Sunday, January 16, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 026

Ia makin tertarik mendengarkan pembicaraan mereka sebab itu kemudian ia berhenti sejenak. Berharap memperoleh beberapa berita,

 

"Aku masih penasaran, mengapa Tuhan kita dengan segala kemuliaan-Nya menolak untuk berkuasa di dunia ini?"

"Ya, sebenarnya apa yang ia kehendaki?"

"Bahkan Dia memberi jawab yang tidak terlalu jelas, sebab kata-Nya, 'Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.' Bagaimana kita dapat menjadi pemberita-pemberita jika kita ketakutan begini?" salah seorang menyahut.

"Yah setelah itu Dia terangkat ke surga,"

"Hei, ya kapan dua orang berjubah putih itu datang ya? Mereka mengatakan apa?"

"Maksudmu? Yang mengatakan, 'Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga'?"

"Jadi Dia akan datang lagi?"

"Mungkin itu maksud-Nya kita diminta menunggu di Yerusalem, Dia akan datang dari surga bersama seluruh malaikat-malaikat dan mengenyahkan seluruh orang-orang kafir dan orang-orang Farisi, imam-imam kepala yang telah menyalibkan-Nya!"

"Ayo kita segera ke Yerusalem, ibu si Markus sudah menunggu kita!" salah seorang mengingatkan.

 

Laki-laki yang sedang mendaki bukit Zaitun itu kemudian melanjutkan perjalanannya. Ia tahu mereka adalah murid-murid nabi yang mati itu. Ia mempercepat jalannya, berharap mereka tidak mengenalinya. Ia takut, jika mereka mengenalinya maka ia menjadi sasaran kemarahan orang-orang itu. Sekilas ia melihat Lazarus, tetangga istrinya, ada di kumpulan orang-orang yang turun dari bukit itu. Makin ia mempercepat jalannya, setengah berlari. Tiba-tiba Lazarus berbalik arah dari turun kemudian malah naik lagi. Ia kelihatan tergesa-gesa.

"Apakah ia melihatku ya?" batinnya bertanya.

"Hei, lihat di sana?" Lazarus berteriak. Laki-laki itu makin tegang, kemudian menundukkan kepala dan sedikit menutupi wajahnya supaya tidak dikenali.

"Pohon ara yang dikutuk Tuhan sudah mulai bertunas lagi," kata Lazarus.

"Bukankah Dia baik? Tak selamanya Dia menghukum," kata yang lain.

"Mari kita nyanyikan Mazmur," teriak yang lain.

Lalu mereka semua mulai menyanyikan mazmur. Laki-laki itu lega dan segera melanjutkan perjalanannya, sebelum mereka yang bernyanyi itu sadar akan keberadaannya dan mengenalinya sebagai seorang yang seharusnya disalib. Bukan nabi itu.

 

Sayup-sayup sore itu terdengar nyanyian orang-orang yang menuruni bukit,

"Adonai adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia."

"Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam."

"Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita,"

dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,"

"Setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya"

"atas orang-orang yang takut akan Dia"

"Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya daripada kita pelanggaran kita."

"Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,"

"Adonai sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia."

"Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu."

 

"Manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga"

"Apabila angin melintasinya maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi."

"Tetapi kasih setia Adonai dari selama-lamanya sampai selama-lamanya"

"atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,"

"bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya"

"dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya."

"Adonai sudah menegakkan takhta-Nya di surga"

"kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu."

 

"Pujilah Adonai, hai malaikat-malaikat-Nya,"

"hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya

"dengan mendengarkan suara firman-Nya."

 

"Pujilah Adonai, hai segala tentara-Nya,"

"hai pejabat-pejabat-Nya yang melakukan kehendak-Nya."

"Pujilah Adonai, hai segala buatan-Nya,"

"di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah Adonai, hai jiwaku!"

 

Walaupun mereka menyanyikannya dengan bahasa Ibrani yang tak sempurna—mereka orang-orang Galilea tak berpendidikan—, entah mengapa laki-laki itu selama mendengarkannya hatinya lebih tenang. Ia tahu mereka tak akan mengejarnya. Melintas dalam benaknya, ia juga tahu anak-anaknya akan aman.

 

Bersambung ...