Sunday, October 3, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 009


Kisah sebelumnya

"Bukankah ia Yesus Barabbas itu?"

"Si pemberontak konyol itu?"

"Mengapa ia di sini? Punya kesepakatan apa dengan Pilatus?"

"Dasar tak tahu malu!"

"Pasti ia telah ditukar dengan rabbi muda itu."

"Puiiiih!"

"Ciiih!!!"—ia kemudian mengusap ludah yang menempel di keningnya.

"Najis!"—ia sadar bukan lagi legenda.

 

Ia pun tergesa berjalan sebelum menjadi sasaran kemarahan rakyat. Ia berjalan terus menyusuri lorong-lorong itu menuju satu rumah dekat Bait Suci. Rumah seluruh kenangannya—rumah tempat ia mendongeng dan bercengkerama dengan anak-anaknya—rumah kekasih jiwanya. Ia berhenti sejenak, senyum tersungging dari mulutnya saat segala kehidupan tenteramnya dengan istri dan anak-anaknya mulai menari-nari di hadapannya, rasa hangat menjalari badannya naik hingga ke matanya dan rasa hangat memaksa air matanya keluar. Namun ia cepat-cepat menahannya—ia bukan orang yang cengeng.

 

Di tengah perjalanannya, ia melihat seseorang berjalan terhuyung-huyung dan mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir sesuatu. Sebab ingin cepat-cepat mengetahui segala sesuatu yang telah ia tinggalkan selama di ruang tahanan, ia tidak terlalu menghiraukan orang itu dan dengan tergesa melanjutkan langkahnya ke timur.

 

"Hei kamu, tidak tahu malu!"

Ia menoleh—orang terhuyung itu ternyata mendatanginya. Ia sepertinya pernah mengenal orang itu. "Yudas orang Keriot itu! Mengapa ia terhuyung?" batinnya bertanya.

"Kamu yang seharusnya mati!" si Keriot itu makin mendekat dan merangsek.

"Guruku tidak harus bernasib seperti itu!"

"Kamu yang pembunuh—bukan guruku!" Yudas si Keriot itu berteriak-teriak seraya hendak menyerangnya.

 

Ia dulu mengenal orang Keriot itu, mereka sempat bersama-sama. Ia keturunan anak buah Yonatan Makabe. Beberapa kali mereka bertemu. Namun entah karena alasan apa sewaktu ia mengawasi guru muda itu, si Keriot itu tampak di antara pengikut nabi itu. Agaknya ia sudah meninggalkan keyakinannya. Ia bertanya-tanya mengapa sekarang si Keriot itu berlaku seperti orang gila. Namun, segera ditepisnya beberapa pikiran yang muncul, ia sudah tidak tahan lagi.

 

"Duk!" akhirnya ditendangnya si Keriot itu dengan sisa-sisa kekuatannya.

"Jangan mengganggu aku dengan kegilaanmu itu, aku tidak tahu siapa gurumu itu. Ini hanya masalah permainan politik Pilatus. Sudahlah anggap saja gurumu sedang sial!" Ia cepat-cepat meninggalkan orang gila itu.

 

Si Keriot itu tiba-tiba berteriak seperti kesakitan.

"Tidaaak! Iblis jangan ganggu aku. Apa hakmu mengusik hidupku. Baik-baik... aku sudah mengkhianatinya, lalu apa!?" si Keriot itu berteriak-teriak sendiri dan terus-menerus mengibas-ngibaskan tangannya.

 

"Aku telah mengkhianatinya! Aku telah mengkhianatinya!! Aku telah mengkhianatinya!!"

 

Ia cepat-cepat pergi tak menghiraukan si Keriot itu, entahlah, ia pergi ke tenggara, sepertinya pergi ke arah Kota Bawah—apa yang dilakukannya? Apakah ia pulang?

 

Namun ia tidak peduli lagi, cepat-cepat ia melanjutkan langkahnya sebelum bertemu dengan orang lain. Dengan pakaian seperti ini, jelas ia tidak aman. Segala tindak-tanduknya pasti menimbulkan kecurigaan orang yang melihatnya. Langkahnya makin cepat dan bersemangat—yang menyala timbul dalam tubuhnya—sehingga malah membuat kakinya tersandung-sandung. Ia sudah melalui separuh langkah sekarang. Ia tepat di puncak bukit di Kota Atas. Napasnya tersengal-sengal, tetapi hatinya berbunga-bunga, ia masih melihat rumah itu.

 

Bersambung ...