Friday, October 8, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 010

"Apakah mereka masih ada?"

"Apakah mereka baik-baik saja?"

Ia bertekad mengaku dosa pada istrinya. Ia tahu selama ini ia telah menyia-nyiakannya. Sewaktu ia di ruang tahanan, baru tersadar betapa istrinya begitu berharga dengan semua kesetiaan yang ia berikan. Ia merasa diberi kesempatan kedua untuk hidup lebih baik.

"Ini saatnya."

 

Dengan semangat ia mulai menuruni Kota Atas memasuki lagi lorong-lorong di antara rumah-rumah itu. Sejenak ia berhenti dan berpikir, "Mungkin mereka sekarang sedang ke barat menyaksikan semua kekejaman itu." Akhirnya ia merasa beruntung dapat lolos.

 

Ia melewati teater buatan Herodes, tempat terakhir aksi mereka. Ia beserta kawan-kawannya hendak menjadikan teater ini sebagai pusat gerakan mereka. Memang mereka berhasil memasuki teater yang saat itu kosong. Ia tahu walau saat itu semua orang tumpah ruah di dalam kota namun pertunjukan teater tidak mungkin terselenggara. Ini adalah perayaan agama mereka, bukan masa senang-senang kafir Yunani itu. Ia tahu penguasa Roma biasanya akan hadir waktu perayaan itu dengan seluruh pasukannya. Namun, mata-mata yang ia kirim ke Kaisarea mengatakan Pilatus tidak akan hadir waktu perayaan itu. Ia sudah menduganya, sebab prokurator itu tidak suka dengan kota ini. Yerusalem selalu bermasalah dengannya dan ia tidak mau terlibat dalam masalah. Itu sebabnya ia berani bertindak. Jika ia dapat membasmi pasukan yang ada di dalam kota waktu itu, bantuan selanjutnya paling cepat akan tiba selama tiga hari kemudian—waktu yang cukup untuk memompa semangat rakyat untuk mengenang kekuatan Makabe.

 

Ia menutup semua pintu masuk dan keluar. Menjadikan teater itu sebagai semacam benteng yang kuat. Tak seberapa kuat, sebab itu ia mengharapkan rakyat yang saat itu sedang merayakan Hari Raya Pondok Daun (sesuatu yang sangat ia sukai saat ia masih kecil). Panen yang gagal di seluruh negeri pada musim ini membuat peserta Hari Raya memendam kemarahan dan salah sedikit perilaku imam-imam yang bertugas pada waktu itu bakal memicu kemarahan besar.

 

Ia membawa seluruh pasukannya. Mereka semua masuk ke Yerusalem dari lembah Hinnom di sebelah selatan kota dan memasuki gerbang Zion menyamar sebagai peserta perayaan Pondok Daun (saat itu ia lupa bahwa ini hari raya yang sangat ia sukai).

 

Walau begitu, ia tetap harus menggalang pejabat-pejabat yang kuat. Ia dapat mendekati imam Ananias anak Nedebaeus, salah satu imam kepala. Ia tahu Kayafas yang mewah itu tidak akan pernah membiarkan jabatan Imam Agung jatuh padanya. Jika pemberontakan ini menang, Ananias menjadi pahlawan, suatu hak yang lebih sah daripada sekadar seorang menantu Hanas. Ia sudah jengah dengan anak-anak Hanas yang menguasai posisi-posisi penting di Mahkamah Agama. Namun Ananias menjadi ragu-ragu pada saat tindakannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia sendirian dan terjungkal ke dalam sel pengap sampai tadi pagi.

 

Ia sudah lama bergaul dengan kalangan menengah Farisi. Mereka orang-orang yang lebih berani daripada imam-imam itu. Hanya saja perlu dorongan yang mempercepat kelambanan agar mereka lebih radikal. Tak hanya sibuk mengejar kesucian saja. Ia mengakui dirinya bukan orang suci. Mungkin itu sebabnya tidak banyak orang Farisi yang tertarik dengan perjuangannya.

 

"Gubraaakkk!" ia terjatuh karena semangat yang melebihi kekuatan badannya. Ia limbung namun tak sadar dan sebelum sempat menyeimbangkan diri, kepalanya sudah membentur tanah. Ia menggeliat dan berusaha bangun dan mulai melanjutkan perjalanannya. Akhirnya setelah beberapa waktu ia dapat melihat kemegahan Bait Suci buatan Herodes. Rumah tujuannya terletak dekat pintu barat Bait Suci di dalam sebuah perkampungan.

 

Bersambung …