Friday, October 1, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 008

Kisah sebelumnya

Karena keributan itu, ia hampir tidak diperhatikan, tetapi ia pun tidak mau beranjak ke mana-mana. Matanya masih terpaku pada mata teduh itu. Tiba-tiba pemimpin prajurit penjaga ruang tahanan itu menyepak dia dengan keras.

"Kau sudah bebas, pergi sana. Ayo goblok, pergi! Sebelum keadaan berubah!"

Sepakan keras itu membuat ia terhuyung-huyung. Tanpa melepaskan matanya dari mata teduh, perlahan-lahan ia mulai menjauhi halaman Istana Herodes itu. Sayup-sayup terdengar prokurator itu berkata, "Aku tidak bertanggung jawab dengan darah orang ini. Ini raja kalian!"

"Raja kami Kaisar!"

"Biarlah celaka menimpa kami, jika orang ini tidak mati!"

 

Akhirnya ia memutuskan berjalan terus menjauh, tak lagi memedulikan segala ricuh ribut di belakangnya. Tak lagi ia dapat berpikir. Semua bayangan dan gambaran mata teduh itu ia coba singkirkan. Ia tahu nabi itu akan mati.

"Salah sendiri ia dahulu tidak mau bekerja sama denganku," gumamnya mencari alasan.

"Sekarang kami sama-sama konyol."

"Mengapa ia tak mau membela dirinya?" seperti tersadar sesuatu.

"Dasar nabi gila,"

 

Namun keteduhan matanya tak dapat ia singkirkan. Walaupun nabi itu tidak menuntut apa-apa darinya, tetapi matanya seakan hendak mengatakan kehidupan ini tidak ada artinya jika ia tidak mengubah hidupnya.

"Sepertinya ia mengerti hidupku. Tahu apa ia tentang segala kisahku?" batinnya bertanya.

 

Ia terus berjalan dengan semua kejadian di belakangnya. Ia tahu orang Roma itu, di balik semua kekejamannya, sebenarnya ia sangat penakut. Ia tahu pria pendek itu akan melepaskan si nabi pada imam-imam untuk disalibkan. Kepedihan tiba-tiba menyayat kalbunya, ia tidak mau berpaling lagi dengan kemungkinan bersitatap pada mata itu. Seakan kehidupannya telah ditelanjangi tadi. Semua dorongan-dorongannya, semua cita-cita jaya rayanya seperti tak tersembunyi dari mata itu. Bahkan kisah gelapnya pun seperti terputar kembali di hadapannya.

 

Ia menuju ke timur, arah Bait Suci. Ia melewati gang-gang kecil yang membentuk lorong-lorong di antara rumah-rumah. Rumah-rumah milik para imam-imam Saduki. Orang-orang pengecut penikmat kemewahan. Sinar matahari sepertinya sedang enggan bertarung dengan awan, hanya menambah gelapnya lorong-lorong itu. Ia terus berjalan tidak peduli dengan beberapa pasang mata menatapnya dengan curiga, ia mengira mereka belum tahu dengan semua kejadian di Praetorium. Ia salah sangka.