggetarkan pahlawan-pahlawan itu, ia tertantang untuk mewujudkan kemerdekaan bagi bangsanya yang sempat mereka reguk sebentar. Akibat intrik-intrik keluarga Hasmon sialan itu, akhirnya bangsa mereka ambruk dan diperintah orang-orang tak bersunat.

 

Ia lalu menyusun rencana, saat wali negeri Roma ada di Kaisarea ia akan membuat huru-hara di Yerusalem, tetapi pengkhianat sial itu yang menggagalkan semuanya. Pengkhianat itu terpengaruh para imam kepala yang tidak mau terjadi pemberontakan besar-besaran. Menurutnya, imam-imam itu penakut, padahal sebelumnya mereka kelihatan memberi dukungan.

 

"Rencana bodoh," kata mereka kepadanya. "Perbuatan itu hanya menyebabkan seluruh bangsa ini terbantai, tunggu saja dengan sabar, kekaisaran ini pasti akan runtuh."

 

Bersambung …