Tuesday, December 7, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 020

Ia pun berjalan menuju mimbar itu dan bertekad dapat melakukan tugasnya dengan baik. Ia mulai membuka gulungan kitab itu dengan hati-hati. Dengan sebuah alat penunjuk yang sudah disediakan di mimbar itu, ia mulai membaca Shema dari kanan ke kiri; jantungnya berdebar kencang. Ia sudah sangat hafal dengan bagian ini, tetapi entah bagaimana badannya mulai memanas dan keringat mulai memperlihatkan bentuknya di sekujur badannya. "Ayo konsentrasi, ayo konsentrasi," dan dengan berhati-hati ia mulai membaca, mulanya dengan suara agak gemetar lalu setelah segala kegalauan jantung, sebab berada di hadapan orang banyak, menghilang, suaranya jernih dan lantang,

 

"Dengarlah, hai orang Israel: Adonai itu Allah kita, Sang Elohim itu Esa!

Kasihilah Adonai, Sang El Shaddai, dengan segenap hatimu

dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu."

 

Beberapa detik, tempat itu sangat lengang. Tak ada tarikan napas yang terdengar. Semua orang terdiam saat seorang bocah berjuang untuk melewati waktunya di hadapan Sang Pencipta. Ia berada di Rumah Yang Maha Agung untuk membaca sabda yang akan selalu diingat-ingat oleh bangsa ini. Begitu selesai si bocah menyelesaikan pembacaan Shema itu dengan penuh kelegaan semua yang hadir menanggapi firman itu,

"Haleluya,"

"Amin."

 

"Selesai sudah," batinnya berkata. Sekarang ia telah menjadi bagian sah dari bangsa ini. "Bangsa pilihan-Nya dari segala bangsa di dunia ini," batinnya membubung. Ayahnya yang terlihat terharu mendatanginya dan memeluk seraya menciuminya. "Anak lelakiku yang hebat," katanya.

"Aku harus melakukan pertemuan dengan beberapa imam lain," sang ayah berkata.

"Aku akan menunggu di sini saja, sambil berkeliling di seputar kompleks ini," anak itu menjawab

"Baiklah, apabila kau merasa sudah lelah langsung pulang saja ya,"

"Baiklah Bapa,"

 

Bocah itu kemudian mulai berjalan-jalan ke sekeliling Bait Suci tersebut. Menyelusuri berandanya dan menuju ke arah timur. Ia menyusuri sampai ke serambi Salomo dan melewati Gerbang Emas, gerbang itu tertutup rapat dan terkunci. Ayahnya pernah bilang gerbang ini tidak pernah digunakan. Ia melongok jauh ke timur dan melihat di kejauhan ke lembah-lembah sungai Yordan. Satu saat, jika ia sudah mampu ia akan menuju sungai itu. Ia ingin melihat sungai yang menjadi jalan masuk pertama kali bangsa ini menuju tanah perjanjian. Tanah yang sekarang ini ia pijak.

 

Ia tidak sadar ada seseorang yang memerhatikannya sejak tadi. Sehingga saat tangan orang itu menepuk bahunya, ia terlonjak kaget.

"Namamu Yeshua bin Eleazar kan?"

"Ya, Bapak siapa?"

"Gamaliel, namamu seperti nama anak bungsuku. Ia seumuran kamu"

"Bapak putra Simeon Berhati Saleh itukah?"

"Ya, kau tahu dari mana?"

"Bapaku yang memberi tahu,"

"Ada apakah Bapak memanggilku?"

"Aku hendak berbicara sesuatu tentang hal penting,"

"Apakah itu?"

"Engkau akan bertemu dengan Mesias."

"Benarkah? Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Engkau harus mempersiapkan diri dengan selalu menjaga kekudusanmu. Dia akan memerintah negeri ini. Ia akan membebaskan bangsa ini dari penjajahan bangsa kafir. Ayahku, Simeon, pernah bertemu dengannya di Bait Suci ini"

"Ia telah disediakan oleh Adonai sendiri di hadapan segala bangsa. Dia menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Nya."

 

Bersambung …