Monday, January 31, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 031

Wajah imam itu kembali kemerahan karena menahan malu.

"Walau saya percaya engkau—sebab pekerjaanmu melayani Tuhan seumur hidupmu—mengetahui semua tradisi kita." Pria tua itu menambahkan, "Termasuk tentang perkawinan. Saya harus menceritakan sesuatu kepadamu."

"Ya Bapa, silakan," lawan bicaranya menyetujui.

"Tradisi yang diturunkan para leluhur kita beribu tahun sejak zaman Abraham, bapa dari seluruh bapa orang Israel, mengajarkan bahwa mula-mula pria dan wanita adalah satu kesatuan makhluk hidup. Adam dan Hawa diciptakan pada hari keenam kisah penciptaan sebagai manusia yang kembar dempet. Adonai—Sang Nama—kemudian memisah manusia menjadi dua: membentuk Hawa dari tulang rusuknya. Jadi, suami dan istri yang bersatu dalam daging menjadi lambang keberadaan yang tunggal, mengembalikan manusia kembali ke fitrah penciptaannya. Kesatuan adalah hal yang alami; cinta mereka terbangun karena kecenderungan mereka ingin menjadi satu."

 

Saat Ozias mengulangkan segala sesuatu tentang keberadaan laki-laki dan perempuan di alam semesta ini, sebenarnya imam muda itu sudah tidak mendengarkan lagi. Pikirannya sudah melambung kembali ke rumahnya. Ia sudah tahu semua itu; Ia sudah menyelesaikan semua pelajaran yang terdapat dalam Targum[1] dan Mishna[2]. Selain demi menghormati orang tua yang begitu ia sukai sejak pertama kali bertatap di tempat ini—ia tahu bahwa tugas sang calon mertua pada menantunyalah yang membuat orang tua itu menerangkan panjang lebar kisah tersebut—setiap kata yang terucap memberinya rasa damai dalam hati.

 

Angan-angannya membawa seluruh pikiran kembali ke depan rumah sang ayah. Ia mengetuk pintu dan begitu Eleazar membuka pintu ia langsung berucap, "Bapa, aku ingin Bapa meminang bagiku seorang gadis sebagai istriku." Sang ayah dengan muka terkejut akan bertanya, "Masuklah ke dalam rumah dulu dan jelaskan panjang lebar segala sesuatu yang tidak kuketahui sebelumnya." Dan ia pun menjelaskan awal mula pertemuan mereka Paskah lalu, segala sesuatu tentang gundah hatinya dan terutama tentang pertemuannya yang sangat mengesankan dengan Ozias. Ia memberi tahu segala sesuatu tentang keluarga Ozias: kebaikannya, keberadaan mereka, dan pengetahuan mereka yang kental tentang adat istiadat Yahudi.

 

Ia tidak sabar menunggu saat-saat itu. Ketika Ozias masih melanjutkan ceritanya tentang setiap kelahiran manusia yang berarti kehadiran setengah jiwa ke dalam dunia dan pada perkawinan kedua jiwa itu akan bersatu lagi dengan sempurna, pikirannya sudah jauh melampaui penjelasan Ozias.

 

Bapanya (sayang sekali ibunya telah tiada—ia pasti akan sangat gembira) akan datang ke rumah Ozias; mereka meminang Hana untuk dirinya sedangkan ia sendiri, dengan berharap-harap, menunggu di rumah. Saat rombongan peminang kembali ke Yerusalem, ia sudah berdiri di muka pintu dan siap menanti jawaban mereka (sebenarnya ia sudah tidak memerlukan jawaban itu, tetapi jika ucapan kepastian itu meluncur dari mulut ayahnya, rasanya lebih sahih) dan mengharap tanggal pernikahan mereka diresmikan. Ia membayangkan pada awal bulan Kizlev[3] nanti—tujuh bulan lagi—ada arak-arakan mempelai perempuan, Hana. Ia diselubungi dan dihiasi dan diarak dari rumah orang-tuanya di Betania. Dan, ia sendiri mempelai pria yang dihiasi dengan "mahkota", "Seharusnya mahkota itu disematkan oleh ibunya," batinnya sedih lalu ia mengingat ibunya sudah bahagia. Ia melanjutkan lamunannya. Ia, diiringi para tamu dan sahabat, pergi menemui Hana kemudian mereka bersama-sama beriringan menuju rumah orangtuanya di Kota Bawah Yerusalem. Dan akhirnya, mereka berdua, ia dengan Hana, akan berdiri di bawah Cuppah[4] di hadapan imam yang akan menikahkan mereka; di rumah ini, ya di rumah ini mereka akan memadu kasih.

 

Bersambung...



[1] Ulasan dalam bahasa Aram atau terjemahan disertai tafsiran atas suatu bagian dari Kitab Taurat Musa, Kitab Sejarah Israel, Kitab Mazmur, dan Kitab Nabi-nabi.

[2] Hukum lisan, peraturan-peraturan penjelas, dan perinci Taurat.

[3] Bulan Desember –red.

[4] Kanopi yang digunakan untuk menaungi pengantin laki-laki dan pengantin perempuan pada upacara pemberkatan nikah orang Yahudi.

Saturday, January 29, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 030

Sang ayah bangkit dari duduknya mengambil arang yang diletakkan di pojok ruangan, sambil memasukkan arang ke pendiangan ia menawari imam itu untuk bergabung dengan mereka. Namun, si imam itu menjawab, "Mungkin sebaiknya kita berbincang di ruangan yang lain." Wajahnya memerah malu. "Baiklah, mari kita ke ruang atas," Ozias menjawabnya dan beranjak mengajak imam canggung itu menaiki tangga yang menghubungkan ruang tengah itu ke atas.

 

Udara malam mengalir lembut di atap rumah Ozias menebarkan kesejukan, bukan hanya di tubuh sang pemuda itu, tetapi juga jantungnya. Ia tahu dirinya tidak mendapat malu, bukan hanya karena udara sejuk itu, tetapi cara berjalan dan tatapan mata orang tua yang ia ikuti: lembut dan tenang. Walau mungkin ia tidak mendapatkan hasil apa-apa dengan usahanya yang terlalu berani itu, ia tahu kehormatannya bakal masih terjaga.

 

"Bagaimana anak muda?" Ozias membuka percakapan sesampai di bubungan rumah itu. Kelipan pelita-pelita membentuk barisan dalam rumah-rumah yang menembus sela-sela jendela-jendela di desa Betania, menciptakan siluet-siluet dan bayangan-bayangan yang sedap dipandang. Pemuda itu masih saja terdiam terpesona memandang sekitarnya. Ia teringat masa-masa di Yuta saat umurnya belum akil balig.

 

"Ini adalah tempat favoritku jika aku mulai jenuh dengan segala tetek bengek dunia ini," seakan Ozias dapat membaca pikiran imam muda itu. "Aku percaya Adonailah yang menciptakan semua pemandangan ini." Ozias melanjutkan. "Dalam malam-malam menjelang Perayaan Tujuh Minggu[1] ini, angin mulai menghangat, cuaca sangat cerah, dan seperti yang engkau lihat: pelita yang bersinar sangat menenteramkan hati."

 

"Ya," jawab pemuda itu singkat, seakan-akan dirinya tidak lagi bersatu dengan tubuhnya, melayang mengikuti semua pemandangan yang menyedot perhatian dan jiwanya. Suasana sangat hening dan terasa khidmat. Aliran-aliran udara yang lembut menggeser kulit mereka mengisi ruang batin mereka dengan getaran-getaran yang tanpa mereka percakapkan sudah dapat terpahami. Mereka tahu bahwa kehadiran Adonai di Bait Allah di sebelah barat desa itu menguasai bubungan rumah itu. Sejurus kemudian saat perasaan hormat yang sangat kuat melanda, mereka pun langsung bersujud dan melakukan gerakan menyembah ke arah barat. Mereka sangat menghormati Sang Mahaagung mereka dan hati mereka yang dipenuhi rasa haru, menyebabkan air mata menetes. Akhirnya menit-menit penyembahan itu berlalu dan kedua laki-laki itu pun beranjak berdiri.

 

"Engkau memiliki tempat yang sempurna Bapa," komentar imam muda itu setelah rasa hanyut dalam keheningan berakhir. "Ya, apalagi jika waktu fajar tiba dan cuaca cerah, kilauan Rumah-Nya dapat terlihat dari sini. Penyangga-penyangganya yang bersalut emas seakan-akan menjadi tiang-tiang api. Apabila aku melihatnya, seakan-akan perjalanan nenek moyang kita keluar dari Mesir terulang kembali" ungkap orang tua itu. "Pada saat itu aku tahu Dia selalu menyertai kami, Dia sang Immanuel," lanjutnya.

 

"Jadi, apa sesungguhnya tujuan kedatanganmu kemari?" lelaki yang sudah tumbuh uban itu mengingatkan.

"Aku ingin meminang putrimu, Bapa," imam itu mengaku. "Namaku Yeshua, anak imam Eleazar," ia melanjutkan.

"Berarti engkau cucu Imam Besar Hanas?" si orang tua menyahutnya.

"Bukan, Eleazar yang lain,"

"Kita pernah berjumpa pada Paskah bulan lalu," ia berusaha menerangkan.

"… ya, ya, kami datang terlambat," Ozias memotong, "Memang, sejak peristiwa itu, anak perempuanku tingkahnya menjadi sangat aneh. Sifat pendiamnya mendadak hilang, ia ceria dan senang bersenandung. Sebenarnya ini adalah perkembangan yang menyenangkan di rumah kami."

Hati imam itu makin mantap saat mendengar cerita ayah gadis yang diidamkannya itu. Keyakinannya membubung dipenuhi mimpi-mimpi indah.

"Rahasia keceriaannya sekarang ada di depan mataku ternyata," sambung Ozias sambil tersenyum.

 

Bersambung...



[1] Pentakosta –red.

Friday, January 28, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 029

Gangguan-gangguan itu tidak mereda; malahan meraja. Ia bingung mengenali tubuhnya sendiri. Ia tahu semuanya disebabkan gadis itu, tetapi ia tidak mengerti mengapa akibatnya sedemikian hebat. Ia sering melihat perempuan yang lebih cantik darinya dan kadang-kadang ia tertarik dengan salah satu dari mereka. Namun, jika ia memutuskan untuk berhenti tertarik, rasa itu hilang. Ia tahu tugasnya di Rumah Allah lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Bukankah Daud pernah berkata, "khawsah no'am Adonai bawqar heykal.[1]" Namun, ayahnya mengatakan ada masanya seorang laki-laki harus keluar dari rumah orangtuanya dan menjadi satu dengan istrinya. "Apakah sekarang ini waktunya?" ia bertanya-tanya. "Mungkin sekarang waktunya," batinnya berusaha tenang. Setidaknya sekarang ia hendak memastikan gadis berkerudung itu mau menemani hidup citanya; atau tidak mau?

 

Apa pun yang terjadi, Ia bertekad menenangkan jantungnya. Apabila ia menghadapi penolakan, setidaknya ia masih mendapat kesempatan melihat tarian wajahnya sekali lagi. Ia tahu, ia melanggar adat dengan mendatangi gadis itu sendiri; seharusnya ayahnya mendatangi orangtua si gadis, meminangnya untuk dirinya. Namun, hasrat hatinya sudah tidak dapat ia tahan lagi, ia ingin memastikan bahwa si gadis masih belum terikat. Ia tak hendak kecewa, bahkan jika pujaannya sudah dimiliki orang lain.

 

Laki-laki itu terus mengendap-endap di antara pepohonan. Hari sudah malam; pelita di rumah itu sudah menyala benderang. Bau semerbak minyak zaitun terbakar bersumber dari pelita-pelita itu. Ia sangat mengenal kualitas minyak zaitun hanya dengan membaui uapnya yang terbakar. Sudah lima tahun hidup di Bait Allah yang selalu menggunakan minyak zaitun terbaik bahkan hanya untuk menyalakan pelita-pelita di Rumah Allah itu. Ia, seorang imam, hanya mengenakan, menyantap, dan bahkan melihat hal-hal yang terbaik—bukankah ia tinggal di Rumah-Nya? Awalnya ia terkaget-kaget dengan bau harum yang sangat berbeda dengan bau minyak lampu di desanya.

 

Sekelebat ia melihat gadis itu melangkah keluar. Jantungnya berdebar lagi, ia berpikir cepat, menimbang apakah ia akan menemui gadis itu malam ini atau ditundanya sampai esok hari. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui gadis itu. Ia tidak peduli apa yang dikatakan orang mengenai dirinya. Ia melanggar adat dan itu dapat berbahaya bagi pekerjaannya, tetapi bagaimanapun kesempatan yang sempit ini harus diambil. Si gadis yang sedang membawa buyung di tangannya terkejut saat melihat seorang laki-laki muda keluar dari semak-semak di tengah kegelapan malam. "Ah," pekiknya. Saat laki-laki itu mendekat. "Adown, mengapa malam-malam datang ke sini," ucap gadis itu sedikit gemetar. Ia tahu tamunya; walau ia tidak mengenakan pakaian keimaman. Gadis itu merasa jika seorang imam yang bertugas di Bait Allah tiba-tiba datang ke desa kecil ini, ke rumah mereka, pasti ada sesuatu yang sangat penting. Ia berharap bukan bencana. Menanggapi pertanyaan itu, si laki-laki hanya mengucap, "Aku ingin meminangmu." "Bolehkah?" ia mengharap.

 

Tergagap menghadapi pertanyaan sang imam muda tadi, si gadis hanya tertunduk dan terdiam. Akhirnya setelah terjadi kekakuan beberapa saat (apalagi sang imam itu, ia merasa ucapan tergesa tadi seakan menghancurkan semua reputasinya sebagai imam), si gadis menjawab, "Tuan, silakan masuk. Tuan sebaiknya bertemu langsung dengan ayahku."

 

Imam muda, wajahnya yang sangat kemerahan menahan malu, mengiyakan dengan suara tidak jelas lalu masuk ke dalam rumah itu. Penahan pintu geser rumah itu yang cukup tinggi tidak ia lihat hampir saja ia tabrak karena perasaan groginya. Untung ia masih dapat menjaga kesadarannya, ia tahu ia harus menjaga martabatnya.

 

Ruangan dalam lebih terang dengan bau harum minyak zaitun kualitas tinggi. Ia melihat beberapa pelita menempel tembok. Pendiangan yang terletak di tengah ruangan dikitari beberapa anggota keluarga tersebut. "Hana, apakah kau membawa adas manisnya?" sang kepala keluarga menyahut suara geseran pintu itu. Si gadis pun menjawab, "Ya ayah." "Ayah, kita kedatangan tamu, ia hendak menemui ayah," lanjutnya. Sang ayah, ibu, dan orang-orang yang sedang mengelilingi pendiangan itu menoleh ke arah pintu geser itu. Si imam muda sangat kikuk dan salah tingkah, "Apakah saya dapat bertemu dengan Bapa Ozias sebentar?" Akhirnya ia berhasil mengucapkan kata-kata.

 

Bersambung ...



[1] "melihat kemuliaan TUHAN dan berdiam dalam bait-Nya" (bhs. Ibrani)

Thursday, January 27, 2011

Majalah INSPIRASI volume 17


Garuda di dadaku

Garuda kebanggaanku
Kuyakin hari ini pasti menang…
Masih ingat lagu ini? Lagu yang ngetop akhir tahun lalu ini berhasil menggelorakan semangat bela bangsa—walau cuma dalam pertandingan bola. Namun, peristiwa itu membuktikan pemain bola Timnas Indonesia lebih mampu membangkitkan nasionalisme daripada pidato pejabat atau tokoh politik. Ya, INSPIRASI bulan ini yang bertema “Aku Cinta Indonesia” mengupas mereka yang berprestasi dan menggelorakan cinta tanah air. Lalu bagaimana cara mewujudkan cinta bangsa dalam kehidupan sehari-hari? Jawabannya ada di majalah INSPIRASI edisi Februari 2011.
Simak juga kisah Rianti Cartwright yang santun saat menjadi juri Indonesia Mencari Bakat. Lalu, Anda dapat menelusuri kisah dan pandangan hidup Butet Kertarajasa. Ada apa di balik nama Butet? Tak ketinggalan, ikutilah perjalanan hidup Samuel Mulia, brand konsultan dan penulis lifestyle, sampai akhirnya ia menemukan Yesus Kristus.

Majalah Inspirasi Indonesia terbitan BPK Gunung Mulia, menyediakan santapan kristiani bernutrisi, namun tidak fanatik. Tidak eksklusif, tetapi pluralis. Tidak sektarian, tetapi ekumenis. Memberikan inspirasi dan motivasi untuk menyatakan iman melalui perbuatan, karya, dan prestasi. Selalu segar, enak dibaca kapan saja.

Tuesday, January 25, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 028

Ia tidak mendengar penjelasannya, ia memerhatikan salah satu anggota keluarga yang dombanya tiba-tiba sakit itu. Tiba-tiba jantungnya berhenti berdetak, napasnya sesak seperti kekurangan udara. Ia berusaha berkonsentrasi untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi gagal. Ia seperti tersihir dan tiba-tiba salah tingkah.

"Ah...eh... uh...,"

"Apakah kami boleh?"

"Boo... apa maksud bapak tadi?"

Mereka sekeluarga sudah membawa daging persembahan beserta lemak-lemak dan seluruh isi perut di dalam wadah-wadah. Ia sedikit berhasil menenangkan jantungnya. Ia mulai jelas melihat seluruh anggota keluarga yang datang itu. Mereka berenam, sang ayah yang kepala keluarga, si ibu, dan tiga orang anaknya serta seorang bujang laki-laki. Saat ia melihat anak sulung perempuan keluarga itu, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang lagi seakan-akan berhenti. Gadis itu menunduk dan menata kerudungnya berusaha menyembunyikan wajahnya. Merona ada pada wajahnya.

 

"Adown, tuan, bisakah kami masuk? Dapatkah kami bersujud di hadapan-Nya?" bapak itu kembali mengulangi pertanyaannya.

"Bisa, bi.... sa... silakan bapak masuk bersama anak laki-laki. Apakah bujang bapak juga orang Yahudi? Dia boleh masuk sampai pelataran dalam kalau begitu. Ibu dan siapakah nama adik? ... Hana... Ya Ibu dan Hana dapat diantar oleh petugas wanita supaya berkumpul di pelataran para wanita. Apakah semua sudah melewati upacara pembasuhan anggota tubuh?" akhirnya ia berhasil mengendalikan dirinya.

 

Namun matanya tak lepas mengawasi gadis itu ("Hana, nama yang sangat indah," pikirnya) saat mereka berenam masuk ke dalam Bait Allah. Tubuhnya bagaikan patung tak bergerak membeku.

 

"Hei... mengapa kamu hanya berdiri di situ?" tepuk salah satu teman seniornya yang saat itu lewat dengan membawa beberapa perhiasan perak yang hendak dimasukkan ke dalam perbendaharaan.

"Akh, Ukh, Ikh, yah...,"

"Eh, bolehkah aku tahu? Keluarga yang baru masuk itu namanya siapa?"

"Oh itu... Ozias, mereka sangat taat. Apakah kamu belum pernah berjumpa dengan mereka sebelumnya? Tiap tahun mereka pasti datang ke Rumah Suci ini."

"Mereka keturunan Yehuda?"

"Engkau tertarik dengan gadisnya?"

Wajahnya tiba-tiba memerah, berusaha mengelak pertanyaan itu namun ia tidak berhasil. Ia malu mengakui jika jantungnya sudah terikut gadis itu.

 

"Tidak apa-apa engkau tertarik padanya, ia gadis yang baik dan taat. Aku kira ayahmu akan setuju dengan pilihanmu itu,"

"Apakah ia belum terikat dengan lelaki lain?"

"Jika bertindak cepat, aku kira engkau masih mempunyai kesempatan. Bukankah ia datang ke sini masih bersama orangtuanya?"

 

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Datanglah ke tempatnya! Mintalah pada ayahnya supaya ia kau jadikan istri," orang tua itu memberi saran.

 

Jadi, petang ini ia berada di desa ini demi menenangkan jantungnya. Sebab sejak peristiwa Paskah itu wajah gadis berkerudung itu ("Walau sebenarnya nama Hana lebih indah, tetapi sekarang ia terus saja mematri pikirannya dengan kata gadis berkerudung," ia berpikir) menghantui mimpi-mimpinya. Ia sangat gelisah mimpi-mimpinya menyebabkannya beberapa kali tidak dapat bertugas di Bait-Nya. Ia tidak kudus. Jika sebelumnya, kehidupan mimpinya dipenuhi oleh rancangan-rancangan masa depannya, lukisan-lukisan hasrat merengkuh cita, ia tahu masa depannya ada di Bait Allah ini; namun sejak hari itu, mimpi-mimpinya hanya berisi tarian-tarian satu wajah yang tidak mampu ia hapus dengan mimpi citanya. Tarian-tarian yang menggelorakan seluruh jasmani menyebabkannya tidak dapat mengendalikan diri. Bahkan ia tak mampu lagi mengenal dirinya dan seluruh hasrat jiwanya hingga di waktu pagi akhirnya ia dinyatakan najis hari itu dan tak dibolehkan melakukan tugas melayani-Nya.

 

Bersambung...

Friday, January 21, 2011

PT BPK Gunung Mulia tempatku bekerja


PT BPK Gunung Mulia yang didirikan pada 1946 menyimpan sejarah panjang seiring dengan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Saat saya masuk ke perusahaan ini pada 2008, suasananya cukup egaliter. Mungkin karena struktur perusahaannya yang membuat begitu. Karena bukan merupakan perusahaan perorangan, di bawah naungan yayasan, setiap orang hubungannya lumayan cair. Tidak ada penguasa mutlak di perusahaan. Ini berbeda dengan perusahaan perorangan yang ada satu pemilik tunggal yang menentukan segala-galanya dan tiap orang "harus menjilat" si pemilik supaya naik kariernya (ah jadi kepikiran perusahaan lama he he he). Di PT BPK Gunung Mulia, seorang direktur utama pun harus bertanggung jawab kepada board Yayasan. Bahkan seorang pemimpin yayasan pun harus bertanggung jawab kepada para pengutusnya. Kunci kesuksesan di perusahaan seperti ini adalah profesional dan high achiever.

Lalu apa sih PT BPK Gunung Mulia ini? Perusahaan ini adalah penerbitan buku-buku Kristen. Selengkapnya Anda dapat menyimak di www.bpkgm.com. Anda tertarik?

Tuesday, January 18, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 027

Betania

Mei 14 M

 

Pelita rumah-rumah berkelap-kelip seperti bintang tampak dari kejauhan. Hati lelaki itu lebih riang. Ia tahu rumah itu makin dekat. Perjalanannya hampir mencapai tujuan. Desa Betania sudah tampak di depan mata. Ia mempercepat jalannya dan berharap tidak kemalaman.

 

Ia menyusuri jalan-jalan berbatu dan melihat-lihat di sekitarnya. Ladang-ladang yang dipenuhi bulir-bulir gandum tampak makin indah saat petang itu; siluet-siluet kemerahan matahari yang menimpa bulir kuning dan berpadu dengan bayangan-bayangan yang makin panjang ke barat membentuk barisan warna hitam. Ia tergoda untuk memetik salah satu butir gandum itu; mengisarnya dengan batu dan mulai memakan gandum itu. Ia lapar.

 

Bintang-bintang mulai menampakkan wajahnya; sesaat ia terpesona. Namun kemudian, ia buru-buru berbelok ke jalan setapak yang sejajar dengan jalan berbatu itu. Ada beberapa orang yang lewat membawa obor. Saat itu ia tidak ingin ada orang yang melihatnya. Apalagi dengan keadaannya yang sedemikian rupa; sedapat mungkin ia menghindari mereka. Ia tidak ingin menimbulkan pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang berpapasan dengannya. Ia tidak mau menjadi bahan tertawaan.

 

Ia berhenti sejenak mengamati orang-orang itu, mungkin mereka sedang menjenguk ladang-ladang mereka untuk membuat persiapan pesta hari raya tujuh minggu. "Bukankah sudah empat puluh sembilan hari sesudah Paskah," batinnya mengingatkan. Mengingat Paskah, ia mempercepat langkah kakinya. Jalan setapak yang ia lewati sudah menyatu lagi dengan jalan berbatu, tetapi ia beruntung, hari sudah malam dan bulan bersinar hanya sepertiga bagian. Ia bersyukur, "Heach![1]". Ia terus berjalan hingga sampai pada rumah yang terletak paling dekat dengan rumah ibadat. Itulah rumahnya. Ia teringat lagi peristiwa pada Paskah itu.

 

Pada Paskah itu ia sedang bertugas di Bait Suci; ini memang giliran kaumnya. Saat itu ia menolong ayahnya yang bertugas mempersembahkan kurban bakaran di ruang kudus. Ruangan di dalam pelataran orang Yahudi waktu itu sangat sesak sehingga ia harus melewati orang-orang yang berdesakan untuk mempersembahkan kurban bakaran. Ia harus mengatur mereka agar lebih tertib dan jalannya upacara dapat berlangsung khidmat. Sering kali mereka tergesa-gesa agar kurban mereka segera dibakar oleh imam sehingga kerap terjadi keributan dalam Bait Suci. Ia bertekad saat ia bertugas tidak ada keributan apa pun yang menyebabkan pekerjaan mereka berdua, ia dan ayahnya, dapat terancam. Imam Besar Hanas sangat tegas, walaupun baginya kata "tegas" sangat tidak cocok dengan Imam Besar itu. Ia lebih suka menyebutnya menakutkan, tetapi kata itu hanya terucap dalam hati saja. Ia tahu, Imam Besar dan keluarganya sangat berpengaruh dalam seluruh kehidupan imam-imam dan budak-budak yang bertugas di Rumah Suci ini. Kelima anak-anak lelakinya bertugas di tempat ini dan mereka menempati jabatan-jabatan strategis. Apabila mereka mendengar sesuatu yang merendahkan orangtuanya, bisa-bisa imam serta seluruh keluarganya langsung jatuh miskin. Setidaknya ia berharap pekerjaan ayahnya tidak terancam oleh kesalahannya kali ini.

 

Mereka yang datang merayakan Paskah di Bait Tuhan ini datang dari berbagai penjuru bumi. Kadang-kadang ia mendengar orang-orang yang datang tidak berbahasa sama dengan bahasa orang-orang Yerusalem. Biasanya mereka memakai bahasa Yunani. Ia tidak dapat berbahasa Yunani dan bangga dengan itu. "Bahasa Yunani, bahasa kafir," sungutnya.

 

Tiba-tiba, tergopoh-gopoh sekeluarga datang dengan membawa domba yang telah tersembelih. "Maaf, apakah kami masih dibolehkan untuk menghaturkan kurban bakaran?" tanya sang kepala keluarga. Ia sedikit kaget dan memandang keluarga itu. "Kami datang dari Betania, sebenarnya sangat dekat. Namun domba yang kami siapkan dari rumah tiba-tiba sakit lemas di tengah perjalanan sehingga kami harus menyuruh bujang kami kembali ke rumah. Kami tidak membeli domba di sini karena kami ingin menyembah dengan hasil murni pekerjaan kami," si ayah menjelaskan.

 

Bersambung...



[1] Syukurlah! - bhs. Ibrani

Sunday, January 16, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 026

Ia makin tertarik mendengarkan pembicaraan mereka sebab itu kemudian ia berhenti sejenak. Berharap memperoleh beberapa berita,

 

"Aku masih penasaran, mengapa Tuhan kita dengan segala kemuliaan-Nya menolak untuk berkuasa di dunia ini?"

"Ya, sebenarnya apa yang ia kehendaki?"

"Bahkan Dia memberi jawab yang tidak terlalu jelas, sebab kata-Nya, 'Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.' Bagaimana kita dapat menjadi pemberita-pemberita jika kita ketakutan begini?" salah seorang menyahut.

"Yah setelah itu Dia terangkat ke surga,"

"Hei, ya kapan dua orang berjubah putih itu datang ya? Mereka mengatakan apa?"

"Maksudmu? Yang mengatakan, 'Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga'?"

"Jadi Dia akan datang lagi?"

"Mungkin itu maksud-Nya kita diminta menunggu di Yerusalem, Dia akan datang dari surga bersama seluruh malaikat-malaikat dan mengenyahkan seluruh orang-orang kafir dan orang-orang Farisi, imam-imam kepala yang telah menyalibkan-Nya!"

"Ayo kita segera ke Yerusalem, ibu si Markus sudah menunggu kita!" salah seorang mengingatkan.

 

Laki-laki yang sedang mendaki bukit Zaitun itu kemudian melanjutkan perjalanannya. Ia tahu mereka adalah murid-murid nabi yang mati itu. Ia mempercepat jalannya, berharap mereka tidak mengenalinya. Ia takut, jika mereka mengenalinya maka ia menjadi sasaran kemarahan orang-orang itu. Sekilas ia melihat Lazarus, tetangga istrinya, ada di kumpulan orang-orang yang turun dari bukit itu. Makin ia mempercepat jalannya, setengah berlari. Tiba-tiba Lazarus berbalik arah dari turun kemudian malah naik lagi. Ia kelihatan tergesa-gesa.

"Apakah ia melihatku ya?" batinnya bertanya.

"Hei, lihat di sana?" Lazarus berteriak. Laki-laki itu makin tegang, kemudian menundukkan kepala dan sedikit menutupi wajahnya supaya tidak dikenali.

"Pohon ara yang dikutuk Tuhan sudah mulai bertunas lagi," kata Lazarus.

"Bukankah Dia baik? Tak selamanya Dia menghukum," kata yang lain.

"Mari kita nyanyikan Mazmur," teriak yang lain.

Lalu mereka semua mulai menyanyikan mazmur. Laki-laki itu lega dan segera melanjutkan perjalanannya, sebelum mereka yang bernyanyi itu sadar akan keberadaannya dan mengenalinya sebagai seorang yang seharusnya disalib. Bukan nabi itu.

 

Sayup-sayup sore itu terdengar nyanyian orang-orang yang menuruni bukit,

"Adonai adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia."

"Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam."

"Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita,"

dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,"

"Setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya"

"atas orang-orang yang takut akan Dia"

"Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya daripada kita pelanggaran kita."

"Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,"

"Adonai sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia."

"Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu."

 

"Manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga"

"Apabila angin melintasinya maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi."

"Tetapi kasih setia Adonai dari selama-lamanya sampai selama-lamanya"

"atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,"

"bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya"

"dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya."

"Adonai sudah menegakkan takhta-Nya di surga"

"kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu."

 

"Pujilah Adonai, hai malaikat-malaikat-Nya,"

"hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya

"dengan mendengarkan suara firman-Nya."

 

"Pujilah Adonai, hai segala tentara-Nya,"

"hai pejabat-pejabat-Nya yang melakukan kehendak-Nya."

"Pujilah Adonai, hai segala buatan-Nya,"

"di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah Adonai, hai jiwaku!"

 

Walaupun mereka menyanyikannya dengan bahasa Ibrani yang tak sempurna—mereka orang-orang Galilea tak berpendidikan—, entah mengapa laki-laki itu selama mendengarkannya hatinya lebih tenang. Ia tahu mereka tak akan mengejarnya. Melintas dalam benaknya, ia juga tahu anak-anaknya akan aman.

 

Bersambung ...

Monday, January 10, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 025

Ia berjalan ke tenggara, matahari masih berada di selatan dan ia merasa sedikit beruntung karena itu. Matahari sedikit tertutupi bukit-bukit di sebelah selatan kota itu. Ia mulai menyusuri jalan setapak di sebelah luar tembok Bait Allah sampai ke Mata Air Gihon. Ia sangat mengenal seluk beluk daerah itu. Pengalamannya sewaktu memimpin perjuangan gerilya dahulu sangat menolong kali ini. Pukul tiga petang, ia kemudian berdoa.

 

Mata air itu mengalir deras membuih-buih, ia sangat bersyukur dapat menikmati mata air itu. Sebuah sumber mata air utama yang menuju rumahnya. Ia merasa tidak akan dapat menikmati air ini lagi. Perjalanannya akan sangat panjang dan lama. Hanya kerinduannya pada anak-anaknya dan pesan terakhir istrinya yang membuat ia bersemangat. Ia benar-benar menikmati air tersebut dan mengambil sejumlah air yang ia masukkan ke dalam kantong airnya yang sudah kosong. "Masih beberapa waktu lagi," pikirnya. Sebelum ia dapat sampai ke rumah istrinya. Ia tahu kondisi rumah orangtua istrinya pasti tidak jauh berbeda dengan rumah mereka yang baru saja ia tinggalkan.

 

Ia teringat percakapan dengan istrinya pagi tadi. Anak-anak mereka dibawa ke utara, ia tidak dapat mengerti mengapa istrinya tahu mereka dibawa ke mana, bukankah ia sudah mati? Ia hanya menyimpulkan itu sebagai naluri seorang ibu, bahkan sesudah mati hatinya masih terbawa bersama anak-anaknya.

 

Ia memutuskan ke Betania karena dua alasan. Ia hendak mencari berita-berita yang lebih lengkap tentang ke mana anak-anaknya dibawa. Lalu oleh karena ia seorang Yahudi, ia harus menghindari melewati daerah Samaria. "Daerah yang menjijikkan itu," ungkapnya suatu kali. Orang-orang itu, walau keturunan Yahudi, tetapi tak dapat menahan nafsu mereka untuk kawin dengan orang-orang kafir. Mereka bahkan dengan senang hati menerima orang-orang asing yang menguasai hidup mereka. Ia merasa tidak ada kemungkinan anak-anaknya menjadi budak di rumah-rumah orang Samaria itu. Anak-anaknya pasti memilih mati.

 

Setelah puas dengan mata air itu, ia kemudian mulai mendaki Bukit Zaitun, desa itu terletak di salah satu lerengnya. Ia berpapasan dengan orang-orang yang turun dari bukit itu. Sekilas ia mendengar,

"Apa maksudnya dengan perkataan-Nya, 'telah kamu dengar dari-Ku, Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus,' apakah maksud dibaptis dengan Roh Kudus," seseorang bertanya pada teman seperjalanannya.

 

Laki-laki di sampingnya kemudian menyahut, "Entahlah, aku sendiri juga tidak terlalu paham, tetapi jika Dia memerintahkan kita semua untuk menunggu di Yerusalem, kita akan menunggu di sana. Mungkin kita akan mati di sana, tetapi jika hal itu yang harus terjadi, aku siap menghadapinya."

"Ah Simon, hati-hatilah kalau kau berbicara, baru tiga hari ayam berkokok dan engkau sudah hendak membual lagi," seseorang mengingatkan laki-laki di sampingnya itu. Orang yang dipanggil Simon itu kemudian terdiam dan menunduk. Raut mukanya berubah muram.

 

Bersambung ...

Friday, January 7, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 024

"Aku menunggumu suamiku," istrinya menjawab dan kemudian terangkat. Laki-laki itu menengadah melihat istrinya terus naik ke balik awan-awan yang menyelimutinya.

"Istriku, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!"

"Hana... kau hendak ke mana?" teriakan laki-laki itu makin kencang seiring kenaikan istrinya.

 

Akhirnya istrinya tidak terlihat lagi. Laki-laki itu tercenung, sendirian sekarang. Ia mengira istrinya hanya mengancam saja. Sekarang ia sadar istrinya suci dan sekarang berada bersama-sama sesembahannya.

 

Lama tercenung, akhirnya ia dengan gontai melangkah keluar dari Bait itu. Tidak ada mukjizat, tidak ada malaikat yang menampakkan diri kepadanya memberi tahu ke mana ia harus melangkah. Ia merasa sangat kesepian. Tak pernah ia merasa sepi seperti saat itu, walau istrinya telah memberi tahu anak-anak mereka masih hidup. "Mereka dibawa ke utara," katanya. Ia terus melangkah hanya dengan satu tujuan: mencari anak-anaknya. Ia tak lagi berharta benda, semua musnah sewaktu ia tinggalkan. Pasukan-pasukan itu menjarah rumahnya saat ia memutuskan untuk memberontak. Setelah puas menjarah, akhirnya mereka mulai mencari jejak istri dan anak-anaknya, serdadu-serdadu itu menemukan mereka di Betania. Istri dan kedua orangtua istrinya mereka bantai, anak-anaknya mereka jual kepada pedagang yang lewat.

 

Ia tidak tahu harus memulai pencariannya dari mana. Tak ada sepeser pun hartanya. Ia memutuskan untuk berjalan ke utara. Melewati Pintu Gerbang Utara Bait Allah, terletak di samping Benteng Antonia ia melihat prajurit-prajurit Roma itu sedang berjaga-jaga. Mereka tak lagi mengenalinya, sebab bukan dari divisi yang dahulu pernah berurusan dengannya. Ia terus berjalan dan berharap menemukan anak-anaknya.

 

Ia melihat kolam Bethesda, orang-orang sakit bergerombol berharap malaikat menggerakkan air dalam kolam tersebut. Mereka mengharap kesembuhan. Laki-laki itu berpikir seandainya Mesias telah datang ke bumi ini, seharusnya tidak ada lagi penyakit yang merajalela. Kenyataan yang dilihatnya makin mengeraskan hatinya, tetapi jika mengingat kejadian yang berlangsung di depan matanya satu jam yang lalu pikirannya buyar. Ia harus secepatnya meninggalkan kota ini pikirnya, sebelum menjadi gila. Ia tahu anak-anaknya tidak mungkin menjadi budak di kota ini, Taurat tidak mengizinkan orang Yahudi dijadikan budak. Perjalanannya akhirnya berujung pada Gerbang Herodes. Ia sejenak memandang gerbang itu dan mengingat kisah saat enam puluh tahun yang lalu, Herodes tua yang bengis itu mengepung kota ini berbulan-bulan merebut kekuasaan yang waktu itu dikuasai oleh Antigonus seorang kaki tangan bangsa Persia. Herodes dengan sepasukan bangsa Edom dan Roma membuat seluruh warga kota itu menyerahkan Antigonus yang akhirnya dieksekusi oleh Jenderal Antonius di Antiokhia. Sempat terpikir dalam benaknya, untuk berterima kasih pada Herodes itu, sebab Herodes berusaha mempertahankan diri dari nafsu Cleopatra, Ratu Mesir itu, yang ingin memasukkan negeri ini menjadi jajahan Mesir. Namun pikiran itu urung terungkap, Herodes bukanlah orang Yahudi, ia tetap orang Edom, cucu moyang Esau. Ia juga hanya kepanjangan kekuasaan Roma.

 

Dalam hati kecilnya ia masih rindu supaya Mesias cepat-cepat berkuasa. Ia tidak peduli lagi apakah Mesias itu seorang muda yang pernah ia temui dan menggantikannya atau salah satu keluarga Hanas. Ia berharap kejayaan sewaktu Daud berkuasa, sewaktu Yahweh (ia hanya mengucapkan dalam hati) dengan jelas mengatakan segala sesuatu yang harus dilakukan. Ia rindu saat-saat bangsa ini berkuasa atas bangsa-bangsa lain dan menarik pajak yang besar dari mereka. Bukan seperti sekarang ini, mereka malahan yang harus membiayai kehidupan orang-orang kafir itu melalui para pemungut cukai pengkhianat itu.

 

Siang hari yang terik, ia memutuskan untuk menjenguk desa istrinya di Betania. Ia berjalan kaki dan berbekalkan beberapa kue ara dan anggur yang masih tersisa di rumahnya ia memulai perjalanan mencari anak-anaknya, penerus nama dan penerus seluruh cita-cita bangsanya.

 

 

Bersambung