Wednesday, October 13, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 011

Ada rasa bergetar ketika ia melihat Istana Allah itu. Ia berjalan pelan-pelan dan beberapa kelebat kisahnya mulai lagi menari-nari di depannya. Ayahnya dahulu juga bertugas di Bait Suci itu—ia seorang imam. Sejak ia kecil kehidupannya sudah mengitari bangunan yang tak pernah berhenti dibangun, sampai kadang-kadang ia bertanya-tanya apakah selesai pembangunan Rumah Tuhan? Ia pernah bercita-cita sama dengan ayahnya dan berharap satu saat dapat masuk ke ruang terlarang—ia ingin bercakap-cakap dengan Yahweh (ia tak pernah berani menyebut nama itu keluar dari mulutnya) sang penghuni rumah yang abadi direnovasi itu. Saat ia besar dan mulai sadar bahwa segala kemegahan itu hanyalah permainan Herodes, bahkan pembangunan Bait Suci itu hanya menambah sengsara rakyat, rasa kagumnya pada Bait Suci itu tidak berkurang. Ia tahu mereka akan suka rela melakukannya—Bait Suci adalah lambang pusat kehidupan seluruh rakyat.

 

Ia sudah melihat rumah itu. Masih sama seperti sewaktu ia meninggalkannya—malam itu ia memutuskan diam-diam keluar dari rumahnya dengan segala kesempurnaan rencananya, meninggalkan istrinya demi harga diri. Ia terus melangkah mendekati rumah itu dan saat mencapai pintu dan hendak membuka pintunya.

"Gubrakkkk!"

Ia terjatuh dan pingsan—sedetik sebelumnya ia baru tersadar, ia lapar dan haus.

 

***

 

Keheningan menguasai rumah di sebelah selatan Bait Suci itu. Perasaan gembira karena mempunyai kesempatan melihat rumahnya kembali tak sebanding dengan keadaan tubuhnya yang didera siksaan terus-menerus. Ia terlalu lemah, akhirnya pingsan.

 

"Eloi, eloi, lama sabakhtani?" teriakan menyayat itu terdengar sayup-sayup di Golgota. Maut menang.

 

Tiba-tiba langit gelap. Sangat gelap. Semesta menangisi kematian orang yang tak bersalah. Butir-butir hujan mulai berjatuhan di Yerusalem. Butir-butir yang segar makin lama makin menyakitkan. Laki-laki itu menjadi basah.

 

Ia tiba-tiba tersadar dari pingsannya dan merangkak membuka pintu depan rumah kenangannya. Pintu kayu itu telah belasan kali diolesi darah domba membuat noda khas menghias permukaannya. Ia bangga dengannya, menandakan bahwa ia tak pernah lalai menghormati Adonai, orang-orang sekitarnya pun tahu itu. Mereka menghormatinya. Sempat tebersit, "Mengapa palangnya tak terpasang lagi?" Namun diabaikannya seketika. Kemudian ia menggeser pintu rumahnya berusaha masuk. Terseok-seok.

 

"Hana!"

"Yudit!" Anaknya senang sekali saat ia mengisahkan tokoh dengan namanya yang menyelamatkan bangsa Israel.

"Samuel!" Orangtuanya—para tetangganya pun banyak yang mempertanyakan alasan pemberian nama itu—menentang anaknya diberi nama ini. Nama ini terlalu agung, ia akan terus-menerus harus menanggung risiko. Namun ia sangat bangga dengan idenya, ia tahu bahwa nabi besar itulah yang membawa bangsanya melewati masa-masa kelam perjalanan mereka menuju jaya raya. Samuel—namanya berasal dari Sang Pencipta, menunjukkan hati rindunya kepada Yahweh (ia tak pernah berani menyebut nama itu).

 

Ia memanggil lagi mereka namun hanya disahut keheningan. Ia terus melangkah mencari-cari seraya memanggil orang-orang yang ia rindukan (ia teringat, mereka ia abaikan juga).

 

"Hana!"

"Yudit!" Ia tak pernah berpikir menamai anaknya dengan nama-nama kafir Yunani. Ia menamai anak perempuannya untuk menghormati leluhur istrinya. Yehuda. Ia selalu berangan-angan akan kemegahan bangsanya.

"Samuel!" Anak bungsunya selalu menunjukkan dirinya sesuai dengan namanya. Ia bangga sekali.

 

Bersambung …