Tuesday, October 26, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakatani 015

Paduan kedua bayangan yang dengan khidmat bermazmur bagi Pemilik Semesta menggetarkan seluruh alam. Kabut mulai mendukung mereka, mereka berarak menutupi seluruh kota dengan kekelaman dan dingin. Bintang-bintang malu menampakkan diri, mereka tahu sinar kemuliaan-Nya menjadikan kelip mereka tak berarti lagi. Makin lama suara mereka seperti menembus sekat-sekat rumah setengah runtuh itu, mengalun membawa nada-nada mereka menyelusup ke dalam rumah-rumah lainnya.

 

"Ooo... penguasa-penguasa itu berkata,"

"'Mari kita patahkan kekuasaan mereka dan merebut kemerdekaan kita!'"

"Mereka akan terjerembab," tergugu laki-laki itu. "Haleluya"

 

Mereka berdua kemudian bangkit berdiri dan bergandengan tangan, lalu menari berputar-putar mengubah gaya duduk khidmat mereka menjadi keriangan. Mereka terus menari-nari bergandengan tangan tidak mengetahui malam telah beku. Mereka tak memedulikan serakan di lantai rumah mereka.

 

Namun dari takhta-Nya di surga Adonai tertawa.

Ia mencemooh rencana mereka.

 

Mereka dibentak-Nya dengan marah.

 Mereka dikejutkan dengan murka-Nya.

 

Getaran-getaran yang mereka timbulkan dengan tarian-tarian mereka di ruang tengah itu menyebabkan para tetangga mereka curiga. Mereka mendekati rumah itu. Bintang-bintang menjadi riang kembali menyambut musim semi malam itu. Purnama tak lagi malu menampakkan wajahnya menjadikan sudut kampung itu benderang.

 

"Suara apakah itu?" mereka mengendap.

"Yesus Barabbas kembali ke rumahnya," mereka terus mengendap.

"Mengapa ada suara wanita?"

"Ia membawa pelacur"

"Dasar gila!"

"Tidak-tidak, aku sepertinya mengenal suara itu."

 

Kata-Nya, "Sion bukit-Ku yang suci menjadi saksi."

"Kulantik raja pilihan-Ku," seru-Nya.

 

"Haleluya," laki-laki di dalam rumah itu bersorak.

 

Kata raja, "Aku mau memaklumkan ketetapan-Mu."

Kata-Nya, "Engkau Putra-Ku, Aku Bapamu."

"Mintalah, bangsa-bangsa Kuberikan kepadamu."

"Seluruh bumi milikmu."

Kerumunan tetangga sekitar rumah itu makin banyak.

"Suara perempuan itu,"

"Hana!"

"Ah, bukankah ia sudah mati?"

"Ya, ia dibantai para prajurit Romawi itu,"

"Mengapa ia dapat ada di sini?"

 

"Mereka akan kaupatahkan dengan tongkat besi."

"Kaupecahkan seperti periuk tanah."

 

"Rumah ini sudah dihuni lilith[1]," seseorang menyahut.

"Tidak, tidak, hantu malam tidak akan memuji-muji Sang Khalik," sangkal yang lain.

"Mereka hanyalah roh,"

"Neshamah[2] sengsara," mereka mengamini

"Setelah prajurit menggagalkan rencana Barabbas, istrinya mereka bantai dan anak-anaknya dibawa serdadu-serdadu itu entah ke mana,"

"Amin... amin... amin..," seru dari dalam rumah menyelesaikan seluruh lagu pujian mereka.

 

Bersambung …


[1] Hantu malam (bhs. Ibrani)

[2] roh manusia mati (bhs. Ibrani)

Saturday, October 23, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 014

Matahari bersemangat untuk menyembunyikan diri, ia tak hendak menampilkan keriangan. Hari berganti. Permulaan minggu dimulai. Sesosok bayangan berkelebat memasuki rumah setengah runtuh di sebelah selatan Bait Allah. Bayangan itu kemudian mendekati laki-laki yang pingsan tersebut.

"Hana," laki-laki itu merintih.

Bayangan itu kemudian membopong si laki-laki menuju salah satu ruangan yang lebih kokoh dan meletakkan di atas tempat tidur. Kemudian ia ke belakang dan kembali dengan membawa bokor dan botol di tangannya. Lumpur-lumpur yang menempel di tubuh laki-laki itu ia basuh dengan air.

"Yudit," laki-laki itu berusaha memanggil.

 

Ia mengolesi seluruh tubuh yang terluka dengan minyak, membebatnya dengan kain bersih yang telah ia siapkan. Bayangan itu sangat mengenal ceruk-meruk rumah. Ia bergerak cepat. Ia melakukannya sepenuh cinta.

"Samuel! Samuel!" laki-laki itu memohon kemudian tak sadarkan diri.

 

Bayangan itu kembali ke belakang rumah. Ia menemukan sisa gandum yang masih baik dan mulai memasaknya. Kemudian ia menyiapkannya ke ruang tidur. Saat laki-laki itu mulai tersadar lagi, sendok demi sendok ia suapkan ke mulutnya.

 

"Hana," sahut laki-laki itu terharu. Beberapa suap kemudian seluruh indranya mulai bekerja baik.

"Istriku," kemudian ia kembali merebahkan diri dan menikmati setiap aliran darah yang menghangat di seluruh tubuhnya. Ia lebih tenang.

 

Tidak ada pelita yang menyala. Gulita bersuka ria. Bayangan itu menghilang. Bukan karena ia pergi dari situ. Hanya saja bulan yang seharusnya purnama tertutup mendung. Tiba-tiba dari dalam rumah itu terdengar nyanyian. Keheningan kalah. Sebuah lagu yang tak pernah dinyanyikan lagi sejak keturunan Daud jengah memerintah bangsa ini.

 

Mengapa rusuh bangsa-bangsa,

mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?

 

Raja-raja dunia bersiap-siap

dan para pembesar bermufakat bersama-sama

melawan Adonai dan yang diurapi-Nya:

 

"Marilah kita memutuskan

belenggu-belenggu mereka

dan membuang tali-tali mereka dari kita!"

 

Laki-laki itu kemudian menggeliat. Ia sangat mengenal nyanyian ini. Dulu ia melagukan bersama anak-anaknya. Ayahnya, seorang imam yang mengajarkan lagu itu. Ia tahu suatu saat mereka akan menyanyikan lagu itu jika ada anak Daud yang ditahbiskan di takhta Israel. Jika mereka mendengar suara Sang Nissi dan memerintah dari kota ini, mereka akan menyanyikannya tiap tahun bersama-sama dengan segenap keturunan Harun lainnya, bersama-sama segenap bangsa, selama-lamanya. Adonai sendiri yang menjanjikan. Laki-laki itu terhanyut dalam nyanyian itu, air matanya meleleh. Ia mengingat anak-anaknya. Entah di mana mereka sekarang. Mulutnya bergetar dan mengikuti nyanyian itu. Walau dalam kegelapan, makin lama ia mengenali sosok yang melagukan nyanyian itu.

 

"Hana,"

"Istriku,"

 

Bayangan itu mengulang lagunya, "Mengapa bangsa-bangsa membuat huru-hara?"

Laki-laki itu memberi sela, "Mereka tak mengenal keperkasaan-Mu,"

"Mengapa suku-suku bangsa merencanakan kesia-siaan?"

"Mengapa raja-raja dunia bangkit serentak?"

"Sungguh Engkaulah panji-panji bangsa kami!" suara seraknya membahana melawan segala kelemahan tubuhnya.

"Mengapa para penguasa bermufakat?"

"Engkaulah Sang Gibbor!" laki-laki itu bangkit berdiri.

"Melawan Adonai dan raja pilihan-Nya?"

 

Bersambung …

Friday, October 22, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 013

"Tirai Bait Suci terbelah! Tirai Bait Suci terbelah!" Teriakan-teriakan dari luar rumah itu makin kencang disertai orang-orang yang berlari ke sana kemari bingung. Kekacauan ada di mana-mana.

"Yesus hendak membalas dendam," seorang lain berteriak menyebut seseorang yang tergantung di kayu salib di kalvari.

 

"Tirai Bait Suci terbelah! Tirai Bait Suci terbelah!" Teriakan-teriakan itu makin keras dan suara kecipak-kecipuk kaki yang bercampur dengan lumpur terus saja menjadi seperti alat musik sumbang yang mengiringi orang-orang hilir mudik panik keluar masuk Bait Tuhan.

 

Orang-orang yang berlarian itu tentu saja tak akan sadar ada orang sekarat di dalam rumah yang hampir roboh terletak di ujung Kota Bawah. Rumah yang paling dekat dengan pintu barat Bait Suci itu menjadi saksi sunyi di tengah keributan orang-orang karena lambang kesucian tempat tinggal Sang El terkuak. Mereka semua terkejut dan tidak pernah akan menyangka sedemikian hebat. Belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kehidupan bangsa mereka.

 

Orang-orang yang berada di sebelah barat kota itu. Mereka yang menyaksikan kejadian tragis itu kemudian berlarian di tengah hujan menuju rumah mereka masing-masing. Mereka semua galau. Sebagian lagi mereka berlari menuju Tempat Tinggal Tuhan leluhur mereka. Sebagian lagi orang-orang yang sudah melihat tirai yang terbelah itu berlarian turun dan menangis. Mereka merobek-robek pakaian mereka dan mengucur-ngucurkan lumpur ke atas kepala mereka.

 

***

 

Laki-laki itu terus pingsan. Ia tidak tahu semua kejadian yang berlangsung di luar rumahnya. Semalaman ia pingsan, pada malam yang paling kelam di kota itu. Bahkan lebih kelam daripada saat semua leluhur mereka diusir dari kota dan Rumah Tuhan mereka dihancurkan sampai rata ratusan tahun lampau. Laki-laki itu terus pingsan tanpa bermimpi, ia mengusir mimpi yang muncul di benaknya.

 

Hingga hari Sabat pagi, ia hanya tergolek di tengah-tengah bagian rumah itu. Ia terbangun karena kulitnya tidak mampu lagi menahan dingin pagi yang begitu menusuk. Namun, badannya yang lemah membuat ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Sebenarnya ia sendiri juga tidak mau menggerakkan tubuhnya. Ia ingin mati, tetapi tak hendak membunuh dirinya sendiri. Asa di dalam batinnya tak lagi bersinar. Akhirnya ia hanya telentang saja di dalam rumahnya, beberapa tetesan air sisa hujan kemarin yang jatuh menimpa wajahnya mulai ia jilati supaya ia tetap bertahan hidup. Ia ingin mati, tetapi tak hendak membunuh dirinya, ia bukan Saul—raja pertama negeri ini—yang tak kuat menahan sengsara. Namun, ia benar-benar ingin mati. Tetesan-tetesan air yang ia jilati membuatnya sedikit bertahan dalam kesadaran. Namun tak lama, ia kembali pingsan.

 

Sabat pagi itu menjadi sangat sunyi. Domba-domba di kandang tak mengembik sedetik pun. Tak ada burung berharga dua ekor seduit meramaikan Yerusalem. Bunga bakung tak lagi lebih indah daripada Salomo dalam kemegahannya. Bunga-bunga itu tahu matahari tidak hendak menyapanya. Bahkan angin pun enggan berembus. Musim semi seakan-akan membatalkan kehadirannya hari itu. Sang Pemilik Rumah yang tiang-tiangnya bersalutkan emas juga berduka. Anak-Nya tewas di tangan bangsa-Nya sendiri. Dia berduka, merobek tirai-Nya, membelah rumah-Nya. Dia tidak mau mendengar orang memuji-Nya hari itu, umat-Nya telah berkhianat. Rumah di bukit Sion itu muram.

 

Laki-laki pingsan yang ada di dalam rumah setengah roboh itu tak bergerak sedikit pun, bagai mati. Seakan-akan ia tahu tiada berguna ia bangun hari itu. Hari ini bukanlah hari istirahat-Nya, hari ini adalah hari tak beranjak. Hanya tetes-tetes air yang terjatuh dari atap rumahnya yang berani menantang kesunyian hari itu.

 

***

 

 

Bersambung …

Tuesday, October 19, 2010

Bukuku muncul di Kompasiana


Wah asyik sekali ulasan bukuku muncul di Kompasiana.com. Ini dia tautannya. Silakan klik di sini.
Buku ini ada di seluruh jaringan toko BPK Gunung Mulia, Gramedia dan toko buku rohani kesayangan Anda. Kalau kesulitan pesen saja ke saya melalui bayuprobo@gmail.com.

Sunday, October 17, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 012

Tiba-tiba rasa pedih pilu karena kerinduan melanda.

"Samuel... Samuel..!" Ia berteriak serak.

Barang-barang berserakan di mana-mana. Perapian pendiangan di ruangan tengah rumahnya menyebarkan abu putih ke mana-mana. Tiba-tiba hujan deras yang mengguyur kota itu membuyarkan abu putih itu menjadi becekan-becekan. Atap rumahnya yang menganga mencurahkan hujan ke dalam rumah. Basah, kedinginan, dan rasa khawatir yang menyusup ke dalam jantungnya menjadikannya mulai histeris.

"Hana!" Ia bertekad untuk mengakui semua kesalahannya selama ini. Selama enam bulan di dalam ruang tahanan ia merenung semua kisah dengan kekasih hatinya itu. Ia selalu mengingat kesetiaan istrinya yang tak pernah dapat disamakan dengan pelacur-pelacur itu.

"Yudit!"

"Samuel!"

"Aduh!" Ia menginjak sesuatu yang tajam di telapak kakinya. Berdarah, ia membungkuk meneliti apa yang telah ia injak. Darah kering di tubuhnya mengelupas karena air hujan dan menambah rasa perih kulit-kulitnya.

"Ah, piring kesukaan Samuel, Samuel... Samuel... Hana... Hana.. Yudit... Yudit..." Ia kembali berteriak-teriak kesetanan. Ia lupa tubuh berdarah-darahnya. Makin lama teriakannya makin kencang bersahutan dengan angin deras di luar yang hendak merobohkan rumah-rumah di Kota Bawah ini. Ia teringat seharusnya besok harus membawa Samuel ke Bait Allah untuk memberikan kurban bakaran pertamanya. Ia terus memanggil-manggil anaknya laki-laki itu. Namun alam seperti tak hendak memberinya jawaban. Makin keras ia berteriak, makin keras pula angin berembus. Oleh sebab rumahnya yang bocor, keadaan menjadi sangat parah. Tubuhnya terguncang-guncang basah kuyup. Makin keras ia berteriak-teriak, jantungnya mulai menyadari bahwa asa yang membubung selepas dari Praetorium dan mimpi-mimpinya selama ini musnah.

Gempa tiba-tiba mengguncang membuat rumah itu berderak. Segala sesuatu seakan dilemparkan dengan kekuatan hebat ke segala arah. Laki-laki itu limbung dan tangannya menahan dinding dan menjaga tubuhnya tetap tegak.

"Hana.... Hana.... Hana.... maafkan aku," ia memanggil-manggil istrinya. Daun jendela terlempar dari tempatnya dan jatuh tepat di depan kaki. Angin menyembur disertai dengan air hujan langsung menerpa wajahnya. Menambah perih yang ada di hatinya. Ia tahu teriakannya tidak akan terdengar keluar. Hujan terlalu deras. Air matanya bercampur dengan hujan.

"Hana... Hana... jangan tinggalkan aku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hidup kita," ia terus meratap, terduduk, tertunduk.

"Aku tidak akan pernah lagi memikirkan perempuan-perempuan itu lagi," ia mulai memohon. Walau kepalanya tahu apa yang ia katakan sia-sia belaka, tetapi hati merintihnya terus berharap ini hanya mimpi. Perasaannya mengatakan ia tak akan pernah bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia dahulu tega menyia-nyiakan kesetiaannya, nafsu. Kemudian ia tersadar.

"Yudit... bertahanlah," ia teringat anak perempuannya. Wajah dan sifatnya yang sangat mirip dengan dirinya menyebabkan mereka sangat dekat.

"Kau ingat cantikku, Holofernes orang Siria itu pun takluk kepadamu (ia menyebut kisah yang sangat disukai anak perempuannya—sebab dari situlah ia menamakan sulungnya), kau dapat sama dengannya menyelamatkan seluruh Israel," ia bergumam. "Ia sangat pemberani, Yudit, seharusnya engkau juga. Engkau menyandang nama yang sama," ia terus meracau. Hujan yang tidak juga reda seakan tidak memedulikan tubuh ringkihnya. Hujan mencampur dirinya dengan darah laki-laki itu. Ia makin lemas dan lunglai hingga akhirnya kepalanya tak kuat disangga lagi oleh tubuh lemahnya dan jatuh menimpa lantai tanah liat itu. Ia pingsan.

Bersambung …

Wednesday, October 13, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 011

Ada rasa bergetar ketika ia melihat Istana Allah itu. Ia berjalan pelan-pelan dan beberapa kelebat kisahnya mulai lagi menari-nari di depannya. Ayahnya dahulu juga bertugas di Bait Suci itu—ia seorang imam. Sejak ia kecil kehidupannya sudah mengitari bangunan yang tak pernah berhenti dibangun, sampai kadang-kadang ia bertanya-tanya apakah selesai pembangunan Rumah Tuhan? Ia pernah bercita-cita sama dengan ayahnya dan berharap satu saat dapat masuk ke ruang terlarang—ia ingin bercakap-cakap dengan Yahweh (ia tak pernah berani menyebut nama itu keluar dari mulutnya) sang penghuni rumah yang abadi direnovasi itu. Saat ia besar dan mulai sadar bahwa segala kemegahan itu hanyalah permainan Herodes, bahkan pembangunan Bait Suci itu hanya menambah sengsara rakyat, rasa kagumnya pada Bait Suci itu tidak berkurang. Ia tahu mereka akan suka rela melakukannya—Bait Suci adalah lambang pusat kehidupan seluruh rakyat.

 

Ia sudah melihat rumah itu. Masih sama seperti sewaktu ia meninggalkannya—malam itu ia memutuskan diam-diam keluar dari rumahnya dengan segala kesempurnaan rencananya, meninggalkan istrinya demi harga diri. Ia terus melangkah mendekati rumah itu dan saat mencapai pintu dan hendak membuka pintunya.

"Gubrakkkk!"

Ia terjatuh dan pingsan—sedetik sebelumnya ia baru tersadar, ia lapar dan haus.

 

***

 

Keheningan menguasai rumah di sebelah selatan Bait Suci itu. Perasaan gembira karena mempunyai kesempatan melihat rumahnya kembali tak sebanding dengan keadaan tubuhnya yang didera siksaan terus-menerus. Ia terlalu lemah, akhirnya pingsan.

 

"Eloi, eloi, lama sabakhtani?" teriakan menyayat itu terdengar sayup-sayup di Golgota. Maut menang.

 

Tiba-tiba langit gelap. Sangat gelap. Semesta menangisi kematian orang yang tak bersalah. Butir-butir hujan mulai berjatuhan di Yerusalem. Butir-butir yang segar makin lama makin menyakitkan. Laki-laki itu menjadi basah.

 

Ia tiba-tiba tersadar dari pingsannya dan merangkak membuka pintu depan rumah kenangannya. Pintu kayu itu telah belasan kali diolesi darah domba membuat noda khas menghias permukaannya. Ia bangga dengannya, menandakan bahwa ia tak pernah lalai menghormati Adonai, orang-orang sekitarnya pun tahu itu. Mereka menghormatinya. Sempat tebersit, "Mengapa palangnya tak terpasang lagi?" Namun diabaikannya seketika. Kemudian ia menggeser pintu rumahnya berusaha masuk. Terseok-seok.

 

"Hana!"

"Yudit!" Anaknya senang sekali saat ia mengisahkan tokoh dengan namanya yang menyelamatkan bangsa Israel.

"Samuel!" Orangtuanya—para tetangganya pun banyak yang mempertanyakan alasan pemberian nama itu—menentang anaknya diberi nama ini. Nama ini terlalu agung, ia akan terus-menerus harus menanggung risiko. Namun ia sangat bangga dengan idenya, ia tahu bahwa nabi besar itulah yang membawa bangsanya melewati masa-masa kelam perjalanan mereka menuju jaya raya. Samuel—namanya berasal dari Sang Pencipta, menunjukkan hati rindunya kepada Yahweh (ia tak pernah berani menyebut nama itu).

 

Ia memanggil lagi mereka namun hanya disahut keheningan. Ia terus melangkah mencari-cari seraya memanggil orang-orang yang ia rindukan (ia teringat, mereka ia abaikan juga).

 

"Hana!"

"Yudit!" Ia tak pernah berpikir menamai anaknya dengan nama-nama kafir Yunani. Ia menamai anak perempuannya untuk menghormati leluhur istrinya. Yehuda. Ia selalu berangan-angan akan kemegahan bangsanya.

"Samuel!" Anak bungsunya selalu menunjukkan dirinya sesuai dengan namanya. Ia bangga sekali.

 

Bersambung …

Saturday, October 9, 2010

HORE tulisanku dibaca 3 juta orang

Pada Oktober 2008 aku iseng-iseng menulis renungan tentang hidup baruku di Jakarta.
Renungan itu kemudian kukirim ke The Upper Room sebuah pedoman renungan pribadi untuk orang-orang Kristen. Pembaca The Upper Room tiap hari kira-kira 3 juta orang/hari.
 
Dan, ternyata tulisanku dimuat, wow bangganya. Berikut tulisanku yang dimuat di website mereka
 
New Job, New Opportunity
AFTER losing my job, I knew I had to find new employment to provide for my wife and my son. I finally found a new job in our capital city, a large metropolitan area, which meant I would have to move from my small town to the big city .... (lengkapnya di http://upperroom.org/devotional/default.asp?x=0&y=0&month=9&day=15&year=2010)
 
Selamat menikmati. Oh ya bukuku berjudul Jejak-jejak Suci (http://www.facebook.com/jejak2suci) barusan terbit lho.

Friday, October 8, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 010

"Apakah mereka masih ada?"

"Apakah mereka baik-baik saja?"

Ia bertekad mengaku dosa pada istrinya. Ia tahu selama ini ia telah menyia-nyiakannya. Sewaktu ia di ruang tahanan, baru tersadar betapa istrinya begitu berharga dengan semua kesetiaan yang ia berikan. Ia merasa diberi kesempatan kedua untuk hidup lebih baik.

"Ini saatnya."

 

Dengan semangat ia mulai menuruni Kota Atas memasuki lagi lorong-lorong di antara rumah-rumah itu. Sejenak ia berhenti dan berpikir, "Mungkin mereka sekarang sedang ke barat menyaksikan semua kekejaman itu." Akhirnya ia merasa beruntung dapat lolos.

 

Ia melewati teater buatan Herodes, tempat terakhir aksi mereka. Ia beserta kawan-kawannya hendak menjadikan teater ini sebagai pusat gerakan mereka. Memang mereka berhasil memasuki teater yang saat itu kosong. Ia tahu walau saat itu semua orang tumpah ruah di dalam kota namun pertunjukan teater tidak mungkin terselenggara. Ini adalah perayaan agama mereka, bukan masa senang-senang kafir Yunani itu. Ia tahu penguasa Roma biasanya akan hadir waktu perayaan itu dengan seluruh pasukannya. Namun, mata-mata yang ia kirim ke Kaisarea mengatakan Pilatus tidak akan hadir waktu perayaan itu. Ia sudah menduganya, sebab prokurator itu tidak suka dengan kota ini. Yerusalem selalu bermasalah dengannya dan ia tidak mau terlibat dalam masalah. Itu sebabnya ia berani bertindak. Jika ia dapat membasmi pasukan yang ada di dalam kota waktu itu, bantuan selanjutnya paling cepat akan tiba selama tiga hari kemudian—waktu yang cukup untuk memompa semangat rakyat untuk mengenang kekuatan Makabe.

 

Ia menutup semua pintu masuk dan keluar. Menjadikan teater itu sebagai semacam benteng yang kuat. Tak seberapa kuat, sebab itu ia mengharapkan rakyat yang saat itu sedang merayakan Hari Raya Pondok Daun (sesuatu yang sangat ia sukai saat ia masih kecil). Panen yang gagal di seluruh negeri pada musim ini membuat peserta Hari Raya memendam kemarahan dan salah sedikit perilaku imam-imam yang bertugas pada waktu itu bakal memicu kemarahan besar.

 

Ia membawa seluruh pasukannya. Mereka semua masuk ke Yerusalem dari lembah Hinnom di sebelah selatan kota dan memasuki gerbang Zion menyamar sebagai peserta perayaan Pondok Daun (saat itu ia lupa bahwa ini hari raya yang sangat ia sukai).

 

Walau begitu, ia tetap harus menggalang pejabat-pejabat yang kuat. Ia dapat mendekati imam Ananias anak Nedebaeus, salah satu imam kepala. Ia tahu Kayafas yang mewah itu tidak akan pernah membiarkan jabatan Imam Agung jatuh padanya. Jika pemberontakan ini menang, Ananias menjadi pahlawan, suatu hak yang lebih sah daripada sekadar seorang menantu Hanas. Ia sudah jengah dengan anak-anak Hanas yang menguasai posisi-posisi penting di Mahkamah Agama. Namun Ananias menjadi ragu-ragu pada saat tindakannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia sendirian dan terjungkal ke dalam sel pengap sampai tadi pagi.

 

Ia sudah lama bergaul dengan kalangan menengah Farisi. Mereka orang-orang yang lebih berani daripada imam-imam itu. Hanya saja perlu dorongan yang mempercepat kelambanan agar mereka lebih radikal. Tak hanya sibuk mengejar kesucian saja. Ia mengakui dirinya bukan orang suci. Mungkin itu sebabnya tidak banyak orang Farisi yang tertarik dengan perjuangannya.

 

"Gubraaakkk!" ia terjatuh karena semangat yang melebihi kekuatan badannya. Ia limbung namun tak sadar dan sebelum sempat menyeimbangkan diri, kepalanya sudah membentur tanah. Ia menggeliat dan berusaha bangun dan mulai melanjutkan perjalanannya. Akhirnya setelah beberapa waktu ia dapat melihat kemegahan Bait Suci buatan Herodes. Rumah tujuannya terletak dekat pintu barat Bait Suci di dalam sebuah perkampungan.

 

Bersambung …

Sunday, October 3, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 009


Kisah sebelumnya

"Bukankah ia Yesus Barabbas itu?"

"Si pemberontak konyol itu?"

"Mengapa ia di sini? Punya kesepakatan apa dengan Pilatus?"

"Dasar tak tahu malu!"

"Pasti ia telah ditukar dengan rabbi muda itu."

"Puiiiih!"

"Ciiih!!!"—ia kemudian mengusap ludah yang menempel di keningnya.

"Najis!"—ia sadar bukan lagi legenda.

 

Ia pun tergesa berjalan sebelum menjadi sasaran kemarahan rakyat. Ia berjalan terus menyusuri lorong-lorong itu menuju satu rumah dekat Bait Suci. Rumah seluruh kenangannya—rumah tempat ia mendongeng dan bercengkerama dengan anak-anaknya—rumah kekasih jiwanya. Ia berhenti sejenak, senyum tersungging dari mulutnya saat segala kehidupan tenteramnya dengan istri dan anak-anaknya mulai menari-nari di hadapannya, rasa hangat menjalari badannya naik hingga ke matanya dan rasa hangat memaksa air matanya keluar. Namun ia cepat-cepat menahannya—ia bukan orang yang cengeng.

 

Di tengah perjalanannya, ia melihat seseorang berjalan terhuyung-huyung dan mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir sesuatu. Sebab ingin cepat-cepat mengetahui segala sesuatu yang telah ia tinggalkan selama di ruang tahanan, ia tidak terlalu menghiraukan orang itu dan dengan tergesa melanjutkan langkahnya ke timur.

 

"Hei kamu, tidak tahu malu!"

Ia menoleh—orang terhuyung itu ternyata mendatanginya. Ia sepertinya pernah mengenal orang itu. "Yudas orang Keriot itu! Mengapa ia terhuyung?" batinnya bertanya.

"Kamu yang seharusnya mati!" si Keriot itu makin mendekat dan merangsek.

"Guruku tidak harus bernasib seperti itu!"

"Kamu yang pembunuh—bukan guruku!" Yudas si Keriot itu berteriak-teriak seraya hendak menyerangnya.

 

Ia dulu mengenal orang Keriot itu, mereka sempat bersama-sama. Ia keturunan anak buah Yonatan Makabe. Beberapa kali mereka bertemu. Namun entah karena alasan apa sewaktu ia mengawasi guru muda itu, si Keriot itu tampak di antara pengikut nabi itu. Agaknya ia sudah meninggalkan keyakinannya. Ia bertanya-tanya mengapa sekarang si Keriot itu berlaku seperti orang gila. Namun, segera ditepisnya beberapa pikiran yang muncul, ia sudah tidak tahan lagi.

 

"Duk!" akhirnya ditendangnya si Keriot itu dengan sisa-sisa kekuatannya.

"Jangan mengganggu aku dengan kegilaanmu itu, aku tidak tahu siapa gurumu itu. Ini hanya masalah permainan politik Pilatus. Sudahlah anggap saja gurumu sedang sial!" Ia cepat-cepat meninggalkan orang gila itu.

 

Si Keriot itu tiba-tiba berteriak seperti kesakitan.

"Tidaaak! Iblis jangan ganggu aku. Apa hakmu mengusik hidupku. Baik-baik... aku sudah mengkhianatinya, lalu apa!?" si Keriot itu berteriak-teriak sendiri dan terus-menerus mengibas-ngibaskan tangannya.

 

"Aku telah mengkhianatinya! Aku telah mengkhianatinya!! Aku telah mengkhianatinya!!"

 

Ia cepat-cepat pergi tak menghiraukan si Keriot itu, entahlah, ia pergi ke tenggara, sepertinya pergi ke arah Kota Bawah—apa yang dilakukannya? Apakah ia pulang?

 

Namun ia tidak peduli lagi, cepat-cepat ia melanjutkan langkahnya sebelum bertemu dengan orang lain. Dengan pakaian seperti ini, jelas ia tidak aman. Segala tindak-tanduknya pasti menimbulkan kecurigaan orang yang melihatnya. Langkahnya makin cepat dan bersemangat—yang menyala timbul dalam tubuhnya—sehingga malah membuat kakinya tersandung-sandung. Ia sudah melalui separuh langkah sekarang. Ia tepat di puncak bukit di Kota Atas. Napasnya tersengal-sengal, tetapi hatinya berbunga-bunga, ia masih melihat rumah itu.

 

Bersambung ...

Friday, October 1, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 008

Kisah sebelumnya

Karena keributan itu, ia hampir tidak diperhatikan, tetapi ia pun tidak mau beranjak ke mana-mana. Matanya masih terpaku pada mata teduh itu. Tiba-tiba pemimpin prajurit penjaga ruang tahanan itu menyepak dia dengan keras.

"Kau sudah bebas, pergi sana. Ayo goblok, pergi! Sebelum keadaan berubah!"

Sepakan keras itu membuat ia terhuyung-huyung. Tanpa melepaskan matanya dari mata teduh, perlahan-lahan ia mulai menjauhi halaman Istana Herodes itu. Sayup-sayup terdengar prokurator itu berkata, "Aku tidak bertanggung jawab dengan darah orang ini. Ini raja kalian!"

"Raja kami Kaisar!"

"Biarlah celaka menimpa kami, jika orang ini tidak mati!"

 

Akhirnya ia memutuskan berjalan terus menjauh, tak lagi memedulikan segala ricuh ribut di belakangnya. Tak lagi ia dapat berpikir. Semua bayangan dan gambaran mata teduh itu ia coba singkirkan. Ia tahu nabi itu akan mati.

"Salah sendiri ia dahulu tidak mau bekerja sama denganku," gumamnya mencari alasan.

"Sekarang kami sama-sama konyol."

"Mengapa ia tak mau membela dirinya?" seperti tersadar sesuatu.

"Dasar nabi gila,"

 

Namun keteduhan matanya tak dapat ia singkirkan. Walaupun nabi itu tidak menuntut apa-apa darinya, tetapi matanya seakan hendak mengatakan kehidupan ini tidak ada artinya jika ia tidak mengubah hidupnya.

"Sepertinya ia mengerti hidupku. Tahu apa ia tentang segala kisahku?" batinnya bertanya.

 

Ia terus berjalan dengan semua kejadian di belakangnya. Ia tahu orang Roma itu, di balik semua kekejamannya, sebenarnya ia sangat penakut. Ia tahu pria pendek itu akan melepaskan si nabi pada imam-imam untuk disalibkan. Kepedihan tiba-tiba menyayat kalbunya, ia tidak mau berpaling lagi dengan kemungkinan bersitatap pada mata itu. Seakan kehidupannya telah ditelanjangi tadi. Semua dorongan-dorongannya, semua cita-cita jaya rayanya seperti tak tersembunyi dari mata itu. Bahkan kisah gelapnya pun seperti terputar kembali di hadapannya.

 

Ia menuju ke timur, arah Bait Suci. Ia melewati gang-gang kecil yang membentuk lorong-lorong di antara rumah-rumah. Rumah-rumah milik para imam-imam Saduki. Orang-orang pengecut penikmat kemewahan. Sinar matahari sepertinya sedang enggan bertarung dengan awan, hanya menambah gelapnya lorong-lorong itu. Ia terus berjalan tidak peduli dengan beberapa pasang mata menatapnya dengan curiga, ia mengira mereka belum tahu dengan semua kejadian di Praetorium. Ia salah sangka.