Tuesday, November 30, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 019

Hati bocah itu melambung. Ia merasa Yahweh (ayahnya melarang mengucapkan kata itu, ia harus menggantinya dengan kata Adonai, tetapi kadang-kadang dalam hatinya ia memberanikan diri mengucap nama diri sesembahannya itu) menerima persembahan pertamanya. Kurban bakaran pertamanya pada hari itu. Ia merasa dirinya telah menjadi orang yang dewasa. Ia sudah tidak lagi memikirkan domba itu. Suatu saat ia akan memiliki domba lebih banyak lagi dan ia bertekad untuk memberikan yang lebih baik untuk Sang Pelindung. Ia yang berkenan di Rumah Kudus ini. Ia mulai bersujud menyembah bersama-sama dengan orang-orang yang hadir lainnya saat asap mulai mengepul-ngepul. Hatinya mulai mengucapkan doa,

 

"Ya Adonai, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan pujian kepada-Mu!"

"Sebab Engkau tidak berkenan kepada kurban sembelihan."

 "Kurban sembelihan kepada-Mu: jiwa yang hancur."

 

Setelah semua ritual itu selesai, mereka berdua, ayah dan anak itu keluar melewati pilar-pilar Bait Suci itu menuju tempat biasanya ada kumpulan pertemuan. Masih ada satu upacara lagi yang harus dilewati si bocah itu. Setelah mereka keluar dari pelataran orang-orang bukan Yahudi, mereka melangkah ke timur. Sampai ke suatu ruangan yang telah dipenuhi oleh orang-orang. Bocah itu melihat beberapa wanita dan anak-anak yang lain juga hadir di situ. Ia jadi ingat mendiang ibunya, ia sangat merindukannya. Jika ibunya hadir di situ pasti sangat bangga melihatnya, begitu pikirnya. Namun segera ditepisnya pikiran itu, sebelum ada yang meleleh di matanya. Ia tahu ini adalah hari yang penting baginya. Ia tidak mau mengacaukannya.

 

Ia kemudian duduk di tempat yang telah disediakan. Ia duduk berjajar dengan anak-anak lelaki lain yang sedang mengikuti upacara yang sama dengannya. Ia memerhatikan berapa deret di sampingnya. Ada enam orang anak yang sedang tegang karena harus membaca Shema pertama kali di hadapan jemaat. Ia ada di urutan terakhir. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya upacara pembacaan Shema itu kemudian dimulai. Anak yang paling ujung dipanggil dan berjalan menuju mimbar. Ia diberi gulungan kitab dan mulai membacanya dengan jernih dan lantang. Bocah itu tegang karena ragu-ragu apakah ia sendiri dapat membaca sebaik itu. Anak kedua juga dapat melakukan dengan baik. Hati bocah itu makin cemas. Namun tiba-tiba ia tidak lagi cemas. "Bukankah aku sudah berlatih keras," batinnya.

 

"Yeshua bin Eleazar," sebuah panggilan membuyarkan lamunannya.

 

Bersambung …

Tuesday, November 16, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 018

"Yeshua, Yeshua, ayo cepat, setelah upacara ini selesai engkau boleh mengitari Bait ini sesukamu," ayahnya memecah lamunannya.

"Ya, Bapa."

 

Mereka berada di depan gerbang rumah kudus, melepas sandal dan mulai membasuh wajahnya tiga kali, membasahi rambutnya, dan membersihkan telinganya dengan air dan menggosok-gosokkannya. Bocah itu tidak mau salah melakukan ritual pembasuhan itu karena akan melanggar aturan adat. Ia khawatir kalau-kalau Yahweh (ia menyebutnya dalam hati) menolaknya dan menimpakan tulah padanya. Ia membasahi tangan sampai ke siku dan membersihkan kakinya dengan air menggosok-gosoknya termasuk di sela-sela jari kakinya. Tidak lupa ia membasuh wajah dan kedua daun telinganya. Setelah itu ada satu budak Bait Allah yang mendekatinya dan mulai mengeringkan kakinya dengan handuk yang selalu ada dililitkan di pinggang budak itu. Ia juga diberi kain untuk membersihkan mukanya.

 

Mereka terus berjalan masuk melewati pelataran untuk para wanita dan masuk ke pelataran para pria Yahudi. Bocah itu sangat bangga karena dapat masuk sampai ke situ. Ia merasa menjadi orang yang terpilih, orang-orang yang dipisahkan dari orang-orang kafir dan perempuan,

"Terpujilah nama-Mu, Adonai Allah kami, Raja semesta ini,"

"Sebab Engkau menjadikanku sebagai seorang Israel,"

"Terpujilah nama-Mu, Adonai Tuhan kami, Penguasa dunia ini,"

"Engkau tak membuatku sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai,"

"Terpujilah Engkau,"

"Terpujilah nama-Mu, Adonai Maha Besar, Pemilik bumi ini,"

"Engkau tak menciptakanku sebagai perempuan,"

 

Ia mengucapkan doa ini berkali-kali. Sebuah doa tradisi yang baru saja ia pelajari. Saat di Yuta, ia tidak tahu mengapa ia diajari doa seperti ini. Namun saat ia memasuki setiap pelataran dalam Rumah Kudus ini barulah ia menyadari bahwa ia sangat diberkati. Orang-orang itu tidak dapat sedekat ini dengan Sang Perkasa.

 

Ia anak yang beruntung. Dilahirkan dari keluarga imam yang sangat menaati Taurat menyebabkan ia mendapatkan semua pelajaran yang dinikmati oleh seorang anak Yahudi. Ia pantas tersenyum. Dan, bocah itu pun tersenyum.

 

Domba yang mereka bawa dari rumah terdiam membisu. Ia tahu hari ini umurnya tidak akan panjang lagi. Sejak tadi, ia digendong bocah yang sudah memeliharanya setahun yang lalu. Ini adalah saatnya ia menjadi kurban untuk tuan kecilnya itu. Domba itu pasrah saat dibawa ke salah satu pojokan pelataran dengan pisau yang sudah disiapkan oleh sang ayah, nyawa domba itu melayang, dan darahnya ditampung dalam mangkuk yang sudah disediakan.

 

Bocah itu hampir menangis. Ia sangat mencintai domba itu. Domba kecil itu adalah domba kesayangannya, bulunya paling bagus dan muka domba itu seperti terlihat selalu tersenyum. Ia memeliharanya sejak dilahirkan dari induknya. Sebenarnya sewaktu mereka masih di rumah, ia hendak memberikan domba lain yang tidak terlalu disukainya. Namun, ayahnya memutuskan domba terbaiklah yang harus dipersembahkan pada Adonai. "Domba jantan yang tak bercela," katanya. Cepat-cepat ia menghapus air matanya. Ia tahu ini adalah bagian dari jalan kedewasaannya. Ia malu dianggap cengeng di rumah yang suci ini. Nyalinya ia kuatkan saat membawa kulit, daging, dan darah domba itu menuju mezbah.

 

Akhirnya mereka sampai di depan pintu menuju ruang mezbah. Mereka memberikan hasil sembelihan domba mereka di hadapan imam yang bertugas waktu itu. Kemudian imam tersebut masuk ke ruang mezbah dan membakar seluruh daging sembelihan tersebut hingga menjadi abu. Bocah itu memerhatikan dari kejauhan asap mengepul dari dalam ruang mezbah itu. Bau lemak terbakar memberi rasa nikmat di hidungnya seiring naiknya asap kurban bakaran mereka ke langit.

 

Bersambung … 018

Friday, November 12, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 017

Yerusalem

April 8 M

 

Sinar matahari yang menimpa Bait Suci pagi itu menyebabkan kilauan emas-emas yang menyalut tiang-tiangnya memantulkan gilap pada mata binar bocah lelaki yang sedang berjalan di Gerbang Hulda bersama dengan ayahnya. Ini adalah saat yang ia tunggu-tunggu sejak umur enam tahun. Sebelumnya mereka tinggal di Yuta, sekarang tinggal di Yerusalem sebab ayahnya bertugas melayani di Bait Allah yang saat ini mereka datangi.

 

Bocah lelaki itu akan membaca Taurat di depan umum untuk pertama kalinya. Umurnya dua belas tahun dan sudah delapan tahun ia belajar Taurat seperti bocah-bocah lain di desanya. Sejak itulah mereka merindukan untuk datang ke kota Tuhan, kota kudus-Nya. Sekarang, bahkan mereka mempunyai kesempatan untuk tinggal di kota Salem ini. Mulutnya ternganga melihat kemegahan Istana Tuhan itu.

 

Ia melangkah hati-hati seraya berusaha memerhatikan semua detail bangunan berbahan dasar marmer putih itu. Matahari musim semi sedang berpihak kepadanya sehingga dinding-dinding yang ia lewati seakan hendak menampilkan wajah terbaik mereka. Mereka tahu keriangan bocah itu, mereka ingin bocah itu selalu mengingat saat-saat itu. Dinding itu tahu bocah itu akan menempuh kedewasaannya dan ingatan akan Bait Tuhan menyebabkan kedewasaannya akan selalu dipenuhi kemuliaan-Nya, sang penghuni Rumah Tua itu.

 

Bocah itu sekarang ada di pelataran bagi orang-orang kafir, begitu tetangganya bilang. Ia melihat keramaian yang ada di situ dan melihat semua kesibukan di pelataran itu. Ia baru tahu kalau semua bagian bangunan ini dibuat dari marmer putih. Itu sebabnya saat ia berada di bawah dari kejauhan, Istana itu seperti diselimuti salju, bahkan saat matahari terik.

 

Ia tahu mulai saat ini keluarga mereka akan terus menerus berada di lingkungan Istana Milik Pencipta itu. Keluarga mereka akan melayani Sang Ada. Namun ini tidak mengurangi keinginannya untuk menghafalkan setiap bagian yang terdapat dalam Rumah ini. Ia lupa dengan tujuannya ia datang kemari, bahkan ia lupa kalau ayahnya ada di sampingnya. Ia lupa juga jika domba di gendongannya akan mati menjadi kurban hari itu.

 

Bersambung …

Wednesday, November 3, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 016

Orang-orang itu akhirnya membiarkan suara-suara itu menikmati kesendirian mereka. Para tetangganya tidak mau mengganggu roh-roh yang dahulu mereka kenal baik. Mereka tahu sudah banyak kesengsaraan yang dialami oleh keluarga itu selama hidup mereka. Mereka juga merasa bahwa Sang Mahabesar sudah cukup menghukum kepala keluarga rumah itu.

"Barabbas, hendak mati di rumahnya sendiri,"

"Terlalu banyak luka-luka siksaan yang telah diterimanya dari bangsa kafir itu," gumam salah satu tetangganya.

"Seperti binatang peliharaan, ia pulang ke rumah tuannya untuk mati,"

"Ia tidak tahu, setelah ia tertangkap, istrinya mereka bantai tanpa ampun,"

"Anak-anaknya mereka jual,"

"Tragis,"

"Seperti kena tulah,"

"Padahal ia berusaha membela bangsa ini,"

"Ia terkena bencana,"

"Tetapi sesungguhnya kepengecutan kitalah yang ditentangnya,"

"Ia dimusnahkan,"

"Biarlah ia menikmati cengkeramannya yang terakhir,"

"Biarlah kekasih jiwanya memuaskan waktu-waktu terakhirnya,"

 

***

 

Sewaktu bermazmur, laki-laki itu sempat mendengar gumam tetangga-tetangganya. Sehingga setelah selesai seluruh pujiannya, ia kembali terduduk lesu dan meratap.

"Hana, mengapa kau tak izinkan aku menebus dosaku,"

"Mengapa kau kejam padaku,"

"Hana, maukah kau memaafkanku?" ia merengek pada istrinya.

"Apakah kau kembali ke sini hanya untuk membuatku lebih sengsara karena kerinduan?"

 

Namun, istrinya hanya membisu. Laki-laki itu tetap bertanya, "Aku rindu padamu."

Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati istrinya dan hendak merengkuhnya. Namun si istri menolaknya, "Mengapa?" tanya lelaki itu.

"Aku mencintaimu," sahut istrinya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.

 

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Ia benar-benar Mesias," kembali istrinya tak menjawab pertanyaan suaminya.

"Siapa maksudmu?"

"Orang yang tergantung di kayu salib di barat kota ini?"

"Bagaimana bisa?" sang suami keheranan. "Sang Penyelamat tak pernah digambarkan mati konyol di kitab nabi-nabi,"

"Ia tidak lagi mati," si istri kali ini menjawab. "Siapa yang memercayai-Nya, maut tak akan berkuasa lagi,"

"Mengapa ia disalib?" suaminya masih belum mengerti.

"Ia menggantikanmu mati," istrinya yakin. "Ia turun ke dunia orang mati untuk membebaskan kita." "Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini," seolah menjawab keraguan suaminya.

 

***

 

Bersambung …