Saturday, December 18, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 022

Yerusalem

Mei 30 M

 

Angin dari barat berembus menerpa mereka. Laki-laki yang berdiri di serambi Salomo, di Bait Allah, terus memandang ke arah timur. Lembah Sungai Yordan tampak kebiruan, walau tidak ada kabut dan langit begitu jernih hari itu. Ia membayangkan lembah itu dahulu sangat subur, ribuan tahun lalu Lot memilih tinggal di lembah itu. Sekarang tempat itu hanyalah gurun. Gurun Tekoa.

"Tidakkah kau percaya kepada omongan Rabbi Gamaliel?" istrinya bertanya. "Kau sudah bertemu Mesias."

"Ada begitu banyak nama Yesus di tanah ini," suaminya hanya menggumam.

 

Pakaian kedua orang itu berkibar-kibar. Bau harum lembut kayu aras yang melapisi seluruh ornamen Bait Suci semerbak di antara mereka.

 

"Sejak saat itu, Gamaliel tidak pernah berkata-kata apa pun lagi padaku,"

"Kau tidak percaya?"

"Mesias tidak berasal dari Nazaret. Mungkin Herodes tua itu sudah membasminya di Efrata,"

"Lalu mengapa engkau berdiri di sini?"

 

Laki-laki itu tak menjawab. Ia hanya berlalu menyusuri serambi itu, melihat-lihat seluruh ukiran-ukiran emas yang menghiasi sepanjang serambi itu. Ia kelihatan merenung. Angin yang mengalun dari barat sedikit membawa kesejukan karena membawa uap-uap air Laut Tengah.

 

"Tidakkah kau juga melihat mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya?" istrinya kembali bertanya.

"Namun mengapa mati di kayu salib?"

"Ia menggantikanmu mati,"

"Aku tidak percaya? Itu hanya permainan orang-orang Sanhedrin,"

"Bukankah itu sebuah tanda?"

"Bukan, itu bukanlah mukjizat. Kalau dia benar-benar raja, seharusnya dia melawan kerajaan kafir yang menjajah kita!"

"Kerajaan-Nya bukan di dunia ini,"

"Lantas?"

"Kau tidak ingat? Aku sudah pernah turun ke dunia orang mati," istrinya bertanya. "Dan, aku tidak akan selama-lamanya ada bersamamu,"

"Kau akan meninggalkanku. Begitu maksudmu?" laki-laki itu protes, "Jadi kau mengajakku ke tempat ini hanya supaya kau akan meninggalkanku?"

"Kita sudah membahasnya berkali-kali selama empat puluh hari ini. Aku akan pergi kepada-Nya. Dia telah menyediakan rumah kekal bagiku. Juga bagimu kalau kau memercayai-Nya."

"Tidakkah ia berbohong?"

"Apa maksudnya, bukankah engkau sendiri bilang pernah bertemu muka dengan-Nya? Apakah kau tidak dapat melihat ketulusan mata-Nya?"

"Ah, mata teduh itu," laki-laki itu menerawang, "Namun kapan ia akan bertakhta? Bukankah dia sekarang sudah bangkit, sepertimu?"

"Waktu-Nya bukan sekarang."

"Lantas kapan?"

"Salomo pernah bilang segala sesuatu ada waktunya sendiri. Dia akan membuat segalanya indah,"

"Jadi dia juga akan kembali kepada Yang Mahatinggi? Seperti juga kau?"

"Dialah Yang Mahatinggi."

"Jangan menghujat-Nya! Kau tahu, dia mati karena menghujat Sang Khalik."

"Aku berkata benar, lupakah kau jika aku pernah turun ke Hades, dunia orang mati? Aku melihat-Nya berperang melawan kegelapan. Aku melihat-Nya menang melawan maut. Dialah Yang Mahamulia."

"Apakah berarti ia tidak akan bertakhta di kota ini?"

"Waktunya belum selesai."

"Jadi seluruh bangsa ini harus terus menanggung kuk orang-orang kafir itu?"

"Suamiku, tidakkah kau sadar apa yang kupercayai berasal dari engkau. Engkau sendiri yang mengajari aku untuk menunggu. Engkau sendiri yang mengingatkanku tentang kakek-nenek moyang kita yang setia. Bukankah malam itu engkau mengingatkanku tentang Daud, leluhurku, bagaimana ia harus melewati segala sengsara. Bahkan kesengsaraan itu ditimbulkan oleh orang yang ia selamatkan sendiri."

"Ya, dia menjadi raja, tetapi nabi itu mati konyol di usia muda."

"Tidak, Dia tidak mati. Dia hidup selama-lamanya."

 

Bersambung ...