Friday, January 7, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 024

"Aku menunggumu suamiku," istrinya menjawab dan kemudian terangkat. Laki-laki itu menengadah melihat istrinya terus naik ke balik awan-awan yang menyelimutinya.

"Istriku, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!"

"Hana... kau hendak ke mana?" teriakan laki-laki itu makin kencang seiring kenaikan istrinya.

 

Akhirnya istrinya tidak terlihat lagi. Laki-laki itu tercenung, sendirian sekarang. Ia mengira istrinya hanya mengancam saja. Sekarang ia sadar istrinya suci dan sekarang berada bersama-sama sesembahannya.

 

Lama tercenung, akhirnya ia dengan gontai melangkah keluar dari Bait itu. Tidak ada mukjizat, tidak ada malaikat yang menampakkan diri kepadanya memberi tahu ke mana ia harus melangkah. Ia merasa sangat kesepian. Tak pernah ia merasa sepi seperti saat itu, walau istrinya telah memberi tahu anak-anak mereka masih hidup. "Mereka dibawa ke utara," katanya. Ia terus melangkah hanya dengan satu tujuan: mencari anak-anaknya. Ia tak lagi berharta benda, semua musnah sewaktu ia tinggalkan. Pasukan-pasukan itu menjarah rumahnya saat ia memutuskan untuk memberontak. Setelah puas menjarah, akhirnya mereka mulai mencari jejak istri dan anak-anaknya, serdadu-serdadu itu menemukan mereka di Betania. Istri dan kedua orangtua istrinya mereka bantai, anak-anaknya mereka jual kepada pedagang yang lewat.

 

Ia tidak tahu harus memulai pencariannya dari mana. Tak ada sepeser pun hartanya. Ia memutuskan untuk berjalan ke utara. Melewati Pintu Gerbang Utara Bait Allah, terletak di samping Benteng Antonia ia melihat prajurit-prajurit Roma itu sedang berjaga-jaga. Mereka tak lagi mengenalinya, sebab bukan dari divisi yang dahulu pernah berurusan dengannya. Ia terus berjalan dan berharap menemukan anak-anaknya.

 

Ia melihat kolam Bethesda, orang-orang sakit bergerombol berharap malaikat menggerakkan air dalam kolam tersebut. Mereka mengharap kesembuhan. Laki-laki itu berpikir seandainya Mesias telah datang ke bumi ini, seharusnya tidak ada lagi penyakit yang merajalela. Kenyataan yang dilihatnya makin mengeraskan hatinya, tetapi jika mengingat kejadian yang berlangsung di depan matanya satu jam yang lalu pikirannya buyar. Ia harus secepatnya meninggalkan kota ini pikirnya, sebelum menjadi gila. Ia tahu anak-anaknya tidak mungkin menjadi budak di kota ini, Taurat tidak mengizinkan orang Yahudi dijadikan budak. Perjalanannya akhirnya berujung pada Gerbang Herodes. Ia sejenak memandang gerbang itu dan mengingat kisah saat enam puluh tahun yang lalu, Herodes tua yang bengis itu mengepung kota ini berbulan-bulan merebut kekuasaan yang waktu itu dikuasai oleh Antigonus seorang kaki tangan bangsa Persia. Herodes dengan sepasukan bangsa Edom dan Roma membuat seluruh warga kota itu menyerahkan Antigonus yang akhirnya dieksekusi oleh Jenderal Antonius di Antiokhia. Sempat terpikir dalam benaknya, untuk berterima kasih pada Herodes itu, sebab Herodes berusaha mempertahankan diri dari nafsu Cleopatra, Ratu Mesir itu, yang ingin memasukkan negeri ini menjadi jajahan Mesir. Namun pikiran itu urung terungkap, Herodes bukanlah orang Yahudi, ia tetap orang Edom, cucu moyang Esau. Ia juga hanya kepanjangan kekuasaan Roma.

 

Dalam hati kecilnya ia masih rindu supaya Mesias cepat-cepat berkuasa. Ia tidak peduli lagi apakah Mesias itu seorang muda yang pernah ia temui dan menggantikannya atau salah satu keluarga Hanas. Ia berharap kejayaan sewaktu Daud berkuasa, sewaktu Yahweh (ia hanya mengucapkan dalam hati) dengan jelas mengatakan segala sesuatu yang harus dilakukan. Ia rindu saat-saat bangsa ini berkuasa atas bangsa-bangsa lain dan menarik pajak yang besar dari mereka. Bukan seperti sekarang ini, mereka malahan yang harus membiayai kehidupan orang-orang kafir itu melalui para pemungut cukai pengkhianat itu.

 

Siang hari yang terik, ia memutuskan untuk menjenguk desa istrinya di Betania. Ia berjalan kaki dan berbekalkan beberapa kue ara dan anggur yang masih tersisa di rumahnya ia memulai perjalanan mencari anak-anaknya, penerus nama dan penerus seluruh cita-cita bangsanya.

 

 

Bersambung