Friday, October 22, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 013

"Tirai Bait Suci terbelah! Tirai Bait Suci terbelah!" Teriakan-teriakan dari luar rumah itu makin kencang disertai orang-orang yang berlari ke sana kemari bingung. Kekacauan ada di mana-mana.

"Yesus hendak membalas dendam," seorang lain berteriak menyebut seseorang yang tergantung di kayu salib di kalvari.

 

"Tirai Bait Suci terbelah! Tirai Bait Suci terbelah!" Teriakan-teriakan itu makin keras dan suara kecipak-kecipuk kaki yang bercampur dengan lumpur terus saja menjadi seperti alat musik sumbang yang mengiringi orang-orang hilir mudik panik keluar masuk Bait Tuhan.

 

Orang-orang yang berlarian itu tentu saja tak akan sadar ada orang sekarat di dalam rumah yang hampir roboh terletak di ujung Kota Bawah. Rumah yang paling dekat dengan pintu barat Bait Suci itu menjadi saksi sunyi di tengah keributan orang-orang karena lambang kesucian tempat tinggal Sang El terkuak. Mereka semua terkejut dan tidak pernah akan menyangka sedemikian hebat. Belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kehidupan bangsa mereka.

 

Orang-orang yang berada di sebelah barat kota itu. Mereka yang menyaksikan kejadian tragis itu kemudian berlarian di tengah hujan menuju rumah mereka masing-masing. Mereka semua galau. Sebagian lagi mereka berlari menuju Tempat Tinggal Tuhan leluhur mereka. Sebagian lagi orang-orang yang sudah melihat tirai yang terbelah itu berlarian turun dan menangis. Mereka merobek-robek pakaian mereka dan mengucur-ngucurkan lumpur ke atas kepala mereka.

 

***

 

Laki-laki itu terus pingsan. Ia tidak tahu semua kejadian yang berlangsung di luar rumahnya. Semalaman ia pingsan, pada malam yang paling kelam di kota itu. Bahkan lebih kelam daripada saat semua leluhur mereka diusir dari kota dan Rumah Tuhan mereka dihancurkan sampai rata ratusan tahun lampau. Laki-laki itu terus pingsan tanpa bermimpi, ia mengusir mimpi yang muncul di benaknya.

 

Hingga hari Sabat pagi, ia hanya tergolek di tengah-tengah bagian rumah itu. Ia terbangun karena kulitnya tidak mampu lagi menahan dingin pagi yang begitu menusuk. Namun, badannya yang lemah membuat ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Sebenarnya ia sendiri juga tidak mau menggerakkan tubuhnya. Ia ingin mati, tetapi tak hendak membunuh dirinya sendiri. Asa di dalam batinnya tak lagi bersinar. Akhirnya ia hanya telentang saja di dalam rumahnya, beberapa tetesan air sisa hujan kemarin yang jatuh menimpa wajahnya mulai ia jilati supaya ia tetap bertahan hidup. Ia ingin mati, tetapi tak hendak membunuh dirinya, ia bukan Saul—raja pertama negeri ini—yang tak kuat menahan sengsara. Namun, ia benar-benar ingin mati. Tetesan-tetesan air yang ia jilati membuatnya sedikit bertahan dalam kesadaran. Namun tak lama, ia kembali pingsan.

 

Sabat pagi itu menjadi sangat sunyi. Domba-domba di kandang tak mengembik sedetik pun. Tak ada burung berharga dua ekor seduit meramaikan Yerusalem. Bunga bakung tak lagi lebih indah daripada Salomo dalam kemegahannya. Bunga-bunga itu tahu matahari tidak hendak menyapanya. Bahkan angin pun enggan berembus. Musim semi seakan-akan membatalkan kehadirannya hari itu. Sang Pemilik Rumah yang tiang-tiangnya bersalutkan emas juga berduka. Anak-Nya tewas di tangan bangsa-Nya sendiri. Dia berduka, merobek tirai-Nya, membelah rumah-Nya. Dia tidak mau mendengar orang memuji-Nya hari itu, umat-Nya telah berkhianat. Rumah di bukit Sion itu muram.

 

Laki-laki pingsan yang ada di dalam rumah setengah roboh itu tak bergerak sedikit pun, bagai mati. Seakan-akan ia tahu tiada berguna ia bangun hari itu. Hari ini bukanlah hari istirahat-Nya, hari ini adalah hari tak beranjak. Hanya tetes-tetes air yang terjatuh dari atap rumahnya yang berani menantang kesunyian hari itu.

 

***

 

 

Bersambung …