Saturday, December 31, 2011

Theodore Boone -- tulisan John Grisham untuk anak-anak

Judul: Theodore Boone
Buku 1: Pengacara Cilik/Kid Lawyer
Harga: 42.000,-
ISBN / EAN :  9789792262292 / 9789792262292
Penulis : John Grisham
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit : 28 September 2010
Tebal : 290 hlm.


Theo Boone, 13 tahun, tahu banyak tentang hukum, sebab kedua orangtuanya pengacara dan ia kenal baik dengan para hakim, polisi, serta petugas pengadilan. Ia ingin menjadi pengacara hebat, beraksi dari satu ruang sidang ke ruang sidang lain.
Dan sekarang Theo betul-betul berada di ruang sidang. Karena tahu begitu banyak -mungkin terlalu banyak -ia terseret ke dalam persidangan kasus pembunuhan yang sensasional.

Seorang pembunuh berdarah dingin mungkin akan bebas, dan hanya Theo yang tahu fakta sebenarnya.



Buku 2: Penculikan.
Harga: 42.000,-
ISBN / EAN:  9789792271270 / 9789792271270
Author : John Grisham
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit : 30 Juni 2011
Tebal : 352 hlm.



Monday, December 19, 2011

Sang Wakil dan Sang Sekretaris

ilustrasi colongan dari internet, semoga yang punya gak marah


Keriuhan di Solaria, Ratu Plaza, Sabtu sore itu sepertinya tidak membuat dua orang yang duduk di sudut terusik. Pria dan perempuan berkerudung di depannya hanya terpaku di kursi mereka.
"Aku mencintaimu," sudah ketiga kali si pria mengatakan itu. Si perempuan diam membisu.

"Sejak itu, setiap malam, engkau menghantuiku dengan wajah sendumu itu," si pria merajuk. Si perempuan tetap diam. "Maafkan, kepengecutanku. Aku tidak tahu. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak tahu perasaanmu kepadaku. Aku tidak ingin tahu. Aku terlalu takut ingin tahu. Tapi yang jelas, aku masih mencintaimu hingga detik ini." Suara tertawa berderai di sudut lain tidak mampu menyingkirkan keheningan di antara mereka.


ilustrasi colongan juga


Sepuluh tahun sudah lewat mereka tidak bertemu. Sang wakil ketua PMK dan sekretarisnya. Zaman mereka bersama-sama berkumpul di ruang kegiatan mahasiswa. Bersekutu, mendengarkan firman Tuhan dari para pendeta atau pembimbing rohani berbagai lembaga pelayanan rohani, dan saling menguatkan iman.

Sekarang mereka berbeda.
Si laki-laki menyeletuk lagi. "Aku berusaha memahami rasaku, bertanya pada tiap helai akal sehatku.
Tapi jawab akal sehat, Kamu bodoh. Lalu aku berlari kepada norma," si laki-laki melanjutkan. "Jawab norma, Kamu salah. Namun, aku tidak mampu menyangkalinya. Bisa gila. Aku menyerah pasrah. Aku masih mencintaimu. Otakku langsung berteriak, Sama gilanya." Laki-laki menutup kalimatnya, "Lebih baik gila akal tapi jujur hati."

Hening di antara mereka ada setidaknya lima belas menit.

"Aku pengen punya anak darimu," tiba-tiba si laki-laki berucap.
"Kamu gila, Mas," si perempuan menjawab. "Aku sudah bahagia dengan mas Ali."

"Aku terlambat sepuluh tahun," si laki-laki menggumam. "Aku mencarimu selalu sejak kau pergi. Namun, kamu menghilang tanpa jejak." "Sama sekali tanpa kabar. Tanpa berita."

Terdengar alunan lembut lagu Sting,

"... Since you've gone I've been lost without a trace
I dream at night, I can only see your face
I look around but it's you I can't replace
I feel so cold and I long for your embrace
I keep calling baby, baby please...

Oh can't you see
You belong to me
How my poor heart aches
With every step you take ..."

Selepas lagu televisi yang digantung di dinding sedang menyiarkan profil seorang yang disebut-sebut punya kans besar dicalonkan sebagai wakil presiden oleh partai terbesar. "... Di saat kita tidak dapat menemukan panutan dalam integritas, Daniel Pracaya, telah menjadi legenda hidup dalam kejujuran dan keterbukaan ...." si penyiar terang-terangan memuji politikus tersebut. Mungkin karena ia benar-benar frustrasi dengan kondisi negaranya. "Daniel bakal menjadi pendamping yang sangat pas bagi JSJ," penyiar tersebut malah berpromosi. Entah karena diminta bosnya-pemilik TV tersebut memang dekat dengan JSJ, jenderal purnawirawan terpopuler saat ini-atau karena si penyiar benar-benar kagum. Entahlah.

ini hasil foto sendiri he he he

Namun, dua insan yang masih tidak juga menghabiskan makan mereka terlihat sibuk dengan lamunan masing-masing.


"Engkau selama ini ke mana saja?" si pria masih menuntut penjelasan. "Mengapa kamu menghilang tanpa jejak. Apakah kamu selama ini tahu perasaanku? Mengapa kamu tega sekali? Kamu telah menjual imanmu demi laki-laki itu," laki-laki itu terus mencecar.

"Imanku masalah hati, Mas. Tidak untuk diperjual-belikan. Jangan sembarangan menuduh. Engkau tidak tahu apa-apa dengan perjalanan imanku," si wanita tiba-tiba menyahut. "Lalu, mengapa dulu kamu tidak ngomong kalau sebenarnya kamu punya rasa kepadaku." "Mengapa tiba-tiba kamu muncul dengan serentetan meracau? Apakah dengan pengakuan bahwa kamu pengecut, itu bakal menyelesaikan segalanya? Atau, pertemuan ini hanya untuk menutupi rasa bersalahmu, Mas?"

"Maaf," si laki-laki hanya bisa menyahut lirih.
"Dan, selama sepuluh tahun ini, Mas sama sekali tidak mau membuka hati pada perempuan lain?"



...

I'll fight, babe, I'll fight
To win back your love again
I will be there, I will be there
Love, only love
Can break down the wall someday
I will be there, I will be there

If we'd go again
All the way from the start
I would try to change
The things that killed our love
Your pride has built a wall, so strong
That I can't get through
Is there really no chance
To start once again
I'm loving you
...

"Maaf," sekali lagi si laki-laki hanya bisa menyahut lirih.



Saturday, December 10, 2011

Tukang Bakso Keturunan Raja Mataram: Refleksi Adven 2011

Mengapa para bapa gereja menempatkan Matius sebagai kitab pertama dalam empat Injil kanonik. Sebab, sekarang sebagian besar pakar Perjanjian Baru sepakat Kitab Markuslah yang dianggap sebagai tulisan terawal di antara empat Injil tersebut.


Pertanyaan yang muncul adalah apakah para bapa gereja itu tidak tahu bahwa Markus menjadi dasar penulisan tiga Injil yang lain? Apakah mereka juga tidak tahu kalau di balik tulisan Markus (yang konon menjadi cameo pada waktu adegan Yesus ditangkap prajurit penjaga Bait Allah—lihat Markus 14:51) ada nama Petrus, satu di antara tiga murid terdekat Yesus? Atau, apakah karena begitu singkatnya  Kitab Markus sehingga Matius yang lebih sistematis dan lebih lengkap ceritanya akhirnya diletakkan sebagai Injil pertama? Entahlah, kemungkinan besar pertanyaan terakhir ini—berdasar pendapat para pakar sejarah gereja—punya jawaban ‘ya’.

Beberapa waktu lalu, pertanyaan-pertanyaan ini sedikit terkuak jawabannya di benak saya. Walaupun banyak pakar yang menyangkal Rasul Matius, si pemungut cukai murid Tuhan Yesus, yang menulis kitab yang mengawali Perjanjian Baru ini, tetapi jika Anda memerhatikan betapa rapi si penulis menyusun setiap tulisannya, bak lembaran-lembaran laporan pajak, seakan-akan memberi petunjuk kuat siapa yang ada di balik Kitab ini.

Matius mengawali tulisannya dengan silsilah yang dimulai dari nenek moyang orang Ibrani, Abraham, Ishak, dan Yakub. Matius juga menempatkan raja terbesar Israel: Daud. Dan, ia juga menempatkan Zerubabel, pemimpin yang paling legitimate setelah 70 tahun pembuangan Israel di Babilonia. Namun, di sisi lain Matius juga menempatkan wanita-wanita dalam silsilah yang disusunnya: sesuatu yang sama sekali tidak lazim. Dan, anehnya ia menempatkan wanita-wanita yang dianggap masyarakat Yahudi waktu itu ”kurang baik perangainya”. Tamar yang dikawini mertuanya, Rahab yang perempuan sundal, janda dari Moab: Rut, dan Batsyeba: selingkuhan Daud. Sejauh yang saya tahu, saya belum pernah melihat silsilah yang mengungkapkan borok tokoh yang dijunjungnya. Jika Anda berbelanja ke Mirota Batik, di situ tersedia gratis lembaran silsilah raja-raja Yogyakarta. Hampir tidak ada borok di sana. Jadi, Matius pasti memiliki maksud tertentu.

Pembagian-pembagian 14 nama—pasti dengan mengorbankan sejumlah nama tidak diikutsertakan dalam silsilah itu, yang menyebabkan beberapa orang ngotot silsilah Yesus salah—memang mengandung makna khusus sebab 14=2x7. Angka tujuh, sebuah angka sempurna di mata orang Yahudi, pada waktu itu memang disengaja Matius mengingat ia memang menujukan Injil ini kepada orang-orang Yahudi.

Benar, Matius memang menujukan Kitab ini untuk orang-orang Yahudi yang sedang menunggu-nunggu Mesias, raja keturunan Daud yang hendak membebaskan mereka dari cengkeraman Romawi dan membawa umat Israel kepada kejayaan Daud. Namun, Matius menawarkan Mesias yang lebih dari itu, Mesias yang membebaskan mereka dari dosa, itu yang ia jelaskan pada barisan tulisan-tulisannya selanjutnya.

Dan, Matius memang dengan sungguh-sungguh menjelaskan bahwa Yesus adalah Mesias: Raja. Dia sah karena berasal dari keturunan raja-raja. Memang di sepanjang tulisannya, Matius menekankan pribadi Yesus sebagai raja. Ia hati-hati memilih kisah, perumpamaan, mukjizat, dan pengajaran Yesus dan keterangan-keterangan yang ia berikan memang memberi petunjuk kuat bahwa Yesus adalah raja sah orang Israel. Itu wajar saja, sebab bagaimanapun waktu itu dinasti Daud memang sudah runtuh tinggal puing-puing saja. Dan, keluarga Yesus adalah keluarga sederhana dengan pekerjaan sederhana: tukang kayu (walau ada yang mengasumsikan tukang kayu dimasukkan dalam kasta kelas menengah waktu itu). Jika saya mengandaikan seperti tahun 2011 di Indonesia, Yesus seperti tukang bakso di Pasar Klewer yang masih keturunan raja-raja Mataram yang sudah runtuh. Jika si tukang bakso mengaku-ngaku berhak atas takhta kerajaan di Jawa, apa yang ada di benak Anda? Ya, kira-kira begitulah yang ada di benak orang Yahudi pada waktu itu. Keberadaan silsilah itu akan memperkuat legitimasi Yesus.

Memang, silsilah, bagi orang Yahudi sangat penting (jika Anda orang Batak, pasti tahu itu—jodoh pun tergantung silsilah Anda bukan?) dan sangat berpengaruh pada  soal-soal penghidupannya. Walau begitu pasti ada anomalinya. Misalnya, Matius yang orang Lewi, seharusnya ia bekerja sebagai imam—ulama, tetapi sewaktu ditemukan Yesus, ia malah bekerja di departemen perpajakan direktorat bea dan cukai (sebuah jabatan elit di Indonesia, tetapi karier yang dihujat di Palestina waktu itu). Yesus sendiri, keturunan ksatria, terpaksa menjalani hidup menjadi kaumwaisya. Semua itu karena angin politik yang sedang tidak berpihak kepada mereka dan banyak orang di kawasan itu. Silsilah itu membangkitkan kembali harapan orang-orang Yahudi yang menjadi pembaca Kitab Matius. Namun, silsilah yang sah tidak berarti jika tanpa hal-hal legitimate lainnya, oleh karena itu Kitab Matius tidak berhenti hanya di Pasal 1 ayat 17, masih ada 27 pasal selanjutnya he he he.

Sunday, December 4, 2011

Terbang

Angan melayang bagai terbang
menggapai yang tak tergapai
salah
terhempas
lepas
ngenas

Universitas Kristen Indonesia-Jakarta Universitas Swasta Tertua di Indonesia



Saat memasuki kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), bayangan kampus semasa saya kuliah dulu langsung terpampang di mata.

Saya mendapat kesempatan mengenal lebih dekat Universitas yang saya dengar sejak SD dari ayah ini, saat mewakili BPK Gunung Mulia.

Tuesday, November 29, 2011

Buku Philip Yancey Terbaru: DOA



Alkitab mengatakan ada suatu masa ketika Allah dan Adam berjalan bersama di Taman Eden dan berbicara sebagai sahabat.

Lalu, doa pun menjadi sama alaminya seperti obrolan dengan seorang rekan atau kekasih. Namun, kini banyak di antara kita yang menyuarakan komentar seperti ini: “Saya tidak selalu bersikap jujur saat berdoa. Kadang hal itu terasa seperti dipaksakan, mirip semacam ritual. Saya sekadar mengulangi kata-kata. Apakah Allah mendengarkannya? Haruskah saya melanjutkannya sekalipun tak yakin bahwa apa yang saya lakukan itu benar?” Banyak orang Kristen selalu menganggap doa sebagai hal yang penting—sekaligus membuat frustrasi: Jika Allah Mahatahu, buat apa kita perlu berdoa lagi?

Ditulis sebagai sesama peziarah, Philip Yancey mengupas topik ini—persimpangan misterius tempat Allah dan manusia bertemu dan berhubungan—dengan cara yang tidak biasa, dengan sudut pandang menyegarkan dan unik. Dalam buku ini Yancey mengeksplorasi berbagai permasalahan seperti:

  • Apakah Allah mendengarkan?
  • Mengapa Allah mau memedulikan kita?
  • Mengapa banyak doa yang tak terjawab?
  • Mengapa Allah membiarkan dunia berjalan sebagaimana adanya dan tidak melakukan intervensi?
  • Apakah doa bisa membantu kesembuhan fisik?
  • Mengapa Allah kadang-kadang tampak dekat, kadang-kadang tampak jauh?
  • Apakah doa mengubah Allah atau saya?
  • Bagaimana cara membuat doa terasa memuaskan?

Yancey mendukung jawabannya dengan penjelasan yang kuat mengenai pentingnya tempat Allah dalam doa dan mengapa kita harus menghargainya. Buku ini merupakan suatu undangan untuk berdoa pada Allah yang ingin berinteraksi dengan kita, bahkan memberikan kita kuasa untuk memengaruhi apa yang sedang terjadi.

“Jika doa merupakan tempat Allah dan manusia bertemu, saya harus mempelajari doa,” demikian tulis Yancey. “Saya telah menulis 20 buku, dan kebanyakan berkisar pada dua tema yang sama: mengapa Allah tidak melakukan apa yang kita inginkan dan mengapa saya tidak bertindak seperti yang Allah inginkan. Doa adalah titik tempat kedua hal ini bertemu.”

Tentang Penulis
Philip Yancey adalah kontributor di majalah Christianity Today. Ia telah menulis 12 buku yang meraih penghargaan Gold Medallion Award dan memenangkan dua penghargaan ECPA Book of the Year untuk buku What’s So Amazing About Grace? dan The Jesus I Never Knew. Empat buku karyanya masing-masing terjual lebih dari satu juta eksemplar. Ia tinggal di Colorado bersama istrinya.

Monday, November 14, 2011

Resah

Kegilaan ini tiada akhir
Gempur
Sikat
Pendam
Injak
...
Muncul

Saturday, November 12, 2011

Ketika Tuhan Berbisik -- Sebuah Imajinasi Liar Menggayakan Kisah dalam Alkitab

cover asyik

back cover gak kalah asyik

kalau ditaruh di meja



UKURAN              : 11 X 18 cm
KERTAS ISI           : Bookpaper 55 gr
CETAK                   : B/W
JUMLAH HAL      :  404 halaman
PENULIS               : Para Pemenang Lomba Menulis Cerpen dan Novelet Kristiani
ISBN                      : 978-979-687-575-7
HARGA                 : Rp 55.000,-
PENERBIT            : INSPIRASI

Buku ini berisi 5 cerpen dan 5 novelet pemenang Festival Penulis dan Pembaca Kristiani tahun 2010 yang diadakan oleh Komunitas Penjunan (Penulis dan Jurnalis Nasrani) yang bekerja sama dengan BPK Gunung Mulia. Ide dasar untuk semua cerpen dan novelet ini adalah kisah-kisah atau kitab-kitab di dalam Alkitab. Jadi ini merupakan suatu upaya menafsirkan Alkitab secara kreatif melalui cerita.

Narasi-narasi yang

Alkitab bertaburan cerita dan kisah. Bagaimana kalau ada yang menulis ulang kisah-kisah itu dalam bentuk prosa modern? Imajinasi liar para penulisnya bakal terpuaskan.

Berikut judul-judulnya beserta nama penulis.

Cerpen:
Getas: Yulius Tandyanto
Jericho: Y.E. Marstyanto
Perempuan, Patung, dan Burung Merpati: Gunawan Monoharto
Pesan Terakhir: Joanna Dyas Ekaristi Pepe
Nasib Paman Nahbi: Zuingli Santo Bandaso

Novelet:
Nyanyian Rimba: Indah Darmastuti
Tamu di Rumah Ayahku: Dina Novita Tuasuun
Tanjung 107: Riris Ernaeni
Masih Ada Yesus, Masih Ada Harapan: Lucya Pardede
Di Bawah Pohon Kamboja: Barnabas Eddy Junaedi Pepe

Friday, November 11, 2011

Halusinasi

Halusinasi di mataku
Kegilaan di hatiku
Gemetar di tanganku
Edan di otakku
Abu-abu
Kabut
Samar
Satu tangan menjaring angin


Thursday, November 3, 2011

Seri Little House: Pengelana rumah Kecil

Judul : Pengelana Rumah Kecil Seri : Little House (Seri Laura)
Penulis : Laura Ingalls Wilder
No. ISBN : 978-979-687-878-9
Ukuran :11x18cm
Tebal : 394 hlm.

Buku ini adalah buku kesepuluh dari seri Laura dalam seri Little House yang diterbitkan oleh Libri/BPK Gunung Mulia. Berbeda dengan sembilan buku sebelumnya yang memiliki ciri novel, buku kesepuluh ini berisi catatan perjalanan dan surat-surat yang ditulis oleh Laura Ingalls Wilder sendiri.

Laura Ingalls Wilder adalah seorang penulis dan pionir terkenal di Amerika Serikat. Ia menuliskan novel-novelnya berdasarkan pengalamannya semenjak ia masih kecil (terutama pengalamannya ketika ia ikut mengembara bersama keluarganya) sampai ia menetap dan berkeluarga.

Buku kesepuluh ini terdiri dari tiga buah tulisan—dua di antaranya pernah diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, yaitu Bagian Satu dan Bagian Dua (Bagian Satu adalah penerbitan ulang dari judul lama ”Dalam Perjalanan Pulang” sementara Bagian Dua dari ”Surat dari Jauh”. Tulisan ketiga, ”Napak Tilas” adalah bagian yang paling baru dan belum pernah diterbitkan.

Bagian Satu berisi catatan perjalanan yang ditulis Laura ketika mereka (Laura, suaminya Almanzo, dan putri mereka Rose) meninggalkan De Smet, Dakota, mencari rumah baru di Mansfield, Missouri (tahun 1894). Bagian Dua berisi surat-surat yang ditulis Laura kepada suaminya, Almanzo Wilder, ketika Laura sedang berada di San Francisco, mengunjungi putrinya, Rose (1915).

Bagian ketiga berisi catatan perjalanan Laura ketika ia bersama Almanzo melakukan ”tapak tilas” ke De Smet, dalam rangka persiapan menjelang penerbitan seri Little House (1931).

Dalam semua tulisan itu, Laura Ingalls Wilder tetap muncul sebagai seorang ”Pengelana Rumah Kecil”. Gadis pengelana seperti Laura tidak pernah berhenti mengalami hal baru dan menuangkannya dalam tulisan. Dalam buku ini, ia tetap menjadi saksi sejarah atas pertumbuhan Amerika Serikat. Baik bersama ayah-ibu dan saudari-saudarinya, bersama suami dan putrinya, maupun sendirian, baik naik gerobak yang ditarik kuda, kereta api, trem, maupun mobil Buick, Laura tetaplah seorang gadis pengelana yang antusias dan pengamat yang tajam.

Segala sesuatu yang dialami, dirasakan, dan dipikirkannya dalam semua perjalanan direkam dan dituangkannya dalam tulisan yang kini dapat dinikmati dengan baik oleh semua penggemarnya.

Buku ini terdiri dari 3 bagian atau tulisan berbeda. Tulisan pertama adalah bagian yang dulu pernah diterbitkan oleh PT BPK Gunung Mulia. Bagian ini berisi catatan perjalanan yang dibuat Laura ketika ia bersama suami dan putrinya, Rose, melakukan perjalanan ke Mansfield, Missouri, yaitu rumah baru mereka. Mereka melakukan perjalanan dengan menggunakan gerobak kuda, ditemani oleh keluarga Cooley. Perjalanan ini berlangsung sekitar 1,5 bulan. Ini merupakan perjalanan Laura ke rumah kecil mereka yang terakhir (sejak itu ia tidak pernah pindah ke tempat lain). Panenan yang buruk dan berbagai musibah yang terjadi di De Smet, Dakota Selatan, membuat Laura dan Almanzo mengambil keputusan ini. Tampaknya jiwa petualangan Laura dan jiwa petani Almanzo bersatu: Laura mencari petualangan baru, sementara Almanzo mencari tanah baru untuk digarap.

Laura menuliskan apa yang ia lihat, ia rasakan, dan ia alami dalam suatu buku catatan kecil dengan pensil. Bagian ini disertai banyak foto—bukan foto yang diambil Laura, tetapi merekam tempat-tempat dan/atau suasana yang dulu pernah dialami atau dilihat Laura.

Bagian atau tulisan pertama ini terhenti pada bagian ketika Almanzo dan keluarganya sudah sampai di Mansfield, Missouri, dan masih mencari tanah untuk ditinggali/digarap. Rose, putri mereka, membuat semacam epilog untuk bagian ini, yang menceritakan bagaimana akhirnya mereka memperoleh tanah yang mereka beli dan kemudian mereka garap. Tanah itulah yang kemudian disebut sebagai “Tanah Pertanian di Lereng Bukit” (Rocky Ridge).

Dalam bagian atau tulisan kedua, “Surat dari Jauh”, Laura melakukan sesuatu yang unik: ia mengunjungi putrinya, yang saat itu (tahun 1915) berusia 29 tahun—sementara Laura sendiri berusia 49 tahun—di San Francisco. Laura mengunjungi Rose dengan tujuan utama: melihat Pameran Internasional Panama-Pasifik di kota itu—di samping tentu saja ingin mengunjungi Rose. Mungkin, inilah untuk pertama kalinya Laura melihat sesuatu yang bersifat “internasional”. Ia juga mengalami banyak hal yang belum pernah dialaminya, seperti pertama kali merasakan sensasi pantai dan air lautnya di Samudera Pasifik.

Sesuai dengan judulnya, tulisan Laura memang merupakan surat, yaitu surat yang ditujukan pada suaminya, Almanzo. Laura meninggalkan rumahnya di Mansfield, Missouri, sejak 21 Agustus 1915, sampai ia kembali pada bulan November tahun itu juga.

Laura tampak antusias dengan pameran itu. Ia sangat sering menghadirinya, entah sendiri maupun bersama Rose. Ia selalu menemukan banyak hal yang bisa dibagikan kepada Almanzo melalui surat. Ia terkesan dengan banyak hal, terutama terkait dengan kebudayaan dan kemajuan zaman. Foto-foto dalam bagian ini—sama seperti foto dalam tulisan sebelumnya—tidaklah dibuat sendiri oleh Laura, namun memperlihatkan suasana dan pemandangan yang kira-kira dialami dan dilihat oleh Laura pada saat itu (namun, ada beberapa foto pribadi Laura yang tercantum).

Dalam perjalanan mengunjungi Pameran itu, Laura membuat beberapa artikel untuk Ruralist, surat kabar di Missoiuri yang biasanya memuat tulisan Laura. Laura juga sempat menuliskan resep masakan dari beberapa negara yang stand atau anjunganya sempat ia kunjungi di Pameran. Semua resep itu dicantumkan dalam akhir bagian kedua ini.

Dalam bagian atau tulisan ketiga, “Tapak Tilas”, Laura kembali menulis catatan perjalanan. Ia, kini berusia 64 tahun, melakukan perjalanan bersama Almanzo (yang usianya tentu jauh lebih tua pada saat itu) ke De Smet, Dakota. Perjalanan yang dilakukan pada tahun 1931 ini mereka lakukan dengan menggunakan sebuah mobil Buick dan berlangsung antara 6 Juni 1931 sampai 29 Juni 1931. Tujuan perjalanan ini tampaknya semacam persiapan sebelum Laura menerbitkan novel seri Little House-nya yang pertama (Rumah Kecil di Rimba Besar).

Ini semacam perjalanan “rewind”—putar balik—suatu perjalanan yang dulu pernah mereka lakukan, tetapi kini mereka lakukan secara terbalik: dari Mansfield, Missouri, ke De Smet, Dakota. Begitu juga, kini mereka hanya melakukannya berdua, dengan hanya ditemani Nero, anjing peliharaan mereka.

Dalam perjalanan, Laura mengontraskan banyak hal, terutama antara apa yang dulu pernah dilihatnya dan bagaimana keadaannya sekarang. Tulisannya tetap tajam dan detail. Ia bahkan mencatat pengeluaran yang mereka buat, seperti bensin, penginanpan, dan makan.

Mungkin, bagian yang mengharukan adalah kunjungannya ke keluarga Carrie dan Grace—dua orang adiknya. Mereka memang tinggal di De Smet (atau di sekitar kota ini). Keduanya tampak sakit-sakitan dan tidak sehat. Laura pun sempat berjumpa dengan beberapa orang yang pernah dikenalnya dari masa gadisnya dulu di De Smet. Namun, tulisan Laura tampak dewasa, tidak emosional. Ia tampak dapat mengambil jarak dan menilai dengan objektif. Laura memang seorang penulis yang andal dan tajam.

Buku ini merupakan salah satu karya dari salah seorang penulis terbaik di Amerika Serikat dan dunia. Selain itu, buku ini—dan semua judul lain dalam seri ini—sudah mengalami beberapa kali cetak ulang.

Buku ini memiliki basis penggemar tersendiri. Di dunia, banyak kelompok penggemar Laura Ingalls. Di internet, banyak situs yang didedikasikan bagi Laura Ingalls. Bahkan, di Amerika Serikat, tempat-tempat yang pernah ditinggali/dilewati Laura Ingalls dan keluargannya menjadi tempat bersejarah yang sering dikunjungi orang.

Walaupun karakter buku ini sedikit berbeda dengan 9 buku lainnya dari Laura Ingalls Wilder, namun ciri khas tulisan Laura tetap muncul di sini. Ia tetap menulis dengan ketajaman dan suara hati yang jelas. Pembaca dapat melihat karakter dan kepribadian Laura melalui tulisan ini, juga kebiasaan dan kegemarannya yang suka mengamati dan membuat penilaian

Buku ini, jika ingin ditarik pesan moralnya, adalah buku yang memperlihatkan bagaimana semangat keterbukaan Laura terhadap dunia luar sangat besar. Laura sangat tertarik dan tertantang dengan hal-hal baru dan bersifat petualangan. Dengan berbagai motivasi, buku ini memperlihatkan hal tersebut.

Buku ini ditulis dengan gaya yang enak dibaca dan gaya bercerita yang lancar dan mengasyikkan serta diselingi berbagai foto yang monumental yang memotret pemandangan yang kira-kira dialami oleh Laura sendiri ketika ia melakukan perjalanan atau pengamatan dalam buku ini.

Buku ini menceritakan banyak hal yang informatif: situasi/keadaan di beberapa tempat di Amerika Serikat (suasana antara De Smet, Dakota, dan Mansfield, Missouri, pada tahun 1894, dan perbandingannya pada tahun 1931, perjalanan Laura ke San Francisco, dan suasana kota San Francisco pada tahun 1915).

Laura tetaplah Laura. Ia berkelana semenjak masih kanak-kanak dan tetap berkelana meski sudah memasuki usia senja. Ia telah bepergian menggunakan gerobak kuda, kereta api, dan mobil, baik sendirian, bersama orangtua dan kakak-adiknya, dengan suaminya, maupun beserta putrinya. Selama 60 tahun perjalanannya, ia telah memperhatikan bagaimana waktu, musim, dan manusia mengalami perubahan. Namun, ada satu hal yang tetap sama: Laura selalu siap dengan pensil dan kertas untuk mencatat seluruh pengalamannya.

Buku yang merupakan gabungan dari tiga kumpulan tulisan Laura ini menjadi saksi bahwa gadis pengelana seperti dirinya tidak pernah berhenti mengalami hal baru dan menuangkannya dalam tulisan. Seperti tertulis pada salah satu pengantar dalam buku ini, Laura tetaplah seorang pengamat yang tajam dan pengelana yang antusias.

Little House—Seri Laura
Laura Ingalls, gadis pionir favorit Amerika Serikat, menuliskan pengalamannya ketika ia bersama keluarganya melintasi padang rumput, hutan, dan pegunungan di wilayah Wisconsin, Kansas, Minnesota, dan Dakota Selatan. Berkelana dengan menggunakan gerobak kuda bertutup terpal, ia menjadi salah seorang saksi mata pertumbuhan Amerika Serikat yang sedang berkembang menjadi suatu negara maju. Selain menjadi salah satu karya sastra terbaik di Amerika Serikat dan dunia, tulisannya sarat dengan pesan mengenai kerja keras, ketekunan, keberanian, tolong-menolong, dan jiwa petualangan.
Tentang Penulis
Laura Ingalls Wilder (6 Februari 1867-10 Februari 1957), adalah seorang penulis dan gadis pionir favorit di Amerika Serikat. Kisah pengembaraannya di wilayah Barat menjadi salah satu kisah yang inspiratif bagi banyak orang di Amerika Serikat. Karya tulisannya segera menjadi salah satu karya sastra terbaik pada waktu itu. Ia lahir di Pepin, Wisconsin, dan bersama keluarganya mengembara ke Independence, Kansas. Sekitar setahun di sana, keluarganya pindah ke Walnut Grove, Minnesota. Dari sana, mereka pindah lagi dan menetap di De Smet, Dakota Selatan. Ia tumbuh dan berkembang dalam dunia pengembaraan, sebelum akhirnya berjumpa dengan Almanzo Wilder dan menikah dengannya pada tahun 1885. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Rose yang lahir di De Smet, Dakota Selatan. Semua kisahnya tersebut terangkum dalam 9 novel karyanya dan sebuah buku yang berisi kumpulan catatan perjalanan dan surat-menyuratnya.

Thursday, October 27, 2011

Majalah INSPIRASI November 2011

Telah terbit majalah INSPIRASI INDONESIA November 2011. Majalah Inspirasional, Spiritual dan motivasional. Topik Utama, “Stop Mentalitas Sedang-sedang Saja”: Berani Keluar dari Zona Nyaman. Sebab, Hidup itu bisa indah. Hidup juga bisa susah. Yang pasti hidup selalu berubah. Dunia selalu berubah, kalau kita tidak berubah kita akan punah. Simak selengkapnya di majalah INSPIRASI Indonesia. Masih ingat lagu berjudul Sentuh Hatiku? Menjelang Natal 2007, setiap malam lagu ini mengalun lembut di RCTI karena menjadi soundtrack sinetron Sentuh Hatiku. Ada kisah pilu di balik lagu itu. Simak kesaksian penciptanya dan pengalaman Maria Shandi, sang vokalis, yang melihat banyak orang dipulihkan, disembuhkan karena lagu itu. Bagaimana menyembah Bapa dalam Roh dan Kebenaran? Apakah hal ini juga berarti kalau kita sebenarnya tidak perlu tempat khusus untuk beribadah? Temukan jawabannya di majalah INSPIRASI. Dapatkan majalah INSPIRASI November 2011. Hanya Rp 20.000, di Toko BPK Gunung Mulia dan toko buku kesayangan Anda. Facebook: Inspirasi Indonesia. Twitter: inspirasimagz. Langganan, bebas ongkos kirim dan diskon 15%. Silakan hubungi 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com. Nyatakan iman melalui perbuatan bagi sesama dan Indonesia. Salam Inspirasi

Sunday, October 9, 2011

Emeritus: Buku Putih Sepuluh Tahun Tak Terucap


Kehidupan pendeta dan keluarganya seperti di rumah kaca. Hampir tiap orang dapat melihat dari luar apa saja tingkah polah mereka. Keluarga pendeta menjadi bahan empuk pergunjingan di antara warga. Hampir tanpa dapat membela diri. Namun, siapa yang dapat mengerti apa yang ada di dalam benak sang pendeta? Tahun 2001, suatu hari di kawasan istora senayan, ada kebaktian semacam kebangunan rohani yang dihadiri tidak kurang dari 10.000 orang. Menurut saksi mata yang hadir di sana, semua tempat duduk penuh sesak. Namun, ada yang tidak lazim dalam kebaktian itu. Itu bukan kebaktian biasa. Ini adalah kebaktian pengutusan salah satu pendeta senior gereja tersebut kepada pelayanan marketplace. Namun, pendeta tersebut bukan melayani kaum pebisnis. Ia diutus untuk menjadi pebisnis itu sendiri. Seorang sumber merasakan atmosfer aneh dalam kebaktian itu. “Bagaimana mungkin pendeta melepaskan diri dari dunia yang “kudus” dan dipuja jemaat, masuk ke dunia asing yang penuh onak dan muslihat?” batinnya. Novel ini memberi penjelasan, ternyata ia dipensiun dini. Atau, seperti diakui si tokoh utama, ia memensiunkan diri. Suatu keadaan yang sangat tidak lazim terjadi dalam gereja-gereja sejenis dengan gereja tersebut. Sebuah keretakan yang dibalut dengan hiasan yang gegap gempita. Novel karya Ita Siregar ini bergerak cepat dengan konsep flash back si tokoh utama disambut flash back lain yang lebih detil. Pembaca tidak dibiarkan satu detik pun mengambil napas dan mencerna kisahnya sampai satu bab itu berakhir. Si tokoh utama mengambil sudut orang pertama dengan tokoh aku, merangkai kisah-kisah flashback seperti menyatukan puzzle. Puncaknya saat ia akhirnya jatuh ke pelukan wanita malam satu ke wanita malam yang lain karena menghadapi frustrasi karena terbelit lingkaran setan pelayanan, komunikasi dengan istri yang dingin, dan idealisme batin dia tentang arti sejati mempersembahkan hidup kepada Tuhan. Dalam novel yang diangkat dari kisah nyata ini, semua isi hati pendeta—yang selama ini hanya dapat diduga-duga, terkuak. Ini semacam pembelaan sunyi sang pendeta terhadap simpangsiur selama ini berita tentang hidupnya. Saya kira juga pembelaan sunyi para pendeta dan keluarganya terhadap tekanan sosial yang berat menimpa mereka. Pendeta juga manusia, punya problema yang sama dengan kita. Punya kesalahan yang sama. Dan, berhak diberi kesempatan kedua, ketiga, keseratus, atau berapa pun. Yang sangat menarik dalam novel ini, terdapat petikan sejarah tahun 70-an saat persekutuan mahasiswa Kristen (PMK) menjamur di berbagai kampus pasca diberlakukannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) terkait peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974). Apakah booming PMK-PMK dengan diberlakukannya NKK/BKK ada hubungannya, dapat diperdebatkan. Namun, pentolan-pentolan PMK-PMK ini pasti sekarang sudah menduduki jabatan strategis di berbagai instansi yang mereka pimpin. Termasuk kawan seperjuangan si tokoh utama dalam novel ini. Judul: Emeritus Sub Judul: Memoar Seorang Pendeta Genre: Novel Harga: Rp 55.000,- Penulis: Ita Siregar ISBN: 978-979-687-953-3 Tebal: 322 halaman Berat: 200 gram Ukuran: 11,5 cm x 18 cm

Monday, October 3, 2011

Majalah INSPIRASI Oktober 2011

Telah terbit majalah INSPIRASI INDONESIA Oktober 2011. Majalah Inspirasional, Spiritual dan motivasional. Kali ini, mari kita kembangkan “Kecerdasan Interpersonal.” Apa artinya? Apa pentingnya dalam kehidupan sehari-hari? Simak selengkapnya dalam edisi Oktober ini. Ikuti juga, rahasia Andy F. Noya, pengasuh “Kick Andy” dalam berelasi. Juga, ikuti pendapat Anthony Dio Martin, Indayati Oetomo “John Robert Powers”, dan Imanuel Kristo tentang kecerdasan Interpersonal. Siapa sangka di balik penampilan garang seorang rocker, Piyu adalah family man? Ia juga punya kepekaan hati terhadap getaran suara ilahi. Cita rasa religius itu kadang ia wujudkan dalam lirik dan nada lagu-lagu ciptaannya. Terlebih dari itu, ia bahkan mengaku bahwa sebagian besar lagu yang ia gubah mendapatkan inspirasi dari Alkitab. Tips bagi Anda: Warna rumah Anda berdampak pada suhu dalam rumah. Cara mengatasi pimpinan yang suka menyalahkan. Atasi Darah Tinggi Dengan Olahraga dan Tidur Cukup. Kapan Saat Yang Tepat Menghukum Anak? Dapatkan majalah INSPIRASI Oktober 2011. Hanya Rp 20.000, di Toko BPK Gunung Mulia dan toko buku kesayangan Anda. Facebook: Inspirasi Indonesia. Twitter: inspirasimagz. Langganan, bebas ongkos kirim dan diskon 15%. Silakan hubungi 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com. Nyatakan iman melalui perbuatan bagi sesama dan Indonesia. Salam Inspirasi

Friday, September 30, 2011

Slanker Sejati Punya Karya: Astina Triutami & Novel Aku Bukan Budak

Peluncuran buku Aku Bukan Budak dilaksanakan pada 22 September 2011 di Bentara Budaya Jakarta. Acara yang diawali dengan happening art yang diperankan Putrika Tobing dan Pricillia Watimurry yang menggambarkan perjuangan seorang Tenaga Kerja Migran di luar negeri. Happening art tersebut diiringi salah satu cuplikan tulisan Astina dalam novelnya. Dalam peluncuran, novel tersebut dikomentari oleh budayawan Prof Jakob Sumardjo, aktivis Migrant Care Wahyu Susilo, dan Arswendo Atmowiloto. Arswendo mengungkapkan, karya Astina termasuk apa yang disebut sastra reality, karya sastra yang diangkat dari perjalanan hidup atau kisah nyata. “Makin unik pengalaman si penulis, makin menarik kisahnya. Kisah semacam ini, biasanya dituliskan dengan gaya aku atau saya,” tuturnya. Ratna Sarumpaet juga mengapresiasi karya perempuan yang hanya tamatan SMP ini. "Karya yang hebat," katanya.. Novelnya sendiri berkisah dengan awal kehidupan Astina di Probolinggo. Karena orangtua sering cekcok, dia lari dari rumahnya di Probolinggo, ke Bandung tanpa uang sepeser pun. Ditolong komunitas Slanker Bandung. Jadi anak jalanan. Kemudian jadi TKW di Hongkong. Kisahnya mengalir ringan tanpa menonjolkan kencengengan walaupun banyak ditempa penderitaan. Kesan yang kuat adalah keteguhan Astina dalam mewujudkan cita-cita dan harapan dalam hidupnya walau tantangan mengadang. Alur yang sangat detail dan dialog-dialog bernas yang mengisi sepanjang novel ini menjadi kekuatan yang mungkin tidak mampu disaingi oleh novelis senior sekalipun.

Monday, September 19, 2011

Rambah

Kala tak terduga Menit tak terselami Waktu tak terpaku Zaman tak digenggam Ruang Luas Sempit Halang Tutup

Thursday, September 8, 2011

Nasib Orang Siapa Tahu

Selama liburan lebaran kemarin, banyak acara reunian. Dan hasil reuni-reuni tersebut ditampilkan di situs jejaring paling populer saat ini, Facebook. Ada reunian SMP-ku, SMP istri, SMA teman kantor. Kesimpulan yang diambil adri reuni itu. 1. Datang reuni perlu nyali he he he he. Termasuk aku yang gak datang, apakah aku tidak punya nyali. Silakan pikir sendiri. 2. Nasib seseorang tidak punya korelasi positif dengan rangking sekolah. 3. Nonton reunian membuat kita merasa muda kembali ha ha ha ha.

Monday, September 5, 2011

Majalah INSPIRASI September 2011

Telah terbit majalah INSPIRASI INDONESIA September 2011. Majalah Inspirasional, Spiritual dan motivasional. Tema kali ini: Mari kita mengasah kecerdasan spiritual. Sebab, orang yang cerdas spiritual bak berindra keenam yang bisa merasakan getaran lembut lirih dan hati murni Allah terhadap setiap insan tak soal apa agama mereka, bahkan tak soal apa mereka beragama atau tidak. Ikuti kisah mereka yang punya kecerdasan spiritual. Ajeng Kamaratih, presenter Seputar Indonesia; Choki Sitohang; dan orangtua yang mengampuni pembunuh dan pemerkosa anak mereka. Ikuti juga jejak kekristenan di budaya Betawi melalui GKP Kampung Sawah. Lalu, bagaimana kalau sudah lama minta kesembuhan dari Allah, tapi tidak dikabulkan? Salah siapa? Tips praktis: Sukses presentasi tanpa kehilangan fokus. Kunci hubungan harmonis di kantor. Membangun rasa percaya anak. Apakah harus jadi PNS? Ruth Sahanaya mengatasi konflik dengan doa. Cara unik Becky Tumewu baca ayat Alkitab. Kisah Advent Bangun menyingkirkan ilah lain dalam hidupnya. Dapatkan majalah INSPIRASI September 2011. Hanya Rp 20.000, di Toko BPK Gunung Mulia dan toko buku kesayangan Anda. Facebook: Inspirasi Indonesia. Twitter: inspirasimagz. Langganan, bebas ongkos kirim dan diskon 15%. Silakan hubungi 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com. Nyatakan iman melalui perbuatan bagi sesama dan Indonesia. Salam Inspirasi

Mengatasi Kejenuhan

Hari ini ikuti kebaktian di kantor. Pengisi renungan adalah Pdt. Hilda Pelawi nas: Pengkhotbah 1:1-11 Berikut ringkasannya: 1. "Rasa baru" menghilangkan rasa jenuh. 2. Ketika kita harus melalui proses yang sangat panjang, hal itu menimbulkan kejenuhan. 3. Kerutinan pun juga menyebabkan kejenuhan. 4. Ketika kita melewati proses yang datar, hal itu pun menjenuhkan. 5. Gak punya tujuan atau "Where to Go" gak ada, tentu jenuh. Bagaimana mengatasi kejenuhan? 1. Berpikir bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah titipan Tuhan. 2. Kehidupan adalah kesempatan untuk melayani Tuhan. 3. Melihat lebih dalam, melampaui hal-hal yang kasat mata.

Wednesday, August 31, 2011

Saturday, August 27, 2011

Meong dari Penerbit LIBRI


Membangun Karakter Anak Lewat Cerita yang Menghibur

Judul: Meong
Penulis: Debora Toety Maklis
Ilustrator: Nana Ruslana
Penerbit: Libri
Tebal: 20 hlm
ISBN: 9789796874934
Harga: Rp 20.000,-

Kisah sederhana tentang seekor kucing yang tidak mau berburu sendiri untuk makanannya, ternyata bisa diangkat untuk mengasah watak anak. Si kucing karena saking malasnya sering mencuri hasil buruan teman-temannya sesama kucing. Suatu hari ia terkena batunya, karena haru berebut makanan dengan bangau. Akibatnya, ia harus berjuang keras untuk memperoleh makanannya. Namun, anehnya perjuangannya membuat si kucing merasa lebih gembira. Toety Maklis dengan cerdik sengaja membiarkan akhir cerita secara terbuka.




Buku ini dikonsep penuh warna dan ditulis dalam bahasa Indonesia-Inggris dan merupakan bagian dari Seri Semut. Seri Semut merupakan kumpulan kisah yang menceritakan keseharian anak-anak lewat berbagai tokoh binatang. Melalaui kisah-kisah menarik tanpa menggurui tersebut, anak-anak diajak belajar untuk membangun karakternya seperti: disiplin, kerja keras, tekun, pantang menyerah, taat, rendah hati dll.

(Bayu Probo)

Friday, August 26, 2011

Rasa Ini Membuatku Gila

Gila bener dengan rasa ini
jangan sekarang
mengapa?
dulu saja
mengapa?
muncul tiba-tiba
mengapa?

Friday, August 12, 2011

Satu Hari Penuh Keajaiban



Judul: Satu Hari Penuh Keajaiban
Penulis: Ita Siregar
Tebal: 110 halaman
Penerbit: BPK Gunung Mulia
Harga: Rp 22.000,-

Tidak banyak novel pra-remaja yang mengusung nilai-nilai kristiani. Setelah era buku-buku petualangan karya Enid Blyton, kisah-kisah petualangan remaja-remaja dalam novel lebih banyak dibumbui cerita percintaan. Sering bumbunya, terlalu dominan.
Makin langka lagi, novel pra-remaja yang mengambil latar belakang masa-masa Alkitab. Saya kira Satu Hari Penuh Keajaiban ini satu-satunya novel pra-remaja yang Sali ditulis dalam bahasa Indonesia yang memakai latar zaman Yesus berkarya di dunia.
Dengan tokoh utama, remaja umur 12 tahun, Yoel, novel ini dibuka dengan apik tentang sebuah keluarga Yahudi abad pertama Masehi. Keluarga yang akrab dan kompak, yang kepala keluarga sudah meninggal karena terserang penyakit.
Si Yoel, dengan tingkah khas anak abg, bersama empat sahabatnya punya obsesi untuk melihat Yesus dari dekat. Mereka tinggal di Betsaida, kota pinggir danau Galilea, tidak jauh dari kampung halaman Yesus. Sebelumnya mereka sudah mendengar tentang kisah-kisah aktivitas Yesus dari orang-orang.




Tentu saja, mereka bertemu Yesus. Namun, cara penggambaran Ita Siregar tentang pertemuan ini, sangat cerdik. Sebab, Ita menyisipkan tokoh Yoel dalam salah satu cerita mukjizat yang Yesus buat. Ia memanfaatkan tokoh yang dalam Alkitab anonim, sehingga membuka peluang untuk mengembangkan kreativitas. Akibatnya, si Yoel menjadi tokoh yang sangat berperan terhadap terjadinya mukjizat tersebut. Cerdiknya, kisah Alkitabnya sendiri tidak tercederai oleh masuknya tokoh Yoel dalam jalinan kisah.
Buku yang dilengkapi ilustrasi asyik karya Toto Winarmo ini, bisa menjadi awal yang baik untuk belajar Alkitab para pra-remaja kita.

Tuesday, August 9, 2011

Majalah INSPIRASI Agustus 2011

Majalah INSPIRASI INDONESIA Agustus 2011. Majalah Inspirasional, Spiritual dan
motivasional. Kali, ini Anda bakal mendapat inspirasi dari mereka yang peduli,
sosok yang telah melakukan tindakan nyata untuk memberdayakan kaum yang
terpinggirkan, terbuang, dan tertindas. Misalnya: Johnson Panjaitan, Yakoma PGI,
anggota DPR dari Belitung, Ahok.

Simak juga, Denny Sumargo, pebasket terbaik Indonesia, mengelola masalah menjadi
berkah. Awalnya ia diusir dari rumah karena mencuri. Akhirnya ia menemukan bahwa
sebuah keberhasilan akan bisa diraih jika diusahakan dengan pikiran positif,
upaya keras dan disiplin serta sikap bersyukur.
Baca juga tips-tips menarik: cara sukses wawancara kerja, bagaimana cara berani
berbicara di muka umum?
Jangan lupa nikmati tulisan Andar Ismail: teka-teki Alkitab.

Dapatkan majalah INSPIRASI Agustus 2011. Hanya Rp 20.000, di Toko BPK Gunung
Mulia, Immanuel, Goodnews, Paperclips, Haleluya, Metanoia, Visi, Victory,
Pondok Mazmur, Pondok Daun, Kalam Hidup, Gramedia. Facebook: Inspirasi
Indonesia. Twitter: inspirasimagz. Langganan, bebas ongkos kirim dan diskon 15%.
Silakan hubungi 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com.
Nyatakan iman melalui perbuatan bagi sesama dan Indonesia.
Salam Inspirasi

Bayu Probo
Relationship PT BPK Gunung Mulia
Saat Teduh dan Majalah INSPIRASI
Jl. Kwitang 22-23 Jakarta 10420
rm@bpkgm.com
telp: 021-3901208 ekst: 213
HP: 081567607206

Saturday, August 6, 2011

Hai Cewek Berkerudung

Hai cewek berkerudung,
Lama kupandang wajahmu dari jauh
Tidak berubah sejak aku mengenalmu belasan tahun lalu
Sejak aku bertindak
Bak seorang pengecut
 
Hai cewek berkerudung
Maafkan aku
 
Cintaku takkan pudar
 
Hai cewek berkerudung
Nikmatilah waktumu kini
 
Nikmatilah
Saat engkau bertemu Allah
Berzikir dan meneteskan air mata
 
Nikmatilah keindahan Sang Pencipta
Yang penuh rahmat dan maha
 
Hai cewek berkerudung
Jangan lupakan aku

Sunday, July 10, 2011

Mbahmu Kiper



"Mbahmu Kiper" ... umpatan yang sering terdengar pada zaman aku kecil. Arti harfiah dalam bahasa Indonesia adalah, "Kakek/Nenekmu penjaga gawang."
Aku berusaha searching di internet dan tidak dapat menemukan asal mula umpatan ini. Kalau menilik muncul di era tahun 80-an di daerah Solo (yang 9 juli 2011 lalu habis berhasil menyelenggarakan kongres luar biasa PSSI), mungkin ungkapan ini muncul dari celoteh Ketoprak Wahyu Budoyo, atau dari lawakan Srimulat. Entahlah. Kalau teman Anda menyebalkan ucapkan saja, "Mbahmu kiper." Tentu saja dia akan menjawab, "Ora, Mbahku pensiunan hansip." he he he he.

Kalau cucunya Edwin van der Sar diumpat, "Mbahmu kiper," apa jawabnya? Tentu saja jawabnya, "Emang." Namun ada dua pertanyaan tambahan. Pertama, emang Edwin sudah punya cucu? Kedua, apa cucu si Edwin bakal tahu bahasa Jawa?

Wednesday, June 29, 2011

Sekolah Saint John Mengisi Acara di BPK Gunung Mulia

Sewaktu peresmian pojok anak, sekolah Saint John mengisi acara menari "jaranan".

Berkunjung ke toko BPK Gunung Mulia

Mari kita berkunjung ke toko BPK Gunung Mulia Jakarta. Di Jl. Kwitang 22-23 Jakarta Pusat.

Saturday, June 25, 2011

Little House Fans Club Indonesia



Acara heboh pada waktu Temu Penggemar Laura Ingalls pada 25 Juni 2011 di toko BPK Gunung Mulia.








Monday, June 20, 2011

Bedah Buku Seri Little House di Radio Sonora



Pada 19 Juni 2011 lalu, saya dapat kesempatan untuk melakukan bedah buku seri Little House di radio Sonora.

Saturday, June 18, 2011

Cara Menata Rambut ala Justin Bieber

Sewaktu saya ke pernikahan saudara. Ada adik yang memberi petunjuk cara berdandan ala Justin Bieber. Gak mengira, ternyata ada trik khusus untuk berdandan ala Justin Bieber ini.
Silakan menikmati.

Thursday, June 9, 2011

Pertemuan Penggemar Laura Ingalls




  • Teman-teman yang pernah nonton Little House in The Prairie yang dibintangi Michael Landon, Melissa Gilbert, Karen Grassle, Melissa Sue Anderson, Lindsay and Sidney Greenbush, Matthew Laborteaux, Richard Bull, Katherine MacGregor, Alison Arngrim, Jonathan Gilbert, Kevin Hagen, Dabbs Greer, Victor French, Merlin Olsen, Dean Butler, Linwood Boomer, Shannen Doherty, Allison Balson, Missy Francis, Jason Bateman, dan Leslie Landon (wah panjang banget), akan ada pertemuan nih.

    Pada, Sabtu 25 Juni 2011
    di Toko BPK Gunung Mulia, Jl. Kwitang 22-23 Jakarta 10420
    Pukul 09.00 - 12.00 WIB

    Acara:
    • Bedah Buku
    • Demo Masak Resep Keluarga Charles Ingalls
    • Nonton bareng
    • Pembentukan Little House Fans Club Indonesia

    Cukup pake kontribusi Rp 50.000,- (bisa transfer ke BCA 0353074749 or cash)
    bakal dapat
    • Kaos penggemar buku Seri Little House
    • Snack
    • Lunch
    • Kartu member penggemar buku Seri Little House
    • Diskon buku sampai 70%
    Pendaftaran silakan kontak:
    Cicilia
    telp: 021 3901208 ext 213
    HP: 081567607206
    email: cicilia@bpkgm.com

    FB: BPK Gunung Mulia

    Wednesday, June 8, 2011

    A to Z Happy Habits: Mengasah Jiwa Menggapai Bahagia



    Judul buku                      : A to Z Happy Habits: Mengasah Jiwa Menggapai Bahagia
    Judul Asli                         : The Happiness Factor
    Penulis                              : John Partington dan Shane Dean
    Penerjemah                     : Albertus Budi Prasetyo
    Tebal                                  :  164 halaman
    ISBN                                   : 978-979-687-863-5
    Penerbit                            : INSPIRASI (Imprint BPK Gunung Mulia)
    Harga                                 : Rp 27.000,-



    Apabila Anda tidak gila pasti Anda ingin bahagia. Anda tidak sendiri, sebab kebahagiaan adalah hal yang diingini semua orang di dunia dan telah mendorong para filsuf selama ribuan tahun mengabdikan hidupnya untuk menemukan suatu “resep kebahagiaan”. Sayang, sebagian besar gagal.

    Padahal, riset membuktikan bahwa orang yang bahagia lebih produktif, merasa lebih muda, hidup rata-rata tujuh tahun lebih lama, merasa lebih sehat, memliki tekanan darah lebih rendah, dan tingkat hormon pemicu stress lebih rendah.

    Lalu di mana letak kebahagiaan?

    Buku ini menguraikan berbagai cara sederhana untuk menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan dan mempertahankannya. Pembaca hanya perlu mengembangkan kebiasaan-kebiasaan positif yang disertai dengan langkah-langkah praktis untuk memperoleh kebahagiaan dalam hidup sehari-hari.

    A to Z Happy Habits dibagi dalam 26 bab yang mewakili alfabet faktor-faktor kebahagiaan. Dari huruf A sampai huruf Z.  Masing-masing memiliki arti unik. Misalnya: Attitude, Inner Peace, Quality.

    Lebih dari itu, A to Z Happy Habits akan menolong Anda menyebarkan kebahagiaan kepada segenap keluarga dan teman-teman.

    Ingatlah hidup ini singkat, jadi marilah kita jalani hidup tiap hari seakan-akan itu hari  terakhir kita. Dan, marilah kita mengisi hidup kita dengan makna, tujuan, dan tawa.

    Tuesday, June 7, 2011

    Paskah PPST di Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala

    Foto bareng Persekutuan Pembaca Saat Teduh dan murid dan pengajar YPD Rawinala

    Persekutuan Pembaca Saat Teduh (PPST) berbagi kasih dengan guru dan murid Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala. Dikemas dalam perayaan Paskah, anggota PPST berkunjung ke panti asuhan dan sekolah khusus anak-anak penderita cacat ganda itu. Mereka semua mengalami kebutaan ditambah cacat lain.



    Rombongan PPST di Rawinala di kawasan Balerante, Kramatjati, Jakarta Timur mendapat sambutan penuh sukacita dari tuan rumah. Pada Sabtu pagi, 14 Mei 2011, acara dibuka dengan puji-pujian. Pdt. Siahaan kemudian membagikan firman dari Filipi 2:1.

    Pdt Siahaan


    Acara dilanjutkan dengan persembahan pujian dari Band Rawinala. Ternyata, kualitas band mereka sangat bagus. Tidak heran, jika band Rawinala tersebut diundang di mana-mana. Bahkan pernah tampil di acara Kick Andy.



    Bintang tamu pada acara Paskah ini adalah Elizabeth Putri Estrya Simanjuntak, finalis Indonesian Idol 2008. Gadis yang biasa disapa Ibeth Idol ini mempersembahkan beberapa lagu pujian diiringi Band Rawinala. Bahkan dia juga berduet dengan salah satu murid Rawinala.

    Ibeth Idol duet dengan murid Rawinala


    Pada akhir acara, para anggota PPST membagikan bantuan kepada Yayasan Pendidikan Rawinala. Bantuan berupa sembako tersebut memang salah satu kebutuhan untuk operasional panti asuhan.

    Penyerahan bantuan PPST kepada Rawinala

    Geronimo Stilton produk BPK Gunung Mulia


    Boneka Geronimo Stilton yang sedang tampil di Gramedia Artha Gading tersebut, menjadi bagian dari ajang promosi buku terbitan LIBRI (imprint BPK Gunung Mulia).

    Si Geronimo Stilton adalah tikus yang menjadi wartawan. Unik kan.

    Monday, June 6, 2011

    Lilo Main Pasir di Ancol

    Aku coba upload lagi Lilo yang sedang main pasir di Ancol. Semoga sukses.

    Kenangan Laura Ingalls



    “Yang menarik dari Laura adalah arti pentingnya ‘perjuangan’. Hidup itu harus berjuang dalam bentuk apa pun, bahwa tantangan selalu ada, tak pernah berhenti. Itu yang paling saya kagumi dari Laura,” demikian ungkapan Niniek L Karim ketika bercerita tentang buku yang paling dikaguminya.

    Buku ataupun film dapat menjadi kisah yang menyenangkan bagi setiap orang, tetapi tidak semua orang menyimpan cerita itu hingga dewasa. Hal itu dialami oleh Niniek L Karim, artis dan dosen Psikologi yang masih menyimpan kisah Laura Ingalls dalam buku Little House on The Prairie karya Laura Ingalls Wilder. Kenangan kisah gadis kecil energik dan kadang usil itu masih tersimpan kuat dalam memori Niniek hinga saat ini. Niniek merasa buku itu telah mengajarkan tentang kerja keras dan tidak pernah mengeluh dalam menghadapi persoalan serta kehangatan keluarga.
    Buku itu pula yang membuatnya mengenal dengan baik negeri empat musim, termasuk bagaimana imigran pertama kali datang ke Amerika. Meski saat ini dia merasa sudah cukup tua untuk mengingat masa kecilnya ketika pertama membaca karya Laura Ingalls, tetapi perasaan yang tertanam dari buku tersebut masih kuat dalam dirinya. Niniek menceritakan ketika dia berkunjung ke Perancis dan Belgia, saat mengunjungi desa di sana ingatannya akan kisah yang ditulis Laura langsung mencuat meski telah berlalu puluhan tahun sejak dia membaca buku tersebut.
    Begitu kuatnya kesan tertanam dari buku cerita anak itu, Niniek tidak dapat menahan dirinya untuk turun dari mobil ketika melewati sebuat peternakan di pedesaan di Perancis. “Saya ingin mencium bau jerami, saya ingin megang gulungan jerami itu, karena waya ingat Laura bermain di tumpukan jerami hingga dimarahi ayahnya,” kenang wanita yang memiliki nama Sri Rochani Soesetio Karim itu.
    Meski mengakui sangat gandrung terhadap buku cerita tersebut, Niniek menyatakan, dia tidak mengikuti apa yang dilakukan Laura dan Merry dalam cerita itu. Jika kemudian Niniek kadang berbuat usil terhadap dosennya dahulu itu bukan meniru tingkah laku Laura, tetapi diakuinya, “Saya rasa saya memang begitu (usil) juga, dan kalau saya menjadi pengajar bukan karena meniru Merry, tetapi pilihan hidup saya,” ujar ibu dari Azsansandra dan Sharlini Cita tersebut.
    (UMI/LITBANG Kompas)