Wednesday, December 22, 2010

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 023

"Bagaimana aku dapat percaya?"

"Lihatlah ke kedalaman hatimu. Engkau akan menyadari siapa Dia."

"Aku sudah lelah."

 

Angin terus berembus makin kencang. Angin itu seperti membawa orang-orang dari seluruh penjuru bumi datang ke kota ini. Bait Allah ini makin ramai. Mereka menunggu-nunggu perayaan tujuh minggu. Mereka semua hendak bersyukur karena panen yang berhasil tahun ini dan mengharap Penghuni Istana ini akan memberikan panen yang melimpah tahun depan.

 

"Aku akan menunggumu di rumah kita yang kekal," istrinya memberi tahu.

"Engkau akan meninggalkanku sekarang?"

"Kita tidak akan selama-lamanya berpisah."

"Engkau sudah benar-benar memaafkan aku?"

"Bahkan sejak engkau meninggalkan rumah kita aku sudah memaafkanmu suamiku. Memang aku tidak serta-merta melupakan apa yang kau perbuat. Pagi setelah kejadian itu aku pulang ke Betania. Di sana, aku berjumpa dengan nabi itu, karena Samuel."

"Ah Samuel, apa yang terjadi?"

"Ia demam. Lalu kudengar tetanggaku Lazarus mati. Kau kenal juga. Hatiku makin khawatir. Samuel mempunyai tanda-tanda yang sama dengan yang mati itu."

"Keluarga orang yang mati itu kemudian mengadakan upacara penguburan. Berkali-kali saudara-saudaranya mengatakan: Terlambat-terlambat, seandainya Dia datang lebih cepat, tentu Lazarus tidak akan mati. Aku tidak tahu apa yang mereka maksudkan dengan Dia. Sepertinya mereka mengatakan seseorang yang sangat berkuasa."

"Aku sudah ditahan waktu itu,"

"Ya, aku juga mendengarnya,"

"Demam Samuel tidak turun, selama waktu itu. Aku panik dan tidak keluar rumah. Aku sudah mengerjakan segalanya dan sepertinya penyakit Samuel makin parah."

"Lalu?"

"Yudit bercerita, ia bercerita kalau baru saja melihat Mukjizat. Lazarus hidup lagi, dibangkitkan oleh seorang Rabbi muda. Yeshua namanya," istrinya menerangkan, "'seperti nama Abba,' kata Yudit."

"Ah, Yudit,"

"'Ame, Ibu, katanya, Samuel dibawa kepada guru itu saja. Ia pasti sembuh,' katanya. Waktu itu pikiranku kalut, buntu. Akhirnya kugendong Samuel dan kubawa ke tempat Simon—tempat tinggal-Nya selama di kota itu dan memohon supaya guru itu mau menyembuhkan anakku."

"Kau gampang percaya," suaminya menyanggah.

"Jika engkau berada pada keadaanku, pasti engkau bertindak tidak jauh berbeda denganku."

"Samuel pasti pernah berdosa pada Adonai."

"Mengapa kau tidak percaya juga?"

"Kalau ia benar-benar Mesias, pasti tidak akan menyerahkan diri pada orang-orang kafir itu."

"Aku mencintaimu. Aku tidak mau kita terpisah selamanya."

"Oleh sebab itu jangan tinggalkan aku sekarang."

"Maksudku tidak di dunia ini. Engkau tidak datang kepada-Nya, Engkau tidak mendapat kekekalan bersama-sama denganku."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Percayalah kepada Dia yang mengutus nabi itu. Percayalah bahwa kemuliaan-Nya akan dinyatakan melalui manusia yang kau anggap ringkih itu."

 

Laki-laki itu terdiam. Ia memandang ke utara, kumpulan rumah-rumah di Betania hanya tampak seperti kotak-kotak mungil berwarna krem, menyatu dengan warna padang gurun di sekitarnya. Ada beberapa daerah yang berwarna hijau di dekat desa itu, menandakan pertanian yang subur sedang dalam proses.

 

"Kau lihat di utara sana?" istrinya bertanya.

"Ada apa di Bukit Zaitun itu?"

"Mereka ada di sana sekarang,"

"Maksudmu nabi itu dan murid-muridnya?"

 

Istrinya mengangguk.

"Pada saat yang sama, aku akan menyertai-Nya ke Taman Firdaus selama-lamanya."

"Jadi sekarang waktunya engkau meninggalkan aku?"    

  

Bersambung ...