Saturday, October 23, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 014

Matahari bersemangat untuk menyembunyikan diri, ia tak hendak menampilkan keriangan. Hari berganti. Permulaan minggu dimulai. Sesosok bayangan berkelebat memasuki rumah setengah runtuh di sebelah selatan Bait Allah. Bayangan itu kemudian mendekati laki-laki yang pingsan tersebut.

"Hana," laki-laki itu merintih.

Bayangan itu kemudian membopong si laki-laki menuju salah satu ruangan yang lebih kokoh dan meletakkan di atas tempat tidur. Kemudian ia ke belakang dan kembali dengan membawa bokor dan botol di tangannya. Lumpur-lumpur yang menempel di tubuh laki-laki itu ia basuh dengan air.

"Yudit," laki-laki itu berusaha memanggil.

 

Ia mengolesi seluruh tubuh yang terluka dengan minyak, membebatnya dengan kain bersih yang telah ia siapkan. Bayangan itu sangat mengenal ceruk-meruk rumah. Ia bergerak cepat. Ia melakukannya sepenuh cinta.

"Samuel! Samuel!" laki-laki itu memohon kemudian tak sadarkan diri.

 

Bayangan itu kembali ke belakang rumah. Ia menemukan sisa gandum yang masih baik dan mulai memasaknya. Kemudian ia menyiapkannya ke ruang tidur. Saat laki-laki itu mulai tersadar lagi, sendok demi sendok ia suapkan ke mulutnya.

 

"Hana," sahut laki-laki itu terharu. Beberapa suap kemudian seluruh indranya mulai bekerja baik.

"Istriku," kemudian ia kembali merebahkan diri dan menikmati setiap aliran darah yang menghangat di seluruh tubuhnya. Ia lebih tenang.

 

Tidak ada pelita yang menyala. Gulita bersuka ria. Bayangan itu menghilang. Bukan karena ia pergi dari situ. Hanya saja bulan yang seharusnya purnama tertutup mendung. Tiba-tiba dari dalam rumah itu terdengar nyanyian. Keheningan kalah. Sebuah lagu yang tak pernah dinyanyikan lagi sejak keturunan Daud jengah memerintah bangsa ini.

 

Mengapa rusuh bangsa-bangsa,

mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?

 

Raja-raja dunia bersiap-siap

dan para pembesar bermufakat bersama-sama

melawan Adonai dan yang diurapi-Nya:

 

"Marilah kita memutuskan

belenggu-belenggu mereka

dan membuang tali-tali mereka dari kita!"

 

Laki-laki itu kemudian menggeliat. Ia sangat mengenal nyanyian ini. Dulu ia melagukan bersama anak-anaknya. Ayahnya, seorang imam yang mengajarkan lagu itu. Ia tahu suatu saat mereka akan menyanyikan lagu itu jika ada anak Daud yang ditahbiskan di takhta Israel. Jika mereka mendengar suara Sang Nissi dan memerintah dari kota ini, mereka akan menyanyikannya tiap tahun bersama-sama dengan segenap keturunan Harun lainnya, bersama-sama segenap bangsa, selama-lamanya. Adonai sendiri yang menjanjikan. Laki-laki itu terhanyut dalam nyanyian itu, air matanya meleleh. Ia mengingat anak-anaknya. Entah di mana mereka sekarang. Mulutnya bergetar dan mengikuti nyanyian itu. Walau dalam kegelapan, makin lama ia mengenali sosok yang melagukan nyanyian itu.

 

"Hana,"

"Istriku,"

 

Bayangan itu mengulang lagunya, "Mengapa bangsa-bangsa membuat huru-hara?"

Laki-laki itu memberi sela, "Mereka tak mengenal keperkasaan-Mu,"

"Mengapa suku-suku bangsa merencanakan kesia-siaan?"

"Mengapa raja-raja dunia bangkit serentak?"

"Sungguh Engkaulah panji-panji bangsa kami!" suara seraknya membahana melawan segala kelemahan tubuhnya.

"Mengapa para penguasa bermufakat?"

"Engkaulah Sang Gibbor!" laki-laki itu bangkit berdiri.

"Melawan Adonai dan raja pilihan-Nya?"

 

Bersambung …