Friday, November 12, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 017

Yerusalem

April 8 M

 

Sinar matahari yang menimpa Bait Suci pagi itu menyebabkan kilauan emas-emas yang menyalut tiang-tiangnya memantulkan gilap pada mata binar bocah lelaki yang sedang berjalan di Gerbang Hulda bersama dengan ayahnya. Ini adalah saat yang ia tunggu-tunggu sejak umur enam tahun. Sebelumnya mereka tinggal di Yuta, sekarang tinggal di Yerusalem sebab ayahnya bertugas melayani di Bait Allah yang saat ini mereka datangi.

 

Bocah lelaki itu akan membaca Taurat di depan umum untuk pertama kalinya. Umurnya dua belas tahun dan sudah delapan tahun ia belajar Taurat seperti bocah-bocah lain di desanya. Sejak itulah mereka merindukan untuk datang ke kota Tuhan, kota kudus-Nya. Sekarang, bahkan mereka mempunyai kesempatan untuk tinggal di kota Salem ini. Mulutnya ternganga melihat kemegahan Istana Tuhan itu.

 

Ia melangkah hati-hati seraya berusaha memerhatikan semua detail bangunan berbahan dasar marmer putih itu. Matahari musim semi sedang berpihak kepadanya sehingga dinding-dinding yang ia lewati seakan hendak menampilkan wajah terbaik mereka. Mereka tahu keriangan bocah itu, mereka ingin bocah itu selalu mengingat saat-saat itu. Dinding itu tahu bocah itu akan menempuh kedewasaannya dan ingatan akan Bait Tuhan menyebabkan kedewasaannya akan selalu dipenuhi kemuliaan-Nya, sang penghuni Rumah Tua itu.

 

Bocah itu sekarang ada di pelataran bagi orang-orang kafir, begitu tetangganya bilang. Ia melihat keramaian yang ada di situ dan melihat semua kesibukan di pelataran itu. Ia baru tahu kalau semua bagian bangunan ini dibuat dari marmer putih. Itu sebabnya saat ia berada di bawah dari kejauhan, Istana itu seperti diselimuti salju, bahkan saat matahari terik.

 

Ia tahu mulai saat ini keluarga mereka akan terus menerus berada di lingkungan Istana Milik Pencipta itu. Keluarga mereka akan melayani Sang Ada. Namun ini tidak mengurangi keinginannya untuk menghafalkan setiap bagian yang terdapat dalam Rumah ini. Ia lupa dengan tujuannya ia datang kemari, bahkan ia lupa kalau ayahnya ada di sampingnya. Ia lupa juga jika domba di gendongannya akan mati menjadi kurban hari itu.

 

Bersambung …