Monday, January 10, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 025

Ia berjalan ke tenggara, matahari masih berada di selatan dan ia merasa sedikit beruntung karena itu. Matahari sedikit tertutupi bukit-bukit di sebelah selatan kota itu. Ia mulai menyusuri jalan setapak di sebelah luar tembok Bait Allah sampai ke Mata Air Gihon. Ia sangat mengenal seluk beluk daerah itu. Pengalamannya sewaktu memimpin perjuangan gerilya dahulu sangat menolong kali ini. Pukul tiga petang, ia kemudian berdoa.

 

Mata air itu mengalir deras membuih-buih, ia sangat bersyukur dapat menikmati mata air itu. Sebuah sumber mata air utama yang menuju rumahnya. Ia merasa tidak akan dapat menikmati air ini lagi. Perjalanannya akan sangat panjang dan lama. Hanya kerinduannya pada anak-anaknya dan pesan terakhir istrinya yang membuat ia bersemangat. Ia benar-benar menikmati air tersebut dan mengambil sejumlah air yang ia masukkan ke dalam kantong airnya yang sudah kosong. "Masih beberapa waktu lagi," pikirnya. Sebelum ia dapat sampai ke rumah istrinya. Ia tahu kondisi rumah orangtua istrinya pasti tidak jauh berbeda dengan rumah mereka yang baru saja ia tinggalkan.

 

Ia teringat percakapan dengan istrinya pagi tadi. Anak-anak mereka dibawa ke utara, ia tidak dapat mengerti mengapa istrinya tahu mereka dibawa ke mana, bukankah ia sudah mati? Ia hanya menyimpulkan itu sebagai naluri seorang ibu, bahkan sesudah mati hatinya masih terbawa bersama anak-anaknya.

 

Ia memutuskan ke Betania karena dua alasan. Ia hendak mencari berita-berita yang lebih lengkap tentang ke mana anak-anaknya dibawa. Lalu oleh karena ia seorang Yahudi, ia harus menghindari melewati daerah Samaria. "Daerah yang menjijikkan itu," ungkapnya suatu kali. Orang-orang itu, walau keturunan Yahudi, tetapi tak dapat menahan nafsu mereka untuk kawin dengan orang-orang kafir. Mereka bahkan dengan senang hati menerima orang-orang asing yang menguasai hidup mereka. Ia merasa tidak ada kemungkinan anak-anaknya menjadi budak di rumah-rumah orang Samaria itu. Anak-anaknya pasti memilih mati.

 

Setelah puas dengan mata air itu, ia kemudian mulai mendaki Bukit Zaitun, desa itu terletak di salah satu lerengnya. Ia berpapasan dengan orang-orang yang turun dari bukit itu. Sekilas ia mendengar,

"Apa maksudnya dengan perkataan-Nya, 'telah kamu dengar dari-Ku, Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus,' apakah maksud dibaptis dengan Roh Kudus," seseorang bertanya pada teman seperjalanannya.

 

Laki-laki di sampingnya kemudian menyahut, "Entahlah, aku sendiri juga tidak terlalu paham, tetapi jika Dia memerintahkan kita semua untuk menunggu di Yerusalem, kita akan menunggu di sana. Mungkin kita akan mati di sana, tetapi jika hal itu yang harus terjadi, aku siap menghadapinya."

"Ah Simon, hati-hatilah kalau kau berbicara, baru tiga hari ayam berkokok dan engkau sudah hendak membual lagi," seseorang mengingatkan laki-laki di sampingnya itu. Orang yang dipanggil Simon itu kemudian terdiam dan menunduk. Raut mukanya berubah muram.

 

Bersambung ...