Tuesday, October 26, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakatani 015

Paduan kedua bayangan yang dengan khidmat bermazmur bagi Pemilik Semesta menggetarkan seluruh alam. Kabut mulai mendukung mereka, mereka berarak menutupi seluruh kota dengan kekelaman dan dingin. Bintang-bintang malu menampakkan diri, mereka tahu sinar kemuliaan-Nya menjadikan kelip mereka tak berarti lagi. Makin lama suara mereka seperti menembus sekat-sekat rumah setengah runtuh itu, mengalun membawa nada-nada mereka menyelusup ke dalam rumah-rumah lainnya.

 

"Ooo... penguasa-penguasa itu berkata,"

"'Mari kita patahkan kekuasaan mereka dan merebut kemerdekaan kita!'"

"Mereka akan terjerembab," tergugu laki-laki itu. "Haleluya"

 

Mereka berdua kemudian bangkit berdiri dan bergandengan tangan, lalu menari berputar-putar mengubah gaya duduk khidmat mereka menjadi keriangan. Mereka terus menari-nari bergandengan tangan tidak mengetahui malam telah beku. Mereka tak memedulikan serakan di lantai rumah mereka.

 

Namun dari takhta-Nya di surga Adonai tertawa.

Ia mencemooh rencana mereka.

 

Mereka dibentak-Nya dengan marah.

 Mereka dikejutkan dengan murka-Nya.

 

Getaran-getaran yang mereka timbulkan dengan tarian-tarian mereka di ruang tengah itu menyebabkan para tetangga mereka curiga. Mereka mendekati rumah itu. Bintang-bintang menjadi riang kembali menyambut musim semi malam itu. Purnama tak lagi malu menampakkan wajahnya menjadikan sudut kampung itu benderang.

 

"Suara apakah itu?" mereka mengendap.

"Yesus Barabbas kembali ke rumahnya," mereka terus mengendap.

"Mengapa ada suara wanita?"

"Ia membawa pelacur"

"Dasar gila!"

"Tidak-tidak, aku sepertinya mengenal suara itu."

 

Kata-Nya, "Sion bukit-Ku yang suci menjadi saksi."

"Kulantik raja pilihan-Ku," seru-Nya.

 

"Haleluya," laki-laki di dalam rumah itu bersorak.

 

Kata raja, "Aku mau memaklumkan ketetapan-Mu."

Kata-Nya, "Engkau Putra-Ku, Aku Bapamu."

"Mintalah, bangsa-bangsa Kuberikan kepadamu."

"Seluruh bumi milikmu."

Kerumunan tetangga sekitar rumah itu makin banyak.

"Suara perempuan itu,"

"Hana!"

"Ah, bukankah ia sudah mati?"

"Ya, ia dibantai para prajurit Romawi itu,"

"Mengapa ia dapat ada di sini?"

 

"Mereka akan kaupatahkan dengan tongkat besi."

"Kaupecahkan seperti periuk tanah."

 

"Rumah ini sudah dihuni lilith[1]," seseorang menyahut.

"Tidak, tidak, hantu malam tidak akan memuji-muji Sang Khalik," sangkal yang lain.

"Mereka hanyalah roh,"

"Neshamah[2] sengsara," mereka mengamini

"Setelah prajurit menggagalkan rencana Barabbas, istrinya mereka bantai dan anak-anaknya dibawa serdadu-serdadu itu entah ke mana,"

"Amin... amin... amin..," seru dari dalam rumah menyelesaikan seluruh lagu pujian mereka.

 

Bersambung …


[1] Hantu malam (bhs. Ibrani)

[2] roh manusia mati (bhs. Ibrani)