Sunday, October 17, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 012

Tiba-tiba rasa pedih pilu karena kerinduan melanda.

"Samuel... Samuel..!" Ia berteriak serak.

Barang-barang berserakan di mana-mana. Perapian pendiangan di ruangan tengah rumahnya menyebarkan abu putih ke mana-mana. Tiba-tiba hujan deras yang mengguyur kota itu membuyarkan abu putih itu menjadi becekan-becekan. Atap rumahnya yang menganga mencurahkan hujan ke dalam rumah. Basah, kedinginan, dan rasa khawatir yang menyusup ke dalam jantungnya menjadikannya mulai histeris.

"Hana!" Ia bertekad untuk mengakui semua kesalahannya selama ini. Selama enam bulan di dalam ruang tahanan ia merenung semua kisah dengan kekasih hatinya itu. Ia selalu mengingat kesetiaan istrinya yang tak pernah dapat disamakan dengan pelacur-pelacur itu.

"Yudit!"

"Samuel!"

"Aduh!" Ia menginjak sesuatu yang tajam di telapak kakinya. Berdarah, ia membungkuk meneliti apa yang telah ia injak. Darah kering di tubuhnya mengelupas karena air hujan dan menambah rasa perih kulit-kulitnya.

"Ah, piring kesukaan Samuel, Samuel... Samuel... Hana... Hana.. Yudit... Yudit..." Ia kembali berteriak-teriak kesetanan. Ia lupa tubuh berdarah-darahnya. Makin lama teriakannya makin kencang bersahutan dengan angin deras di luar yang hendak merobohkan rumah-rumah di Kota Bawah ini. Ia teringat seharusnya besok harus membawa Samuel ke Bait Allah untuk memberikan kurban bakaran pertamanya. Ia terus memanggil-manggil anaknya laki-laki itu. Namun alam seperti tak hendak memberinya jawaban. Makin keras ia berteriak, makin keras pula angin berembus. Oleh sebab rumahnya yang bocor, keadaan menjadi sangat parah. Tubuhnya terguncang-guncang basah kuyup. Makin keras ia berteriak-teriak, jantungnya mulai menyadari bahwa asa yang membubung selepas dari Praetorium dan mimpi-mimpinya selama ini musnah.

Gempa tiba-tiba mengguncang membuat rumah itu berderak. Segala sesuatu seakan dilemparkan dengan kekuatan hebat ke segala arah. Laki-laki itu limbung dan tangannya menahan dinding dan menjaga tubuhnya tetap tegak.

"Hana.... Hana.... Hana.... maafkan aku," ia memanggil-manggil istrinya. Daun jendela terlempar dari tempatnya dan jatuh tepat di depan kaki. Angin menyembur disertai dengan air hujan langsung menerpa wajahnya. Menambah perih yang ada di hatinya. Ia tahu teriakannya tidak akan terdengar keluar. Hujan terlalu deras. Air matanya bercampur dengan hujan.

"Hana... Hana... jangan tinggalkan aku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hidup kita," ia terus meratap, terduduk, tertunduk.

"Aku tidak akan pernah lagi memikirkan perempuan-perempuan itu lagi," ia mulai memohon. Walau kepalanya tahu apa yang ia katakan sia-sia belaka, tetapi hati merintihnya terus berharap ini hanya mimpi. Perasaannya mengatakan ia tak akan pernah bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia dahulu tega menyia-nyiakan kesetiaannya, nafsu. Kemudian ia tersadar.

"Yudit... bertahanlah," ia teringat anak perempuannya. Wajah dan sifatnya yang sangat mirip dengan dirinya menyebabkan mereka sangat dekat.

"Kau ingat cantikku, Holofernes orang Siria itu pun takluk kepadamu (ia menyebut kisah yang sangat disukai anak perempuannya—sebab dari situlah ia menamakan sulungnya), kau dapat sama dengannya menyelamatkan seluruh Israel," ia bergumam. "Ia sangat pemberani, Yudit, seharusnya engkau juga. Engkau menyandang nama yang sama," ia terus meracau. Hujan yang tidak juga reda seakan tidak memedulikan tubuh ringkihnya. Hujan mencampur dirinya dengan darah laki-laki itu. Ia makin lemas dan lunglai hingga akhirnya kepalanya tak kuat disangga lagi oleh tubuh lemahnya dan jatuh menimpa lantai tanah liat itu. Ia pingsan.

Bersambung …