Wednesday, November 3, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 016

Orang-orang itu akhirnya membiarkan suara-suara itu menikmati kesendirian mereka. Para tetangganya tidak mau mengganggu roh-roh yang dahulu mereka kenal baik. Mereka tahu sudah banyak kesengsaraan yang dialami oleh keluarga itu selama hidup mereka. Mereka juga merasa bahwa Sang Mahabesar sudah cukup menghukum kepala keluarga rumah itu.

"Barabbas, hendak mati di rumahnya sendiri,"

"Terlalu banyak luka-luka siksaan yang telah diterimanya dari bangsa kafir itu," gumam salah satu tetangganya.

"Seperti binatang peliharaan, ia pulang ke rumah tuannya untuk mati,"

"Ia tidak tahu, setelah ia tertangkap, istrinya mereka bantai tanpa ampun,"

"Anak-anaknya mereka jual,"

"Tragis,"

"Seperti kena tulah,"

"Padahal ia berusaha membela bangsa ini,"

"Ia terkena bencana,"

"Tetapi sesungguhnya kepengecutan kitalah yang ditentangnya,"

"Ia dimusnahkan,"

"Biarlah ia menikmati cengkeramannya yang terakhir,"

"Biarlah kekasih jiwanya memuaskan waktu-waktu terakhirnya,"

 

***

 

Sewaktu bermazmur, laki-laki itu sempat mendengar gumam tetangga-tetangganya. Sehingga setelah selesai seluruh pujiannya, ia kembali terduduk lesu dan meratap.

"Hana, mengapa kau tak izinkan aku menebus dosaku,"

"Mengapa kau kejam padaku,"

"Hana, maukah kau memaafkanku?" ia merengek pada istrinya.

"Apakah kau kembali ke sini hanya untuk membuatku lebih sengsara karena kerinduan?"

 

Namun, istrinya hanya membisu. Laki-laki itu tetap bertanya, "Aku rindu padamu."

Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati istrinya dan hendak merengkuhnya. Namun si istri menolaknya, "Mengapa?" tanya lelaki itu.

"Aku mencintaimu," sahut istrinya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.

 

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Ia benar-benar Mesias," kembali istrinya tak menjawab pertanyaan suaminya.

"Siapa maksudmu?"

"Orang yang tergantung di kayu salib di barat kota ini?"

"Bagaimana bisa?" sang suami keheranan. "Sang Penyelamat tak pernah digambarkan mati konyol di kitab nabi-nabi,"

"Ia tidak lagi mati," si istri kali ini menjawab. "Siapa yang memercayai-Nya, maut tak akan berkuasa lagi,"

"Mengapa ia disalib?" suaminya masih belum mengerti.

"Ia menggantikanmu mati," istrinya yakin. "Ia turun ke dunia orang mati untuk membebaskan kita." "Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini," seolah menjawab keraguan suaminya.

 

***

 

Bersambung …