Tuesday, November 16, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 018

"Yeshua, Yeshua, ayo cepat, setelah upacara ini selesai engkau boleh mengitari Bait ini sesukamu," ayahnya memecah lamunannya.

"Ya, Bapa."

 

Mereka berada di depan gerbang rumah kudus, melepas sandal dan mulai membasuh wajahnya tiga kali, membasahi rambutnya, dan membersihkan telinganya dengan air dan menggosok-gosokkannya. Bocah itu tidak mau salah melakukan ritual pembasuhan itu karena akan melanggar aturan adat. Ia khawatir kalau-kalau Yahweh (ia menyebutnya dalam hati) menolaknya dan menimpakan tulah padanya. Ia membasahi tangan sampai ke siku dan membersihkan kakinya dengan air menggosok-gosoknya termasuk di sela-sela jari kakinya. Tidak lupa ia membasuh wajah dan kedua daun telinganya. Setelah itu ada satu budak Bait Allah yang mendekatinya dan mulai mengeringkan kakinya dengan handuk yang selalu ada dililitkan di pinggang budak itu. Ia juga diberi kain untuk membersihkan mukanya.

 

Mereka terus berjalan masuk melewati pelataran untuk para wanita dan masuk ke pelataran para pria Yahudi. Bocah itu sangat bangga karena dapat masuk sampai ke situ. Ia merasa menjadi orang yang terpilih, orang-orang yang dipisahkan dari orang-orang kafir dan perempuan,

"Terpujilah nama-Mu, Adonai Allah kami, Raja semesta ini,"

"Sebab Engkau menjadikanku sebagai seorang Israel,"

"Terpujilah nama-Mu, Adonai Tuhan kami, Penguasa dunia ini,"

"Engkau tak membuatku sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai,"

"Terpujilah Engkau,"

"Terpujilah nama-Mu, Adonai Maha Besar, Pemilik bumi ini,"

"Engkau tak menciptakanku sebagai perempuan,"

 

Ia mengucapkan doa ini berkali-kali. Sebuah doa tradisi yang baru saja ia pelajari. Saat di Yuta, ia tidak tahu mengapa ia diajari doa seperti ini. Namun saat ia memasuki setiap pelataran dalam Rumah Kudus ini barulah ia menyadari bahwa ia sangat diberkati. Orang-orang itu tidak dapat sedekat ini dengan Sang Perkasa.

 

Ia anak yang beruntung. Dilahirkan dari keluarga imam yang sangat menaati Taurat menyebabkan ia mendapatkan semua pelajaran yang dinikmati oleh seorang anak Yahudi. Ia pantas tersenyum. Dan, bocah itu pun tersenyum.

 

Domba yang mereka bawa dari rumah terdiam membisu. Ia tahu hari ini umurnya tidak akan panjang lagi. Sejak tadi, ia digendong bocah yang sudah memeliharanya setahun yang lalu. Ini adalah saatnya ia menjadi kurban untuk tuan kecilnya itu. Domba itu pasrah saat dibawa ke salah satu pojokan pelataran dengan pisau yang sudah disiapkan oleh sang ayah, nyawa domba itu melayang, dan darahnya ditampung dalam mangkuk yang sudah disediakan.

 

Bocah itu hampir menangis. Ia sangat mencintai domba itu. Domba kecil itu adalah domba kesayangannya, bulunya paling bagus dan muka domba itu seperti terlihat selalu tersenyum. Ia memeliharanya sejak dilahirkan dari induknya. Sebenarnya sewaktu mereka masih di rumah, ia hendak memberikan domba lain yang tidak terlalu disukainya. Namun, ayahnya memutuskan domba terbaiklah yang harus dipersembahkan pada Adonai. "Domba jantan yang tak bercela," katanya. Cepat-cepat ia menghapus air matanya. Ia tahu ini adalah bagian dari jalan kedewasaannya. Ia malu dianggap cengeng di rumah yang suci ini. Nyalinya ia kuatkan saat membawa kulit, daging, dan darah domba itu menuju mezbah.

 

Akhirnya mereka sampai di depan pintu menuju ruang mezbah. Mereka memberikan hasil sembelihan domba mereka di hadapan imam yang bertugas waktu itu. Kemudian imam tersebut masuk ke ruang mezbah dan membakar seluruh daging sembelihan tersebut hingga menjadi abu. Bocah itu memerhatikan dari kejauhan asap mengepul dari dalam ruang mezbah itu. Bau lemak terbakar memberi rasa nikmat di hidungnya seiring naiknya asap kurban bakaran mereka ke langit.

 

Bersambung … 018